
Tahun 1236, 24 Juli.
Kastil Rueter, Kota Ereth.
Pagi Hari.
Krrk!
Krrk!
Ayo, ayo!
Zruut.
Zruut.
Cepat, kalian pasti bisa!
Krrk!
Krrk!
Hm, apa yang akan kamu lakukan, Wilma?
DUK!
"Uwaaaahh!"
"Wilma, jangan menendang Leon!" teriak Ares.
Sedikit terkejut dengan suara keras yang tiba-tiba didengarnya, Wilma pun menjadi berlinang air mata dan segera menangis sembari berteriak, "Uwaaaahh!"
Ap—apa yang harus aku lakukan?!
Aku tidak tahu!
Aku tidak pernah memiliki anak sebelumnya!
Di dalam suatu kamar mansion pribadi Ares yang keseluruhan lantainya telah tertutupi oleh karpet, Ares sedang melatih ketiga anaknya untuk merayap sesuai dengan perkembangan bayi yang diketahuinya menggunakan suatu mainan kocok berisi bola kayu yang dapat mengeluarkan bunyi untuk menarik perhatian mereka.
Meskipun Ares telah membariskan ketiga anaknya secara berjajar, Wilma, yang lebih aktif dibandingkan dengan dua anaknya yang lain, selalu merayap lebih cepat yang membuat kakinya selalu menendang Leon yang berada di samping kanannya.
Lia mengalihkan perhatiannya kepada dua saudaranya yang juga menangis. Seolah ingin menirunya, Lia juga berteriak yang membuat Ares menjadi lebih panik.
Para pelayan—sekaligus ibu susu tiga anak tersebut—yang berdiri di sudut ruangan sangat ingin bergerak untuk menenangkan mereka. Namun, mereka hanya dapat terdiam mengingat keberadaan Ares yang merupakan seseorang berderajat sangat tinggi.
Bagi mereka, perilaku Tuannya selama beberapa hari terakhir semenjak dia kembali ke kota merupakan suatu hal yang sangat aneh karena seorang bangsawan selalu menyerahkan kepengurusan anaknya kepada para pelayan tingkat tinggi—yang juga merupakan seorang anggota dari keluarga ksatria.
Oh, benar!
Mengangkat Leon yang menangis terlebih dahulu, Ares pun meletakannya di atas punggungnya disaat dirinya berlutut lalu segera bangkit sembari memutar tubuhnya. Berbeda dengan reaksi Leon yang seketika kegirangan, hati para pelayan yang melihatnya hanya dapat menjerit karena ketakutan apabila terjadi suatu hal yang sangat tidak diinginkan.
Tidak dapat membiarkan Tuannya bertindak lebih jauh, seorang pelayan wanita senior memberi tanda tangan kepada pelayan junior untuk memanggil seseorang yang dapat menghentikan keliaran Tuannya. Pelayan wanita junior tersebut pun menganggukkan ringan kepalanya dan mengendap-endap keluar dari ruangan.
Perhatian Ares sangat terfokus kepada ketiga anaknya. Tidak mudah teralihkan kepada sesuatu hal yang lain terkecuali nafsu membunuh, yang menyebabkannya tidak menyadari kepergian seorang pelayan dari ruangan.
"Ehehehe," ungkap Leon yang kegirangan.
Wilma menghentikan tangisannya, dia pun menatap saudara laki-lakinya yang baginya sedang melakukan suatu hal yang sangat aneh.
Ketertarikan kuat, Wilma pun merentangkan kedua tangannya ke atas dari posisinya yang berbaring sembari berkata, "Aaaaa!"
Ares menyadari bahaya jika dia melakukan hal yang sama kepada dua anaknya sekaligus. Ares secara perlahan menurunkan Leon dan mengambil tiga bantal yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Membaringkan Leon, Wilma, dan Lia secara berurutan di atas masing-masing bantal tersebut, Ares menarik—dengan sedikit kuat—bantal mereka dan membuatnya berputar mengelilingi dirinya.
Melihat ketiga anaknya yang tertawa dengan riang, sangat membuat perasaan Ares menghangat—sampai terdengar pintu ruangan yang terbuka secara perlahan.
Perhatiannya teralihkan. Ares menjadi sangat ketakutan disaat dia melihat Excel memasuki ruangan dengan pedang yang terhunus ditemani oleh Amalia dan Ody yang berada tepat di belakangnya.
"Apa... yang kamu lakukan?" tanya Excel dengan tatapan heran.
Gyaa!
Me—mengapa kamu ada disini?!
Bukankah kamu seharusnya berada di kastil?!
Terbesit kembali ingatan di malam itu, Ares benar-benar mengingat dengan jelas pembicaraan malam dengan Excel setelah kembali ke kota.
Meskipun pembicaraan tersebut berakhir dengan kenikmatan, tetap saja hal tersebut sangat membuat mental Ares lelah karena mereka berdua berbicara cukup lama.
Bukan hanya itu, di pagi harinya, Excel bergegas menuju mansion pribadi milik suaminya dan mengumpulkan kembali seluruh selir serta gundik suaminya—termasuk Esther—untuk melakukan suatu pembicaraan pribadi—yang tentunya tidak Ares ketahui.
Hal yang aneh baginya, sejak saat itu, Milly dan para wanita lain segera memerah dan mengalihkan wajahnya disaat mereka dipandang oleh Ares. Disaat dirinya mencoba bertanya kepada mereka, semua wanita tersebut segera mengalihkan pembicaraan dan mencoba melarikan diri.
Excel kembali menyarungkan pedangnya dan menutup kedua matanya sembari menghela napas dalam. Dia pun mendekati suaminya dan segera menarik telinganya sembari menyeretnya pergi.
"Aduh, aduh, sakit, oi!" teriak Ares.
Tidak mengacuhkan suaminya, Excel berkata disaat dirinya mendekati Amalia dan Ody, "Tolong... aku akan membawanya menuju kastil untuk bekerja."
"Baik, Nyonya," timpal Amalia dan Ody serempak.
"Eh? Tolong aku, Amalia, Ody! Mengapa kalian menurutinya?!" ujar Ares dengan menahan telinganya yang kesakitan.
"Maaf, Tuan. Kami merasa bahwa hal ini adalah hal yang terbaik untuk Anda," jawab Ody dengan ekspresi serius.
"Saya juga," jawab Amalia.
"Tidaaak!" teriak Ares saat diseret pergi.
Melihat Tuannya—yang semenjak kembali ke kota selalu mencuri-curi kesempatan untuk menyelinap menuju kamar anaknya di mansion—telah dibawa pergi, Amalia dan Ody hanya dapat menghela napas dalam.
Meskipun mereka sangat mensyukuri Ares yang selalu meluangkan waktu untuk mereka dan anaknya, tetap saja Tuannya tersebut memiliki pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan yang membuat perasaan mereka rumit.
Telinganya menjadi sangat merah. Ares tidak menyangka bahwa istrinya akan tetap memiliki kekuatan yang luar biasa meskipun telah berkurang cukup banyak karena dirinya yang sedang mengandung.
"To—tolong lepaskan telingaku! Sakit!" protes Ares.
Setelah mencapai pintu keluar mansion, Excel menghentikan langkah kakinya. Dia pun menghela napas dalam dan melepaskan tangannya yang menarik telinga suaminya.
Lega.
Perasaan yang muncul setelah telinganya terbebaskan dari penderitaan. Ares segera memperbaiki posisinya kembali sembari tetap membelai telinganya yang kesakitan tersebut.
"Jadi, ayo kembali bekerja. Pekerjaanmu menumpuk," ujar Excel dengan lelah.
"Eh? Mengapa kamu mengetahuinya?" timpal Ares heran.
"Hah?! Aku tidak menemukanmu berada di sampingku saat aku terbangun! Aku segera memeriksa kantor wilayah di kastil dan menemukan dokumenmu yang menumpuk! Cepat selesaikan dan lakukan rencanamu selanjutnya!" balas Excel dengan nada kuat.
Ku!
Tidak dapat mengelak, Ares pun mengalihkan pandangannya ke samping sembari berkata, "Ak—aku... juga membutuhkan sedikit waktu untuk beristirahat..."
Tatapan matanya berubah tajam. Excel tentu mengetahui suaminya yang sangat malas untuk melakukan pekerjaan kantor.
"Hmm, beristirahat atau bermain?" tanya Excel.
"Ku... baik..." jawab Ares yang menyerah.
Dia dan para ksatria pengawal lain yang melihat kekalahan telak Ares, hanya dapat terdiam sembari bersyukur bahwa Tuannya telah menyadari tanggung jawabnya.
Menaiki gerbong, mereka berdua pun kembali menuju kastil dan segera disambut oleh Owen saat dirinya tiba.
"Selamat datang... Tuan," timpal Owen dengan tatapan rumit.
"Aku kembali..." jawab Ares lesu.
"Nah, kembalilah bekerja," ujar Excel acuh tak acuh.
"Baik... kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah..." timpal Ares dengan mengalihkan wajahnya menuju Excel.
Menemukan ekspresi istrinya yang terlihat kesal, Ares pun berkata, "...Sayang."
"Baik!" jawab Excel yang riang.
Hah...
Berpisah dengan istrinya tersebut, Ares pun kembali menuju Kantor Kepala Wilayah dan menemukan dokumen yang menumpuk tepat setelah memasuki ruangan.
"Selamat datang... Tuan Muda," sambut Renne yang sangat kelelahan.
"Selamat datang, Tuan," sambut Elsa dan Ivy dengan nada lelah.
Menatap wanita tua di depannya yang memiliki wajah seperti baru saja bekerja lembur, Ares pun merasa bersalah dan berkata, "Maaf telah membuat kalian sibuk."
"Sudah merupakan tugas saya, Tuan Muda," timpal Renne tersenyum dengan wajah lelah.
Berjalan menuju meja pribadinya yang memiliki gunungan perkamen, Ares segera mengubah matanya dengan tatapan lelah sembari berkata, "Sial..."
...----------------...
Catatan :
Doakan senin bisa up 3 ch langsung... jika memang aku benar-benar kosong...
...----------------...