I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 116 : Berita Besar



Tahun 1237, 26 Februari.


Wilayah Kerajaan Natrehn.


Pagi Hari.


Pltak!


Pltak!


Pltak!


Seorang prajurit dengan balutan armor full plate dengan lambang Natrehn, sedang memacu kuda perangnya dengan sangat cepat.


Salju yang telah deras mencair, rumput-rumput hijau yang mulai kembali terlihat, seolah mendukung kuda prajurit tersebut yang terpacu semakin cepat.


Hingga terlihat tembok besar benteng yang berdiri kokoh di tengah-tengah dataran padang rumput luas, muncul sebuah kelegaan besar di dalam hatinya karena tanggung jawabnya dapat dikatakan berhasil.


Tiga penjaga gerbang yang melihat kedatangan prajurit tersebut, segera keluar dari pos penjagaan dan menghampirinya.


"Tahan! Katakan keperluanmu!" teriak salah seorang penjaga.


Prajurit tersebut menarik tali kekang kudanya secara tiba-tiba, hingga membuat kaki depan kuda sedikit terpeleset. Dari atas tunggangannya, prajurit berkuda tersebut menyentak, "Pertemukan aku dengan Jenderal Eina dengan cepat! Ini darurat!"


"Hah?!"


"Apa yang kau katakan?!" timpal salah seorang penjaga.


"Jangan hentikan aku! Aku tidak akan bertanggung jawab jika kepalamu terpenggal!" balas prajurit berkuda sembari menunjukkan sebuah gulungan perkamen dari sakunya.


Para prajurit penjaga saling menatap. Dalam diam kesepakatan pun terbentuk. Salah seorang prajurit penjaga segera menegapkan dirinya dan memandang tegas prajurit penjaga, "Ikut aku."


Mengikuti bimbingan prajurit tersebut, keduanya memasuki bangunan terbesar di dalam benteng dengan langkah yang sedikit cepat. Menjaga wibawa dan kesopanan, tentu keduanya tidak diperbolehkan sedikitpun menunjukkan sikap penuh celah.


Hingga berada di depan pintu kayu kembar, penjaga gerbang pun mengetuk, "Jenderal, kami menerima sebuah pesan darurat yang ditujukan kepada Anda."


Seorang prajurit yang menjaga pintu di dalam ruangan membuka pintu setelah menerima tanggapan dari Eina.


Ada kegugupan dalam diri prajurit pembawa pesan setelah melihat kondisi dalam ruangan, yang mana Eina dan beberapa bangsawan yang terafiliasi dengan militer sedang menggelar dewan perang. Langkah kakinya sedikit gemetar, prajurit tersebut segera berlutut tak jauh dari pintu masuk.


Ada perasaan aneh, prajurit tersebut tidak menyangka bila Eina akan membiarkannya mengganggu jalannya dewan. Jika itu adalah bangsawan pada umumnya, pembawa pesan diharuskan untuk menunggu hingga diri mereka siap—yang mana terserah pada kemauan mereka—meskipun pesan tersebut sangat darurat, yang tentunya akan berbeda jika pesan tersebut merupakan sebuah Dekrit Kerajaan.


"Apa itu?" Eina bertanya dengan nada tenang, namun terdengar sangat mengintimidasi hingga menusuk kepada orang di sekitarnya.


"Y—Ya, Bu!" Prajurit pembawa pesan menyerahkan gulungan perkamen bersegel Keluarga Kerajaan Natrehn kepada seorang perwira di dekatnya sebagai perantara kepada Eina.


Singkat, salah satu sudut bibir Eina kecil terangkat, yang segera melukiskan ekspresi datar kembali.


Para perwira yang duduk di meja melingkar yang sama dengan Eina, hanya dapat terdiam menunggu pemimpin tertinggi mereka bersuara.


"Yang Mulia Pangeran Julius meminta kita untuk bersumpah setia kepadanya."


Kata-kata Eina mengguncang ruangan yang digunakan untuk dewan perang. Beberapa diantara mereka tentu mengetahui rencana kudeta Julius, namun lebih banyak dari bangsawan militer yang tidak mengetahuinya.


Tersirat, para bangsawan sangat memahami kata-kata Eina yang mengatakan jika Julius telah berhasil menggulingkan pemerintahan ayahnya, Movic I.


Sebagai pasukan gabungan yang berada di bawah pimpinan salah satu Jenderal Tertinggi Kerajaan Natrehn, tentu para bangsawan memiliki kedudukan dan berada pada tiap faksi yang berbeda-beda.


Beberapa dari mereka mendukung Julius, Wilhelm, serta pangeran lain—yang tentu tidak akan pernah menjadi seorang Raja.


"Jangan bercanda!"


"Apa yang ada di dalam pikiran Yang Mulia?!"


Suara-suara penuh amarah dan kegelisahan melanda. Beberapa bangsawan tua militer tingkat tinggi—yang tentu berbeda-beda faksi—hanya menahan kedua bibirnya agar tidak terbuka, termasuk Eina.


Duk.


Merasakan situasi yang diprediksikan akan menjadi tidak kondusif, Eina memukul meja dengan bagian bawah tangannya yang mengepal.


Seketika hening, tidak ada yang tidak mengetahui pengaruh Eina yang dapat dikatakan hampir setara dengan Movic, yang bahkan telah melebihi Duke Runel, keluarga cabang dari Keluarga Kerajaan Natrehn, hingga membuat mereka terdiam.


"Kami akan patuh dan bersumpah setia kepada Yang Mulia Pang—tidak, Raja Julius." Semua bangsawan yang tidak berada dalam faksi Julius sangat terkejut dengan keputusan cepat Eina.


"Je—Jenderal! Tolong tahan! Putuskan dengan bijak! Yang Mulia Julius telah membunuh ayahnya sendiri!"


"Kami hanya akan setia kepada penerus sah tahta!"


Duk.


Sekali lagi Eina memukul meja dengan bagian bawah tangannya yang mengepal, dia pun menghela napas dalam, "Statuta Yang Mulia Raja Pertama Natrehn, Hubert I. Pasal 2 ayat 3, 'Raja dan Putra Mahkota Natrehn berasal dari keturunan asli Keluarga Natrehn dan keluarga cabangnya, yang mana nama 'Kona' mengikuti nama pribadinya."


Hening, semua bangsawan, ksatria, serta para prajurit hanya dapat terdiam setelah mendengarkannya. Meskipun mereka tidak menerima cara Julius yang merebut tahta, namun isi statuta memaksa mereka mengikutinya.


"Aku mengakui bila perbuatan Julius sangatlah tercela. Namun, apakah kalian ingin dikatakan sebagai 'Pemberontak'?" sambung Eina.


Movic tentu memiliki lebih dari 6 putra dan putri, yang merupakan anak dari ibu yang berasal dari rumah bangsawan tingkat tinggi. Namun, hanya Julius dan Wilhelm yang ibunya berasal dari keluarga berperingkat Duke—yang mana merupakan keluarga cabang dari keluarga kerajaan.


Beberapa bangsawan memiliki wajah cerah, beberapa yang lain hanya menahan wajahnya yang tetap tertegun, yang lainnya memiliki tangan yang mengepal erat.


Meskipun menunjukkan sikap yang berbeda-beda, dengan terpaksa semua dari mereka mengikuti perintah Eina—yang beberapa diantaranya hanyalah berupa kata-kata palsu.


Eina tentu telah memprediksikan beberapa bangsawan yang mengatakan sumpah yang merupakan kebohongannya. Sekali lagi, salah satu sudut bibirnya kecil terangkat. Tidak ada diantara para bangsawan dan ksatria di dalam ruangan tersebut yang mengetahui tujuan Eina yang sebenarnya.


Jauh di wilayah selatan Natrehn yang berbatasan langsung dengan Tanah Vietra, seorang gadis yang mengikat rambut putih panjangnya menyerupai ekor kuda dengan pakaian bulu yang sangat tebal, sangat bersusah-payah menunggangi tunggangannya yang berupa rusa putih besar.


Kristin tidak pernah menyangka bila Ares akan memberikannya tunggangan berupa White Deer.


Jika Kristin mengingat masa tinggal bersamanya Ares, tentu wajahnya akan segera memerah. Bagi Kristin, dia hanya melihat Wilhelm sebagai teman masa kecil yang menyerupai seorang saudara.


Karenanya, perlakuan Ares yang merawatnya sekitar 2 pekan tersebut sangatlah berkesan kuat di dalam hatinya.


Tidak hanya hal tersebut, tepat setelah Kristin membuka pintu rumahnya, mulut lebar White Deer yang memiliki gigi besar segera menerjangnya yang membuatnya melompat penuh ketakutan.


Menemukan sebuah pesan dan gulungan perkamen untuk Zelhard di atas meja dapur, Kristin diperintahkan untuk pergi menuju Zelhard dengan menunggang White Deer tersebut.


Namun, kelopak mata Kristin seketika berkedut setelah membaca kalimat terakhir pada surat tersebut.


Ya, biaya pengobatan serta perawatan dirinya sebesar 50.000 G.


"Sialan! Aku pasti akan menghajarnya!" teriak Kristin penuh kekesalan.


Tak lama berselang, Kristin segera melihat bangunan benteng abu-abu yang sangat dirinya ingat dengan baik.


Segera, Kristin melihat kegaduhan yang nampak dari suasana benteng. Bukan karena penyerangan atau sabotase, namun para prajurit seolah terlihat sedang mempersiapkan pasukannya.


Ada apa?


Menarik tali pengekang White Deer, Kristin pun menambah kecepatan tunggangannya.


Para penjaga gerbang tentu merasa asing dengan keberadaan White Deer. Namun, mereka tahu jika White Deer hanya ditunggangi oleh para barbarian yang membuat mereka menghunus senjatanya.


"Apa yang terjadi?!" teriak Kristin sembari menarik tali pengekang tunggangannya.


Melihat gadis asing yang berhenti tidak jauh darinya, para prajurit tetap mempertahankan posisinya.


"Siapa—"


"Kristin von Ginnes! Pertemukan aku dengan kakekku!" Kristin menyela kata-kata seorang penjaga sembari turun dari tunggangannya.


Mendengar gadis tersebut memiliki nama keluarga jenderal tertinggi pasukan, para prajurit segera berlutut.


"Cepatlah!" Kristin meninggalkan para prajurit tersebut sembari menarik tali kekang tunggangannya.


Salah satu dari prajurit penjaga dengan panik membimbing Kristin menuju Zelhard. Ada rasa kelegaan di dalam hati Kristin disaat dia mengetahui bahwa kakeknya berada di dalam benteng.


Setelah memasuki gerbang, suasana gaduh menyambut. Beberapa prajurit sedang berlarian membawa banyak persenjataan berupa ratusan anak panah, puluhan tombak dan pedang dengan gerobak, dan beberapa senjata lain.


Perhatiannya segera tertuju pada pria tua yang sedang berdiri di tengah-tengah halaman.


"Kakek!" Kristin berteriak keras dan mendekati Zelhard dengan meninggalkan White Deernya.


Prajurit penjaga yang ditinggalkan Kristin secara tiba-tiba, sangat panik karena dia harus bertanggung jawab dengan White Deer di depannya. Salah satu tangannya hendak mengambil tali kekangnya, namun selalu terhalang oleh kaki White Deer yang akan menendangnya.


Perhatian Zelhard pun teralihkan menuju sumber suara. Keningnya berkerut, Zelhard merasa aneh dengan Kristin yang meninggalkan ibukota.


"Mengapa kau meninggalkan ibukota, Kristin?" Nada Zelhard sangat mengintimidasi. Baginya, tanggung jawab menjaga Wilhelm seharusnya lebih menjadi prioritas bagi Kristin.


Langkah Kristin melambat. Teringat dengan kematian Wilhelm yang menyebabkan dirinya selamat. Kristin tahu, jika dia mengatakan itu, Zelhard akan sangat marah kepadanya.


Tertunduk lemah, sebagai seorang ksatria, dirinya tidak diperbolehkan menyembunyikan apapun kepada atasannya, "Yang Mulia Julius... melakukan kudeta."


Zelhard—termasuk beberapa perwira dan prajurit di sekitar—sejenak menghentikan pekerjaannya. Terguncang, tidak ada yang tidak mengalihkan perhatiannya kepada Kristin.


Zelhard tertegun. Meskipun dia tahu kemungkinan besar hal ini terjadi, namun dia tetaplah harus memastikan kebenarannya, "Apa... yang terjadi dengan Yang Mulia Movic dan Yang Mulia Wilhelm?"


Kristin hanya dapat menyiratkan jawabannya dengan kepalanya yang tertunduk lemah. Terguncang, Zelhard tidak mempercayai tindakan cucunya yang akan meninggalkan Wilhelm, meskipun telah disumpah untuk mempertaruhkan nyawanya.


BUAK!


Perih, Kristin telah menyiapkan fisik dan mentalnya menghadapi amarah kakeknya, yang membuat tubuhnya sedikit terlempar setelah menerima pukulan kakeknya tepat di pipinya hingga membuat dirinya jatuh dan kembali berlutut.


"Ukh." Mulutnya mengeluarkan darah. Kristin menahan rasa sakit di wajahnya, meskipun tubuhnya belum dikatakan benar-benar sembuh.


"Kenapa kau meninggalkan Wilhelm?!" teriak Zelhard penuh amarah.


Kristin hanya dapat menahan bibirnya tetap tertutup. Dia tidak dapat mengatakan bahwa seseorang yang seharusnya dia lindungi, akan melindunginya dari kematian.


Pun tidak berbeda dengan reaksi para prajurit dan perwira yang mendengar, mereka hanya dapat terdiam dan menunggu Zelhard melanjutkan perkataannya.


Zelhard mengambil napas berat. Dia tidak memiliki waktu untuk mengurus Kristin karena mengetahui Pangeran Pertama Kerajaan Rowling, Lucas von Holfart Rowling, telah mempersiapkan pasukan di Tanah Vietra hingga mencapai 200.000 prajurit.


Tatapan Zelhard teralihkan menuju gulungan perkamen yang digenggam cucunya. Salah satu alisnya pun terangkat, "Apa yang ada di tanganmu?"


Dengan takut-takut, Kristin menyerahkan gulungan perkamen di tangannya kepada Zelhard.


Ada sedikit kerutan yang muncul, tidak pernah sebelumnya Zelhard melihat segel yang mengikat gulungan yang dibawa cucunya.


Dengan cepat membukanya, Zelhard membaca isinya dengan cermat yang membuatnya sekali lagi menatap tajam pada Kristin.


"Apa yang dikatakan Yang Mulia Pangeran Wilhelm dan Margrave Rueter kepadamu?" tanya Zelhard.


"Yang Mulia... berpesan... untuk jangan pernah mempercayai Jenderal Eina... Sedangkan Ares mengatakan... Jenderal Eina... akan membiarkan kedua Pangeran Rowling... untuk membumihanguskan ibukota... dengan menahan pengiriman bala bantuan dari Pasukan Utama." Kristin menjawab dengan penuh ketakutan.


Tujuan terbesar Eina adalah membuat kekacauan di Wilayah Natrehn secara keseluruhan, yang mana syarat tercapainya tujuan adalah kematian Julius sebagai anggota terakhir yang memiliki nama "Kona." Keduanya mengerti implikasi tindakan Eina, yang membuat Kekaisaran Suci Alven dipastikan mengirim Ksatria Suci ke Benua Barat.


Zelhard menahan kepalanya yang seketika menjadi sakit. Tidak menyangka bila salah satu bangsawan sekaligus rekannya akan berkhianat.


Ingatan perlahan muncul kembali. Zelhard mengingat alasan Eina melakukan sebuah kudeta bersama dirinya dan Movic sekitar 30 tahun yang lalu.


"Apa yang terjadi dengan Giovanni dan Lilia?" Besar harapan Zelhard untuk mendengar jawaban positif dari Kristin.


"Ayah dan ibu..." Meskipun tidak lagi memikirkannya, ingatan kelam beberapa pekan lalu terbesit kembali di dalam benaknya. Kristin perlahan meneteskan air mata, dia tidak dapat melanjutkan perkataannya.


Melihat respon Kristin, Zelhard mengepalkan erat tangan kanannya karena hatinya yang seketika dipenuhi dendam.


Margrave, aku akan mengikuti permainanmu.


Jadi, pastikan untuk membuktikan kata-katamu menjadi kenyataan.


...----------------...