
Tahun 1236, 11 Agustus.
Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.
Siang Hari.
Di bawah teriknya sinar mentari, Tentara Kerajaan Natrehn yang dipimpin secara langsung oleh salah satu dari tiga jenderal besar kerajaan, Zelhard von Ginnes, sedang berbaris teratur menuju utara karena beberapa hal yang meleset dari prediksi yang telah mereka perkirakan sebelumnya.
Sekitar 3.000 prajurit infanteri dan 1.000 prajurit kavaleri yang memiliki senjata bervariasi, serta 500 pemanah, seolah menjadi obyek ketakutan karena penampilan mereka yang terkesan menakutkan hingga dapat membuat seseorang yang melihatnya segera melarikan diri.
Tidak hanya hal tersebut yang menjadi kekuatan utama mereka. Seolah melengkapi jumlah, 500 prajurit telah ditugaskan untuk membawa 35 ketapel beroda yang menjadi senjata andalan Tentara Natrehn selama operasi berlangsung serta beberapa senjata rahasia yang tertutup oleh kain hitam tebal.
Selaras dengannya, di barisan terdepan, seorang jenderal tua yang menunggangi kuda perang putih bersama seorang pemuda dengan tunggangan berupa kuda perang coklat berjalan berdampingan karena menjadi pemimpin tertinggi pasukan tersebut.
"Aku tidak menyangka jika mereka tidak akan datang kepada kita." Tersenyum masam, Zelhard tidak mengira bahwa Suku Barat tidak bergerak sesuai dengan apa yang ia telah prediksikan sebelumnya.
Namun, hal tersebut lebih membuatnya nyaman. Dia tahu jika Suku Timur akan datang karena sebelum dia melancarkan operasi, Zelhard telah mengutus bawahannya untuk melakukan serangan kilat kepada Suku Timur hingga membuat mereka hancur lebur—meninggalkan Suku Selatan yang saat ini masih melakukan perlawanan terhadap Angkatan Laut Natrehn di Laut Bercov.
Karenanya, mendengar Pasukan Utama Kerajaan Natrehn menyerang suku-suku di barat, Suku Timur pun berbalik arah dan menuju ke barat dengan niat menghabisi 2 pihak yang telah menjadi musuhnya sekaligus, Suku Barat dan Tentara Natrehn.
Val hanya terdiam di atas tungganggannya. Dia tidak menginginkan untuk berbicara lebih dalam mengingat posisinya yang hanyalah seorang perwira muda.
Sampai pada titik tertentu di padang rumput, Zelhard berteriak, "Berhenti!" sembari mengangkat tangan kanannya.
Tepat tiga langkah, pasukan di belakang Zelhard pun menghentikan gerakannya.
Zelhard menoleh kepada Val dengan ekspresi tegas. Sedikit mengangkat suaranya, dia berkata, "Val, jalankan tugasmu."
"Ya, Pak!" jawab Val tegas sembari memberikan hormat.
Val pun pergi menuju hutan terdekat dengan 5 unit kavaleri bawahannya—masing-masing berjumlah 20 prajurit—yang memiliki senjata berupa busur.
Sembari melihat Val yang telah pergi sesaat lebih jauh, Zelhard berkata kepada bawahannya yang berada di sampingnya, "Bangun basis di tempat ini. Kita akan berperang tepat di depan," sembari menunjuk daerah padang rumput yang berbatasan dengan hutan jauh di ujung pandangannya.
"Ya, Pak!" jawab perwira tersebut dengan tegas.
Nah, sekarang...
Mari kita tunggu hingga mereka menyerang.
Meninggalkan pasukannya yang sedang membuat perkemahan serta pertahanan, Val bergerak jauh ke garis depan beserta para prajurit kavaleri terelit yang dimiliki oleh pasukan Natrehn.
Jauh dari perkemahan yang menjadi basis bagi Tentara Natrehn, para pejuang Suku Barat sedang dilanda kegelisahan. Kabar mengenai Suku Timur yang bergerak mendekat telah terdengar oleh setiap telinga pejuang.
Kegelisahan yang melanda mereka tentu saja bukanlah karena ketakutan, apalagi kemungkinan kekalahan perang—yang sangat tidak mungkin melintas di dalam benak mereka, meskipun hanya sejenak.
"Kepala Thorgils! Apa yang harus kita lakukan jika Suku Timur mencuri mangsa kita?!"
"Kepala! Ayo bantai Suku Timur terlebih dahulu!"
"Tidak! Ayo taklukkan idiot baju besi itu terlebih dahulu!"
Mendengar teriakan-teriakan yang berupa masukan dan saran yang sangat egois disaat dirinya sedang terduduk di atas batang pohon besar yang telah tumbang, Thorgils hanya dapat menahan kepalanya dengan tangan kanannya karena memikirkan langkah terbaik yang dapat sukunya ambil untuk meraih kemenangan.
Jika aku tidak salah...
Dia memperingatkan kita untuk tidak mendekati musuh... tapi apa maksudnya?
Aku tidak berpikir bahwa kelompok baju besi yang tinggal di selatan tidak memiliki persiapan matang jika mereka menyerang kami secara bertahap seperti ini...
Apakah mereka memiliki senjata rahasia?
Tatapan Thorgils perlahan tertuju kepada seorang gadis berperawakan seperti seorang pejuang berambut ikal hitam dengan pakaian bulu coklat yang menutupi seluruh tubuh yang saat ini duduk di sampingnya.
"Astrid, apa kau memiliki saran?" Memandang anak dari kakak perempuannya tersebut, wajah Thorgils melembut.
Astrid sejenak termenung. Bagi Thorgils, keponakannya adalah seseorang yang lebih pintar dan tangkas dalam mengambil pilihan terbaik dibandingkan dengan banyak orang dari sukunya.
Karenanya, Thorgils sering membuat saran yang diberikan Astrid sebagai bahan yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum membuat keputusan.
"Kupikir, tidak mungkin para baju besi sialan itu akan menyerang kita secara langsung seperti apa yang biasa kita lakukan. Bukankah Kepala mengetahui karakter mereka disaat kita berperang di perbatasan dahulu?" timpal Astrid.
"Hmm..." Thorgils mengadahkan kepalanya sembari mengusap jenggot tebalnya.
"Kemungkinan besar, mereka membawa sesuatu yang dapat membuat kita kalah dengan cepat jika kita menyerang secara brutal. Aku tidak pernah berpikir mereka berani menyerang jika tidak memiliki satupun senjata rahasia," balas Astrid dengan menatap kuat pada Thorgils.
Sejenak keheningan diantara mereka berdua, Thorgils pun membalas, "Apa yang akan kau lakukan terhadap Suku Timur?"
"Bawa para idiot itu ke medan perang. Kita akan membantai mereka sekaligus," saran Astrid sembari tersenyum gagah.
Meskipun begitu, dia merupakan seorang wanita musclehead yang juga tidak berbeda dengan anggota suku yang lain.
Sekali lagi terdiam, Thorgils pun bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat tinggi tangan kanannya yang mengepal sembari berkata dengan lantang, "Pejuang Suku Barat! Aku memutuskan untuk membantai para baju besi sialan itu sekaligus dengan Suku Timur! Ayo buat mereka sebagai tameng dagingmu!"
"Hoooohhhh!"
Sorak sorai tanda persetujuan terdengar dari para pejuang suku membuat senyum samar Thorgils terbentuk. Memutuskan untuk melakukan persiapan terlebih dahulu, para pejuang Suku Barat sepakat bergerak setelah matahari terbenam.
Namun, tidak ada dari kedua pihak tersebut yang memahami kekuatan sebenarnya dari Suku Timur yang bergerak menuju barat di bawah sinar matahari yang akan terbenam.
Akibat dari serangan kilat Natrehn, mereka tentu memahami bahwa Tentara Natrehn sangat bergantung pada strategi kecepatan. Akibatnya, di atas tunggangan dari sebagian kecil pejuang Suku Timur yang menaiki Cuombi Elephant—spesies asli benua yang terlihat seperti gajah dengan rambut tebal yang tidak selebat mammoth—telah dipersiapkan senjata yang dapat menahan kecepatan kuda perang berlari.
Sembari menunggang Silver Deer yang bergerak dengan kecepatan normal, tatapan seorang pemuda kekar dengan rambut keriting serta jenggot hitamnya tertuju pada kejauhan.
Lihat saja, aku akan mendapatkan pedang itu, Thorgils!
Aku pasti akan membantai kalian semua!
...----------------...