
Tahun 1236, 6 Juli.
Mansion Margrave Rueter, Ibukota Lombart.
Sore Hari.
Nah, sekarang.
Apa yang diinginkan oleh karakter yang hanya ada dalam nama ini?
Tatapan yang terlihat sedikit mencurigai pun terbentuk. Ares tidak menyangka bahwa Menteri Keuangan Kerajaan Holenstadt akan meminta pertemuan secara pribadi dengannya tepat setelah berlangsungnya diskusi mengenai pendirian Guild Pedagang.
"Jadi... bolehkah saya mengetahui apa yang hendak Anda utarakan, Tuan Edward?" tanya Ares.
Tersenyum secara terpaksa, Ares mengetahui jika pria yang duduk tepat di depannya merupakan seseorang yang berpikiran tajam.
"Apakah kamu hendak mengkudeta Kerajaan Rowling?" tanya Edward kembali dengan tersenyum masam.
Lugas.
Tanpa menggunakan kehormatan.
Ares tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan begitu dipercayai oleh Edward—yang bahkan mengutarakan niat percakapannya dengan sangat berterus terang.
Sejenak, kedua matanya terpejam. Pikiran Ares berpacu, dirinya menimbang-nimbang jawaban yang harus diberikan kepadanya.
Menarik napas dalam dan perlahan mengeluarkannya, Ares pun berkata, "Lalu?"
Ares memutuskan untuk mengakuinya yang membuat Edward mengubah wajahnya dengan ekspresi serius.
"Aku akan memberimu 100 juta G sebagai dana perangmu, selain dari uang yang akan aku pindahkan menuju wilayahmu," balas Edward.
"Tidak, aku tidak ingin memiliki hutang budi kepada seora—" timpal Ares yang keningnya berkerut.
"Bukan hal itu yang aku maksudkan," sela Edward.
Sedikit bingung. Ares tidak mengerti keinginan dari seorang pria paruh baya di depannya yang menatapnya dengan keseriusan yang tinggi.
"Lalu?" tanya Ares.
"Jika keadaan semakin mendesak, aku akan kabur bersama keluargaku menuju wilayah ini," jawab Edward lugas.
Uang perlindungan.
Hal tersebut segera terlintas di dalam benak Ares. Memikirkannya kembali ketika dunia ini masih berupa permainan, akan aneh apabila seorang bangsawan tingkat tinggi sepertinya mati di awal permainan.
"Apakah kamu anti agama?" tanya Ares dengan sedikit berkerut.
"Tidak, aku hanya tidak menyukai para pendetanya," jawab Edward lugas.
Matanya kembali tertutup, Ares pun menjawab dengan sedikit penundaan, "Enam ratus."
"Hah?" timpal Edward yang kebingungan.
"Enam ratus juta G maka aku akan menerimanya," balas Ares.
Seketika, kelopak mata Edward berkedut saat dirinya memelototi Ares karena ucapannya yang sangat tidak masuk akal.
"Apakah kau ingin merampokku?! Lagipula, itu setara dengan anggaran tahunan Kerajaan Holenstadt, kau tahu?!" timpal Edward dengan nada sedikit tinggi.
"Hm? Jika kau masih hidup, kau bisa mendapatkan 600 juta G lagi, kau tahu?" balas Ares acuh tak acuh.
"Kuh... baiklah," timpal Edward dengan lesu.
Menyerah, dia terpaksa menerima tawaran Ares. Edward mengerti bahwa diri dan keluarganya tidak memiliki tempat berlindung yang aman selain di dalam Wilayah Rueter jika perang berkecamuk di masa depan.
Dua hari telah berlalu semenjak pertemuan para pedagang berlangsung. Pada akhirnya, pertemuan tersebut menghasilkan nota kesepahaman bahwa mereka akan mendirikan Markas Utama Guild Pedagang di dalam Zona Perdagangan Bebas, Kota Hauzen—dengan Perwakilan Firma Coulent, Loic, sebagai pemimpinnya.
Kesepakatan juga terbentuk dengan Ares, yang berperan sebagai pelindung atas organisasi, yang mana Guild Pedagang bersama Margrave Rueter berniat untuk menjadi kekuatan besar yang bergerak mengatur pasokan barang—yang tentu saja pengaruhnya dapat menentukan hidup dan mati suatu negara besar.
Sistem bank pun juga terlaksana. Banyak diantara para pedagang yang melakukan perjanjian dengan Ares untuk menyimpan uang mereka di Wilayah Rueter.
Uang yang berada di kantongnya seketika bertambah sebesar 13 miliar G, yang tentu saja akan dikirimkan setelah para pedagang tersebut kembali ke negara asalnya.
Sekali lagi, dahi Edward pun berkerut. Melihatnya, Ares bertanya karena keheranan, "Ada apa?"
"Apakah kau mengetahui rumor mengenai Kepala Firma Lounders yang didukung secara langsung oleh Kaisar Renacles?" tanya Edward kembali dengan nada sedikit khawatir.
"Itu bukanlah sebuah rumor, itu adalah kebenaran, Pak Tua," jawab Ares acuh tak acuh.
"Hah?!" timpal Edward yang sangat terkejut.
"Tidak mungkin Gene mampu bersaing dengan Firma Coulent tanpa sebuah sokongan dari pihak yang memiliki kekuatan besar," balas Ares.
Teringat kembali masa-masa dirinya ditipu oleh Firma Lounders di dalam game yang menyebabkan dirinya mengalami kekalahan telak, Ares tentu tidak akan mengambil kesalahan untuk kedua kalinya.
"Jika kau tahu, mengapa kau membiarkannya, Idiot?!" timpal Edward sangat kesal.
"Tidak apa-apa, kau tahu?" balas Ares.
Lelah dengan pria paruh baya di depannya, Ares pun mengambil cangkir teh di depannya dan menyesapnya.
"Lagipula, mengapa kamu, yang notabene seorang bangsawan dari benua barat, dapat mengetahui situasi dan kondisi dunia timur dengan sangat detail?" tanya Edward heran.
"Yah, itu merupakan rahasia perusahaan," balas Ares setelah meletakkan kembali cangkirnya.
Tatapan Edward tertuju pada cangkir teh dan makanan ringan di depannya yang berada di atas meja. Melihatnya, Ares berkata dengan nada heran, "Kau seorang pedagang, bukan bangsawan. Tidak perlu membanggakan dirimu."
"Kuh..." timpal Edward.
Dengan perasaan rumit, Edward pun mengambil beberapa cookies di atas meja dan memakannya sembari menyesap teh di samping piring cookies tersebut.
"Ada tiga pedagang yang patut kau waspadai, Pak Tua," ujar Ares dengan wajah serius.
Sikap sangat berbeda yang diperlihatkan Ares membuat Edward kembali memperbaiki wajahnya. Ia bertanya, "Siapa itu? Lagipula, aku baru saja berumur 39 tahun."
"Ullysia Rottern? Apakah yang kau maksud adalah nenek tua itu? Dia hanyalah pedagang kaya biasa di Kekaisaran Suci Alven, kau tahu?" tanya Edward heran.
"Itu tidak benar. Meskipun sedari kemarin mereka bertiga sangat mendukung penuh kepentingan pedagang, hati mereka sangatlah munafik. Gene mendapatkan dukungan langsung dari Kaisar Renacles; Ayah Rose, Pemimpin Perusahaan Lancester, merupakan anak dari keluarga cabang salah satu dari delapan Keluarga Utama Republik Ecasia..." jawab Ares lalu tersenyum.
Mata Edward perlahan terbuka lebar karena sangat terkejut, ia pun berkata dengan nada takjub, "Jangan katakan... apakah Ullysia mendapatkan dukungan dari Paus dan Kaisar Suci secara diam-diam?!"
"Tidak hanya itu, dia juga merupakan salah satu anggota Eye of Truth," timpal Ares dengan tersenyum kecut.
"A—aku... tidak percaya..." balas Edward sembari menahan kepalanya dengan tangan kanannya.
"Nah, aku memang merencanakan hal ini, kau tahu?" timpal Ares dengan tersenyum masam.
"Apa maksudmu?" tanya Edward bingung.
"Aku memiliki sebuah tujuan yang ingin aku capai meskipun aku harus melakukan pengorbanan dengan membiarkan segala gerak langkah Guild Pedagang terlihat," jawab Ares.
"Tujuan?" tanya Edward.
"Tentu saja, aku belum siap untuk menghadapi perang dunia yang pasti akan terjadi kurang dari satu tahun ke depan. Aku membutuhkan rehat sejenak setelah melakukan kudeta untuk mengatur kembali negaraku," sambung Ares.
"Dari mana kau mengetahui jika perang dunia akan berlangsung kurang dari satu tahun lagi?" tanya Edward dengan kening yang berkerut.
Yah... itu adalah timeline game.
Tak mengacuhkan Edward, Ares berkata, "Karenanya, aku berusaha untuk menguras semua dana yang dapat digunakan oleh para pedagang tersebut dan menahannya selama sepuluh tahun ke depan."
Hening.
Terdiam karena tidak dapat berkata-kata.
Sekali lagi, kedua mata Edward terbuka lebar yang membuat Ares tersenyum masam.
Apa yang akan terjadi apabila para pedagang—yang merupakan pemasok senjata, makanan, serta pasokan vital lain—tidak memiliki dana tunai yang siap digunakan?
Tentu saja, mereka pasti akan menuntut pembayaran secara kontan di awal kepada negara, bangsawan, serta pendeta yang memesannya.
Singkatnya, negara pemesan dipastikan akan mengubah seluruh langkah politik serta strategi militer mereka.
Meskipun sebuah negara kuat seperti Kekaisaran Renacles, Kekaisaran Suci Alven, serta Republik Ecasia memiliki kekayaan yang luar biasa berlimpah, mereka tentu tidak dapat mengeluarkan dana besar secara instan. Karenanya, mereka pasti akan menunggu dan melihat keadaan terlebih dahulu—yang mana memberikan ruang gerak ekstra bagi Ares untuk menstabilkan negaranya.
Dua hari yang lalu, Ares membuat Loic—yang merupakan perwakilan dari perusahaan terbesar—untuk mendepositokan sebagian besar dana Firma Coulent dengan kelihaian kata-katanya.
Hal itu membuat tiga perwakilan tersebut, juga mendepositokan sebagian besar dana perusahannya agar tidak dicurigai bahwa mereka sebenarnya adalah mata-mata—yang tidak sekalipun bergerak untuk kepentingan para pedagang.
Akibatnya, tiga perusahaan tersebut dipastikan akan kehilangan sebagian besar uangnya selama 10 tahun yang membuat para penyokongnya—yaitu Kekaisaran Renacles, Kekaisaran Suci Alven, serta Republik Ecasia—juga tidak dapat bergerak karena dana mereka yang tertahan.
Singkatnya, negara penyokong harus mengeluarkan uang lebih banyak agar produksi tetap dapat berjalan secara normal—yang tentunya membuat mereka akan berpikir dua kali dan menahan gerakan mereka selama setidaknya 2 tahun.
Kesan Edward mengenai seseorang yang bernama Ares von Rueter telah melambung sangat tinggi. Dia pun mengeluarkan sebuah gulungan perkamen—yang berkualitas sangat bagus—dari dalam sakunya dan menyerahkannya kepada Ares.
"Apa ini?" tanya Ares heran saat menerimanya.
"Yah... buka saja," jawab Edward sedikit rumit.
Setelah membuka segel dan membuka gulungannya, Ares melihat sebuah lukisan yang menampilkan sesosok wanita yang sangat cantik dengan rambut biru muda panjang yang mengenakan gaun yang sangat glamor berwarna putih berada dalam posisi duduk yang sangat sopan.
Namun, perhatiannya tertuju hanya kepada satu hal.
Besar...
Mungkin... lebih besar daripada milik Katherine...
Ya, lukisan tersebut mempelihatkan sesosok wanita dengan gaun yang sangat menonjolkan belahan dadanya.
"Bagaimana kesanmu terhadap putriku?" tanya Edward dengan tersenyum penuh arti.
Bagi Edward, dirinya lebih memilih menikahkan putrinya dengan Ares—yang sangat cerdas dan memiliki visi yang sama dengannya—dibandingkan dengan dua pangeran yang telah terpengaruh oleh kepentingan pihak di luar negaranya.
Ekspresi Ares pun berubah menjadi buruk, dia memahami bahwa Edward sedang menjual putrinya kepadanya.
"Yah... sangat cantik," jawab Ares jujur.
"Apakah kamu tertarik padanya? Baiklah, aku akan membuat putriku menja—" timpal Edward dengan nada yang sedikit bersemangat.
"Tunggu, aku akan menikah besok, kau tahu? Kau akan membuatku bertunangan dengan wanita lain tepat di hari sebelum aku melangsungkan pernikahan? Apakah kau tidak sedikipun memiliki etika?" sela Ares dengan nada sebal.
"Y—yah, tidak apa-apa, bukan?!" timpal Edward sedikit gelisah.
"Lagipula, aku tidak tertarik," balas Ares sembari menyerahkan perkamen tersebut kembali.
"Hah?! Putriku telah mendapat proposal pernikahan dari dua Pangeran Kerajaan Holenstadt, kau tahu?!" timpal Edward dengan nada sedikit tinggi.
"Jadi, kau akan membuatku bermusuhan dengan dua pangeran tersebut hanya untuk menyelamatkan putrimu?" tanya Ares kembali.
Tersadar akan kalimat yang seharusnya tidak diucapkannya tersebut, Edward pun mengalihkan wajahnya ke samping sembari berkata dengan terbata, "Y—yah..."
"Nah, aku lelah. Mari sudahi percakapan ini," balas Ares seolah tidak peduli sembari bangkit dari sofa.
"I—itu benar! Bagaimana jika menjadi selir atau gundik?! Aku sama sekali tidak keberatan!" timpal Edward panik.
"Hah?! Kau menyuruhku bertemu dengannya hanya untuk membuat anak?! Apakah kau tidak memiliki sedikitpun harga diri, Idiot?!" balas Ares sedikit kesal.
Ares pun menarik kerah Edward dan mendorongnya menuju pintu ruangan. Disaat Ares telah mendorongnya keluar ruangan, Edward berkata, "A—aku tidak akan pernah menyerah!"
"Aku tidak peduli, Sialan!" teriak Ares.
BAM!
Menutup pintu dengan kencang, Ares mengunci pintu dan berjalan kembali menuju sofa.
"Hah... apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya? Aku benar-benar tidak mengerti," ujar Ares dengan nada lelah.
...----------------...