
Tahun 1236, 12 Agustus.
Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.
Dini Hari.
"Fuuhhh."
Di atas sebuah dahan pepohonan yang tidak jauh dari medan perang, Lean—yang baru saja sampai—membidik dengan menggunakan senjata rahasia klannya, Zarrex Bow, dan menunggu saat-saat yang tepat untuk melepaskan anak panahnya kepada Zelhard.
Sesaat setelah dirinya sampai dan memandangi pertempuran di dalam bidang pandangannya, hanya ada satu kata yang segera terbesit di dalam benaknya.
Brutal.
Walaupun Lean adalah seseorang yang telah kehilangan akal sehatnya sebagai seorang manusia, namun dia tidak kehilangan suatu hal yang bernama emosi.
Baginya, emosi adalah sesuatu yang sangat penting dalam melaksanakan suatu operasi pembunuhan atau menjalankan misi. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sangat mendukungnya untuk melakukan penyusupan, pembunuhan berencana, serta berbagai hal kotor lainnya.
Teriakan akibat rasa sakit terdengar sangat keras dari segala penjuru.
Dada yang tertusuk, leher, lengan, dan kaki yang telah tertebas hingga terpisah membuat pertarungan antar manusia tersebut dapat dikatakan sangat brutal. Tidak hanya hal tersebut, serangan beberapa hewan yang menjadi tunggangan para barbarian dan kuda perang milik para prajurit tidak luput dari apa yang menyebabkan kekacauan medan perang di depan pandangan Lean.
Titik-titik api yang berasal dari obor ketiga pasukan seolah menambah keriuhan karena membakar sebagian orang di beberapa sudut medan perang.
Namun, hanya ada dua medan pertarungan yang baginya melebihi kebrutalan medan pertarungan yang lain—yang bahkan dijauhi oleh para pejuang dan prajurit Natrehn yang sedang bertempur di dekatnya.
Tuan dan Arthur... kah?
Lean memiliki kesan yang sangat positif kepada Arthur yang dapat bertahan hidup hingga saat ini meskipun digempur oleh dua orang yang memiliki kekuatan luar biasa.
Namun, keningnya seketika terlihat memiliki kerutan kecil. Menilik kembali pertarungannya dengan Ares dahulu, Lean tahu jika Tuannya belum mengerahkan kekuatan penuhnya—yang juga tidak berbeda dengan anggapannya kepada Zelhard yang terlihat seperti sedang bermain-main.
Meskipun tidak ada diantara mereka yang mengenakan baju besi seperti para prajurit lain, namun pertarungan mereka lebih intens dibandingkan medan pertempuran yang lain.
Para penyerang Zelhard menyadari batasan tubuhnya yang sangat kelelahan. Meskipun Ares tidak menggunakan Rapiernya, namun dia sangat berjuang keras menyerang Zelhard hanya dengan menggunakan pedang curiannya.
Ares menyadari jika peluangnya membunuh Zelhard saat ini hanya sebesar 50 persen meskipun dia juga menggunakan tambahan statistik yang didapatnya dari Rapier yang tersarung di pinggulnya.
Jika dia menggunakan Rapiernya dan gagal membunuhnya, dipastikan Ares akan lebih kesulitan membunuhnya di masa depan karena Zelhard yang telah memiliki pengalaman bertarung melawan Rapier—di samping Zelhard yang memiliki senjata kelas Ancient yang mana tidak dapat dihancurkan oleh Rapiernya.
Di samping niat Ares agar membuat Zelhard lengah karena pada awal pertarungannya, Zelhard begitu mewaspadai setiap gerakannya yang membuat Ares untuk tidak memaksimalkan kemampuan penuhnya.
TRANG!
BAM!
KLANG!
Menangkis senjata yang terhunus kepadanya dan menghindari pukulan, tendangan, serta serangan Marie yang dapat melubangi tanah, Zelhard pun tersenyum puas.
Thorgils memiliki perasaan aneh semenjak beberapa saat lalu bertempur melawan Zelhard. Dia tahu bahwa kekuatan mentahnya dapat dikatakan hampir setara dengannya, namun Thorgils merasakan kesulitan disaat dirinya menyerang menggunakan kekuatan penuhnya.
"Gerakan yang kasar." Zelhard tersenyum mengejek segera setelah mengatakannya.
Kecanggihan gerakan Zelhard—yang telah dilatih dengan pelatihan seorang ksatria—hanya dapat disandingkan dengan gerakan Ares dan Gale.
Thorgils dan Havarr tidak memiliki gerakan canggih seperti seorang ksatria meskipun memiliki pengalaman bertempur yang sangat banyak—yang juga tidak berbeda dengan Marie yang hanya memiliki gerakan untuk tujuan pembunuhan sehingga terlalu mengandalkan kecepatannya.
Gale mendapat kecanggihan gerakan karena pada masa lalu, dia telah mengikuti pelatihan sebagai seorang ksatria, meskipun itu hanya dalam waktu singkat.
BLAR!
Gempuran keras dari ujung rantainya sekali lagi hanya mengenai tanah dimana Zelhard sebelumnya berpijak, yang membuat Marie sekali lagi mendengus kesal.
Meskipun beberapa trik kotor telah dilakukan Marie seperti melemparkan pasir, kerikil, hingga membuat prajurit Natrehn di sekitar menyerangnya, namun Zelhard segera membalasnya dengan hal yang sama atau menghindarinya dengan gerakan yang minimal.
Lean segera melihat suatu kesempatan menyerang. Mengencangkan busurnya dan membidik, Lean menunggu saat yang benar-benar tepat.
Greatsword Thorgils terhunus menuju punggungnya, kapak perang Havarr hendak menebas lehernya dari samping. Pun tidak berbeda dengan dua belati Gale yang hendak menebas perutnya serta lemparan ujung rantai bola besi berduri Marie yang tertuju pada ubun-ubunnya.
"Mati!"
Teriakan penuh kekesalan terdengar dari keempatnya.
Zelhard kembali memasang senyuman tipis. Menganggap remeh serangan yang ditujukan kepadanya, Zelhard menggerakkan tubuhnya ke samping dan menangkis kapak perang dengan mendorong bilah pedangnya ke depan.
TRANG!
Gale dan Thorgils segera menghindar dari serangan Marie yang menuju tempat Zelhard sebelumnya berpijak.
BAM!
Seolah tidak ingin kalah, Havarr menguatkan kekuatannya sehingga tidak kalah dari momentum serangan tiba-tiba Zelhard.
"Heaaaaa!"
Teriakan keras terdengar dari Thorgils yang mengarahkan Greatswordnya ke punggung Zelhard.
TRANG!
Namun, kejutan segera datang tepat setelah Zelhard menangkis dan menggerakkan tubuhnya menyamping karena sedikit terdorong dengan kekuatan mentah Thorgils.
Sebuah anak panah seketika berada tepat 3 cm di depan mata kanannya yang terbuka lebar.
Zelhard merasakan kepalanya akan hancur berkeping-keping jika terkena serangan tersebut. Dengan cepat, Zelhard menggerakkan kepalanya ke belakang sembari menoleh untuk menghindari lintasan anak panah.
JRASH!
"Aarrgh!" teriak Zelhard kesakitan dengan sangat keras.
Sebuah tebasan ujung pedang tepat mengenai mata kanan Zelhard secara vertikal.
"Cih." Ares mendecakkan lidahnya.
Meskipun Ares berniat untuk menebas kepalanya dari ubun-ubun Zelhard, tebasan tersebut hanya dapat mengenai sedikit bagian wajahnya karena gerak kepala Zelhard yang sedikit mundur di luar perhitungannya.
Val sejenak terdiam karena melihat pemandangan yang baginya sangat tidak masuk akal—yang tidak berbeda dengan reaksi para prajurit di dekatnya. Mengingat kematian ayahnya, Val tahu konsekuensi berupa hancurnya pasukan jika Zelhard tewas terbunuh di medan perang—yang juga tidak berbeda dengan diri Zelhard sendiri.
Tidak hanya moral Tentara Kerajaan Natrehn di medan perang ini yang akan hancur, namun kematian Zelhard akan menghancurkan moral tentara dan para ksatria Kerajaan Natrehn secara keseluruhan.
Sebuah Greatsword sekali lagi hendak mengenai bahunya namun segera diacuhkan oleh Val yang bergerak menjauhi medan pertempuran melawan Astrid dan Arthur.
"Tidak akan kubiarkan kau melarikan diri!" teriak Astrid penuh kekesalan.
Mengejar Val yang berlari dengan kekuatan penuhnya yang tersisa, sedikit membuat Astrid kewalahan hingga kedua kakinya yang berlari sedikit terseok-seok.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Gale segera melompat dengan menghunuskan kedua belatinya untuk menebas leher Zelhard yang tanpa satupun perlindungan.
JRASH!
"Argh!" teriak Zelhard kesakitan.
Zelhard masih memiliki kesadaran akan bahaya dan mengelak. Tidak dapat menghindar dengan sempurna, punggungnya pun terkena tebasan yang menjadikannya sebuah luka sedang.
Thorgils dan Marie sekali lagi hendak melancarkan serangan. Menyerang dari kedua sisi yang berbeda, seolah saling bekerja sama dengan kesepakatan yang tidak terucap.
TRANG!
"Hah?!"
Keterkejutan muncul pada ekspresi Thorgils dan Marie. Tidak ada dari mereka yang menyangka serangannya dapat ditangkis begitu mudah oleh Val yang datang secara tiba-tiba.
Memanggul Zelhard di salah satu bahunya, Val pun melompat untuk meninggalkan medan pertempuran sembari berteriak, "Lindungi jenderal!"
Sekali lagi hendak menyerang Val dan Zelhard yang hendak melarikan diri, namun mereka segera dihambat oleh para prajurit Natrehn yang datang untuk melindungi Zelhard. Segera, Val mengambil alih pedang kelas Ancient milik Zelhard untuk melindungi mereka yang hendak melarikan diri.
Berada di dekatnya, Havarr pun mengarahkan kapak perangnya menuju Val yang dapat dijangkau oleh senjatanya.
JRASH!
"Urgh!" teriak Havarr kesakitan.
Mengetahui Havarr yang akan menghambatnya, Val dengan kecepatannya pun menusuk bahu kanan Havarr dengan sangat dalam—meskipun tertutup oleh armor kulit karena Val menyerangnya dengan pedang kelas Ancient tersebut.
Marie melemparkan rantainya dan Gale sekali lagi bergerak untuk menebas Zelhard yang telah terluka tersebut. Namun, para prajurit menghadangnya yang menyebabkan mereka tidak dapat menyerang Val dan Zelhard—yang tidak berbeda dengan keadaan yang dialami Thorgils.
Astrid, Arthur, dan Ares berlari mendekati Val. Tidak mengizinkannya kabur, beberapa kali Val beradu pedang melawan ketiga orang tersebut yang memiliki kekuatan luar biasa.
Tentu saja, tidak mungkin memanggul Zelhard sembari bertarung dengan tiga orang tersebut. Val juga melakukan beberapa trik kotor dengan mendorong para pejuang dan bahkan prajuritnya sendiri sebagai tameng daging dari serangan tiga orang tersebut.
Menyerahkan Zelhard yang terluka kepada salah satu prajurit kavalerinya yang berada di dekatnya, Val pun memfokuskan dirinya untuk sejenak bertarung melawan Ares yang menyebabkannya menjadi sangat kesal.
"Mundur! Kembali ke perkemahan!" perintah Val sangat keras.
Namun, harapan cerah kembali muncul. Ares melihat Alfr yang muncul secara tiba-tiba di dekatnya dan berlari mendekati kuda perang yang akan membawa Zelhard pergi.
Belati besar Alfr terhunus. Berada dalam jangkauan senjatanya, Alfr pun hendak menebas kaki Zelhard yang berada di samping perut kuda prajurit kavaleri tersebut.
TRANG!
"Sialan!" teriak Val sangat kesal.
Menangkis serangan Alfr tersebut, Val melompat menaiki punggung kuda prajurit kavaleri dan meninggalkan medan perang dengan sangat cepat.
"Cih," Ares mendecakkan lidahnya.
Meskipun Ares memiliki kecepatan luar biasa untuk mengejarnya, tentu dia tidak dapat mengalahkan kecepatan seekor kuda perang yang berlari.
Dia juga tidak dapat meninggalkan Havarr—yang merupakan salah satu kepala suku barbarian—begitu saja, yang mana sangat bertentangan dengan tujuan awalnya datang ke tanah utara.
Lean menyadari pelarian Zelhard. Dia sekali lagi membidik Zelhard dari atas pepohonan dan menembakkan sebuah anak panah kepadanya—yang mana disebabkan Lean merasakan interval cooldown telah berakhir.
JRAT!
Sadar akan bahaya mendekatinya, Val menarik tubuh Zelhard yang menyebabkan anak panah tersebut tertuju pada prajurit kavaleri di depannya—yang segera dilemparnya ke tanah sembari menarik tali pengekangnya untuk mengendalikan kuda yang ditungganginya bersamaan dengan menahan tubuh Zelhard di depannya agar tidak terjatuh.
"Sialan!" teriak Ares penuh kekesalan.
Menatap kuda perang yang membawa Zelhard kabur, Ares hanya dapat mendengus kesal dan berbalik kembali untuk melakukan pertolongan pertama kepada Havarr.
...----------------...