I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 22 : Anggaran, Mengapa Banyak Sekali?!



Tahun 1236, 22 Februari.


Kastil Rueter, Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.


Siang Hari.


Di sebuah ruangan yang digunakan sebagai kantor pribadi Kepala Urusan Wilayah, duduk di dekat jendela seorang wanita tua dengan banyak tumpukan perkamen yang berada di atas mejanya.


Berkali-kali, ia mengerutkan keningnya karena merasa terheran-heran dengan apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh Tuannya.


Kapal seperti apa yang sebenarnya disebut kapal induk itu?


Mengapa biaya pembuatan kapal tersebut untuk satu unitnya mencapai 100 juta G?


Ketika melihat lembaran perkamen yang berisi anggaran yang digunakan hanya untuk pembuatan satu kapal perang, memiliki terlalu banyak angka nol, Renne hanya dapat mengerutkan keningnya karena ia merasa hal ini sangat tidak wajar.


Bagaimana tidak?


Pembuatan satu kapal perang biasa hanya menghabiskan dana sekitar 9 juta G hingga 15 juta G. Tentunya, itu merupakan kapal yang terbuat dari kayu dan memiliki banyak meriam sebagai senjatanya.


Namun, tepat sebelum keberangkatan Ares menuju Kota Hauzen, Renne telah diperintahkan oleh Tuannya untuk menggunakan semua dana yang dimiliki oleh Margrave Rueter untuk membuat 5 kapal induk.


Bahkan, ketika melihat hanya kepada biaya penelitian dan pengembangannya, itu telah mencapai 120 juta G dan akan terus bertambah kedepannya.


Sebenarnya, meskipun kapal induk merupakan hal baru bagi dunia ini, pembuatan kapal induk tidaklah menghabiskan dana sebanyak itu.


Karena keinginan Ares yang menginginkan kecepatan dalam pembuatan kapal tersebut, biaya pembuatan kapal menjadi membengkak hingga 1,5 kali lipatnya mengingat pembuatan satu kapal induk menggunakan tenaga kerja hingga 6.000 orang.


Juga, mengingat kejadian beberapa bulan lalu dimana Ares kembali ke Kota Ereth dengan membawa banyak koin emas dan platinum, Renne hanya dapat dibuat sangat terkejut karenanya.


Saat melihatnya, dia hanya terheran-heran, apakah Tuannya telah merampok ruang harta Kekaisaran Renacles?


Bahkan, ia merasa tidak dapat menghitung semua jumlah uang tersebut dikarenakan jumlahnya yang sudah tidak dapat hanya dikatakan "banyak" lagi.


"Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang dapat meringankan perasaan Anda, Letnan Jenderal?" tanya Owen dengan tersenyum lembut.


Tentunya, sebelum Owen menawarkan sesuatu kepada Renne, dia telah melirik perkamen dimana anggaran kapal tersebut dicanangkan yang membuat hatinya sangat terguncang. Namun, ia memutuskan tidak menghiraukannya karena itu di luar ranah tanggung jawabnya.


"Ah, Owen. Saya hanya membutuhkan beberapa orang yang mampu," jawab Renne dengan tersenyum sarkastik.


"Saya kira, seduhan teh dan beberapa hal yang manis dapat membuat perasaan Anda menjadi sedikit lebih tenang," timpal Owen acuh tak acuh dengan tersenyum hangat.


"Nah, terima kasih. Oh, tolong kirimkan beberapa lembar perkamen yang baru," balas Renne menyerah.


"Baik," timpal Owen.


Owen pun menarik kembali kereta makanannya dan menyajikan teh dan beberapa manisan kepada Renne.


"Permisi," ujar Owen dengan menunduk ringan.


"Ah, baik," timpal Renne dengan tersenyum sarkastik.


Setelah melihat Owen pergi, Elsa, yang mengerjakan laporan lain di sudut ruangan, hanya dapat terkikik kecil setelah melihat interaksi Renne dan Kepala Pelayan Owen.


"Apakah kamu mengenal beberapa pelayan yang mampu untuk mengurus anggaran seperti ini, Elsa?" kata Renne setelah samar mendengar kikikan Elsa.


Elsa pun mengepalkan tangannya dan mendekatkan ke arah mulutnya, lalu ia berdehem, "Uhm. Saya kira hanya mengenal Ody dan Milly diantara para pelayan yang dapat saya katakan mampu untuk diberikan tanggung jawab seperti ini, Bu."


Setelah mendengarnya, Renne hanya memasang ekspresi sedih sembari berkata, "Apakah begitu..."


Tentu saja, Renne mengetahui apabila kedua wanita tersebut baru saja melahirkan sehingga tidak mungkin untuk meminta bantuan mereka berdua.


Setelah terjadi keheningan selama beberapa saat, karena kesulitan mengalokasikan anggaran yang tepat, Elsa membuka mulutnya seolah memecah keheningan.


Elsa pun mengalihkan pandangannya kepada Renne, ia berkata, "Letnan Jenderal, bagaimana alokasi anggaran yang sesuai terhadap perbaikan jalan dan bantuan yang diberikan kepada desa-desa yang memiliki masalah populasi nantinya?"


Renne sejenak menghentikan pekerjaannya untuk memikirkan hal tersebut. Lalu, ia berkata, "Mengingat kami telah memiliki 29.000 prajurit yang telah dapat digerakkan, kami akan menggunakan para prajurit tersebut sebagai tenaga kerja utama dengan dibantu oleh buruh yang berasal dari rekrutan sipil untuk mempercepatnya. Berikan honor tambahan bagi para prajurit sebesar 20 G perharinya dengan tambahan 1 drum alkohol untuk setiap regu. Untuk pekerjaan umum, berikan 15 G untuk para buruh dengan bonus apabila menyelesaikan pekerjaan melebihi target."


Setelah mendengarkan dengan seksama, Elsa mencatat poin-poin penting yang dikatakan oleh Renne di mejanya.


"Berikan bantuan kepada desa yang memiliki—tidak, jika kami memberikan bantuan dengan pilih kasih, itu akan menimbulkan benih ketidaksenangan dari desa yang tidak mendapatkannya. Jadi, anggarkan masing-masing desa dana sebesar 20.000 G dengan tambahan bagi desa yang memiliki masalah populasi sebesar 7.000 G untuk membuka lahan baru," sambung Renne.


"Baik, Bu," timpal Elsa yang menggerakkan tangannya untuk mencatat.


Renne mengambil lembaran perkamen keuangannya untuk memeriksa anggaran tahunan yang telah diberikan. Lalu, dia menambahkan, "Anggarkan 45.000 G untuk kota-kota kecil di Wilayah Margrave Rueter dan 75.000 G untuk kota besar seperti Kota Navia."


"Bukankah itu terlalu besar mengingat Kota Navia telah mendapatkan anggaran dari kami pada awal tahun?" balas Elsa keberatan.


"Karena sifatnya yang lebih strategis, Kota Navia telah diputuskan untuk menyimpan cadangan makanan bagi Wilayah Rueter untuk kedepannya," timpal Renne.


"Baik, Bu," balas Elsa seolah mengerti.


Karenanya, Ares telah memutuskan untuk menjadikan Kota Navia sebagai basis pangan sehingga pengiriman pasokan makanan ke desa dan kota di dalam Wilayah Rueter akan semakin cepat apabila wilayahnya dilanda kelaparan dan kekeringan.


Tok.


Tok.


"Saya telah membawa perkamen yang Anda butuhkan, Letnan Jenderal," ujar Owen dari balik pintu.


"Silakan masuk," balas Renne yang masih menulis.


Krieet.


"Permisi," ujar Owen saat membuka pintu.


Masuklah Kepala Pelayan Owen dengan mendorong kereta yang berisi banyak perkamen dengan seorang wanita di belakangnya.


Owen pun melangkah maju untuk memberikan perkamen kepada Renne meninggalkan wanita tersebut berdiri di sudut ruangan.


"Letnan Jenderal, saya membawa seseorang yang bersedia membantu Anda," ujar Owen setelah menempatkan banyak perkamen di sudut meja Renne.


Renne mengalihkan pandangannya kepada wanita tersebut dan mengerutkan keningnya seolah tidak setuju sembari berkata, "Ivy?"


"Y—ya, Bu!" timpal Ivy gelisah.


Tentunya, bagi seorang mantan budak seperti Ivy, ia tidak memiliki pendidikan yang tinggi seperti seorang pejabat pada umumnya sehingga Renne bermaksud untuk tidak menerimanya.


"Apakah Anda benar-benar sanggup?" tanya Renne heran.


"Dengan sedikit pelatihan, saya mungkin sanggup, Bu!" jawab Ivy sedikit panik.


Ya, tidak ada yang tidak gelisah apabila seorang pelayan biasa bertemu dengan seorang pejabat tinggi setingkat kepala urusan suatu daerah.


Melihat Ares yang belakangan ini terlalu sibuk untuk mengatur dan memperbaiki wilayahnya, Ivy merasa tersentuh dan berniat membantunya. Karenanya, ia meminta Kepala Pelayan Owen untuk melatihnya sebagai seorang magang pejabat sehingga dapat membantu Ares meskipun hanya sedikit.


"Saya kira jika Anda melatihnya, mungkin Ivy akan dapat membantu Anda. Selain itu, kami dapat melakukan regenerasi pejabat," bujuk Owen dengan tersenyum.


Jika kau memiliki kelonggaran dan waktu luang, setidaknya bantu aku!


Renne hanya dapat tersenyum sinis atas bujukan dari seseorang yang menurutnya sangat mampu.


Seolah menyerah dengan bujukan Owen, Renne berkata, "Baik, mengingat bahwa Anda juga merupakan salah satu gundik Tuan Muda, saya akan melatih Anda karena kemungkinan besar anak Anda juga akan menjadi ksatria atau pejabat di wilayah ini nantinya."


"Te—terima kasih, Bu," timpal Ivy dengan menunduk dalam.


Renne pun hanya melihat Ivy dengan tatapan hangat.


Seolah menambahkan bom, Owen berkata, "Nona Elsa, mengingat usia Anda yang telah dewasa, mengapa Anda tidak kunjung menikah?"


Klak.


Tanpa sengaja, Elsa mematahkan pena bulunya karena terkejut. Lalu, ia berkata dengan panik, "I—itu karena kakak belum menikah! Benar!"


"Hmm, yah, saya kira itu tetap membutuhkan persetujuan Tuan Ares karena Anda juga merupakan keluarganya," timpal Owen karena keheranan dengan perilaku Elsa.


Saat itu, Elsa melihat Ivy yang tersenyum seolah mengejek dirinya. Elsa pun menatap Ivy dengan mata yang menunjukkan penuh kekesalan.


Ku!


Lihat saja!


Ak—aku tidak akan kalah darimu!


Tentu saja, Ivy tidak bermaksud mengejek Elsa yang menyebabkan ia merasa kebingungan dengan sikap Elsa kepadanya. Ivy pun memiringkan kepalanya saat ditatap dengan penuh kekesalan oleh Elsa.


Mengapa Nona menatapku dengan tajam?


Aku benar-benar tidak mengerti.


...----------------...


Catatan :


Jarak tembak meriam kapal : 300 meter.


Juga, dunia game ini memiliki setting latar dimana persenjataan api belum berkembang seperti abad ke-13. Bahkan, meriam masih berada dalam tahap awal perkembangan senjata api.


Ares disini mengatakan "kapal induk" sesuai dengan fungsinya, bukan karena ukurannya.


...----------------...