I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 86 : Apakah ini... adalah Pertemuan yang telah Ditakdirkan?



Tahun 1236, 8 Agustus.


Hutan Blervec, Wilayah Utara Benua Barat.


Malam Hari.


Kesadaran Alfr perlahan mulai kembali. Sembari menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya, ia memaksakan diri untuk membuka kedua matanya secara perlahan.


Titik cahaya mulai tampak. Perlahan namun pasti, pandangan kedua matanya mulai menampakkan langit malam serta sosok wajah seorang gadis cantik berambut oranye dengan hiasan bunga di atas kepalanya yang menurutnya sangat imut. Benar-benar berbeda dengan sosok wanita yang sering dirinya lihat dalam kesehariannya.


Apakah ini... adalah kehidupan keduaku?


Pikiran Alfr mulai berlarian menuju sesuatu yang sebenarnya tidak dipahaminya.


Meskipun dirinya telah diajarkan oleh kedua orang tuanya beserta Kepala Suku tentang kehidupan setelah kematian—karena pengaruh Agama Arafant di masa lalu—dia tidak begitu mengerti karena baginya pengetahuan tersebut hanya memasuki salah satu telinganya dan keluar melalui telinganya yang lain.


Senyuman lembut pun ditampakkan oleh gadis tersebut.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Nada Gadis tersebut sangat menenangkan, ekspresinya dapat menghangatkan hati seseorang yang melihatnya.


Alfr mulai menganggap bahwa dirinya sangat diberkati karena dapat menjalani kehidupan kedua.


"Apakah kamu... adalah seorang dewi?" tanya Alfr dengan sedikit menunjukkan kebingungan.


"Bahahaha!"


"Wahahaha!"


"Ahahahahaha—uhok! Uhok!"


Gelak tawa keras terdengar secara tiba-tiba yang membuat Alfr bertambah kebingungan. Berbeda dengan sikap Alfr yang masih tidak memahami situasi, Gale segera mengubah ekspresinya menjadi jelek.


Tatapannya menuju empat orang yang duduk tepat di belakangnya yang memiliki latar berupa api unggun. Gale tidak pernah mengira bahwa perkataan Ares akan menjadi kenyataan—yang bahkan membuat Lean tertawa hingga terbatuk-batuk.


Berbeda dengan sikap tiga orang di dekatnya, Arthur menahan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, meskipun masih terdengar suara tawa samar darinya.


Muak, Gale sangat malas menyikapi mereka bertiga yang sedari tadi selalu mempermainkannya.


"Apakah kamu baik-baik saja? Kami menemukanmu tidak sadarkan diri di bawah pohon yang tak jauh dari sebuah desa yang telah rusak parah." Gale menggunakan nada feminim yang terdengar seperti suara anak belum dewasa—yang mana merupakan perintah yang juga diberikan oleh Ares.


Terngiang kembali ingatan hari itu, Alfr menjadi sangat gelisah karena dirinya yang tidak berada di dekat mereka. Kedua tangannya dengan cepat memegang kedua bahu Gale sembari dirinya yang bangkit terduduk.


"Apa?! Apa yang terjadi dengan desa itu?! Bagaimana keluargaku?! Bagaimana dengan keadaan adikku?!" Nada yang diberikan sangat menunjukkan kepanikan, kedua mata Alfr mulai deras meneteskan air mata. Pun tidak berbeda dengan kedua tangannya yang menggoyang-goyangkan kedua bahu Gale.


Keempat orang di belakang Gale segera menghentikan tawanya disaat mereka melihat sikap Alfr.


Apakah kamu juga merupakan penduduk desa tersebut?


Tapi... bukankah dirinya juga terlihat sangat aneh?


Menurut apa yang aku ketahui, barbarian sangat menjunjung tinggi kekuatan yang membuat mereka tidak akan kabur dari musuh.


Juga, dia tidak berjenggot, penampilannya benar-benar berbeda dengan apa yang aku ketahui.


Ares sedikit mengerutkan keningnya karena perilaku pria barbarian yang sangat kontras dengan deskripsi game yang diketahuinya mengenai suku barbarian yang tinggal di utara benua.


"Tewas." Jawaban cepat dan tegas segera diberikan oleh Ares.


Gerakan tangannya terhenti. Alfr tersadar akan kenyataan yang benar-benar tidak diinginkannya telah terjadi.


"Mengapa?! Mengapa hal ini bisa terjadi?! Jika kalian dapat menolongku, bukankah kalian juga dapat menolong para warga desa—" Amarah di dalam benaknya mulai muncul, tidak dapat berpikir logis, Alfr benar-benar ingin menyalahkan orang-orang yang telah membantunya karena tidak dapat menyelamatkan keluarga yang sangat dicintainya.


BUAK!


Kepalan tangan Arthur segera menghantam wajah Alfr hingga membuat kepalanya menoleh ke belakang.


"Bodoh!" teriak Arthur dengan penuh kekesalan.


Bagi Arthur—yang telah merasakan penderitaan—tentu sangat muak dengan sikap Alfr yang tidak logis tersebut.


Alfr segera tersadar, meskipun dirinya tidak ingin mengakuinya, meskipun dirinya benar-benar tidak ingin hal tersebut menjadi kenyataan, namun dia tahu bahwa kematian seluruh keluarga beserta penduduk desa adalah hal yang nyata.


Sekali lagi, air matanya deras menetes. Entah mengapa, baginya pukulan tersebut membuat dirinya terselamatkan.


Melihat Alfr yang seketika menangis—yang bahkan tidak biasa dilakukan oleh suku barbar, mereka berempat tahu jika pria di depannya telah melihat pembantaian keluarganya dengan mata kepalanya sendiri.


Beberapa saat menunggu keadaan hening dengan hanya suara isak tangis yang terdengar, Ares bertanya, "Siapa namamu?"


"Aku... Alfr," jawab Alfr lirih.


"Apakah keluargamu bertarung dengan musuh karena mempertahankan desamu?" tanya Ares.


Pertanyaan yang begitu berterus terang seolah tidak mempedulikan perasaan pihak lain. Bagi Ares, dia tidak ingin terlalu memanjakan pria di depannya dan membuatnya hidup dalam kebohongan.


"Idiot," timpal Ares.


Balasan cepat berupa kata yang sangat menohok pun diucapkan Ares—yang bahkan sangat mengejutkan empat orang lainnya.


"Hah?! Kau mengejekku?! Kau mengejek suku kami?!" Nadanya penuh kekesalan. Amarah seketika menguasai hati Alfr.


Mendengarkan suara keras seseorang yang saat ini memiliki banyak balutan perban di tubuhnya, Ares hanya dapat menutup kedua matanya sembari menunggu beberapa saat hingga Alfr sedikit tenang.


"Apa pendapatmu mengenai kata-kata 'rumah'?" Ares kembali membuka matanya dengan tajam dan segera menjawab.


Terdiam, Alfr benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan yang Ares lontarkan. Meskipun dia mengetahui pertanyaan tersebut begitu sederhana, namun Alfr merasa jika pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu yang sangat sederhana seperti yang dia pikirkan.


Tersenyum masam akibat reaksi Alfr, Ares mengalihkan wajahnya untuk menatap langit malam yang tersinari oleh bulan serta banyak bintang.


Ares kembali mengingat hidupnya di dunianya yang sebelumnya. Penyesalan akibat tidak berpamitan kepada keluarganya serta semua orang yang dikenalnya, membuat perasaan bersalah dan rindu beberapa kali telah muncul di dalam hatinya.


Namun, dirinya juga telah memiliki apa yang disebut sebagai "rumah" di dunia ini. Mengingat kembali senyuman anak-anaknya, keluarganya, para ksatria dan pejabat, serta senyuman istrinya, Ares mengetahui jika dia salah langkah, dirinya pasti akan kehilangan mereka semua.


"Rumah... bukanlah sesuatu hal yang terikat pada satu tempat." Pesan yang dibawakan Ares terasa penuh kerinduan.


Tidak berbeda dengan Ares, para anggota klan serta Arthur pun juga dapat merasakannya dan hanya terdiam sebagai tanda persetujuan.


"Kukira... kamu mengerti tentang arti dari kata-kata yang kuucapkan," sambung Ares.


"Ak—aku sudah memperingatkan mereka! Tapi mereka tetap saja tidak mengerti! Ak—aku..." Kata-kata Alfr terputus karena isak tangis.


Menunggu Alfr hingga tenang kembali. Mereka tahu, kata-kata mereka hanya terbuang percuma jika berinteraksi dengan seseorang yang diliputi emosi yang tidak stabil.


"Bukankah kau mengerti tentang Hukum Nord yang berlaku diantara jenis kalian?" Kata-kata pedas disampaikan kembali oleh Ares dengan acuh tak acuh.


Hukum Nord, sebuah hukum yang berlaku diantara suku-suku barbar yang hidup di utara Benua Barat. Karena bangsa mereka yang kerap melakukan penjarahan dan pembunuhan kepada suku lain—dan bahkan sisi pemukiman di perbatasan Kerajaan Natrehn—maka hukum tersebut muncul dan menjadi aturan tidak tertulis bagi suku-suku barbar.


Sebagai anggota salah satu suku tersebut, Alfr tahu jika hal ini dapat terjadi kepada sukunya sendiri. Namun, sebagai seorang manusia, tentu dirinya juga tidak dapat luput dari hal yang bernama kesedihan serta dendam. Karenanya, dia hanya dapat tertunduk lemah—yang mana Ares memandang rendahnya karena tidak siap menerima kenyataan pahit tersebut.


"Aku tahu... jika kami dibunuh... tidak ada dendam dan pembalasan yang akan muncul... karena... kami juga tidak lepas dari perbuatan tersebut," ungkap Alfr lirih.


"Maka dari itu, bangsa kalian hanyalah sekumpulan orang idiot," ejek Ares.


Meskipun diri dan sukunya diejek, entah mengapa hal tersebut dapat menenangkan hatinya. Alfr pun mengadahkan kepalanya dan menatap kembali lima orang di depannya sembari melukiskan senyuman lemah.


"Bolehkah aku... mengetahui nama kalian?" tanya Alfr.


Wajah Alfr menoleh kepada Ares lalu menuju kepada orang di sampingnya secara berkesinambungan saat mereka hendak menjawabnya.


"Gnery," jawab Ares singkat.


"Lan," jawab Lean.


"Mary!" jawab Marie dengan nada cerah.


"Maaf karena telah memukulmu, namaku adalah Art," jawab Arthur dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan," timpal Alfr lalu tersenyum.


Wajah Alfr pun berpaling menuju gadis di depannya. Dengan sedikit memerah, ia bertanya, "Bolehkah aku... mengetahui namamu?"


"Um... namaku adalah—" Sedikit bingung dengan sikap yang ditunjukkan Alfr yang terlihat sedikit malu. Gale menjawabnya dengan nada feminim seperti yang diperintahkan Tuannya.


"Ina," sela Ares dengan tersenyum kecut.


"Eh?!" ujar Gale yang terkejut.


"Ada apa?" tanya Alfr bingung saat melihat reaksi Gale.


"Ti—tidak... kamu dapat memanggilku Ina," jawab Gale sangat gelisah.


"Baik, terima kasih... karena telah menyelamatkanku, Ina," jawab Alfr dengan sedikit menahan malu.


Wajah Gale seketika berbalik menuju empat orang yang duduk di belakangnya dan menemukan mereka sedang menahan mulutnya yang hendak tertawa dengan masing-masing tangannya.


Sial!


Sialan!


Awas saja, kalian!


Dengan kening berkerut karena perasaannya yang penuh kekesalan, Gale benar-benar mengutuk tindakan Tuan serta rekannya yang sedari pagi selalu mempermainkannya.


...----------------...