
Tahun 1236, 12 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Pagi Hari.
Pltak!
Pltak!
Di bawah sinar matahari cerah, kurang dari 30 prajurit kavaleri Kerajaan Natrehn sedang menunggangi kudanya dengan sedikit terburu-buru.
Beberapa jam telah berlalu semenjak mereka pergi dari perkemahan setelah mundur dari medan perang.
Meskipun mereka sangat terkejut karena semua prajurit penjaga basis perkemahan telah tewas dan semua ransum makanan telah menjadi abu, Val dan para prajurit yang kabur segera menuju ke salah satu tenda dan memberi pertolongan pertama kepada Zelhard.
Perasaan mereka tidak tenang, sangat takut dengan serangan balik yang akan diluncurkan oleh para barbarian, Val membagi beberapa prajuritnya yang berhasil mundur dengan selamat untuk mengambil semua kebutuhan dasar yang masih dapat digunakan sembari dirinya dan beberapa perwira ahli melakukan perawatan kepada Zelhard.
Hanya berlangsung sekitar 30 menit, Val membagi para prajuritnya—yang hanya berjumlah sekitar 900 orang setelah mundur dari medan perang—menjadi banyak unit kecil dan memerintahkan mereka untuk kembali ke perbatasan kerajaan dengan gerak cepat dengan masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang perwira.
Merasakan bahwa kelompoknya telah berada cukup jauh dengan musuh, Val segera berteriak, "Istirahat di bawah pepohonan di depan!"
Para prajurit menghela napas lega. Tidak terkecuali Val, mereka mengetahui jika tubuh mereka sangatlah lelah, yang tidak juga berbeda dengan keadaan tunggangan mereka yang membutuhkan istirahat.
Setelah membaringkan Zelhard yang kepala serta beberapa bagian tubuhnya telah diperban bersama beberapa prajurit dengan sebuah matras, Val pun segera menjatuhkan dirinya di bawah dedaunan rindang.
Tidak berbeda dengan para prajurit lain, nafas Val sangat berat. Bahkan, beberapa kuda perang—yang telah dilatih—yang menjadi tunggangan para prajurit telah menjatuhkan tubuhnya.
"Uhuk... uhuk..."
Suara batuk samar seorang pria tua terdengar tak jauh dari tempatnya berada. Bersama beberapa prajurit, Val dengan berat membangkitkan kembali tubuhnya dan menemukan Zelhard yang telah membuka matanya.
Pandangan Zelhard secara perlahan beralih kepada Val. Setelah melukiskan senyuman pahit di atas wajahnya, Zelhard berkata, "Aku tidak mengira kekalahan pertamaku adalah disaat aku melawan pasukan yang tidak menggunakan satupun strategi peperangan."
Bernada lemah, namun entah mengapa terdengar ada sedikit kebahagiaan di dalamnya.
Para pendengar hanya dapat terdiam. Mereka mengetahui jika moral tentara telah dipastikan jatuh karena kekalahan melawan suku-suku barbar.
Tidak hanya hal tersebut, nama Zelhard, sebagai salah satu dari tiga jenderal terbaik kerajaan, telah dipastikan jatuh di mata para bangsawan lain.
"Kami... telah kehilangan lebih dari 3.000 prajurit. Saya tidak tahu bagaimana nasib—" Val terpaksa melaporkannya dengan nada berat.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan," sela Zelhard sembari tersenyum masam.
"Tapi..." ungkap Val yang terlihat memiliki ekspresi sangat bermasalah.
Zelhard perlahan mengalihkan kedua matanya untuk menatap daun-daun rindang di atas kepalanya. Merasakan angin yang berhembus, sangat membuat perasaannya menjadi damai.
"Di mana kita sekarang?" tanya Zelhard.
"Kami... meninggalkan perkemahan tepat sebelum matahari terbit," jawab Val bernada berat.
Hmm, sudah sangat jauh.
Jika begitu, dapat dipastikan mereka tidak melakukan pengejaran.
"Apa saja yang kalian bawa?" tanya Zelhard kembali.
"Ya, Pak! Lima buah tenda kecil, 70 paket ransum makanan yang masih dalam keadaan baik, dan 13 kantung air!" jawab seorang prajurit di belakang Val.
"Kita akan beristirahat di tempat ini selama dua—tidak, tiga hari. Setelah itu, kembali menuju perbatasan," timpal Zelhard bernada tenang.
"Ya, Pak!" Para prajurit serentak menjawab dengan tegas.
Setelah mengizinkan para prajurit untuk pergi dan beristriahat, Zelhard melihat Val yang segera berbaring kembali di dekatnya.
Bersama-sama saling menatap awan putih yang bergerak pelan di langit biru, membuat Zelhard mengingat kembali masa lalunya bersama Barlock.
"Apakah kamu melihat 'The Destroyer' yang menghancurkan batu besar kemarin?" tanya Zelhard.
"Saya... melihatnya," jawab Val.
"Dia bernama Gnery, salah satu jenderal Margrave Rueter..." Zelhard memutus kalimatnya. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang dapat merusak suasana yang baginya sangat nyaman.
Val seketika terdiam. Meskipun tubuhnya lelah dan sangat lemah, tangannya mengepal erat.
"Kurasa... dia juga merupakan seseorang yang menebas salah satu mataku disaat aku lengah." Zelhard dengan berat mengatakannya.
Meskipun Zelhard sekilas telah melihat wajah Gnery yang merupakan seorang pemuda secara samar, namun dia segera menepisnya dengan menganggap bahwa itu hanyalah kesalahan penglihatannya—yang mana keadaan medan perang saat itu terlihat remang oleh cahaya bulan.
Tidak mungkin seorang pemuda biasa dapat menorehkan luka kepadanya—yang bahkan tidak mungkin dilakukan oleh dua kepala suku dan dua pelindung mereka di medan perang kemarin.
Makna tersirat segera dimengerti oleh Val. Dia tidak berpikir Margrave Rueter—yang dirumorkan merupakan seorang aristokrat muda seperti dirinya—dapat membunuh ayahnya, salah satu dari tiga jenderal terbaik kerajaan.
Pikiran mereka berdua segera bertemu di satu titik kesimpulan, Val dan Zelhard mengerti bahwa seseorang yang telah membunuh Barlock di masa lalu adalah Gnery.
"Aku—" Ucapan bernada berat Val terputus.
"Tidak perlu memikirkannya, latihlah dirimu kembali. Aku akan menggunakan koneksi bawah tanahku untuk memberi nilai kepalanya," sela Zelhard.
Sedikit rasa syukur muncul di dalam hati Val. Walaupun dia menginginkan untuk membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri, Val menyadari betapa lemahnya dirinya saat ini.
"... Terima kasih..." ucap Val lirih.
Zelhard menaikkan salah satu sudut mulutnya sembari tetap menjaga perhatiannya kepada langit biru yang menenangkan.
Di waktu yang sama, sekitar 150 km dari tempat Val dan Zelhard berada, sebuah medan pertempuran mengalami kebuntuan.
Berbeda dengan keadaan cerah di sisi barat tanah utara, badai dan hujan deras menyerang pesisir pantai Laut Bercov yang saat ini berada dalam keadaan kacau.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Meriam-meriam dengan jangkauan tembak yang sangat pendek ditembakkan untuk menghancurkan kapal perang yang tersisa.
Meskipun hal tersebut tidaklah berarti dalam sebuah pertempuran laut melawan angkatan laut negara lain, Natrehn menyadari bahwa strategi ini sangat efektif dalam merusak kapal perang Suku Selatan yang selalu digunakan untuk mendekati kapal mereka.
Dua hari telah berlalu semenjak perang laut dikibarkan. Entah itu Tentara Kerajaan Natrehn atau Suku Selatan, kedua pihak telah mengalami kerusakan besar.
Pada awal peperangan, tentu pihak Natrehn memiliki banyak persenjataan canggih akan memiliki keunggulan. Namun, hal tersebut tidak bertahan lama semenjak para pejuang Suku Timur melompat dengan tali-tali layar mereka dan membajak beberapa kapal perang Natrehn.
Walaupun memiliki kerusakan besar, Natrehn—yang memiliki suplai senjata, ransum makanan, serta memiliki pelatihan prajurit yang lebih baik—tentu mendapatkan kemenangan, meskipun itu dapat dikatakan tipis.
"Jenderal! Kami telah berhasil membakar rumah-rumah di pesisir!" lapor salah satu prajurit.
"Kembali ke perbatasan, kami tidak mungkin melanjutkan operasi," jawab Sang Jenderal tegas.
"Ya, Pak!"
Tidak memiliki alternatif lain, para prajurit menjawab tegas. Mereka mengetahui keadaan pasukan yang harus sejenak diistirahatkan dan mengisi kembali pasokan senjata dan makanan mereka—yang mungkin saja akan menghentikan operasi militer selama satu bulan lebih.
Namun, keadaan sangat berbeda dialami oleh para penduduk Suku Timur yang bertempat tinggal di dekat pantai.
Rumah-rumah telah hancur menjadi abu karena serangan tentara yang berhasil berlabuh, sumur dan pengairan yang telah diracuni oleh bangkai-bangkai binatang, membuat para warga desa tidak dapat kembali ke rumah mereka.
Meskipun para barbarian memiliki kebanggaan dengan melawan mereka, Natrehn segera menarik kembali para prajuritnya yang menyebabkan hanya ada sedikit korban diantara anak-anak dan para wanita.
Para penduduk Suku Selatan menyadari bahwa mereka dapat membangun kembali desa mereka. Namun, perasaan sia-sia yang sangat kuat telah tertancap dalam benak masing-masing penduduk.
Tidak hanya membutuhkan banyak kayu sebagai bahan baku, pekerjaan tersebut sangat menyita banyak waktu—yang mana mereka dapat memastikan Natrehn akan kembali menyerang di masa depan yang tidak begitu jauh.
"Askarr, pergilah ke Suku Utara dan buat mereka membalas dendam kita!"
Pria berotot dengan jenggot coklat tebal yang tidak sedikitpun memiliki rambut di atas kepalanya, berkata dengan penuh amarah kepada seorang pemuda kekar berambut oranye yang memiliki wajah mengintimidasi dengan banyak luka.
Askarr menganggukkan kuat kepalanya sembari memasang tatapan tajam. Tangannya mengepal erat, Askarr juga tidak luput dari emosi.
Kepada pria di depannya dengan latar para penduduk yang berlindung di dalam gua dengan beberapa dari mereka sedang melihatnya dari mulut gua, Askarr berkata dengan keras, "Aku pergi!"
Berbalik, Askarr melangkahkan kakinya yang menampakkan sedikit kekesalan karena hatinya yang sangat panas.
Sialan!
Lihat saja, aku pasti akan membalas kalian!
...----------------...