
Tahun 1237, 22 Maret.
Kerajaan Mana.
Sore Hari.
Di bawah cahaya merah mentari dengan banyak awan gelap yang menutupi langit seakan menjadi pertanda suasana mencekam, perhatian Eina tertuju pada benteng yang menjadi pertahanan terakhir sebelum memasuki wilayah sekitar Ibukota Kerajaan Mana, yang berada sangat jauh dari tempatnya berpijak.
Beberapa hari telah berlalu semenjak Eina menggerakkan Pasukan Utama Kerajaan Natrehn untuk memasuki wilayah perbatasan Kerajaan Mana.
Eina tidaklah mengerahkan kekuatan penuhnya karena menunggu kedua pasukan pangeran Rowling bergerak mendekati ibukota, selain dari niat awalnya agar konfederasi merasa tersiksa dengan perang berkepanjangan serta membuat pasukan Natrehn secara sistematis kehabisan persenjataan agar dapat memastikan kehancurannya disaat mereka melawan pasukan kedua pangeran Kerajaan Rowling.
Jika Eina telah bersikap serius sejak awal, dimungkinkan apabila militer dapat menguasai Wilayah Kerajaan Mana secara keseluruhan hanya dalam rentang waktu dua pekan.
Para bangsawan yang tergabung dengan pasukan gabungan tentu merasa kesal dengan sikap Eina, yang terlalu lambat dalam mengatur jalannya peperangan. Tidak hanya hal tersebut, bahkan Eina mendapat surat rahasia dari pihak Forbrenne yang memintanya agar dapat menghancurkan dua kerajaan konfederasi lain dengan lebih cepat.
Namun, pesan mendesak dari Julius berupa penarikan seluruh pasukan telah tiba beberapa saat lalu.
Disaat para bangsawan petinggi militer mendengar kabar bila pasukan dua pangeran Rowling telah menerobos perbatasan dan hanya berjarak sekitar 6 hari perjalanan normal—dapat dikatakan waktu perjalanan yang ditempuh oleh para pelancong, bukan pasukan besar—mayoritas dari mereka pun panik dan segera menggelar Dewan Perang untuk menarik pasukan dan kembali menuju ibukota, meskipun Eina dapat menahannya untuk sementara.
Tentu, kepanikan tidak terjadi dengan para bangsawan yang berada di bawah payung perlindungan House of Fonca serta sekutu-sekutunya—meskipun mereka menyamarkan dirinya untuk tetap bersikap panik.
Bagi mereka, kata-kata Eina mutlak untuk dipatuhi karena menjadi subyek House of Fonca sejak dahulu—yang mana mereka juga berperan dalam pembalasan dendam suami dan pewaris House of Fonca dengan membuat Movic menduduki singgasana.
Kata-katamu penuh kebohongan, Yang Mulia Julius...
Aku mengetahui jika Tentara Rowling masih berada dalam jarak 9 hari perjalanan normal, meskipun mereka tidak akan bergerak untuk sementara waktu karena sedang membuat basis pasokan makanan.
Mengingat jika Pasukan Utama Natrehn segera ditarik mundur, kita akan tiba di Scandiva hanya dalam rentang waktu 8 hari...
Apakah kamu terlalu ketakutan, Yang Mulia?
"Benar-benar menyedihkan." Lelah, Eina pun menghela napas dalam. Meskipun di depannya merupakan pemandangan berupa pertumpahan darah yang hebat, Eina sejenak merenungi kembali pilihan rencana yang sebaiknya dia ambil untuk saat ini.
Eina telah mempersiapkan beberapa perencanaan yang sangat matang. Pada awalnya, dia merencanakan untuk menahan bala bantuan hingga Ibukota Scandiva hancur lebur. Namun, harapannya pun sirna. Surat Julius tiba lebih awal dari apa yang telah dia prediksikan sebelumnya.
Jika kondisi ini terus berlangsung, walaupun Eina memiliki pengaruh besar, dia tidak akan mampu untuk terus membendung desakan para bangsawan yang khawatir terhadap keselamatan ibukota, yang mana dapat dipastikan Eina dengan terpaksa harus menarik mundur pasukan dalam waktu kurang dari dua hari.
Baiklah, mari gunakan rencana kedua.
"Petang akan tiba, segera tarik mundur seluruh pasukan." Nada Eina terdengar tegas, "Setelah matahari terbit, kita akan mundur menuju ibukota. Tinggalkan 30.000 prajurit di wilayah yang telah terebut."
Kelegaan menyelimuti suasana hati para perwira militer yang juga merupakan seorang bangsawan wilayah. Meskipun tidak yakin dengan sesuatu yang mengubah pemikiran Eina, namun mereka semua hanya terdiam menerimanya. Segera mengambil sikap hormat, semua orang serentak berkata, "Ya, Bu!"
Tidak jauh dari perkemahan Tentara Natrehn dimana medan perang berada, Sieg mengayunkan Verze Sword dengan kekuatan penuh menuju lengan salah satu prajurit Natrehn yang baru saja dihindarinya.
JRASH!
"Ack!" teriak Prajurit tersebut kesakitan.
JRAT!
Seketika, lengannya terputus hingga darah deras mengucur darinya. Tanpa penundaan, Sieg segera menancapkan pedangnya ke arah dadanya.
Arthur—yang berdiri tepat di belakang Sieg—tak luput dari serangan. Sekali lagi, bilah pedang hampir menggores wajahnya yang membuatnya menghindar ke samping.
JRASH!
"Argh!"
Bersamaan dengan gerakaannya, Arthur menusukkan bilah pedangnya ke leher prajurit yang menyerangnya sekaligus menendangnya untuk menjauh.
Tidak berbeda dengan para prajurit lain, Sieg dan Arthur merasakan keletihan yang luar biasa. Sejak pagi telah berperang melawan puluhan ribu Tentara Natrehn, benar-benar menguras semua tenaga yang mereka miliki.
GONG!
GONG!
GONG!
Genderang perang Natrehn kembali terdengar sangat keras. Sieg dan Arthur merasakan kelegaan hebat. Sama seperti hari-hari terakhir, bunyi tersebut menandakan Natrehn yang menarik mundur prajuritnya untuk beristirahat.
Dengan mundur yang teratur, Tentara Natrehn meninggalkan medan perang dan menyisakan beberapa prajurit di tempat untuk mengubur para korban yang telah tewas.
Tentu, mereka dipastikan tidak mengalami penyerangan dari pihak konfederasi. Bahkan, beberapa prajurit konfederasi sengaja dikerahkan untuk melakukannya bersama, seperti kebiasaan setelah berperang yang lazim dilakukan.
"Yang Mulia." Kantung penuh air sekali lagi diserahkan kepada Sieg dari saku pakaian Arthur.
Tatapan Sieg teralihkan kepada Arthur, dia pun tersenyum masam, "Aku sudah terlalu banyak minum air, mungkin aku hanya butuh tidur untuk saat ini."
Khawatir, kerutan kecil terbentuk di atas kening Arthur, "Mohon katakan jika Anda benar-benar membutuhkannya."
"Ya," balas Sieg.
Tanpa penundaan, Arthur menenggak kantung air tersebut tanpa sedikitpun air yang tumpah hingga bersisa setengah dari kondisi penuhnya.
Meskipun di sekitar mereka terdapat banyak mayat korban perang, Arthur dan Sieg tidaklah mempermasalahkannya. Bersama-sama, keduanya pun terbaring untuk melepas rasa lelah.
Keheningan melanda keduanya. Hanya suara-suara yang saling bersahutan antar para prajurit medis yang dapat terdengar.
Tidak sedikipun mempermasalahkan dari pihak mana mereka berasal, para prajurit medis saling bahu-membahu untuk menguburkan para korban perang yang telah tewas terbunuh.
Rasa bersalah muncul di dalam benak, Sieg sejenak menutup kedua matanya. Berniat untuk mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya, Sieg tetap tidak dapat tertidur. Pikirannya hanya dipenuhi oleh keserakahan serta kebiadaban para bangsawan.
Tidak hanya Arthur, Sieg menyadari jika para rakyat jelata berperang hanya karena keterpaksaan. Hanya karena ketakutan terhadap para bangsawan, hanya karena ketakutan dengan hukuman apabila mereka tidak mematuhi untuk menjadi seorang wajib militer, seorang rakyat jelata yang lemah seolah disudutkan di ujung jurang kematian.
Sieg menutup kedua matanya yang terpejam dengan lengan kirinya. Tanpa sadar, salah satu sudut matanya meneteskan air mata.
"Hei..." Suara Sieg memecah keheningan yang terjadi diantara keduanya.
"Ya... Yang Mulia." Meskipun memiliki napas yang terengah-engah, Arthur sejenak menahannya untuk menjawab pertanyaan Sieg.
"Apakah yang kulakukan... itu benar?" tanya Sieg bernada berat.
"Mohon maaf... saya tidak memahaminya... Yang Mulia," jawab Arthur.
Sieg segera menyadari kata-katanya yang sangat rancu, "Apakah perang... yang dilakukan oleh para bangsawan... itu benar?"
Arthur sejenak terdiam. Pertanyaan Sieg membuatnya kembali mengingat pembicaraannya pribadi dengan Tuannya kala itu.
Perlahan, Arthur menghirup napas dalam sembari menutup kedua matanya seolah apa yang dikatakannya memiliki makna yang sangat dalam, "Tuan Ares... pernah mengatakan sesuatu hal pada saya."
Sieg hanya terdiam, menunggu Arthur kembali melanjutkan perkataannya.
"Bahkan jika zaman telah berubah, bahkan jika kekuasaan telah berada dalam genggaman golongan rakyat jelata... peperangan... saling membunuh antar manusia... tetap tidak dapat terelakkan," sambung Arthur sembari mengatur napasnya yang berat.
"Apa... maksudmu?" tanya Sieg.
Sieg merasa tidak sedikitpun setuju terhadap pernyataan Arthur. Ada anggapan di dalam benaknya jika para rakyat jelata telah menggenggam tampuk kekuasaan, mereka pasti menghindari perang yang sejak dahulu telah mengorbankan banyak golongan mereka.
"Sejujurnya... saya juga tidak begitu mengerti. Namun, Tuan Ares mengatakan bila hal itu hanya memiliki kemasan yang berbeda... Jika pada era ini kekuasaan dikuasai oleh keluarga-keluarga golongan bangsawan, maka pada era rakyat jelata, mereka akan membentuk kelompok-kelompok kuat yang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh keluarga bangsawan di masa kini..." timpal Arthur.
Termenung, Sieg benar-benar memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Arthur, hingga derap langkah seorang prajurit yang terdengar semakin keras mendekati keduanya.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Seorang prajurit mendekati Sieg dengan langkah yang terseok-seok, tubuhnya yang berada di balik balutan baju besi juga dipenuhi oleh memar dan darah.
Dengan sedikit paksaan, Sieg bangkit dengan kedua telapak tangannya yang menahan tanah. Tubuhnya terasa berat, benar-benar memiliki keinginan untuk menjerit jika saja memiliki pita suara.
"Katakan," timpal Sieg.
Dengan wajah yang diliputi kebahagiaan, prajurit tersebut segera berlutut dengan kepala yang tertunduk, "Lapor! Pihak Natrehn mengirimkan seorang utusan untuk perundingan gencatan senjata!"
Arthur dan Sieg tentu telah mengetahui jika dua pasukan Pangeran Kerajaan Rowling akan menyerang. Meskipun begitu, keduanya tetap tidak dapat menahan keterkejutannya.
"Saat ini, seluruh bangsawan konfederasi diharapkan untuk berkumpul!" ujar Prajurit tersebut bersemangat.
"Ya, kembalilah," timpal Sieg.
"Baik, Yang Mulia!" timpal Prajurit tersebut dengan menunduk dalam lalu bangkit untuk pergi.
Akhirnya...
Kelegaan muncul, Sieg benar-benar diliputi kebahagiaan besar yang dapat terlihat pada wajahnya yang mengadah ke langit. Namun, perjuangannya tidaklah berakhir di tempat ini. Bersama Kerajaan Mana, Sieg memiliki tujuan akhir untuk mengungkap pengkhianatan yang dilakukan oleh para bangsawan Kerajaan Forbrenne.
Perlahan bangkit diikuti oleh Arthur, keduanya pun melangkah kembali memasuki benteng. Walaupun langkah keduanya terlihat berat, entah mengapa bagi mereka berdua benar-benar terasa ringan.
...----------------...