
Tahun 1237, 25 Maret.
Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.
Malam Hari.
Kesunyian mencekam sekali lagi menyelimuti Ibukota Lombart di malam hari. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang sangat gemerlap menandakan kota yang tidak pernah tidur, semenjak kedua Pangeran Rowling mengerahkan ordo ksatria serta tentara reguler kerajaan, suasana malam kian menjadi sunyi.
Para penduduk ibukota sangat ketakutan apabila mereka menjadi korban dari pembunuhan yang menargetkan para bangsawan yang tinggal di ibukota.
Di beberapa sudut ibukota, tampak orang mabuk yang berjalan dengan langkah terhuyung. Tidak hanya itu, beberapa orang berjubah yang terlihat sangat mencurigakan juga berlalu-lalang menyusuri gang-gang sempit yang berada di distrik kumuh Ibukota Lombart.
Namun, perasaan itu tidaklah dirasakan oleh seorang aristokrat muda berambut biru yang memandangi gelapnya pemandangan ibukota dari suatu bangunan bertingkat di distrik tempat tinggal para rakyat jelata.
Selama berada di ibukota, Ares tentu tidak pernah singgah ke mansionnya karena dilaporkan secara resmi bahwa dirinya sedang berada di wilayahnya. Untuk menyamarkan keberadaannya, Ares selalu mengenakan tudung gelap jika dirinya memiliki kepentingan di ibukota atau setidaknya memerintahkan bawahannya untuk mewakilinya.
Sejak beberapa hari terakhir, hati Ares diliputi kebahagiaan yang sangat besar. Ares menjadi sangat bersemangat disaat dia mendengar kabar bila istrinya baru saja melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan.
Terlebih lagi, Excel menyarankan agar bersama-sama memberi nama salah satu anaknya, meskipun Excel sendiri berkeinginan kuat untuk memberikan nama pada putranya.
Tidak hanya itu, beberapa saat setelah matahari terbenam, Ares mendapatkan sebuah pesan burung dari Gale yang mengatakan bahwa dia telah sukses melakukan pembunuhan terhadap seluruh anggota Keluarga Linius di Kota Entenne, Ibukota Wilayah Duke Linius, hingga menyebabkan Wilayah Linius sedang dilanda kekacauan.
Apakah aku... harus memulai operasi sekarang?
"Situasi." Ares tetap mempertahankan posisi awalnya, meskipun terdapat beberapa orang yang membersamainya di dalam ruangan.
"Ya, Tuan. Operasi sabotase ibukota dapat dimulai dengan segera." Dengan sedikit menunduk di belakangnya, Robert—salah satu perwira terbaik House of Rueter selain Dia—menjawab dengan nada tegas.
Tanpa penundaan, Connor—Kepala Klan Cornwall—juga menunduk ringan kepada Ares di hadapannya, "Operasi penyusupan dapat dilaksanakan, semua unit telah disiagakan pada tempatnya."
Siulet burung elang hitam samar terlihat di tengah gelapnya langit malam hingga membuat Ares sedikit mengerutkan kening. Salah satu lengannya pun terentangkan ke depan, burung elang tersebut segera menukik tajam dan hinggap di salah satu bahu Ares.
Dunia ini... benar-benar aneh, bukan?
Jika itu di bumi, hewan pengantar surat biasanya merupakan seekor merpati...
Tatapannya tertuju pada sebuah silinder kecil yang berada di punggung elang tersebut. Meskipun berkali-kali mengirimkan surat dengan cara tersebut, Ares tetaplah memiliki keheranan besar karena akal sehat dunia ini yang jauh berbeda dengan akal sehat di dunianya sebelumnya.
Cklik.
Ares perlahan membuka tutup silinder dan mengeluarkan secarik perkamen kecil yang tergulung di dalamnya.
Connor dan Robert hanya terdiam menunggu Tuannya menyampaikan sesuatu yang harus mereka segera lakukan. Keduanya mengerti jika elang tersebut merupakan pengantar pesan pribadi yang dimiliki oleh kastil Margrave Rueter yang berada di Kota Ereth.
Kedua matanya seketika terbuka lebar. Setelah membacanya dengan cepat, Ares benar-benar memiliki keinginan besar untuk berteriak.
Sialan!
Aku tidak mengerti!
Dibandingkan berperang, lebih baik kau menyusui saja!
"Kuh!" Seketika menahan kepalanya yang sakit dengan salah satu tangannya, Ares menahan tubuhnya pada jendela di depannya dengan kedua sikunya.
"Apa yang telah terjadi, Tuan?" Robert bertanya dengan penuh kekhawatiran terhadap isi surat yang bisa saja berisi sebuah berita buruk untuk Tuannya.
Tidak hanya Robert, Connor juga terlihat memiliki kerutan kecil pada keningnya karena merasakan situasi yang menjadi tidak terkendali.
Akibat dari tindakan Gale, Ares memiliki waktu kurang dari satu pekan untuk mengkudeta kerajaan terhitung dari waktu Gale sukses melaksanakan misinya.
Ares tidak berpikir dan bahkan memprediksi bahwa tidak mungkin jika pihak House of Linius akan mengabarkan istana—dalam hal ini keluarga kerajaan serta Duke Holfart sebagai Perdana Menteri—mengenai pembunuhan Duke Linius dalam waktu kurang dari tujuh hari.
Tentu, para ksatria House of Linius diharuskan untuk mencari pelaku dan menutup semua jalur pelarian mereka terlebih dahulu. Terlebih lagi, mereka diharuskan untuk menutupi peristiwa pembunuhan Duke terhadap para bangsawan lain agar dapat menjaga nama baik House of Linius yang mungkin saja akan tercoreng jika peristiwa buruk ini tersebar luas.
Namun, itu sangat berbeda dengan menggerakkan pasukan lebih awal dari apa yang telah direncanakan sebelumnya. Pihak pengintai tentu dapat memberi kabar istana jika Ares telah menggerakkan pasukannya menuju ibukota dalam jangka waktu sekitar 3 hari semenjak mereka mengkonfirmasi hal tersebut.
Singkatnya, Ares hanya memiliki batas waktu kurang dari 2 hari untuk melakukan sebuah kudeta.
"Hah..." Ares menghela napas berat, berusaha untuk melepaskan beban berat yang seketika ditimpakan kepadanya oleh istrinya tercinta, "Karena suatu keadaan tertentu, aku memutuskan untuk memulai operasi malam ini."
Sedikit keterkejutan tampak pada keduanya, yang mana mereka segera mengembalikan ekspresinya menjadi datarnya kembali, "Ya, Tuan."
Menilai perintah tiba-tiba yang dikatakan Ares tidak membuat sedikitpun keduanya keberatan, salah satu sudut bibir Ares pun terangkat. Ia pun merentangkan kembali tangannya ke depan agar elang di bahunya terbang kembali menuju Kota Ereth.
Ares berbalik untuk menghadap keduanya. Ekspresinya terlihat penuh keseriusan, tanda bagi dua orang di hadapannya agar memperhatikan instruksinya dengan cermat.
"Keberhasilan operasi ini dinilai dari tercapainya tiga kondisi." Ares mengangkat salah satu tangannya agar dua orang di hadapannya agar dapat melihat dengan jelas.
Jari telunjuk Ares perlahan terangkat, "Satu, Calvin von Holfart, Putra tunggal Duke Holfart. Aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri untuk memastikan kematiannya telah terjadi."
Meskipun hanya terdiam dan tidak menampakkan sedikitpun perasaannya, Connor dan Robert dibuat keheranan karena tidak mengerti. Keduanya bertanya-tanya mengenai alasan yang mendasari Tuannya yang berkeinginan untuk membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Connor dan Robert tentu telah mengetahui sosok pewaris Duke Holfart tersebut. Penilaian "Seorang siswa luar biasa yang memiliki kemampuan berpedang dan kepala yang cerdas" telah melekat pada benak keduanya, sangat tidak wajar jika Ares memberi sebuah perhatian yang lebih besar kepadanya, yang hanyalah merupakan seorang siswa biasa.
"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kalian. Jika Calvin von Holfart dapat lolos dari tragedi ini, dia akan terbangun sebagai 'Holy Knight' di masa depan apabila dia bergabung dengan Gereja. Jika tidak, dia akan menjadi tentara bayaran terkuat yang berkeinginan untuk membangkitkan kembali Kerajaan Rowling di kemudian hari." Meskipun telah beberapa kali mendengar perkataan Tuannya yang mana seolah meramalkan kepastian di masa depan, sekali lagi Connor dan Robert hanya dapat keheranan, meskipun mereka memutuskan untuk tetap menutup rapat kedua bibirnya.
Selain dari Klan Cornwall yang telah memiliki kontrak kesetiaan dengan Ares, sebagai seorang ksatria, Robert—atau dalam arti yang lebih luas Keluarga West—telah bersumpah setia serta telah melayani House of Rueter selama ratusan tahun lamanya. Tidak mungkin keduanya akan mempertanyakan perintah serta keputusan Tuannya meskipun memiliki perasaan yang tidak wajar terhadapnya.
Melihat keduanya hanya terdiam tidak mempertanyakan apapun kepadanya sembari melukiskan ekspresi tegas di atas wajahnya, Ares memiliki kepuasan serta rasa syukur yang besar karena memiliki bawahan yang sangat cakap.
Samar, sebuah senyuman kecil sejenak terlukis di atas wajah Ares. Dengan perlahan, dia segera mengangkat jari terpanjangnya untuk menyimbolkan kondisi kedua yang harus dipenuhi sebagai syarat tercapainya keberhasilan dalam operasi yang akan berlangsung malam ini.
...----------------...