
Tahun 1236, 6 Agustus.
Padang Blervec, Wilayah Utara Benua Barat.
Malam Hari.
"Seraaang!"
"Ooohhh!"
Pria kekar kulit putih yang memiliki jenggot coklat tebal, mengangkat tombak besar yang terbuat dari besi seolah berperan sebagai penyemangat bagi para bawahannya. Dia segera memacu White Deer—spesies khusus benua barat yang hidup di wilayah utara—dan menerjang ke arah pasukan lawan yang berada di hadapannya dan diikuti oleh pasukan di belakangnya.
Namun, pasukan musuh tetap terdiam dalam barisannya.
Keningnya berkerut, merasa aneh bahwa musuh tidak menerjang seperti biasanya, telinga Sang Pemimpin pun berdengung karena mendengar pekikan suara yang baginya sangat aneh dari pihak musuh.
KREET!
KREET!
KREET!
Suara engsel kayu yang sangat keras terdengar. Pihak musuh seperti melemparkan sesuatu dari barisan belakang mereka yang membuat Sang Pemimpin mengadahkan kepalanya.
Bukan serangan anak panah, namun sesuatu berbentuk bulat yang terlempar ke arah mereka.
BLAAR!
BLAAR!
BLAAR!
"Arrgh!"
"Kakak, tolong! Aargh!"
"Aaaaaaaaa!"
Teriakan.
Rintihan.
Satu persatu mulai terdengar suara yang meminta bantuan karena pasukannya terkena lemparan batu besar. Bingung, Sang Pemimpin tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya yang membuat dia panik.
Tentu, Sang Pemimpin dan pengikutnya tidak dapat melarikan diri karena di belakang mereka terdapat desa yang menjadi tempat tinggal mereka.
Tanah leluhur mereka, tempat mereka dilahirkan, tempat keluarga mereka tinggal. Tidak ada diantara mereka yang ingin desa mereka diinjak-injak oleh musuh.
BWOOSSH!
BLAAR!
BLAAR!
"Aaaarghh!"
"Tolong!"
Di tengah kebingungannya, seorang pemuda berambut hitam kekar tanpa jenggot—yang juga menunggang White Deer—muncul dari balik punggung Sang Pemimpin dan berteriak, "Kakak Besar! Kami harus mundur!"
"Hah?! Siapa yang akan melindungi desa?!" tanya Sang Pemimpin.
"Kami harus kembali dan pergi! Tidak ada jalan lain!" jawab pemuda tersebut.
"Cih, lindungilah mereka semua!" timpal Sang Pemimpin.
Pemuda itupun terkejut dengan jawaban yang diberikan Kepala Sukunya. Dia berteriak, "A—apa yang akan kau lakukan—"
Perkataannya terputus. Sang Pemimpin telah mengangkat tombak besarnya dan berteriak, "Lindungi kampung halamanmu! Lindungi tanah leluhur kita! Seraaaang!"
"Ooohh!"
Sang Pemimpin kembali memacu tunggangannya bersama para pengikutnya dan menerjang musuh. Mereka tahu, meskipun satu persatu diantara mereka gugur, namun mereka tetap bersikeras untuk menyerang.
Hingga Sang Pemimpin dan puluhan pengikutnya hendak mencapai seorang pria tua beruban yang mengenakan seragam militer dengan pangkat Jenderal yang berada di belakang barisan terdepan pasukan musuh, langkah tunggangan mereka pun terseok-seok dan terjatuh.
Barbarian terkena perangkap, jenderal tua tersebut pun kembali tersenyum. Kepada seorang pemuda yang berdiri di sampingnya, dia berkata, "Val, ingatlah jika kekuatan hanyalah salah satu faktor kecil untuk memenangkan sebuah medan perang."
"Saya mengerti, Jenderal," jawab Val bernada tegas.
Melihat Sang Pemimpin tetap berjuang mendekatinya dengan tubuhnya yang telah bersimbah darah, Zelhard pun menghunus pedangnya. Dirinya sedikit kagum, meskipun telah terkena jebakan ranjau berupa spike yang tersembunyi diantara rerumputan, Sang Pemimpin tetap menerjang maju seolah menunjukkan kekuatan dan keperkasaannya.
"Ooohhh!"
Teriakan semangat terdengar dari pihak musuh, Zelhard mengarahkan ujung pedang ke depan tanda pasukan yang di belakangnya untuk menyerang. Berbeda dengan para barbarian yang menyerang secara membabi buta, gerakan Tentara Natrehn lebih canggih dan teratur.
JRASH!
JRASH!
Para barbarian sangat terkejut. Mereka berusaha memperlambat langkah kaki mereka dan menghindar, namun usaha mereka sangat sia-sia karena ujung tombak yang meluncur mendekati mereka dan menusuk para barbarian yang hanya mengenakan armor kulit.
Tiga tombak panjang telah menusuk tubuhnya, banyak memar dan darah yang terlihat dari tubuh Sang Pemimpin meskipun berada di tengah kegelapan malam.
"Aaaaaaaaaaaaaa!"
Meskipun begitu, Sang Pemimpin tetap menahan kesadaran dirinya. Kurang darah, tubuh yang kelelahan hingga merasa membuatnya ingin ambruk, seolah tidak digubrisnya dan berteriak sembari berjalan mendekati musuh dengan langkah kaki yang terseok-seok.
Zelhard melangkah maju. Dirinya sangat terkagum dengan keberanian Sang Pemimpin.
TRANG!
Setelah berada di dekat pria kekar tersebut, Sang Pemimpin pun mengarahkan tombaknya kepada Zelhard yang segera ditangkisnya.
"Siapa namamu?" tanya Zelhard bernada penuh hormat.
"Ragnar!" jawab Ragnar dengan nada kuat.
"Aku akan mengingatmu sebagai salah satu pria terkuat sepanjang diriku hidup," timpal Zelhard dengan penuh hormat.
Kebanggaan diri menyelimutinya, salah satu sudut mulut Ragnar pun sedikit terangkat. Melihatnya, Zelhard pun menghunuskan pedangnya untuk menebas leher Ragnar.
JRASH!
Tatapan pemuda—yang baru saja menghubungi Ragnar sebelum menerjang—menjadi kosong disaat dirinya melihat kepala seseorang yang telah merawatnya tertebas.
Jatuh tersungkur, air mata mulai deras menetes, pemuda tersebut segera berteriak, "Uaaaaaaahhh!" sembari memegang kepalanya—yang segera terhenti disaat dirinya mendengar kata-kata Zelhard.
Melihat kepala yang jatuh, Zelhard membersihkan darah dari bilah pedangnya dengan mengayunkannya dan menyarungkannya kembali. Ia pun menutup kedua matanya dan berkata, "Setelah membakar desa ini, kami akan menghentikan operasi selama tiga hari."
"Apa maksud Anda, Jenderal?" tanya Val sedikit bingung.
"Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, kita akan mundur dan sejenak beristirahat di perkemahan utama," jawab Zelhard tegas.
"Bukankah itu..." Val segera menghentikan perkataannya. Dirinya tidak mungkin mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung atasannya.
Zelhard tentu mengerti apa yang akan dikatakan Val. Dirinya segera tersenyum masam dan berkata, "Naif?"
Terdiam sebagai tanda anggukan, Val hanya dapat menunggu Zelhard melanjutkan perkataannya.
Kenaifan tersebut dapat membuat Tentara Kerajaan Natrehn diketahui sedang melakukan penyerangan dan membuat suku-suku lainnya mempersiapkan diri serta menyerang balik.
Meskipun pada akhirnya serangan Natrehn akan tetap diketahui, tetap saja jika mereka tidak menunggu, suku-suku barbarian tidak akan memiliki ruang ekstra untuk membuat perlawanan lebih cepat.
"Ini bukanlah suatu kenaifan, Nak. Sebagai seorang ksatria dan bangsawan, kami memiliki etiket dan kebanggaan tersendiri. Bukankah kamu akan menghargai seseorang yang berjuang demi apa yang dimilikinya?" sambung Zelhard.
"Itu... benar," jawab Val.
"Harap ingat jika kita bukanlah seseorang yang akan melakukan pembantaian tanpa pandang bulu seperti orang gila," timpal Zelhard dengan nada penuh ketegasan.
"Ya, Pak!" balas Val.
Berbeda dengan para prajurit Natrehn yang berkumpul kembali untuk mengatur barisan, pemuda suku barbar tersebut segera bangkit dan berlari menuju desa untuk memberi peringatan kepada seluruh orang yang dia kenal.
Lelah, tubuhnya penuh memar, hingga berlari dengan langkah-kaki yang terseok-seok, tidak menyurutkan niat pemuda tersebut menuju desanya.
Namun, dia segera melihat banyak warga desa yang telah berkumpul di pintu masuk desa yang bersenjata lengkap. Para pemuda yang telah ditugaskan untuk menjaga desa, orang tua, para wanita, dan bahkan anak-anak, seluruh warga desa telah siap untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.
"Alfr, mengapa kau kembali?!" hardik seorang pemuda lain saat dirinya melihat Alfr kembali ke desa.
"Kita telah dikalahkan! Ayo cepat pergi!" teriak Alfr.
"Hah?! Kau memerintahkan kita untuk tunduk kepada suku lain?!" balas seorang wanita dengan keras.
Bagi suku-suku utara—yang menganut paham kekuatan adalah segalanya—tentu membungkuk kepada suku lain sama dengan menyerahkan segala yang mereka miliki—termasuk tubuh mereka sendiri.
Singkatnya, mereka akan menjadi budak bagi suku lain.
Tatapan para penduduk desa menjadi mencemooh. Merasa dirinya tidak lagi dapat meyakinkan mereka, Alfr pun mendekati seorang gadis yang berada di barisan belakang para penduduk desa.
"Frieda—" ujar Alfr.
"Kakak, tolong pergilah. Kau tidak lagi memiliki harga diri, aku benar-benar muak denganmu," sela Frieda ketus.
Alfr tidak pernah menyangka, bahwa hari itu adalah hari terakhir dirinya dapat bertemu dengan keluarga yang sangat dicintai olehnya.
...----------------...