I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 128 : Kehendak Tabu



Tahun 1237, 5 April.


Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.


Pagi Hari.


Sinar mentari cerah yang terasa hangat merasuk melalui jendela. Ares perlahan membuka kedua matanya dan menemukan Excel yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut masih terlelap dengan salah satu tangannya memeluk dadanya.


Perlahan wajahnya mendekat, sebuah kecupan penuh kasih sayang terukir di atas kening istrinya, walau itu tidak dapat mengganggu Excel yang tetap terlelap.


Ares tersenyum masam. Mengingat aktivitas malam keduanya, entah mengapa membuatnya merasa sangat terpuaskan, sangat berbeda dengan aktivitas malam mereka yang sering kali bertujuan untuk meraih kemenangan atas pasangannya, walau keduanya juga melakukannya atas dasar cinta dan kasih sayang.


Mengangkat lembut tangan Excel dan menarik selimutnya untuk dikenakan istrinya, Ares bangkit dari tempat tidurnya tanpa mengenakan sehelai kain apapun dan mengambil sebuah kain basah untuk menyeka seluruh tubuhnya.


Setelah mengenakan pakaian formal, Ares melangkah mendekati pintu dan kembali menatap istrinya yang tetap tertidur lelap dengan sebuah senyuman, "Aku pergi sebentar."


Tidak mendapatkan jawaban, Ares meninggalkan ruangan dan menemukan beberapa pelayan telah berdiri di depan pintu untuk membersihkan ruangannya.


"Excel masih tertidur, tidak apa untuk melakukannya nanti," ujar Ares.


"Baik, Tuan." Serentak, para pelayan menunduk ringan.


Tidak ada sedikitpun ketakutan serta perasaan terintimidasi, para pelayan merupakan sosok ksatria pengikut yang keluarganya telah melayani House of Rueter selama ratusan tahun.


Tentu, Ares telah mengembalikan para pelayan sipil yang sebelumnya telah bekerja di istana kepada keluarganya masing-masing. Berbeda dengan pelayan yang merupakan bangsawan dan ksatria, Ares membebaskan para pelayan dari kalangan rakyat jelata dengan syarat pembungkaman serta memberikan mereka sejumlah uang tunai.


Apabila mereka membuka tabir kebenaran atas peristiwa malam itu, tidak hanya diri mereka, bahkan 4 generasi dari keluarga mereka dipastikan lenyap.


Ares melangkah menyusuri lorong istana dengan beberapa pelayan mengikutinya. Pikirannya dipenuhi oleh rencana yang akan diambilnya di masa depan. Terlebih lagi, dia sangat mengkhawatirkan apabila Excel mengetahui sosok ayah kandungnya.


"Tuan." Panggilan Robert yang menundukkan kepalanya tak jauh di depannya membangunkan lamunan Ares.


Dengan tetap menjaga kecepatan langkah kakinya, Ares berkata saat dirinya berpapasan dengan Robert dan terus berjalan, tanda bila Ares memerintahkan untuk mengikutinya, "Bagaimana kabar mereka berdua?"


"Tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Tuan." Robert mengikuti Ares tepat di belakangnya.


Kerutan kecil terbentuk. Ares tidak mengira kedua ratu tetap mempertahankan pemberontakannya, yang mana lebih dari enam hari setelah mereka ditahan.


Langkahnya segera berpindah tujuan, Ares memutuskan untuk menuju ruang bawah tanah istana terlebih dahulu dimana mereka ditahan.


Hingga berada di istana bagian dalam, Ares memasuki pintu besi dengan tangga batu yang menuju ke bawah yang memiliki suasana gelap. Hanya bersama Robert, Ares meninggalkan para pelayan yang terafiliasi dengan House of Rueter tersebut di luar pintu.


BRAK!


BRAK!


Suara keras benturan benda tumpul mengenai suatu logam di dalamnya. Hanya dijaga oleh beberapa ksatria elit di dalam sel, Ares sedikit memiliki simpati dengan mereka karena mendengar suara keras selama tugasnya, meskipun mereka secara bergantian menjaga ruangan bawah tanah tersebut.


Dengan banyak lentera yang menyinari dari tiap sudut bawah tanah, bahkan tidak sedikitpun penjara yang tidak terkena oleh cahaya.


Berada dalam pengawasan penuh, Ares bahkan tidak mengizinkan para ratu untuk melakukan sebuah percobaan bunuh diri, yang tentu juga dijaga oleh para ksatria elit yang bertugas.


BRAK!


BRAK!


Milaine, Ratu Pertama Kerajaan Rowling, sejenak mengentikan pukulannya kepada jeruji besi di hadapannya disaat dia mendengar langkah seseorang datang mendekat dari balik kegelapan.


"Kau! Kau! Kembalikan Nick padaku, Bajingan Pembunuh! Jangan kira kau dapat lolos dari apa yang telah kau lakukan, Sialan!" Milaine berteriak histeris, wajahnya lusuh, pakaiannya pun terlihat penuh sobekan.


Wajah penuh amarah, kedua tangan yang menggenggam erat jeruji besi, Milaine terlihat seperti seseorang yang mengalami gangguan jiwa setelah mengetahui seorang pria berambut biru datang mendekat.


Banyak fasilitas serta perlakuan baik telah diberikan pada kedua ratu selama mereka ditahan. Sebuah ranjang di sudut sel, sebuah cermin yang terlihat besar, lemari kayu, hingga pispot serta sebuah layanan para ksatria untuk mengantar keduanya menuju kamar kecil.


Tentu, Robert serta para ksatria yang menjaga sel bertanya-tanya dan sangat menyayangkan hal ini pada awalnya, meskipun Ares berhasil meyakinkan mereka dengan alasan kemanusiaan.


"Hah?! Kau mengejekku?! Kau berniat menginjak-injak harga diriku dengan memberiku segala kemewahan ini, bukan?!" Kata-kata Milaine yang sangat tidak masuk akal sekali lagi membuat Ares menghela napas berat.


Mengabaikannya, perhatian Ares teralihkan menuju Ratu Kedua Nieve yang terduduk dengan menahan kedua lututnya di atas ranjang di dalam selnya yang berada tepat di samping sel Milaine.


"Apa jawabanmu?" Nada Ares terdengar sangat berat, tidak berbeda dengan tatapan tajamnya yang tertuju pada Nieve.


Nieve—Ratu Kedua Kerajaan Rowling serta ibu kandung Pangeran Zee—mengalihkan wajahnya dengan berat, "Jawabanku tidak akan pernah berubah, Ares."


Hanya terdiam, Ares sekali lagi menghela napas berat. Ada beberapa alasan mengenai Ares yang tidak mengeksekusi keduanya di tempat beberapa hari yang lalu.


Satu, untuk meyakinkan para bangsawan yang mengambil sikap netral agar beralih mendukung serta bersumpah setia kepadanya. Berbeda dengan Faksi Lucas, Ares membutuhkan sebuah "panggung" untuk menunjukkan bahwa Excel, yang merupakan seorang putri—atau Ares secara implisit—lebih baik dari Sang Pangeran Pertama.


Hal ini dapat diartikan bahwa Excel—Ares secara implisit—lebih baik dan lebih cakap tidak hanya dalam urusan pemerintahan, namun juga di dalam medan perang. Menggunakan Milaine sebagai umpan, tidak mungkin Lucas akan meninggalkan satu-satunya orang yang masih berhubungan darah dengannya menjadi sandera.


Banyak bangsawan setingkat menteri yang menjadi sandera di ibukota memilih untuk bersikap netral. Tentu mereka melakukan ini bukan tanpa alasan, apabila Excel—atau Ares secara implisit—diketahui kalah melawan dua pangeran yang lain, para bangsawan yang bersikap netral tidak akan dihukum oleh dua pangeran tersebut karena mereka sebelumnya belum bersumpah setia kepada Excel, Sang Putri.


Dua, untuk mendapatkan itikad baik Duke Alein. Berbeda dengan tujuan utama Faksi Lucas mendapatkan tahta, Faksi Zee—atau lebih tepatnya Duke Alein sendiri—bertujuan untuk mengenakan sebuah mahkota di atas kepala Zee hanya untuk memenuhi hasratnya yang telah terpendam sejak lama, meskipun Duke Alein menyamarkannya dengan kedok berupa kekuasaan bagi para pendukungnya.


Sejak awal, Duke Alein telah bersikap skeptis terhadap Zee untuk naik tahta. Lubuk hatinya yang terdalam mengatakan bahwa Lucas lebih pantas untuk menggantikan ayahnya, Ectave I, untuk menjadi seorang raja.


Meskipun begitu, hasratnya tidak mengizinkannya. Duke Alein berjuang keras untuk membuat Zee menjadi bonekanya agar dapat memenuhi keinginannya yang telah lama terpendam.


"Aku akan memberimu uang, rawatlah dirimu agar terlihat cantik. Aku memutuskan untuk melakukan perjanjian dengan Duke sebelum menyerahkanmu," ujar Ares.


"Apa yang akan terjadi dengan putraku?" Nieve menoleh, sedikit kebahagiaan terkandung dalam nadanya karena harapannya terkabul.


"Pertukaran." Ares menjawab dengan wajah serius, menilai bagaimana respon yang akan didapatkannya dari Nieve.


"Tidak masalah," jawab Nieve acuh tak acuh tanpa penundaan.


Sejenak terdiam, kedua mata Ares sedikit terbuka lebar. Dia tidak pernah mengira bahwa Nieve tidak sedikitpun memiliki cinta untuk putranya.


Terlebih lagi, Nieve bahkan tidak memikirkan bagaimana keretakan hubungan antara House of Alein dengan para bangsawan anggota faksi jika hal itu terjadi hingga membuat Ares mematung.


Memandang Ares yang menatap seolah tidak percaya kepadanya, Nieve pun terkikik, meskipun suara bantingan keras di samping selnya sangat mengganggunya.


"Aku tidak sedikitpun menyayanginya. Ayahku, Duke Alein sebelumnya, menikahkanku dengan Ectave hanya untuk membendung pengaruh Francois yang semakin menguat beberapa puluh tahun terakhir. Terlebih lagi, aku sangat tidak menyukai bagaimana putraku berperilaku, bahkan orang bodoh pun akan tahu bagaimana nasib kerajaan bila Zee mewarisi tahta," timpal Nieve.


Wanita gila.


Salah satu kelopak mata Ares berkedut disaat dia mendengar jawaban yang sangat tidak disangkanya. Bahkan untuk urusan mendetail seperti ini, tentu tidak terdapat dalam keterangan game hingga membuat Ares sangat shock setelah mengetahuinya.


Mengabaikan Milaine yang terus mencemoohnya dan bahkan Nieve, Ares berbalik untuk menuju ruangan dimana akan dilakukan pertemuan dengan para bangsawan netral.


Sejenak, kedua langkah Ares terhenti. Bahkan untuk Robert yang mengikutinya menjadi sangat bingung.


"Aku telah memperingatkanmu. Meskipun berasal dari ibu yang berbeda, hubungan sedarah hanya akan membawa kalian berdua menuju kehancuran," ungkap Ares.


"Aku tidak peduli," timpal Nieve acuh tak acuh.


Merasa sangat sakit kepala, Ares kembali melangkah menaiki tangga dengan menahan salah satu sisi kepalanya. Terlebih lagi, dia harus memikirkan bagaimana cara untuk menghadapi keruntuhan Faksi Zee yang mungkin saja akan terjadi bila keinginan Duke Alein telah tercapai.


...----------------...