
Tahun 1236, 20 Oktober.
Ibukota Kekaisaran Renacles, Argen.
Siang Hari.
Cklak.
Pintu gerbong kereta kuda perlahan terbuka. Robert, pejabat muda sekaligus teman masa kecil Loic, sedikit membungkukkan tubuhnya dan meletakkan salah satu tangannya di atas dada, "Tuan Loic, Nona Ellen, kami telah tiba."
Tatapan Loic teralihkan kepada Ellen yang terlihat memiliki kecerahan di atas wajahnya. Tentu, Ellen melakukannya hanya karena kepura-puraan belaka—yang juga diketahui oleh Loic.
"Mari, Nona Ellen," ajak Loic.
"Silakan." Ellen tidak sedikitpun memandang Loic, perhatiannya tertuju kepada kedua orang tua Loic yang menyambutnya di luar gerbong.
Helaan napas kecil, Loic benar-benar lelah menghadapi Ellen yang selalu memperlakukannya dengan buruk.
Turun terlebih dahulu diikuti oleh tunangannya, Loic segera disambut oleh senyuman cerah kedua orang tuanya.
"Selamat datang kembali, Putraku." Seorang pria paruh baya dengan ciri fisik yang sama dengan Loic tersenyum lebar.
"Akhirnya kamu pulang, Loic," sambut seorang wanita berambut coklat sedikit kemerahan dengan hangat.
Ada sedikit perasaan aneh yang sejenak terbesit di dalam hatinya. Loic tidak berpikir jika ibunya akan memiliki hawa keberadaan yang begitu cerah, meskipun dirinya mengetahui jika ibunya tetaplah menyayanginya sebagai seorang anak.
Sangat berbeda dengan sikap neneknya, Miranda Coulent, yang telah menerima takdirnya yang diharuskan untuk menikahi kakek Loic, Jensen Coulent, Loic mengerti jika ibunya sangatlah membenci keluarga asalnya karena terpaksa menikahi Clement Coulent, ayah Loic, yang membuatnya menjadi seorang rakyat jelata.
Meskipun Keluarga Coulent memiliki pengaruh, tetap saja kasta mereka hanyalah rakyat jelata. Dalam setting dunia game, seorang pedagang tidaklah sedikitpun memiliki kekuatan nyata hingga dapat mempengaruhi dunia.
Developer lebih memprioritaskan kasta pendeta dan bangsawan karena kekuatan kedua golongan tersebut sangatlah nyata di era abad pertengahan.
"Terima kasih telah menyambut kami, Ayah, Ibu." Loic menunduk ringan, namun tidak dengan Ellen karena kasta sosialnya yang sangat tinggi.
Tersenyum cerah, benar-benar membuat hangat seseorang yang melihatnya, namun tatapan Ellen sangatlah memandang rendah pasangan di hadapannya.
Begitu pula dengan ibu Loic, Lisa Coulent, seorang gadis yang berasal dari keluarga bangsawan berperingkat Earl. Ellen benar-benar memiliki keinginan meludahi wajahnya yang telah terlumuri oleh lumpur.
Ellen mengetahui takdirnya yang akan tiba tidak lama lagi. Tanpa diketahui oleh Loic, tentu dia telah mencari suatu perlindungan agar dapat terselamatkan dari kejatuhannya dengan menawarkan dirinya menjadi seorang istri bangsawan lain.
Ellen tidaklah memiliki keberatan jika menjadi istri kelima atau bahkan keenam, selama dia terselamatkan dari takdirnya, selama tidak terjatuh ke dalam kubangan lumpur berupa pernikahannya dengan Loic, Ellen bersedia melakukan apa saja demi mempertahankan statusnya yang sangat tinggi.
"Mohon maafkan kami, Nona. Saya kira Anda sangatlah lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang..." Melirik kepada Robert yang berdiri di belakang Loic, Robert pun mengangguk ringan sebagai tanda kesanggupan menjalankan perintah, "Mohon untuk mengikuti Robert menuju kamar yang telah kami persiapkan untuk Anda."
"Baiklah," timpal Ellen.
Setelah menunggu hingga Ellen yang pergi dengan bimbingan Robert tidak lagi terlihat, Clement dan Lisa seketika merubah ekspresinya menjadi tajam.
"Kutunggu laporan aktivitasmu di kantor." Clement sembari berbalik meninggalkan Loic diikuti oleh Lisa.
Mengikuti langkah keduanya, Loic menaiki lantai kedua dari bangunan utama Firma Coulent yang lorongnya terbuat dari batuan marmer yang sangat indah.
Hingga tiba di depan pintu kantor yang berwarna putih dengan banyak hiasan emas, muncul kerutan kecil di atas kening Loic yang menurutnya memiliki situasi yang sangat aneh.
"Apakah Ayah dan Ibu mengetahui keberadaan Kakek dan Nenek?" Loic bertanya dengan lugas, menyembunyikan perasaannya dengan melukiskan ekspresi penuh ketenangan.
Clement dan Lisa hanya terdiam. Dengan tetap memandang pintu, Clement pun mengangguk ringan kepada pelayan di hadapannya.
Cklek.
Hanya dalam keheningan seolah tidak mempedulikan pertanyaan Loic, Clement dan Lisa berjalan memasuki ruangan. Muncul sedikit kegelisahan di dalam benak Loic, ia memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama kepergiannya.
Meskipun begitu, Loic melempar jauh pikirannya dan berprasangka jika kakek dan neneknya berada dalam sebuah perjalanan bisnis sembari mengikuti kedua orang tuanya.
Namun, kening Loic sedikit berkerut disaat dia melihat ayahnya yang segera menduduki kursi kerja Kepala Firma—yang biasanya diduduki oleh kakeknya. Tidak hanya hal tersebut, Lisa mendekati salah satu lemari yang berada di sudut ruangan untuk mencari suatu lembaran seolah tidak akan mengacuhkan laporan Loic.
"Apa yang kamu lakukan di Benua Barat? Kudengar, Kepala Firma Lounders juga menghadiri undangan itu bersamamu." Kata-kata Clement bernada berat. Tatapan tajam tertuju pada Loic dengan sebagian wajah di bawah matanya yang tertutupi oleh kedua tangannya yang saling bertautan.
Loic sejenak menahan kedua bibirnya agar tetap tertutup rapat. Memandangi ayahnya yang terlihat memiliki sikap yang sangat berbeda dengan kesehariannya, Loic benar-benar kebingungan bagaimana harus membalas pertanyaan Clement.
"Saya... bersama dengan puluhan pedagang besar lain... membuat suatu perjanjian tertulis dengan Margrave Rueter dan berencana untuk membuat suatu basis dagang serta perkumpulan para pedagang—"
Terdapat kebingungan besar di dalam benaknya, meskipun Loic hanya meninggalkan Ibukota Argen selama lima bulan, ada perasaan bahwa dia telah pergi hingga bertahun-tahun lamanya.
"Mengapa, Ayah? Jika kita melakukannya, Firma Coulent dapat kehilangan kredibilitas—" Menegapkan tubuhnya, Loic memantapkan hatinya agar tidak goyah karena reaksi Clement yang bertentangan dengannya.
"Yang Mulia Kaisar bermaksud untuk menasionalisasi seluruh perusahaan besar yang berakar di kekaisaran. Apakah kamu hendak melawan Dekrit Yang Mulia, Loic?" Kata-kata Clement menghentikan ucapan Loic.
"Eh?" Loic terkejut hingga sejenak mematung, "La—lalu, bagaimana keadaan kakek dan nenek?!"
"Keduanya... menolak." Suara berat Lisa secara tiba-tiba terdengar dari balik punggungnya, Loic merasakan keadaan yang akan menjadi buruk baginya.
Terdapat kekhawatiran besar di dalam hati Loic, dia sangatlah berhubungan dekat dengan kakek serta neneknya yang membuat wajahnya seketika menjadi keruh, "Apakah keduanya... baik-baik saja?"
Clement hanya terdiam. Namun, berbeda dengan Lisa yang menepuk bahu anaknya dan mendorongnya menuju salah satu meja kosong yang berada tepat di samping meja Clement, "Ayo Loic, ibu akan memberitahu sesuatu kepadamu."
Menyerah, Loic melangkah dengan menuruti kehendak ibunya. Dengan sebuah gulungan perkamen yang berada dalam genggamannya, Lisa membuka gulungan perkamen tersebut di atas meja tepat di depan Loic sembari tersenyum penuh kebahagiaan.
"Lihatlah, Loic!" Perkataan Lisa terasa penuh kebahagiaan, seolah impiannya menjadi sebuah kenyataan.
Memandang lembar perkamen yang sedikit lebih besar daripada umumnya yang di dalamnya berisikan tulisan bertinta emas, kedua mata Loic seketika terbuka lebar, "A—apa maksudnya ini, Ibu?!"
"Dengan menasionalisasi Firma Coulent, kekaisaran akan memiliki sepertiga kepemilikan dari aset firma secara keseluruhan. Yang Mulia Kaisar adalah sosok yang sangat baik hati. Dengan sepertiga kepemilikan berada di tangan kekaisaran, kami akan mendapatkan sebuah gelar bangsawan berpangkat 'Baron' dan juga berbagai kemudahan administrasi serta keringanan pajak." Lisa mengatakannya dengan penuh kebanggaan.
"Tentu saja, Loic. Kita dapat mengekspansi pasar yang lebih luas dengan dukungan penuh dari kekaisaran," sambung Clement yang terdengar sedikit bangga.
Bagi Lisa, seorang gadis yang telah terjatuh dan menjadi seorang rakyat jelata, mendapatkan surat pengangkatan menjadi seorang bangsawan sangatlah membahagiakannya. Meskipun itu hanyalah gelar Baron, namun kepuasan besar muncul dari hati terdalamnya.
Loic mengerti jika dukungan kekaisaran sangatlah menguntungkan firma dalam jangka panjang, akan tetapi hal tersebut sangatlah berbeda dengan doktrin yang dianut oleh Keluarga Coulent sejak dahulu untuk menjauhi pemerintahan.
Tetap saja, perasaannya gundah. Loic sangat khawatir terhadap keberadaan kakek dan neneknya yang baginya begitu dekat dengannya.
"Tolong, katakan kepadaku bagaimana keadaan kakek dan nenek!" ungkap Loic dengan keras.
Hening.
Clement dan Lisa hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya. Meskipun berbeda pandangan, Clement tetaplah menganggap ayahnya sebagai keluarga dan sangatlah menyayanginya.
Wajah Clement teralihkan, tatapannya terlihat sedih, dia benar-benar tidak ingin mengatakan hal yang sangat menyakitkan hatinya. Begitu pula dengan Lisa, anggapannya kepada Miranda begitu luar biasa karena telah menerima takdirnya sebagai seseorang yang memiliki kasta terendah, hingga membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Keduanya sangatlah merasakan sebuah kehilangan yang begitu berat.
"Ayah dan ibu... ditahan oleh pihak militer tepat satu bulan yang lalu. Mengingat kontribusi mereka yang begitu besar terhadap ekonomi kekaisaran selama puluhan tahun terakhir... Yang Mulia mengabulkan permintaan terakhir mereka untuk setidaknya dapat bertemu kembali denganmu... Loic." Kata-kata yang begitu berat terdengar dari Clement.
Bagi warga Kekaisaran Renacles, perintah kaisar adalah sesuatu yang sangat mutlak untuk dipatuhi. Akan berakibat fatal jika seseorang menolak dekrit yang telah diberikan kepadanya oleh keluarga kekaisaran.
Clement mengerti bahwa dirinya harus mengatakan hal tersebut kepada putranya. Meskipun berat, meskipun dia juga benar-benar ingin mengingkarinya, tetap saja Clement tidak dapat menolak Dekrit Kekaisaran Renacles yang telah diberikan kepadanya.
Tanpa sadar air mata menetes dari kedua sudut matanya. Kepanikan melanda, wajahnya berurai air mata, Loic segera berbalik menuju pintu ruangan.
BRAK!
Hingga membanting pintu, Loic berlari meninggalkan ruangan yang terselimuti oleh kesedihan yang begitu dalam.
Berbeda dengan anggapan Loic sebelumnya yang mengira ayahnya mendekati para bangsawan untuk mempermudah langkah perusahaan, Clement bahkan tidak sekalipun pernah memikirkan hal tersebut.
Seluruh manuver Clement untuk mendekati para bangsawan telah gagal, dia benar-benar tidak menyangka bahwa rencana nasionalisasi perusahaan akan terjadi begitu cepat.
Dia benar-benar ingin mencari sebuah dukungan untuk menghentikan rencana tersebut dari golongan para bangsawan, meskipun itu hanya sedikit mengubah isinya. Clement tahu jika ayahnya akan menolak yang dapat menjadi sebab kematiannya.
Memandang pintu yang baru saja dilewati oleh anaknya, Clement benar-benar menyesali takdir yang telah ditetapkan kepadanya.
Loic... apakah kamu mengingat pesan yang diberikan oleh ayah sebelumnya?
Lakukanlah sebuah "langkah awal" di benua barat dengan seorang bangsawan yang akan mendukungmu dengan penuh ketulusan...
Karena di tempat ini... Firma Coulent tidak lebih dari sekedar boneka.
...----------------...