
Tahun 1236, 24 Juli.
Kastil Rueter, Kota Ereth.
Siang Hari.
Para bawahan Ares hanya terdiam dan menunggu Tuannya untuk menjawab.
Tak berselang lama, Ares berkata, "Jika begitu, aku akan menyusupkan 1.000 prajurit yang akan menyerang istana kerajaan saat tengah malam, 2.000 prajurit akan membuat keributan dan terror selama operasi, dan 1.000 prajurit akan bergerak di luar tembok kota. Gerakkan 30.000 prajurit dari wilayah dua hari sebelum operasi berlangsung serta lakukan koordinasi lebih lanjut dengan Warren von Francois. Operasi harus berakhir sebelum terbit fajar. Aku akan memberikan 40 juta G sebagai anggaran untuk operasi ini."
"Baik, Tuan..." balas Renne.
Keraguan terdengar di dalam nadanya. Tidak ada yang tidak ragu mengenai rencana Ares karena kekuatan gabungan antara tentara reguler dan para bangsawan yang bisa saja memiliki kekuatan melebihi 300.000 orang.
"Meskipun Anda akan memanfaatkan para pangeran dan tentara reguler... namun apakah hal tersebut benar-benar akan terjadi, Tuan? Apakah Anda tidak mengkhawatirkan tentara reguler yang bisa saja akan berbalik kembali kepada Anda?" tanya Renne khawatir.
"Aku memahami apa yang kalian khawatirkan, namun aku tetap akan menjalankan rencana tersebut. Tetap saja, rencana ini akan berjalan dengan baik apabila satu kondisi telah terpenuhi," jawab Ares.
"Bolehkah saya mengetahui kondisi tersebut, Tuan?" tanya Renne.
"Persatuan suku barbar di utara," jawab Ares.
Tidak ada yang tidak kebingungan mengenai jawaban yang dilontarkan Ares.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Excel kebingungan.
"Yah... aku akan memberitahu kalian secara bertahap di kemudian hari. Jadi, aku akan pergi ke utara untuk saat ini," timpal Ares.
"Eh?!"
"Tu—Tuan?!"
Perkataan bagai kejutan terlontar dari mulut Tuannya. Tidak ada yang tidak menjadi panik disaat Ares hendak bepergian melewati Natrehn—yang notabene sedang bersengketa dengan Kerajaan Rowling.
"Tidak apa-apa, aku akan menyamar menjadi orang biasa," jawab Ares.
"Ta—tapi, pengamanan diri Anda akan—" timpal Dia yang panik.
"Tidak apa-apa, jangan khawatirkan hal itu. Lagipula, bukankah aku telah memberikan tugas kepada kalian untuk menjaga Excel? Aku juga memiliki pengawal tersendiri, kau tahu?" sela Ares dengan tersenyum.
Tepat setelah Ares berkata demikian, pintu ruangan pun terketuk. Setelah Ares memberi perintah untuk membukanya, seorang ksatria penjaga memasuki ruangan dengan panik sembari menunjukkan lembaran perkamen yang terdapat segel Margrave Rueter dalam laporannya.
"Biarkan mereka masuk," ujar Ares tegas.
"Eh?! Tu—Tuan, tapi—" timpal ksatria tersebut gelisah.
Kegelisahan melanda ksatria tersebut. Dia tahu bahwa seseorang yang menunjukkan lembaran perkamen tersebut ingin bertemu secara langsung dengan Ares, yang merupakan tindakan sangat tidak sopan dan kurang ajar.
Mengingat bahwa anggota Klan Cornwall berperan sebagai warga sipil, tidak aneh jika mereka akan diperlakukan kasar mengingat mereka yang telah memasuki distrik khusus di sekitar kastil meskipun mereka telah mengantongi izin khusus.
Bertentangan dengan harapan ksatria tersebut, Ares menyela dengan nada tegas, "Tidak apa-apa, lakukan saja."
"Baik... Tuan," timpal Ksatria tersebut dengan nada berat.
Melihat ksatria tersebut telah pergi meninggalkan ruangan, Don segera mengerutkan keningnya dan berkata, "Siapa dia, Tuan Muda?"
"Yah... seseorang yang berada di bawahku secara langsung," jawab Ares sembari memasang senyuman di atas wajahnya.
Beberapa saat menunggu, pintu terketuk kembali. Setelah izin masuk diberikan, ksatria yang telah melaporkan beberapa saat lalu kembali memasuki ruangan dibersamai oleh empat orang yang bagi para pejabat dan atase militer House of Rueter sangatlah asing—yang terlihat sangat kuat, bahkan melebihi kekuatan Don yang membuat para ksatria segera memasang sikap waspada kepada mereka.
Ares pun bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati mereka. Beberapa ksatria mencoba untuk menahan Tuannya, namun segera ditampik oleh tangannya yang membuat mereka kebingungan.
"Merupakan suatu kehormatan karena telah diperkenalkan secara pribadi oleh Anda, Tuan," balas Connor sembari memasang senyuman cerah di wajahnya.
Ares tentu tidak mengatakan afiliasi mereka dikarenakan Klan Cornwall yang merupakan bawahan langsungnya dan berada dalam posisi rahasia. Tetap saja, dia diharuskan memperkenalkan beberapa dari mereka sebagai sarana koordinasi dan kepercayaan dengan para ksatrianya.
"Dan mereka bertiga..." sambung Ares sembari mengarahkan wajahnya kepada tiga orang di belakang Connor.
"Halo! Namaku Marie!" ucap Marie riang.
"Lean," ujar Lean singkat.
"G—Gale..." ujar Gale lirih karena masih berada dalam tahap penyembuhan tulangnya yang retak.
Meskipun tetap memasang sikap dengan kewaspadaan tinggi, namun para ksatria sangat terkejut dengan suara berat yang dihasilkan oleh gadis berambut oranye tersebut. Beberapa dari mereka sedikit terbelalak, keheranan, dan bahkan diantaranya menatap seolah tidak percaya kepada Gale.
Berbeda dengan para ksatria, mata Excel pun sedikit menyipit. Dia teringat akan kemiripan Gale dengan pelayan wanita yang memberinya alkohol saat dirinya melakukan penyerangan ke mansion Ares dahulu, namun dia tidak mengutarakannya dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Membuat keterkejutannya berlalu, Dia bertanya dengan mata tajam yang memiliki nada menusuk, "Dari mana dan bagaimana Anda dapat mengenal mereka, Tuan?"
Ares mengubah ekspresi wajahnya menjadi tajam. Seolah tidak membiarkan sedikitpun pertanyaan mengenai mereka, Ares berkata, "Anggap saja mereka bertemu denganku secara rahasia."
"Baik... Tuan," timpal Dia yang menyerah karena memahami maksud Ares.
"Jika begitu, aku akan menuju ke utara dengan pengawalan mereka," jawab Ares.
"Ta—tapi—" protes Dia dengan nada tinggi.
"Tidak perlu khawatir, aku akan membawa seorang ksatria yang berafiliasi dengan House of Rueter," sela Ares tegas.
"Kuh... baik..." ujar Dia yang menyerah.
"Saya tetap tidak dapat mempercayakan Anda kepada mereka, Tuan," protes Albert.
Kecurigaan tetap ada. Para ksatria pun tentu juga bertanya-tanya mengenai perilaku Tuannya yang sangat mempercayai mereka.
Sedikit muak dengan protes para ksatria yang selalu bermunculan tanpa henti, Ares berkata, "Jika begitu, mengapa kalian tidak melawannya?"
"Hah?" ujar Albert yang terkejut.
"Apa... yang Anda maksud, Tuan?" tanya Dia seolah tidak percaya.
"Jika kalian berdua menang darinya, aku akan patuh dan menuruti kalian. Jika tidak, keputusanku telah bulat," jawab Ares sembari tersenyum.
Merasa sangat diremehkan, Dia pun berteriak, "Ak—aku tidak akan kalah!"
Hmm, sangat berbeda dengan Milly yang sangat tenang, bukan?
Menatap bibinya yang seketika dipenuhi kekesalan, Ares hanya dapat menghela napas dalam dan berkata, "Lean."
"Che, merepotkan..." ungkap Lean.
Meskipun menolak, kedua kaki Lean tetap melangkah maju dengan tangannya yang menggaruk bagian belakang kepalanya seolah malas. Tanpa penundaan, dia berkata dengan malas, "Ayo cepat selesaikan ini, Nek."
"A—apa katamu?! Cih, awas saja kau!" timpal Dia yang memerah karena kesal lalu meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.
Semua orang di dalam ruangan seketika terpana dengan sikap Dia—bahkan untuk Excel sekalipun—yang sangat tidak sopan dan meninggalkan ruangan tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepada Tuannya.
Tetap saja, tidak ada diantara para ksatria yang dapat berkata-kata setelah melihat hasil pertandingan yang merupakan kekalahan telak Dia dan Albert dimana mereka dikalahkan hanya dalam rentang waktu kurang dari 5 menit.
...----------------...