I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 31 : Count, Inilah Strategi yang Seharusnya!



Tahun 1236, 6 April.


Bagian Barat Kaki Pegunungan Brenne, Wilayah Count Dupent.


Pagi Hari.


Hmm, seharusnya mereka telah berada di sini.


Di bawah cahaya mentari yang baru saja terbit, Ares dan 2 regu kavaleri yang berada di bawah komandonya sedang menunggu 3 regu kavaleri lain di titik yang telah mereka sepakati.


Mereka sedang duduk beristirahat di bawah pepohonan sembari memakan sarapan dan memberi pakan untuk kuda perang mereka.


Karena mengingat sebuah desa yang berada di bagian selatan dari kaki pegunungan, Ares memerintahkan 3 regu kavaleri untuk berpisah saat dalam perjalanan dan kembali berkumpul pada 2 hari kemudian untuk membakar desa tersebut dan memerintahkan para penduduknya untuk pergi menuju Wilayah Rueter.


Tiba-tiba, seekor elang terbang secara berputar di atas kepala Ares dan para prajuritnya. Saat Ares mengangkat tangan kanannya, elang tersebut menukik dan hinggap di bahu Ares.


Ares pun membuka kapsul yang berada di kaki elang dan mengeluarkan sebuah perkamen kecil yang tipis lalu membacanya. Semua keanehan yang dirasakan Ares lenyap setelah membaca surat tersebut.


Begitu.


Count tidak mundur menuju Benteng Veldaz karena Jenderal Barlock telah memblokir jalur pelarian menuju pegunungan dengan menempatkan sekitar 20.000 prajurit di bawah kaki gunung.


Apakah Kerajaan Natrehn begitu menginginkan Tanah Vietra dan bertujuan untuk mengamankan mata airnya terlebih dahulu?


Juga, rencana kami sudah dapat dimulai saat ini.


Benteng Veldaz merupakan pertahanan utama Tentara Gabungan Bangsawan Utara Kerajaan Rowling. Meskipun tidak berperan sebagai benteng yang mempertahankan sebuah wilayah, namun peran benteng tersebut sangat vital bagi Tanah Vietra dikarenakan lokasinya yang dekat dengan mata air.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Gnery yang berada di samping Ares.


"Kami sudah dapat melaksanakan rencana kami. Juga, Canaria telah memberi laporan mengenai kekalahan pasukan count," jawab Ares lugas.


"Meskipun kami selalu menang dalam peperangan beberapa puluh tahun terakhir, saya tidak menyangka mereka akan dikalahkan hanya dalam selang waktu 2 tahun gencatan senjata," timpal Gnery yang mengerutkan keningnya.


"Yah, kedua komandan pasukan sangat bodoh. Aku tidak menyangka Count akan berperang di Lembah Vietra yang menyebabkan Barlock dapat dengan leluasa menempatkan pasukannya di dataran yang berada di dekat kaki gunung. Juga, karena moral yang naik secara drastis, Barlock memutuskan untuk mengambil alih Benteng Veldaz yang akan menyebabkan kematian mereka sendiri," balas Ares lalu memakan daging keringnya.


Yah, karenamu, aku harus memikirkan rencana lain saat berperang dengan Kerajaan Natrehn nantinya.


"Uh, mengapa Anda menyebut Count seperti itu, Tuan?" tanya Gnery yang keheranan.


"Hm? Bukankah kau tahu bahwa Count Dupent terdahulu telah meninggal karena sakit? Karenanya, pewarisnya tidak memiliki satupun pengalaman berperang karena pemilik saat ini adalah seorang bocah manja yang tidak mengerti apa-apa. Yah, ia tidak bisa lagi dikatakan bocah karena ia telah berumur 19 tahun," jawab Ares seolah malas.


Ares melihat ekspresi Gnery yang tetap mempertahankan ekspresi yang tidak setuju dengan perkataannya. Tentunya, Ares tidak ingin dianggap sebagai orang bodoh.


Saat akan menjelaskannya, Ares tanpa sengaja melihat Esther yang saat ini sedang memberi pakan kuda. Ia pun berniat mengolok-olok Gnery dengan bertanya kepada Esther.


"Esther, kemarilah!" teriak Ares.


Esther pun meletakkan beberapa jerami yang saat ini sedang dibawanya dan bergerak menuju Ares.


"A—ada apa, Tuan?" tanya Esther gelisah.


Hmm, melihat Esther mengenakan seragam seorang kadet membuat perasaanku sedikit rumit.


Ares pun menghilangkan pemikirannya yang telah menjalar ke hal yang lain. Dengan berdehem, ia bertanya, "Ehm. Esther, strategi apa yang akan kamu gunakan jika kamu melihat wilayah ini?"


"Um... menurut denah peta yang saya ingat... kami harus menempatkan pasukan di kaki gunung ketika kami hendak berperang dengan Kerajaan Natrehn," jawab Esther yang gelisah.


Ares kagum dengan jawaban Esther yang sesuai dengan pendapatnya. Namun, Gnery tetap tidak mengerti dan bertanya kembali, "Maksud Anda, Nona?"


"Jika kami menempatkan pasukan di kaki gunung, kami memiliki keunggulan medan dimana kami berada di posisi yang lebih tinggi dan lebih menguasai medan karena pegunungan juga merupakan salah satu wilayah yang telah lama dikuasai oleh Kerajaan Rowling. Um... juga..." jawab Esther yang tidak melanjutkan perkataannya karena takut.


"Ba—baik, Tuan... jika... kami mengalami kekalahan, kami hanya harus mundur dengan mendaki gunung dan memasuki Benteng Veldaz yang berada di puncak gunung," sambung Esther yang sedikit gugup.


Merasa malu karena seorang gadis muda lebih pintar darinya, Gnery hanya dapat tersenyum dengan paksa dan berkata dengan gugup, "A—Anda telah sangat berkembang, Nona."


"Yah, dengan itu, setidaknya kami dapat mempertahankan pasukan agar tidak runtuh dan dapat mempertahankan wilayah, meskipun aku tidak akan menggunakan taktik seperti itu apabila musuh kami memiliki kekuatan lebih dari dua kali lipat," sambung Ares lalu tersenyum.


"Baik... Tuan..." jawab Gnery yang lesu karena merasa telah dikalahkan seorang gadis yang sangat lebih muda darinya.


Pltak.


Pltak.


Pltak.


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara tapak kuda yang mendekat menuju mereka.


Sudah datang, kah?


Namun, saat melihat ketiga regu kavaleri tersebut datang, kedua mata Ares terbuka sangat lebar seolah melihat sesuatu hal yang tidak masuk akal.


Me—mengapa dia ada disini?!


Siapa yang mengirimnya?!


Ku, sialan!


Ya, diantara para prajurit kavaleri Ares, terdapat seekor kuda perang hitam yang sedang ditunggangi oleh seorang gadis yang memiliki julukan White Demon.


Dengan panik, Ares berteriak, "Berlutut!"


Ares langsung menurunkan tubuhnya dan memasang sikap berlutut seperti yang ia lakukan saat audiensi dengan Raja. Meski beberapa diantara para prajurit kebingungan karena tidak pernah melihat Excel secara langsung, mereka dengan patuh mengikuti Ares dengan menurunkan tubuhnya.


Setelah berhenti tepat di depan Ares, Excel turun dari kudanya dan tersenyum lalu berkata dengan nada yang bahagia, "Tidak perlu terlalu formal, Ares. Ayah telah menerima proposalmu dan akan mengumumkannya setelah kami memenangkan perang ini."


"Ka—kata-kata Anda tidak pantas untuk diri saya, Yang Mulia," timpal Ares sedikit gugup.


Akibat perkataan Ares, beberapa prajurit menjadi sangat terkejut dan mengerti bahwa seseorang yang berada di depan mereka adalah Putri dari Kerajaan Rowling. Mereka pun gemetar karena Excel memancarkan nafsu membunuh yang bahkan dapat mempengaruhi seorang jenderal negara besar.


Saat Ares mengintip wajah Excel, ia memiliki ekspresi yang tidak puas. Dengan terpaksa, Ares berdiri kembali dan menyapa Excel secara tidak formal.


"Selamat pagi... Yang Mulia," sapa Ares dengan senyum paksa.


"Selamat pagi, Ares!" jawab Excel dengan riang.


Excel pun mengalihkan pandangannya menuju prajurit kavaleri Ares. Seolah mengganggu pemandangan, ia berkata, "Kalian, pergi dan persiapkan diri kalian."


"Ba—baik, Yang Mulia!" jawab para prajurit lalu bangkit dan memberi hormat.


Saat melihat para prajurit pergi, Excel tanpa sengaja memfokuskan pandangannya kepada seorang wanita yang memiliki ciri fisik yang sama dengannya.


"Kamu, rambut putih, berhenti. Kemarilah," perintah Excel yang memiliki ekspresi gembira.


Esther pun berhenti dengan tubuhnya yang masih gemetaran. Seolah menyerah dengan takdirnya, ia berbalik dan berkata, "Ba—baik, Yang Mulia."


Saat melihat Esther yang berjalan mendekat, Ares memiliki perasaan yang sangat gelisah dan hanya dapat berharap agar Excel tidak melakukan suatu hal aneh kepadanya.


...----------------...