I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Alternation : Ayo Masuk Akademi Militer!



Tahun 1236, 1 Juli.


Kota Ereth, Ibukota Wilayah Margrave Rueter.


Pagi Hari.


Kryuuk.


Kryuuk.


Ciutan burung yang terdengar dari luar jendela kamar pribadinya yang berada di salah satu sudut kastil, sedikit membuat tenang perasaan seorang wanita yang sedang disisir oleh para pelayan di meja riasnya.


Mengenakan seragam militer kadet yang berwarna putih, sedikit membuat wanita yang menutupi salah satu matanya yang berwarna merah memiliki perasaan bangga.


Menghentikan pekerjaannya karena melihat rambut putih wanita tersebut yang telah rapi, pelayan tersebut berkata, "Sudah selesai, Nona."


"Terima kasih... um... maaf... aku merasa terus merepotkan kalian semua," timpal Esther dengan nada bersalah.


Rasa bersalah muncul di dalam hatinya karena tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya.


Meskipun para pelayan, ksatria, dan pejabat yang bekerja di kastil ketakutan terhadap Esther pada awal masa tinggalnya, namun mereka segera membuka diri setelah melihat selir Tuannya, Milly, beberapa gundik Ares, serta para pejabat tingkat tinggi menghadapinya tanpa mendiskriminasinya.


Mereka sadar akan masa lalunya yang kelam, menyebabkan beberapa pelayan mengajukan diri mereka sendiri untuk mengurus Esther yang juga merupakan gundik Tuannya tersebut.


Tersenyum hangat, pelayan yang menyisir rambut Esther tersebut berkata, "Tidak apa-apa, Nona. Ini juga merupakan salah satu tugas saya."


Terdiam.


Esther tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan pelayan tersebut. Dia tidak memiliki pengalaman mengenai berinteraksi kepada orang lain yang membuatnya hanya dapat membuka diri kepada Ares, Milly, serta beberapa orang tertentu saja, meskipun hampir semua orang telah mencoba berinteraksi dengannya.


Ketakutan menghantuinya, Esther tidak ingin diperlakukan seperti pada saat dirinya berada di desa oleh orang-orang yang tinggal di kastil.


Seolah mengerti, pelayan tersebut pun sekali lagi membuka mulutnya, "Um... mengapa Anda tidak berangkat lebih awal?"


"Baik..." timpal Esther.


Berdiri dan mengikuti pelayan tersebut, Esther pun menuju halaman kastil dan menemukan pintu kereta kuda yang telah terbuka untuknya.


"Apakah aku... benar-benar diperbolehkan menggunakan fasilitas ini?" tanya Esther dengan sedikit gugup.


"Tidak apa-apa, Nona. Nona Milly serta para gundik Tuan yang lain juga mendapatkan fasilitas seperti ini," jawab pelayan tersebut dengan hangat.


"Um... baik... terima kasih..." timpal Esther dan menaiki gerbong.


"Semoga hari Anda menyenangkan, Nona," balas pelayan tersebut dengan menundukkan ringan kepalanya.


"Baik, aku berangkat," timpal Esther.


Pintu pun tertutup. Mengalihkan wajahnya menuju jendela yang berada di sisi lain pintu, Esther pun segera merasakan kereta kuda yang berjalan dengan perlahan.


Kereta kuda yang digunakan oleh Esther belum menggunakan sistem suspensi sehingga kusir menggerakkan kereta kudanya dengan perlahan untuk menambah kenyamanan penumpang.


Menatap pemandangan kota dari balik jendela, ia pun melihat orang-orang berhenti berjalan dan membungkuk dalam kepada kereta kuda yang memiliki lambang House of Rueter, sedikit membuat perasaan Esther menjadi rumit.


Meskipun begitu, kehidupannya berubah drastis menjadi lebih baik yang menyebabkan dirinya benar-benar mensyukuri pertemuannya dengan Ares.


Tak lama berselang, dia pun segera melihat bangunan putih besar dengan bendera yang memiliki lambang House of Rueter di depan bangunan tersebut. Tentu, Ares membangun Sekolah Dasar dan Akademi Militer menyerupai sebuah bangunan sekolah di dunianya yang sebelumnya.


Apabila Akademi Militer dibangun di dekat barak yang berada sebelum distrik khusus, Sekolah Dasar justru dibangun di tengah-tengah distrik rakyat jelata agar mereka tidak ragu untuk mendekatinya.


Secara garis besar, proses pengajaran di Akademi Militer dibagi menjadi dua kurikulum oleh Ares yang disempurnakan oleh Canaria secara detailnya, yaitu bagi seseorang yang berumur sekitar 13 tahun yang belum menginjak usia dewasa serta bagi seseorang yang berumur lebih dari 15 tahun.


Proses penerimaannya pun sangat berbeda. Bagi seseorang yang belum menginjak usia dewasa, mereka diharuskan untuk mengikuti ujian masuk sebelumnya. Apabila pendaftar telah memasuki usia dewasa, mereka diharuskan untuk mendaftar ketentaraan terlebih dahulu dan belajar di Akademi Militer setelah mereka dinilai mampu untuk menjadi seorang perwira.


Setelah mencapai pintu utama, Esther pun segera turun dan disambut oleh Don, Kepala Staf Tentara Margrave Rueter.


Dengan menundukkan ringan kepalanya, Don berkata, "Selamat datang, Nona."


"Um... mengapa Anda menyambut saya? Saya pikir saya tidak perlu diperlakukan secara khusus seperti ini," timpal Esther dengan sedikit gelisah.


"Saya mendapat perintah dari Kepala Urusan Wilayah agar membuat Anda nyaman belajar di sini," balas Don dengan tersenyum hangat.


"Um..." timpal Esther.


"Apakah Anda baik-baik saja saat menggunakan penutup mata itu?" tanya Don.


"Um... saya pikir saya telah mulai terbiasa mengenakannya," jawab Esther.


"Begitu... baik, saya akan membimbing Anda menuju kelas Anda," timpal Don.


"Itu benar, Nona. Upacara tersebut akan dilaksanakan siang nanti, kami berharap agar Anda membiasakan diri Anda dengan teman sekelas Anda terlebih dahulu," jawab Don.


"Teman, kah..." timpal Esther.


Sesuatu yang baru di dalam hidupnya.


Esther tidak pernah mengira bahwa dirinya akan mendapatkan seorang teman. Dia mengingat pengalaman hidupnya saat dirinya diejek oleh anak seumurannya yang membuatnya sangat gelisah.


Berjalan dengan langkah berat, tidak ingin terulang kembali pengalamannya yang sangat pahit.


Tiba di depan pintu ruang kelas yang berada di lantai dua yang sedikit aneh bagi dirinya. Esther tidak pernah melihat pintu yang tidak memiliki pegangan untuk membukanya.


Dalam diam, Esther melihat Don yang memasukkan jarinya menuju lubang persegi panjang besar pintu.


SRRKKK.


Sedikit terkejut, tidak mengira bahwa pintu tersebut akan terbuka dengan cara menggesernya.


"Anda pasti sedikit terkejut, bukan?" tanya Don dengan tersenyum masam setelah melirik Esther di belakangnya.


"Um... benar..." timpal Esther.


Setelah menggeser tubuhnya, Don pun berkata, "Baik, mohon nikmati waktu Anda, Nona."


"Baik, terima kasih, Jenderal," timpal Esther lalu memasuki ruang kelas.


Mata semua siswa yang telah berada di kelas segera tertuju padanya. Tak elak, itu dikarenakan Esther yang mengenakan penutup mata yang membuat rasa penasaran para siswa muncul.


Tak biasa dipandang oleh banyak orang dalam diam, Esther tetap melangkahkan kakinya menuju salah satu bangku yang ada di depan ruangan.


Beberapa siswa laki-laki terpesona oleh penampilan Esther disamping rasa penasaran mereka pada salah satu matanya yang tertutup. Bagi para siswa, Esther—yang telah mendapatkan perawatan diri sebagai salah satu gundik Margrave—sangat berbeda dengan gadis yang biasa terlihat di kota.


Pun tak berbeda dengan siswi perempuan, yang tentunya sedikit memiliki perasaan iri karena penampilan Esther yang luar biasa di mata mereka.


Tetap saja, tidak ada diantara mereka yang berani untuk mendekati Esther karena dia yang diantarkan langsung oleh seorang atase militer, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa atase militer tersebut adalah Don karena mereka hanya dapat menilai hanya dari seragam yang dikenakannya.


Duduk dalam diam, hanya dapat menanti hingga seorang guru tiba karena Esther yang belum dapat membuka dirinya kepada orang lain.


SRRKK!


Kali ini, pintu terbuka dengan sangat kasar. Hal tersebut dapat dimaklumi oleh para siswa dikarenakan hal tersebut adalah sesuatu yang belum pernah dilihatnya, yang juga tak berbeda dengan pendapat Esther.


Seorang gadis dengan rambut ponytail berwarna merah cerah dengan wajah bulat yang cukup pendek sedang menahan tubuhnya yang membungkuk dengan kedua tangannya menahan lututnya. Suara terengah-engah seolah kehabisan napas pun muncul dari alat wicara gadis tersebut, "Hah... hah... Hah..."


Para siswa hanya menatap perilakunya yang sedikit tidak sopan tersebut. Sebelum memasuki Akademi Militer, tentu mereka telah diajarkan untuk menjaga perilaku dikarenakan lulusan Akademi akan menjadi seorang perwira secara langsung—yang sangat berbeda dengan prajurit rekrutan biasa yang memulai karirnya dari nol.


Tak lama kemudian, dia segera melangkahkan kakinya menuju bagian depan ruangan seolah ingin menjadi pusat perhatian para siswa lain.


Duk.


Mengepalkan tangan dan memukulkannya di dadanya yang belum berkembang, gadis tersebut berkata dengan lantang, "Namaku adalah Anette Mars!"


Pembawa masalah.


Hanya hal tersebut yang segera muncul di dalam benak para siswa. Mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga ksatria karena memiliki nama belakang, tidak ada seorangpun dari para siswa yang berniat untuk mencari masalah dengannya.


Kebanggaan diri tentu saja muncul bagi seseorang yang keluarganya telah diangkat menjadi keluarga ksatria. Entah posisi apa yang dimilikinya, keluarga ksatria pastilah memiliki seorang anggota keluarga berpengaruh kuat di dalam internal suatu wilayah ataupun kemiliteran yang menyebabkan keluarga tersebut dipandang sangat tinggi di tengah masyarakat.


Melihat seorang gadis yang menutupi salah satu matanya, Anette pun mendekati Esther dengan cepat dan menggenggam kedua tangannya.


"Anda pasti adalah Nona Esther, bukan?!" ujar Anette dengan penuh semangat.


Sedikit kewalahan dengan gadis di depannya, Esther membalas dengan sedikit terbata, "I—itu benar."


"Perkenalkan, saya adalah adik kandung dari Ody!" timpal Anette yang bersemangat.


"Um... Esther," balas Esther yang bingung bagaimana harus menjawab.


"Mari berteman!" timpal Anette riang.


Rasa kebahagiaan sedikit muncul di dalam hatinya. Meskipun begitu, Esther hanya dapat berharap agar gadis di depannya tidak membuat suatu masalah di masa yang akan datang.


Tersenyum, Esther berkata, "Baik," sembari menahan air matanya agar tidak menetes karena keharuan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.


...----------------...