
Tahun 1236, 11 Agustus.
Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.
Malam Hari.
"Formasi pertahanan!"
Perintah keras telah terdengar oleh setiap prajurit di dekat Zelhard, tanda juga telah diberikan kepada prajurit yang berada di kejauhan.
Masing-masing infanteri yang menggenggam tameng berjalan maju dengan langkah tegap untuk menutupi War Wagon dan pemanah di depannya. Bersamaan dengannya, para prajurit infanteri tombak panjang juga mengikuti di belakang mereka.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, formasi [infanteri tameng–pemanah—infanteri tombak panjang] telah tersusun rapi. Tatapan kuat dan ekspresi penuh keseriusan segera tercipta di atas wajah para prajurit.
BRAK!
Bersamaan, ribuan tameng besar telah menutupi seluruh sisi samping dan depan formasi pasukan. Meskipun begitu, para pejuang barbarian tetap melaju seolah tidak kenal takut.
Dari sela-sela pertahanan para prajurit infanteri, bidikan busur segera tertuju kepada para barbarian. Namun, hal tersebut seolah tidak dapat diizinkan untuk terjadi.
Sosok dua orang berjubah yang terlihat pendek mulai menampakkan dirinya diantara serbuan ganas para barbarian.
Menyilangkan kedua tangannya yang masing-masing menggenggam sebuah belati di depan wajahnya, Gale segera menundukkan tubuhnya dan melompat jauh menuju barisan pertahanan prajurit Natrehn.
TRANG!
Serangan menyilang membentuk huruf X pun mengenai tameng salah satu prajurit tersebut hingga dirinya sedikit terdampak mundur. Gale segera memutar tubuhnya di udara dan menapak dengan salah satu kakinya pada tameng prajurit tersebut lalu melompat kembali.
Sejenak berada di udara, Gale dengan menggunakan kekuatan dan kecepatan penuhnya segera menebas tangan prajurit tameng Natrehn tersebut.
JRASH!
"Argh!"
Hanya memiliki sarana berpijak yaitu kepala seorang prajurit, Gale pun menapakinya lalu mendorong kepala prajurit tersebut hingga dirinya dapat berada di dalam formasi para tentara.
Pada saat yang sama, Marie—yang menyerang sisi lain barisan pertahanan Natrehn—melontarkan sebuah rantai yang memiliki bola hitam berduri dengan diameter sekitar 30 cm di ujungnya kepada tameng salah seorang prajurit infanteri Natrehn.
KLANG!
Pun tidak berbeda dengan Gale, dampak serangan Marie juga membuat prajurit tersebut terdampak mundur.
Marie segera menarik rantainya sembari melompat kembali. Dengan cepat memutar rantainya secara vertikal, Marie seketika telah membunuh prajurit tersebut dengan menabrakkan ujung rantainya tepat pada kepalanya.
BAK!
Berada di udara, Marie pun segera memutar tubuhnya hingga dirinya dapat melompat masuk ke dalam barisan penjagaan para infanteri.
Tidak ada diantara para prajurit Natrehn yang dapat bereaksi dengan aksi kilat tersebut. Pun tidak berbeda dengan Zelhard yang mengerutkan kening karena memikirkan bahwa perang ini telah berada di luar kendalinya akibat kemunculan pihak ketiga.
Telah berada pada jarak yang begitu dekat, para pemanah pun segera menembak anak panah dari balik perlindungan tameng. Namun, akibat dari serangan Gale dan Marie yang mengacaukan bagian dalam infanteri tameng, garis pertahanan Natrehn pun tertembus.
"Ooohhhh!"
BRAK!
JRASH!
Kedua kepala suku mengayunkan dengan liar senjatanya yang tidak berbeda dengan para pejuang barbarian yang lain, meskipun mereka tahu banyak rekan mereka yang telah bersimbah darah menerima serangan anak panah Natrehn.
Karena kekuatannya, banyak prajurit infanteri tameng serta pemanah segera mati tepat setelah terkena serangan mentah para pejuang—yang juga dikarenakan serangan kilat serta brutal dari Marie dan Gale.
Entah itu dikarenakan injakan Coumbi Elephant ataupun terserang tanduk White Deer, garis depan pertahanan Natrehn segera luluh lantak.
Para penombak di belakang para pemanah tidak mungkin dapat bereaksi dengan cepat karena terbebani oleh tombak yang begitu panjang dan mayoritas hanya memiliki senjata cadangan berupa belati. Kematian sia-sia seolah telah dipastikan terjadi pada mereka akibat diserang oleh keganasan para barbarian.
Berada di tengah-tengah formasi pasukan, Zelhard dan Val hanya dapat menatap penuh keraguan dengan apa yang terjadi pada garis pertahanan mereka. Mereka tahu bahwa moral pasukan Natrehn telah menurun secara cepat.
Namun, Zelhard segera mengubah ekspresinya menjadi kegirangan. Bukannya merasa gelisah, Zelhard kembali mengingat masa mudanya yang terlampau liar.
"Val, pimpin unit kavaleri. Kita akan menjalankan rencana kedua!" perintah Zelhard.
"Ya, Pak!" jawab Val penuh ketegasan.
Val segera mengangkat tinggi pedangnya dan berbalik ke formasi belakang pasukan untuk berputar mengelilingi formasi.
Ribuan prajurit kavaleri segera mengikuti Sang Komandan. Berpencar menjadi dua kelompok besar, masing-masing kelompok bertujuan untuk menyerang para barbarian dengan mengapitnya dari sisi belakang.
Langkah kelompok Val terhenti, dirinya segera dihadang oleh gadis barbarian berambut hitam yang membawa greatsword di tangannya dan banyak pejuang barbarian tepat setelah keluar dari formasi tentaranya.
Meskipun Astrid tidak dapat menemukan sosok berjubah yang menyelamatkan Sang Kepala Suku Timur, Havarr, yang menyebabkannya berfokus kepada Val karena menilainya sangat berbahaya.
"Cih." Val mendecakkan lidahnya.
Menghunuskan longsword dua matanya, Val dan para prajurit kavalerinya pun bergegas menuju kelompok Astrid dengan memacu kencang tunggangannya.
Tak berbeda dengan kelompok Val, Astrid dan para pejuang bawahannya juga memacu White Deer menuju kelompok Val dengan kecepatan penuh.
Kedua komandan berada di barisan terdepan. Satu sama lain telah menghunuskan pedangnya, kedua pasukan pun bertemu.
"Aaaaaahhhhhhh!!"
"Oooohhhh!!"
TRANG!
JRASH!
Dengan berada di atas tunggangannya, Val pun menebas dada Astrid yang segera ditangkisnya yang menyebabkan pedang Val tergelincir ke bawah. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Val melanjutkannya dengan menebas leher White Deer tepat disaat keduanya bersisian dimana tanduknya tidak menghalangi tebasan.
"Sialan!" Astrid mengumpat keras.
Tubuhnya hampir jatuh karena kesimbangan tunggangannya yang hancur. Segera menapak pada punggung tunggangannya, Astrid pun melompat ke arah Val dan menebas kaki kuda perangnya.
JRASH!
Ngiiikk!
Val menjadi sangat kesal. Tidak terpikirkan olehnya bahwa musuh yang dihadapinya memiliki reflek seperti seorang jenderal.
Dengan terpaksa melompat turun, Val mendorong salah satu kakinya yang berpijak tepat setelah menapak tanah dan menerjang Astrid.
Berada di tengah-tengah ribuan orang yang saling bertarung, tidak sedikitpun membuat mental keduanya terpengaruh.
"Aaahhh!!"
TRANG!
Astrid menghunuskan greatswordnya dari samping. Val tentu tidak dapat menghindarinya karena tidak dapat seketika menghentikan gerak tubuhnya.
Menangkis dengan longswordnya, Val pun menarik pedangnya kembali dan hendak menebas Astrid dari sisi yang lain.
Refleknya membantunya, Astrid menancapkan pedangnya di tanah dan merendahkan kepalanya untuk menghindari tebasan cepat Val.
Sedikit kekaguman pun muncul. Val tidak pernah melawan musuh sekuat Astrid sebelumnya.
Kupikir, aku harus berlatih untuk dapat membalaskan dendam ayah dengan membunuhnya.
Samar kedua sudut bibirnya terangkat. Memantapkan hatinya untuk mengeluarkan segala yang dia miliki, Val pun sekali lagi menyerang Astrid dengan kecepatan gerakan yang luar biasa.
Menanggapi Val, Astrid menangkis kecepatan Val dengan mengandalkan reflek luar biasanya dan sesekali menyerang Val dengan kekuatan penuhnya.
TRANG!
TRANG!
TRANG!
BAM!
Kedua mata Val terbuka lebar. Tidak pernah dirinya menyangka bahwa serangan gadis di depannya dapat melubangi tanah.
Keduanya menjadi sangat bersemangat. Sekali lagi saling menyerang, masing-masing dari mereka mengetahui jika kekalahan adalah akhir dari segalanya.
Siulet dua orang berjubah hitam samar nampak dari salah satu sudut padang rumput dan bergerak cepat mendekati medan perang.
Meskipun tertutup oleh tudung, Ares pun melukiskan senyuman di atas wajahnya.
Aku akan membunuhmu, Zelhard!
...----------------...