I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 121 : Barbarian Attack, part 1



Tahun 1237, 20 Maret.


Wilayah Perbatasan Utara Kerajaan Natrehn.


Pagi Hari.


"Mustahil..." Jauh dari mata memandang, Val melihat puluhan ribu prajurit barbarian yang bergerak mendekati benteng perbatasan utara Kerajaan Natrehn.


Banyak dari para pejuang barbarian memanfaatkan White Deer serta Cuombi Elephant sebagai tunggangan mereka, hingga membuat para prajurit Natrehn memiliki sedikit rasa terintimidasi karena tidak pernah melawan para barbarian dalam skala sebesar ini sebelumnya.


Keterkejutan Val hingga membuatnya takjub bukanlah karena jumlah musuh yang berkisar pada angka 30.000 yang mana telah dia prediksikan sebelumnya, namun adanya persenjataan berat pasukan infanteri yang bergerak di dalam barisan mereka.


Val mengalihkan pandangannya kepada perwira yang berdiri tepat di sampingnya, "Dari mana mereka bisa mendapatkan ketapel?!"


"Sa—saya tidak mengetahuinya, Pak!" Perwira yang merupakan bangsawan berperingkat Baron menjawab dengan kepanikan.


Para prajurit Natrehn tentu mengerti, meskipun kemampuan keteknikan Suku Selatan sangatlah mumpuni—yang dikatakan hampir setara dengan Angkatan Laut Natrehn—namun mereka hanyalah berfokus pada teknologi laut untuk menghadapi serbuan Tentara Natrehn di laut serta menguasai Laut Bercov secara keseluruhan.


Mustahil bagi para barbarian untuk merakit atau bahkan mengembangkan persenjataan berat infanteri karena sifat sejati mereka yang bodoh dan lebih mengutamakan pertempuran dengan otot dibandingkan otak.


Val kembali mengalihkan perhatiannya kepada para pejuang barbarian yang menghentikan gerakannya dari tempat yang sedikit jauh, yang bahkan menurutnya tembakan ketapel tersebut tidak akan dapat mengenai pos pantau tembok benteng dimana dirinya berpijak.


"Apa... yang akan mereka lakukan?" Val bertanya dengan nada penuh keheranan.


Tidak hanya Val dan perwira tersebut yang menatap apa yang akan dilakukan para barbarian dengan seksama, semua orang yang dapat melihat pejuang barbarian dari tempat yang tinggi—termasuk prajurit yang bertugas untuk membunyikan lonceng—sejenak terdiam untuk menatap kelompok barbarian yang berada dalam bidang pandang mereka.


Menunggangi White Deer terbesar, Thorgils tersenyum lebar dengan salah satu tangannya yang terangkat sangat tinggi, yang mana menjadi tanda komando bagi kumpulan para pejuang yang tergabung dari ratusan suku barbarian di Tanah Utara.


Para pejuang pun membuka lebar barisan. Tanpa penundaan, puluhan ketapel batu keluar seolah membuka celah pada barisan. Tidak hanya itu, Val—yang mengetahui karakteristik para barbarian yang akan segera menyerang, meskipun mereka tetap berada dalam suatu komando—merasa sedikit aneh dengan tindakan para barbarian di dalam bidang pandangannya.


Val tidak mengetahui, bahkan termasuk Astrid, mayoritas dari para pejuang barbarian memiliki mata yang berbinar terhadap persenjataan berat yang dikirimkan oleh Ares—terlebih pada Suku Selatan yang notabene ahli dalam kerajinan dan keteknikan.


Mereka benar-benar memiliki keinginan untuk mengujicobakannya pada musuh, meskipun mereka telah mengalami beberapa kali uji coba untuk pelatihan.


Hanya dalam beberapa saat, dengan memanfaatkan kekuatan mentah para pejuang barbarian, masing-masing dari ketapel tersebut telah termuat sebuah batu besar berdiameter sekitar 1,5 m hingga 2 m yang bervariasi.


Tidak hanya Val, kedua mata para prajurit seketika terbuka lebar melihat batu-batu tersebut telah terbakar dengan sangat cepat. Tidak ada diantara mereka yang menyangka jika para barbarian dapat melakukan serangan canggih yang seharusnya dilakukan oleh militer negara maju.


"Tembak!" Havarr berteriak keras dari dekat salah satu ketapel yang berada di tengah barisan para pejuang.


DUASH!


Val merasakan kekhawatiran besar, dia tahu jika jarak lempar batu tersebut baginya tidak mungkin untuk menghancurkan, atau bahkan mengenai dinding bentengnya, yang memiliki ketebalan lebih dibandingkan dengan benteng-benteng Natrehn lain yang berada di perbatasan timur.


Perbedaan ketebalan dinding dimaksudkan untuk membuat bangunan lebih kokoh serta dapat menjadi jalan lebar bagi para prajurit untuk menjatuhkan para barbarian yang seringkali menyerang hingga dapat memanjat tinggi dengan banyak prajurit sekaligus.


Melihat sudut parabola yang begitu besar, Val pun segera mengalihkan wajahnya menuju perwira di sampingnya sembari mengubah ekspresinya menjadi penuh kepanikan, "Lari!"


Tidak hanya Val dan perwira di sampingnya, hampir seluruh prajurit yang merasakan batu berapi meluncur ke arahnya seketika melarikan diri. Beberapa berlindung di balik tembok tepat di anak tangga, beberapa yang lain segera melompat jatuh, beberapa yang lain segera menuruni tembok dengan langkah cepat.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Rentetan dengungan keras terdengar akibat kehancuran tanah yang berada di luar benteng hingga berlubang, tanah-tanah yang mereka pijak sedikit berguncang, getaran-getaran yang terasa hingga di dalam benteng, para prajurit Natrehn mengerti bila mereka sedang melawan sekelompok "monster."


Mustahil!


Apakah ada pihak yang berada—


Tunggu...


Kening Val berkerut. Mengingat kembali disaat dirinya berperang melawan para barbarian bersama Zelhard, ada pihak yang membantu para barbarian sehingga Zelhard dapat terluka.


Val menggertakkan giginya, seketika dipenuhi oleh amarah. Tidak terbayangkan baginya jika Margrave Rueter akan membantu para pejuang barbarian dan begitu mempercayai mereka.


Bagi para bangsawan, membantu pihak lain dengan mempercayakan persenjataan militer—baik itu berupa hibah maupun pinjaman—tentu memiliki makna yang sangat krusial.


Persenjataan militer seperti pedang bermata dua. Meskipun kecil, terdapat kemungkinan peminjam akan menyerang pihak yang memberikan senjata tersebut. Selain itu, Val tidak mengerti tujuan Ares menolong para barbarian dengan bantuan senjata dan pendanaan.


Val kembali mengalihkan perhatiannya untuk mengintip persenjataan yang terpasang di atas tembok benteng dari balik tembok tangga turun. Beberapa diantaranya telah mengalami kerusakan berat, meskipun beberapa yang lainnya masih dapat dipergunakan kembali.


"Cih." Val mendecakkan lidah, ia mengalihkan wajahnya kembali menuju perwira yang berada di dekatnya dan berteriak dengan penuh amarah, "Siapkan pasukan!"


Menilik kembali kondisi medan tempur yang berada di luar benteng, Val memahami jika kondisi jebakan yang telah mereka persiapkan sebelumnya dipastikan rusak parah karena hantaman batu berapi, yang mana sangat dirinya sesali.


"Ya, Pak!" jawab perwira militer tersebut dengan tegas sembari memberi hormat lalu beranjak pergi.


Di sisi lain, tidak hanya Havarr serta Askarr, bahkan mayoritas para pejuang terlihat sangat menikmati kehancuran pemandangan di depannya.


"Tembaklah sekali lagi!" Astrid mendekat dengan menunggang White Deernya dengan kedua matanya yang berbinar. Tidak menyangka jika Gnery—Ares dalam arti sebenarnya—akan memiliki senjata yang sangat canggih.


Mayoritas pejuang barbarian memiliki rasa penyesalan besar akibat selalu berperang secara konvensional, yang juga membuat mereka menyadari jika selama ini Natrehn tidak sedikitpun memiliki keseriusan untuk menghabisi para barbarian.


Askarr serta Havarr mengubah ekspresinya menjadi jelek. Mereka sangat mengetahui jika minyak yang dipergunakan untuk membakar batu sangatlah terbatas.


"Idiot. Apa kau tidak tahu berapa harga minyak ini?" Kata-kata Askarr bernada sebal.


"Lagipula, seperti yang Arthur katakan. Tujuan kita telah tercapai." Havarr memandang Astrid dengan ekspresi mengejek.


"Hah?! Tujuan?! Lagipula, berapa harganya?!" Astrid merasa kebingungan hingga membuatnya berteriak.


Sejenak, Askarr dan Havarr saling memandang. Keduanya pun menghela napas berat sembari menutup masing-masing kedua mata mereka.


"Dengar, satu tong minyak itu setara dengan apa yang kamu makan selama enam bulan penuh. Jadi—" ucap Askarr sembari menunjuk sebuah tong di belakangnya dengan ibu jarinya tanpa berbalik.


"Hah?! Mahal sekali!" sela Astrid yang terkejut.


"Jadi, jaga mulutmu," timpal Askarr dengan sedikit kesal.


Astrid mengalihkan pandangannya menuju Havarr yang menatap lelah padanya, salah satu alisnya pun terangkat, "Apa yang kau maksud dengan 'tujuan kita'? Mengapa aku tidak mengetahuinya?"


Havarr sekali lagi menghela napas, "Arthur menyarankan kita menggunakan ketapel ini untuk menghancurkan jebakan yang tersembunyi di sekitar benteng agar kita dapat menyerang dengan lebih leluasa. Lagipula, keputusan ini diambil dan hanya diketahui oleh empat kepala suku besar serta perwakilan suku-suku kecil lain."


"Oh..." timpal Astrid yang kebingungan.


Tidak mengerti, hanya kekosongan yang ada di dalam ekspresi Astrid, yang segera tersadar kembali akibat teriakan Thorgils.


Tak jauh dari tempat mereka, Thorgils mengangkat tinggi Greatswordnya sembari menunggang White Deernya, "Jebakan telah hancur! Seraaaaang!"


"Oooohhhhh!"


Puluhan ribu pejuang barbarian segera menerjang benteng musuh meninggalkan sedikit pejuang lain untuk menjaga ketapel. Mendengar derap langkah puluhan ribu pejuang di sekitarnya, Thorgils pun memasang senyuman penuh kebanggaan.


...----------------...