
Tahun 1237, 4 Maret.
Perbatasan Kerajaan Natrehn.
Sore Hari.
Menyerang adalah pertahanan terbaik.
Zelhard sangat setuju dengan pernyataan tersebut, pun tidak berbeda dengan Kristin yang memimpin satu batalyon kavaleri yang berisi 500 prajurit serta terbagi menjadi unit-unit kecil.
Bersamaan dengan unit kecilnya yang beranggotakan 20 prajurit kavaleri yang terdiri dari campuran ksatria pria dan wanita, Kristin semakin memacu kuda perangnya dengan busur di atas tangannya.
Kristin menyadari kelebihan strategi yang sedang dilakukannya. Tidak mungkin terkena oleh lemparan batu ketapel karena gerakan cepat dan manuver tajam. Selain itu, unitnya merupakan kelompok elit kecil sehingga gerakan mereka akan lebih cepat dari kavaleri musuh yang dipastikan akan menyerang dalam jumlah besar—meskipun tidak menutup kemungkinan adanya korban diantara mereka.
Terlebih lagi, pasukan kecil Kristin lebih lihai jika menyerang dan segera menarik mundur pasukannya menuju perbatasan karena kelompok Kristin lebih menguasai medan perbatasan diantara Benteng Ligard dan Benteng Ulsic—yang notabene merupakan daerah hutan serta bekas wilayah yang dimiliki oleh Natrehn sebelumnya.
Sebuah titik-titik kecil mulai terlihat di dalam bidang pandangan. Kelompok Kristin menyadari jika mereka merupakan musuh yang bergerak mendekat.
"Berhenti!" Kristin menarik tali kekang kuda perangnya serempak dengan anggota kelompoknya hingga terhenti.
"Dua orang, beri tanda kepada unit lain untuk menyerang dari arah yang berbeda! Kita akan menyerang sebelum fajar tiba!" perintah Kristin.
"Ya, Bu!" jawab para prajurit tegas.
Kristin dan para prajurit mengerti jika Rowling tidak mungkin memasuki hutan karena hari akan menjadi gelap dan akan mendirikan perkemahan sebelum malam tiba.
Meskipun mendapat informasi dari mata-mata jika pasukan musuh dipimpin oleh Lavreigh von Dupent yang pernah mengalami kekalahan melawan Barlock akibat kebodohannya, Kristin dan para ksatria tahu jika para jenderal musuh—termasuk Lavreigh—mengerti tentang hal sederhana seperti itu.
Meskipun begitu, Kristin tetap harus mengistirahatkan pasukannya. Pemilihan waktu sebelum terbit fajar di samping membuat kelompoknya beristirahat, suasana hutan yang tidak begitu gelap seperti malam hari membuat Kristin dapat menarik mundur pasukan kavalerinya melewati hutan dengan aman.
Kelompok Kristin mendekati sebuah pohon rindang yang berada sangat jauh dari perkemahan musuh dan beristirahat menunggu fajar tiba secara bergiliran.
Beberapa kali bertemu dengan kelompok kecil pengintai Rowling, Kristin dan kelompoknya dapat dengan aman mengeliminasinya.
Sembari merasakan udara dingin berhembus di balik mantel kulitnya yang tebal, Kristin mengadahkan kepalanya. Terlihat sinar kebiruan telah muncul dari ufuk timur.
Perintah bersiap untuk menyerang diberikan, kelompok Kristin pun mengenakan kembali armor serta persenjataan mereka. Unit kecil Kristin bergerak cepat menuju perkemahan Rowling dengan busur yang siap menembak.
Samar terlihat beberapa unit lain menyerang dari arah yang berbeda. Bersama-sama dengan unit lain, Kristin pun menerjang masuk menuju perkemahan Tentara Rowling.
"Oi, kau baru kembali?" Seorang prajurit penjaga yang melihat kelompok kavaleri datang mendekat, memincingkan kedua matanya. Terheran-heran karena dia mengira kelompok pengintai terlalu lama melakukan tugasnya.
JRAT!
JRAT!
BRAK!
Beberapa prajurit penjaga seketika tewas karena sebuah anak panah tertancap di atas kepalanya. Menerjang masuk, Kuda perang kelompok Kristin melompat jauh melewati pagar pembatas dan seketika jatuh di atas tenda pasukan—hingga seketika menewaskan beberapa prajurit yang masih terlelap di dalamnya.
Tidak berbeda dengan strategi kelompok lain, Kristin dan kelompoknya membakar ujung panah—yang sebelumnya telah dilumuri minyak—dengan obor-obor sumber pencahayaan perkemahan musuh yang masih menyala.
"Tembak!" Perintah keras Kristin terdengar hingga sudut-sudut perkemahan.
Tanpa penundaan, para prajurit Natrehn menembakkan panah berapi menuju tenda-tenda serta gerbong pasokan makanan musuh sembari menyerang beberapa prajurit Rowling.
"Argh!"
JRASH!
JRAT!
"Aaaaaaaaa!"
Dengan cepat api menjalar, suasana kepanikan melanda perkemahan Tentara Rowling. Banyak prajurit dengan tubuh yang terlalap api keluar dari tenda mereka. Banyak diantara mereka yang seketika tewas terpanggang di dalam tenda.
Angin pagi yang berhembus seolah mendukung kecepatan api yang semakin berkobar.
JRASH!
Setelah menebas seorang prajurit dari atas kudanya, Kristin menilai kondisi telah tercapai. Tidak mungkin membabat habis perkemahan yang berisi sekitar 30.000 prajurit hanya dengan serangan kilat 500 prajurit kavaleri.
"Mundur!" Kristin menembakkan sebuah panah berapi ke langit.
Menjadi tanda bagi serangan kilat kavaleri telah berakhir, Kristin serta para bawahannya meninggalkan perkemahan dengan gerak cepat dan kembali memasuki hutan perbatasan.
Suasana mencekam menyelimuti sebuah tenda terbesar yang sedikit hangus di tengah-tengah pekemahan. Baru saja bangun dari tidurnya, Lavreigh mendengus kesal karena para prajuritnya yang tidak mewaspadai serangan kejutan.
Kehormatan sekali lagi terinjak-injak, kebanggaan seolah telah terjatuh ke dalam kubangan lumpur. Emosi menyelimuti pikiran Lavreigh, yang tidak berbeda dengan kondisi para bangsawan di dalam tenda lain yang tergabung dalam pasukan gabungan.
JRASH!
Bilah pedang memenggal kepala seorang prajurit yang bersujud di hadapan Lavreigh.
"Kirim seluruh regu kavaleri! Bantai mereka!" Lavreigh menunjuk pintu tenda sembari beberapa pelayan mengenakan pakaian padanya.
Para prajurit yang bersujud gemetar ketakutan. Pun tidak berbeda dengan kondisi para pelayan serta dua budak wanita telanjang yang terbaring di atas ranjang Lavreigh.
"Y—ya, Tuan!" jawab para prajurit dan segera menarik kaki mereka.
"Cih." Lavreigh mendecakkan lidahnya.
Setelah diberikan pedang oleh seorang pelayan, Lavreigh keluar mengambil kuda perang pribadinya yang telah dipersiapkan di depan tendanya.
"Count Roen! Pimpinlah pasukan pengejar!" Lavreigh berteriak penuh kekesalan.
Seorang bangsawan pria paruh baya yang telah berkumpul di depan tenda pribadi Lavreigh melangkah maju dengan ekspresi jelek. Tidak menyenangkan diperintah oleh seseorang yang jauh lebih muda dibandingkan dengan dirinya, yang juga tidak sedikitpun telah membuktikan kompetensinya sebagai seorang jenderal.
Meskipun begitu, perintah Lucas adalah sesuatu yang mutlak untuk dia patuhi, di samping Lavreigh yang tidak mungkin mengejar karena menjadi pemimpin seluruh pasukan.
"Kau berhutang padaku, Dupent." Count Roen menjawab dengan kesal dan segera melangkah pergi.
"Cih." Lavreigh mendecakkan lidah.
Persiapan hingga matahari terbit, Count Roen memimpin 4.000 prajurit kavaleri dan mengejar para penyerang kilat Natrehn meninggalkan sekitar 24.000 prajurit yang masih hidup untuk mengurus perkemahan yang hangus terbakar.
Kristin sedikit menahan gerakan cepat pasukannya. Dia menunggu kedatangan musuh hingga berada di dekat mereka dan memancingnya menuju jebakan-jebakan yang telah prajuritnya persiapkan sebelumnya di dalam hutan.
Hingga matahari telah naik sepenggala, jauh dari tempatnya berada, debu-debu yang beterbangan menandakan Rowling mendekat dengan gerakan cepat—yang menandakan musuh mengejar dengan mengerahkan unit kavalerinya.
Kedua sudut bibir Kristin terangkat. Memandang kembali para prajuritnya, Kristin pun mengangkat tinggi pedangnya agar bawahannya memberi perhatian kepadanya, "Lakukan operasi sergapan hutan! Berpencar!"
"Ya, Bu!" teriak para prajurit elit kavaleri dan segera menyebar dengan kelompok-kelompok kecil.
Kristin bersama kelompoknya menunggu di pintu masuk hutan, berharap jika emosi menguasai pasukan kavaleri hingga mereka tidak lagi dapat berpikir dengan jernih.
...----------------...