
Tahun 1236, 10 Juli.
Ibukota Scandiva, Kerajaan Natrehn.
Pagi Hari.
Sinar mentari pagi menerpa. Keadaan pagi yang cerah di akhir musim panas menyambut aktivitas militer di dalam sebuah Barak Ksatria yang berdiri kokoh di pinggiran ibukota.
Berdiri di atas tembok Barak Ksatria, seorang pria tua dengan pangkat jenderal di pundaknya beserta seorang pemuda berambut coklat pendek—yang keduanya bersamaan mengenakan seragam militer—sedang memandangi para prajurit yang sedang melakukan pelatihan di lapangan yang ada di bawah mereka.
Zelhard—salah satu tiga jenderal besar kerajaan sekaligus bangsawan yang berperingkat Margrave—membuat ekspresi tanpa sedikitpun menunjukkan kelembutan disaat dirinya menatap pelatihan para prajurit.
"Val, lihatlah. Apa yang membuat para prajurit itu mendengarkan perintahmu hingga kamu dapat menggerakkan mereka seperti anggota tubuhmu sendiri?" tanya Zelhard.
Val sejenak terdiam setelah mendengar suara berat tersebut. Baginya, yang beberapa bulan lalu hanyalah seorang perwira menengah di militer kerajaan, tidak dapat menjawab pertanyaan karena pengalamannya yang sangat kurang.
Setelah memikirkannya dengan sejenak, Val menjawab, "Apakah itu kewibawaan?"
"Pengalaman," jawab Zelhard.
Jawaban sangat lugas yang segera diberikan menusuk hati Val yang membuatnya menjadi sedikit rendah diri. Seorang jenderal haruslah memiliki rekam jejak yang luar biasa agar dapat menggerakkan para prajurit dengan baik.
Tatapannya melirik pemuda di sampingnya, Zelhard pun tersenyum masam saat dirinya melihat Val yang sedikit tertunduk.
Wajah Zelhard segera teralihkan, ia pun berkata, "Jadi, aku akan memberimu satu batalyon dari tentara kerajaan. Gunakan dengan baik."
Wajah Val segera tertuju kepada Zelhard dengan ekspresi keterkejutan. Val tentu sangat menyadari posisinya—yang hanyalah seorang perwira tingkat menengah dan tidak tergabung dengan ordo ksatria—yang baginya tidak mungkin memimpin tentara kerajaan, walaupun itu hanya sebesar satu peleton.
Zelhard tentu sadar akan alasan dari ekspresi Val, dia berkata, "Tidak apa-apa. Berbeda dengan tentara yang berasal dari rumahmu, tentara kerajaan—"
Tap.
Tap.
Tap.
Ekspresi wajah Zelhard berubah menjadi curam. Dia segera memutus kata-katanya disaat telinganya samar mendengar suara langkah kaki yang menapaki tangga tembok barak yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Suara langkah kaki pun semakin kuat terdengar.
Tak lama kemudian, mereka mendapati Putra Mahkota Kerajaan Natrehn, Julius von Runel Kona Natrehn yang berjalan menaiki tangga dan hendak menuju tempat merrka berdua berada.
Keduanya pun menjatuhkan dirinya untuk berlutut. Zelhard dan Val tidak mengerti mengenai maksud mereka dihampiri oleh seseorang yang hampir memiliki pengaruh setara dengan Raja di kerajaan ini, yang mana Sang Putra Mahkota sangat jarang terlihat di luar istana kerajaan jika dirinya berada di ibukota.
"Selamat datang di Barak Ksatria, Yang Mulia," sambut Val.
"Selamat datang, Yang Mulia," sambut Zelhard.
Tetap mengenakan pakaian kebesarannya yang memiliki jubah merah dengan pedang yang tersarung di salah satu pinggulnya, Julius melukiskan senyuman di raut wajahnya seolah mencitrakan dirinya sebagai sosok pangeran ideal.
Sembari membalikkan tubuhnya untuk menatap lapangan pelatihan, Julius berkata, "Bangkitlah."
"Ya, Yang Mulia," timpal Zelhard dan Val serempak.
Bangkit, mereka berdua pun berdiri di belakang Julius, yang tidak mengatakan apapun lagi.
Beberapa saat hanya terdengar suara teriakan para prajurit yang berlatih. Val dan Zelhard tentu menyadari bahwa perilaku Julius cukup aneh, namun mereka hanya terdiam menunggu Julius bersuara sebagai bentuk kesopanan seorang bawahan.
"Bagaimana menurutmu langkah politik ayahku?" tanya Julius.
Sebagai seorang bangsawan yang telah bersumpah setia kepada Raja Natrehn, berbicara mengenai keputusan Tuannya merupakan suatu hal yang sangat fatal.
Apa niat Anda, Yang Mulia?
Sejenak, ekspresi curam muncul di wajah Zelhard yang segera disembunyikannya kembali—yang juga tidak berbeda dengan raut wajah Val.
"Aku berpikir untuk setidaknya membuat suku barbar di utara mundur sangat jauh terlebih dahulu," ucap Julius dengan tetap mempertahankan posisinya.
"Bolehkah saya mengetahui alasan Anda mengemukakan hal tersebut, Yang Mulia?" tanya Val.
Tanpa menunjukkan sedikitpun emosi di atas perkataannya, Val—tidak terkecuali Zelhard—mengetahui perilaku politik Julius yang semakin hari semakin menyelisihi ayahnya, Sang Raja.
"Ayah—tidak, Yang Mulia Raja akan menggerakkan seluruh tentara kerajaan dalam skala penuh tepat setelah musim dingin di Bulan Februari berakhir," ungkap Julius.
Val dan Zelhard hanya terdiam, menunggu Julius kembali melanjutkan perkataannya.
Bagi Zelhard, suku barbar bukanlah sesuatu yang patut diwaspadai oleh kerajaan, justru Kerajaan Rowling yang seharusnya diwaspadai disaat Raja melakukan ekspedisi militer ke federasi tiga kerajaan.
Meskipun tidak ada sejarah bagi Kerajaan Natrehn beserta Kerajaan Rowling yang melanggar perjanjian pasca perang sejak peperangan pertama di antara dua kerajaan—yang membuat Raja Kerajaan Natrehn saat ini, Movic I, sangat percaya diri—tetap saja mengingat kondisi politik Kerajaan Rowling yang sangat tidak stabil, yang bahkan diketahui adanya kemunculan kekuatan politik ketiga dalam perebutan tahta, Excel.
"Apa yang terjadi bila empat suku barbar tersebut bersatu?" tanya Julius.
"Apakah itu mungkin terjadi, Yang Mulia?" tanya Val dengan nada heran.
Julius berbalik untuk kembali menatap Val dan Zelhard yang ada di belakangnya. Ia membalas, "Aku tidak tahu. Tapi, mengapa kamu tidak berlatih di utara, Val? Bukankah kamu telah menerima perintah dari ayah? Aku dapat merasakan ketenangan apabila keadaan utara baik-baik saja hingga kami dapat melaksanakan ekspedisi militer ke timur."
Melirik Zelhard di sampingnya, Val menemukan bahwa Zelhard memiliki wajah yang sedikit tidak puas. Namun, mereka tidak dapat mengutarakannya mengingat di depan mereka adalah seseorang yang memiliki posisi tepat di bawah Raja.
"Tapi..." ujar Val.
Nadanya sedikit berat, menunjukkan suatu ketidaksetujuan. Tidak ada yang tidak mengetahui mengenai suku barbar yang beberapa bulan terakhir jarang melakukan penyerangan. Akibatnya, rencana Raja dapat berjalan lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Namun, hal tersebut tetap mengundang suatu kekhawatiran tersendiri.
"Kurasa akan baik-baik saja jika kamu kembali sebelum ekspedisi dimulai, Val. Bukankah kamu mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang suku barbar tersebut?" timpal Julius.
Menyerah, Val juga merasakan bahwa saran Julius tidak membuatnya berat, ia pun berkata, "Baik, Yang Mulia."
Pandangan Julius terarah menuju Zelhard disaat dirinya melukiskan senyuman setelah mendengar perkataan Val.
"Apakah kamu akan membimbingnya, Zelhard?" tanya Julius.
Kedua matanya terpejam. Zelhard mengingat perintah Raja dimana dirinya bersama Eina ditugaskan untuk membimbing Val yang membuatnya menyerah.
"Baik, Yang Mulia... Saya akan melakukan koordinasi dengan Jenderal Eina setelah ini," jawab Zelhard dengan nada pasrah.
"Baik, aku menunggu kabar baik dari kalian," timpal Julius.
Melihat Julius berbalik pergi dan menuju tangga kembali, Val dan Zelhard hanya dapat melukiskan ekspresi curam di atas wajahnya. Hal tersebut dikarenakan niat tersembunyi Julius—yang mereka tentu tidak mengetahuinya, untuk saat ini.
...----------------...
Hint :
Zelhard masih dapat melihat dengan kedua matanya.
...----------------...