I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 139 : Pertukaran



Tahun 1237, 17 April.


Wilayah Perbatasan Duke Alein.


Siang Hari.


"Diam!"


Teriakan Ares menusuk seluruh telinga para bangsawan dan prajurit yang telah tertawan, menyebabkan keseluruhan dari mereka hanya dapat mengikuti perintah.


Tepat setelah mengepung pasukan Duke Alein dan Zee dari tiga arah yang berbeda—yang mana sisi utara dari mereka merupakan jalanan menanjak dimana tidak mungkin melarikan diri dengan tubuh yang kelelahan—para bangsawan serta Duke Alein memutuskan untuk menyerahkan diri tepat setelah mendengar keputusan Ares bahwa dia tidak akan melakukan sebuah pembantaian pada mereka.


Mendapat pertentangan kuat pada awalnya, para bangsawan terpaksa tidak mengindahkan perkataan Pangeran Kedua Zee—saat ini tubuhnya telah terikat dengan mulut yang tersumpal—yang sedari tadi telah berteriak penuh ancaman.


Para rakyat jelata hanya dapat menatap bingung, tidak ada yang menyangka bila musuh merupakan bangsawan sebangsanya sendiri, hingga mereka memutuskan untuk menutup rapat kedua bibirnya.


Para rakyat jelata sangat mengetahui bila rumor buruk mengenai seorang bangsawan menyebar, sebuah desa bahkan dapat dihancurkan tanpa bersisa bila diketahui menjadi sumber masalah.


Apa yang harus ia lakukan agar para bangsawan tidak menentangnya?


Sejak beberapa hari terakhir, Ares telah memikirkan jawaban tersebut dengan seksama.


Tentu, hal ini berdampak baik pada pasukannya, yang tidak diharuskan untuk mengalami sebuah perang saudara. Selain waktu tempuh yang semakin lama serta beban mental dan fisik yang dapat diderita oleh pasukannya, sejak awal Pasukan Ares telah dipersiapkan untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Natrehn.


Akan sangat bertentangan dengan kedoknya bila Ares melakukan penyerangan terhadap para prajurit yang memiliki lambang Kerajaan Rowling pada baju besinya, meskipun dia terpaksa untuk memberi tembakan anak panah untuk mengintimidasi musuh yang dilakukan oleh tentaranya pribadi hingga tidak membuat para rakyat jelata yang berada di dalam Pasukan Warren curiga.


Berada di tengah medan dimana kedua pasukan bertemu, dengan dikelilingi hanya oleh para bangsawan dan ksatria, Ares memerintahkan untuk tidak membiarkan satupun para wajib militer mendekat.


"Hmmmpphh! Hmmmpphh!" Duduk bersimpuh tepat di samping Excel berpijak, Zee berteriak penuh amarah. Nafasnya berat, wajahnya sangat merah, Zee tidak menyangka bila para bawahannya akan menyerah begitu saja.


Kepada Gnery yang berdiri di dekatnya, Ares mengangguk ringan, sebuah perintah untuk membawa Ratu Neive, yang segera dipahami Gnery dengan sebuah tundukan ringan kepala.


Gnery telah beranjak pergi, Ares pun mengalihkan perhatiannya kepada Duke Alein hanya dengan wajah datar, "Duke Alein."


Bagi Duke Alein, nada tersebut sangat mengintimidasi, yang tidak berbeda dengan para bangsawan lain. Pikirannya kacau, Duke Alein tidak mengetahui bagaimana nasib kehidupannya di masa depan, hanya dapat membuatnya menatap wajah Ares dengan lemah.


"Ya..." Kewibawaan Duke Alein sebagai seorang bangsawan besar telah sirna.


Melirik Gnery yang telah membawa Ratu Kedua bersamanya di balik para perwira, Ares pun mengencangkan wajahnya, "Menyerahlah. Mari buat sebuah perjanjian."


"Apa... yang kau inginkan?" tanya Duke Alein.


"Sebuah pertukaran dengan Yang Mulia Pangeran Kedua Zee." Nadanya cerah, Ares segera tersenyum setelah menanggapi.


Bersamaan dengan kata-katanya, muncul sosok yang membuat kedua mata Duke Alein terbuka lebar, yang sangat tidak dipercayai olehnya.


"Jangan bercanda!"


"Hanya orang bodoh yang akan melakukannya!"


"Sampai kapan kau akan terus menginjak-injak harga diri kami?!"


Banyak protes terlontar dari mulut para bangsawan, kekesalan serta egoisme cukup kental terasa. Tidak hanya akan membuat nama baik mereka jatuh ke tanah, namun jabatan yang telah dijanjikan pada mereka di pemerintahan pun akan sirna.


Di tengah gelombang protes dan umpatan para bangsawan, Ares mengangkat tinggi tangan kanannya dengan wajahnya yang tersenyum.


BLAR!


Reaksi para bangsawan pun tidak berbeda dengan mereka, keterkejutan mereka segera berubah menjadi rasa takut. Mereka sekali lagi disadarkan bila kehidupan mereka telah berada dalam genggaman, membuat banyak dari mereka hanya dapat terdiam dengan menggigit bibir bagian bawahnya.


"Ya... mari buat sebuah perjanjian." Kata-kata kosong Duke Alein tidak hanya membuat para bangsawan Faksi Zee terkejut, bahkan Zee juga sangat shock meskipun dia tidak dapat melontarkan apapun karena mulutnya yang telah disumpal.


Meskipun para bangsawan faksi benar-benar ingin mengumpat dan menghajar Duke Alein karena kata-katanya, mereka tidaklah dapat melakukannya, nyawa mereka telah berada di ujung tanduk, membuat banyak mereka tertunduk lemah karena merasakan sebuah penghinaan.


"Jangan khawatir, aku tidak akan membuat kalian merugi. Sangat merepotkan untuk mengurus sebuah wilayah tanpa seorang tuan." Kata-kata Ares tidak dapat sedikitpun menggerakkan perasaan para bangsawan, yang membuat mereka tetap mempertahankan posisinya.


Dari tempatnya berada, Excel mengingat sosok yang beberapa kali telah ditemuinya. Tatapannya segera tertuju pada seorang pria paruh baya berambut pirang yang duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang telah terikat di balik punggungnya, hingga membuat Excel berjalan mendekatinya.


Wajahnya bulat, perawakannya tidak memberikan kesan apapun. Meskipun begitu, Excel sangat mengetahui bila dia adalah seseorang yang sangat berpengaruh dalam Faksi Pangeran Kedua.


"Bukankah kau adalah ayah Lucy?" Berada tepat di hadapan pria tersebut, nada Excel tenang, kemarahan besar tidak dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya kecuali pria tersebut.


Wajahnya dengan lemah mengadah. Dengan sedikit takut, pandangan pria tersebut tertuju pada Excel yang menampakkan sedikit kemarahan yang terkandung dalam raut wajahnya.


"Ya, aku adalah Marquis Larcia, Trezet von Larci—"


BAK!


"Argh!" Kata-kata Trezet terputus, sebuah tendangan keras mengenai wajahnya hingga dia terlempar hingga tidak sadarkan diri.


Tidak berbeda dengan reaksi para bangsawan lain, bahkan untuk Ares, dia hanya dapat terdiam karena sangat terkejut dengan perilaku istrinya yang sangat tiba-tiba.


Meskipun sebelumnya telah mengetahuinya, Zee sangat terkejut dengan kemampuan Excel hingga membuatnya tidak dapat berkata-kata.


Tap.


Tap.


Dengan penuh amarah, Excel perlahan berjalan mendekat. Tangan kanannya mengepal, dia benar-benar kesal dengan perlakuan Trezet yang sekalipun tidak memikirkan kondisi fisik dan mental Lucy yang selalu disakiti oleh Zee.


BUAK!


BUAK!


"Sampah!"


Meskipun Excel menendang Trezet, dia tetap tidak sadarkan diri. Excel tahu bila sesuatu yang dia lakukan sangatlah tidak pantas. Meskipun begitu, dia benar-benar ingin untuk menghajar seseorang yang telah membuat putri kandungnya sendiri menjadi sebuah alat semata.


BUAK!


"Idiot!"


Sekali lagi, sepakan sangat kuat tertuju pada tubuh Trezet.


Excel mengumpat keras, dia membungkuk hingga menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di atas lutut. Tanpa sadar, setetes air mata pun jatuh dari salah satu sudut matanya.


Tidak dapat membuat istrinya tenang, Ares hanya dapat menunggu hingga Excel mengungkap seluruh amarahnya yang terpendam demi pembalasan terhadap penderitaan yang telah Lucy lalui, yang juga tidak berbeda dengan apa yang para bangsawan lain lakukan.


Saat itu, tidak ada diantara para bangsawan faksi yang mengira bila hari ini adalah hari terakhir dimana Zee diketahui keberadaannya.


...----------------...