
Tahun 1236, 5 April.
Benteng Veldaz, Pegunungan Brenne, Bekas Wilayah Count Dupent.
Malam Hari.
Vietra.
Tanah yang selalu menjadi mimpi serta saksi bisu peperangan bagi dua negara besar yang berdiri kokoh di bagian barat benua.
Tanah yang sangat subur karena mendapatkan mata air yang berasal dari Pegunungan Brenne yang berada di timurnya dan memiliki akses langsung menuju sungai besar dimana terhubung dengan laut, akan menjadikan pemilik tanah tersebut penguasa absolut dari bagian barat benua.
Bagi Kerajaan Rowling serta Kerajaan Natrehn, yang saling memiliki ambisi atas kepemilikan tanah, telah berperang selama ratusan tahun apabila hanya melihat dari sejarah yang ada.
Bahkan, beberapa negara kecil yang berada di bagian timur kedua negara, sangat ketakutan apabila mereka menjadi korban perang dan telah bersatu dengan membentuk suatu konfederasi.
Karena sedikit lelah dengan perang berkepanjangan, salah satu raja terdahulu dari Kerajaan Rowling memberikan perintah agar membangun sebuah benteng yang berada di atas Pegunungan Brenne.
Meskipun tidak ada negara yang telah menguasai Tanah Vietra selama ratusan tahun, Kerajaan Rowling tetap memegang kendali melalui keberadaan benteng yang berdiri kokoh di puncak Pegunungan Brenne.
Ya, apabila Kerajaan Natrehn secara paksa menduduki Tanah Vietra, Tentara Kerajaan Rowling akan membuang banyak bangkai pada mata air yang dapat membuat pengairan yang berada di Tanah Vietra menjadi beracun.
Juga, keberadaan Benteng Veldaz akan membuat kekalahan telak bagi Pasukan Kerajaan Natrehn yang mana mereka akan mengalami hujan panah dari benteng apabila mereka melakukan pertempuran pengepungan.
Tentu saja, itu karena para pemanah yang memiliki keuntungan karena memiliki posisi yang lebih tinggi, serta pasokan anak panah yang sangat berlimpah yang berada di dalam benteng tersebut.
Saat Ares mengetahui kekalahan telak Tentara Gabungan Bangsawan Utara Kerajaan Rowling di Lembah Vietra, ia tersenyum masam dan hanya dapat berkata, "Bodoh."
Apalagi, setelah mengetahui Tentara Kerajaan Natrehn yang tidak maju untuk menguasai Vietra secara menyeluruh terlebih dahulu dan malah memutuskan untuk mendaki pegunungan, kata-kata "sangat bodoh" yang hanya dapat dikatakan Ares kepada mereka.
Ya, Tentara Kerajaan Natrehn berasal dari orang yang tinggal di dataran rendah, akan sangat tidak siap apabila mereka langsung diarahkan untuk mendaki gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 1.500 mdpl.
Tentu saja, Ares langsung berniat untuk berperang dengan bala bantuan Kerajaan Natrehn meninggalkan sekitar 80.000 pasukan yang berada di Benteng Veldaz dan sekitarnya.
Saat ini, di dalam Benteng Veldaz, terjadi suatu kepanikan yang sangat luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Tolong! Berikan air atau apapun yang tersisa!" teriak seorang prajurit di samping seorang yang terbaring.
"Ukh!" rintih seorang prajurit yang terbaring lemah.
"Aku dulu!" teriak seorang prajurit yang terbaring lemah.
Di ruang terbuka yang berada di dalam benteng, terlihat puluhan ribu prajurit Kerajaan Natrehn yang saat ini sedang terbaring lemah yang telah dikelompokkan berdasarkan kondisi mereka dengan beberapa obor yang berfungsi sebagai penerangan.
Ribuan dari mereka mengalami kondisi sianosis, dimana bibir dan jari tangan mereka berubah menjadi kebiruan karena gangguan pada saluran pernapasan dan paru-paru mereka.
Tentu saja, bagi para Tentara Kerajaan Natrehn, tidak ada yang memahami mengapa hal ini terjadi pada mereka.
Mengapa ini terjadi?
Apakah mata air yang ada di pegunungan ini telah diracun?
Atau... apakah pasokan makanan kami telah memiliki racun sebelumnya?
Seorang pria paruh baya dengan rambut coklat pendek dan memiliki wajah yang penuh luka hanya meratapi kondisi para prajuritnya ketika ia sedang berjalan di tengah para prajuritnya yang berlarian merawat banyak orang sakit.
Tentu saja, kebanyakan para prajurit yang jatuh sakit adalah prajurit yang dikumpulkan dari para wajib militer.
Singkatnya, mereka adalah seorang petani atau penduduk biasa yang memiliki tubuh lebih lemah daripada tentara biasa meskipun ribuan prajurit dari latar belakang militer juga banyak yang telah jatuh sakit.
Saat pria tersebut mencapai tengah lapangan, ia berteriak, "Diam!"
Setelah mendengar teriakan pria tersebut, hampir seluruh prajurit yang berada di salah satu lapangan terbuka tersebut terdiam.
"Mulai saat ini, jangan memakan apapun yang berasal dari benteng ini ataupun meminum air yang berasal dari pasokan makanan kami!" teriak pria tersebut dengan nada tegas.
Ya, pria tersebut adalah Jenderal Barlock.
Karena wibawa serta kemampuannya, ia sangat dihormati oleh para prajurit yang membuat setiap perkataannya diikuti oleh mereka.
"Aku telah memerintahkan beberapa regu yang masih dalam keadaan sehat untuk menjarah desa yang berada di selatan kaki gunung ini! Harap tenang dan sabar! Mereka akan kembali dalam 2 hari lagi!" sambung Barlock dengan berteriak.
Secercah harapan muncul di dalam hati para prajurit, tak ada yang kuasa menahan rasa sakit tanpa kesempatan untuk sembuh. Berpikir bahwa perintah jenderal akan segera menyelamatkan mereka, para prajurit hanya dapat terdiam dan patuh menunggu regu tersebut kembali.
Tentu saja, Barlock tidak berpikir bahwa Tentara Gabungan Bangsawan Utara Kerajaan Rowling telah membakar desa tersebut dikarenakan mereka langsung mundur menuju selatan Lembah Vietra setelah mengalami kekalahan telak.
Saat mengetahui kondisi prajuritnya yang aneh saat pertama kali gejala muncul, dengan sigap ia memerintahkan untuk menjarah desa yang berada di kaki gunung yang berjarak sekitar 2 hari perjalanan dengan kuda perang untuk mengganti pasokan makanan mereka karena ia berpikir bahwa yang mereka miliki beracun.
...----------------...
Tahun 1236, 5 April.
Desa Hien, Kaki Pegunungan Brenne, Wilayah Count Dupent.
Malam Hari.
JRASH!
JRASH!
"Argh!" teriak beberapa orang prajurit Natrehn saat tertebas.
"Tolong ampuni aku!" teriak seorang prajurit Natrehn ketakutan.
"Ahahaha," tawa seorang wanita bergema di tengah desa yang sedang terlalap api.
JRASH!
Wanita tersebut pun memenggal kepala prajurit yang baru saja memohon ampunan kepadanya.
"Serangga," ejek wanita tersebut dan mulai berlari ke arah prajurit lainnya.
Di tengah alun-alun desa yang berada di kaki pegunungan, seorang wanita cantik dengan rambut putih sedang bertarung dengan puluhan prajurit yang berasal dari Tentara Kerajaan Natrehn.
Karena kekuatannya yang luar biasa, Excel sangat memiliki keunggulan saat bertarung dengan hanya beberapa prajurit biasa.
Ia pun berlari menuju prajurit yang sedang memegang tombak. Karena ketakutan prajurit tersebut, ia menahan ayunan pedang yang diarahkan oleh Excel dengan hanya menggunakan gagang tombak yang berasal dari kayu.
KRAK!
"Hah?!" ujar prajurit tersebut terkejut.
JRASH!
"Ahahaha!" tawa Excel setelah berhasil memenggal seorang prajurit.
Luar biasa!
Pedang ini benar-benar luar biasa seperti biasanya!
Excel pun merasa di balik tubuhnya terdapat ancaman yang ditujukan kepadanya. Saat ia berbalik, ia menemukan bahwa terdapat panah yang terbang ke arahnya.
Saat panah tersebut hampir mencapai dirinya, ia mengayunkan pedangnya yang membuat panah tersebut hancur.
"Hah?!" teriak seorang prajurit seolah melihat pemandangan yang tidak masuk akal.
Dengan kecepatannya yang luar biasa, Excel hanya membutuhkan 3 detik untuk mencapai tempat dimana pemanah tersebut berada dan langsung menggorok lehernya.
JRASH!
"Eh?" ujar prajurit tersebut saat kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Excel melihat kembali keadaan di sekitarnya dan menemukan lebih dari 35 tentara Natrehn telah terbaring di tanah. Tentu saja, mayoritas dari mereka memiliki leher yang telah terputus.
Clap.
Excel pun menancapkan pedangnya di tanah. Lalu, ia melepas armor ringannya karena bernoda darah.
Saat para warga desa yang melihatnya sedang mengikat perban di tangannya, mereka hanya menatap Excel dengan tatapan ketakutan.
...----------------...
Catatan :
Hmm, aku merasa hanya illustrasi itu yang menurutku sangat dekat dengan Excel... mungkin?
Meskipun tidak benar-benar 100% sesuai dengan apa yang aku imajinasikan.
Juga, dengan pasukan besar, tentara Natrehn mendaki gunung membutuhkan sekitar 3,5 hari. Apabila mereka menuruni gunung dengan hanya beberapa orang dan menggunakan kuda perang yang lebih cepat dan kuat daripada kuda biasa, hanya membutuhkan waktu sekitar 2 hari diselingi istirahat.
...----------------...