
Tahun 1236, 8 Oktober.
Kota Ereth, Wilayah Margrave Rueter.
Siang Hari.
Satu hari telah berlalu semenjak Lean dan Gale kembali ke Kota Ereth serta melaporkan perkembangan lebih lanjut kepada Ares. Menerima laporan Gale, Ares sedikit mengalami sakit kepala karena menilai perebutan tahta di ibukota yang kian sengit.
Bahkan, Faksi Pangeran Kedua telah mempersiapkan militernya hingga menyebabkan sebuah perang saudara bisa saja terjadi setelah memasuki tahun selanjutnya—yang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Faksi Pangeran Pertama.
Meskipun begitu, Ares mengerti jika keduanya tidak akan dengan mudah menggerakkan pasukan mereka. Dia tahu jika itu akan mempengaruhi kredibilitas serta nama baik mereka di hadapan bangsawan netral serta faksi oposisi istana dimana Margrave Francois berada.
Hmm, lahir sedikit lebih awal dibandingkan dengan seharusnya...
Dan juga... mungkin hanya sekitar 2,9 kg, lebih kecil jika dibandingkan dengan kelahiran Lia.
Tatapannya terasa penuh kasih sayang, Ares menunjukkan sosok penuh kelembutan disaat dia memandangi seorang bayi perempuan mungil yang sedang tertidur di dalam sebuah ranjang kecil yang kedua sisinya terdapat pembatas kayu tinggi tepat di hadapannya.
"Terima kasih banyak... Tuan." Sena merasakan rasa syukur yang begitu besar. Dia mengetahui jika dirinya diperlakukan dengan sangat baik oleh Ares, yang sangat berbeda dengan gundik bangsawan lain yang diperlakukan hanya seperti seorang budak pemuas birahi.
Tidak hanya hal tersebut yang menjadi sebab rasa syukur Sena, keluarganya tidak luput dari dukungan yang diberikan secara pribadi oleh Ares.
Muncul sebuah perasaan mencintai terhadap Tuannya, yang tidak berbeda dengan para gundik lain. Sangat jelas mengingatnya, meskipun pada awalnya telah diperlakukan sangat buruk, perasaan Sena pun luluh setelah mengalami perubahan perlakuan yang sangat drastis serta permintaan maaf dan rasa menyesal Ares.
Perhatian Ares teralihkan kembali pada Sena yang masih terbaring lemas di atas ranjang. Duduk di sampingnya, Ares tersenyum lembut sembari menggenggam tangannya, "Tidak perlu, ini sudah menjadi tanggung jawabku."
"Namun..." Sedikit berat untuk menerima ucapan yang berasal dari seseorang yang memiliki kasta sosial yang begitu tinggi.
"Bersama Nina dan kedua orang tuamu, apakah kalian ingin mengabdi untuk House of Rueter dan menjadi keluarga ksatria?" balas Ares dengan lembut.
Mendengar nama yang diberikan olehnya secara pribadi telah terucap dari mulut Ares, muncul perasaan yang sangat bahagia di dalam hati Sena.
Kedua sudut bibirnya pun terangkat, Sena memandang Ares dengan ekspresi cerah, yang segera berubah menjadi penuh penyesalan, "Mohon maafkan kami... Tuan... Meskipun Anda telah berbaik hati kepada kami, meskipun kami sangat mensyukuri atas berbagai hal yang Anda telah berikan kepada kami yang membuat kami sangat berterima kasih kepada Anda... namun kami tidaklah memiliki kemampuan sebesar itu untuk menjadi seorang ksatria."
Ares memahami alasan yang Sena ucapkan. Hanya memiliki sebuah usaha penginapan, Ares mengerti jika Keluarga Sena hanyalah sebuah keluarga rakyat jelata biasa, yang bahkan tidak dapat membaca dan menulis.
Tetap saja, sebagai seseorang yang pernah tinggal di era modern, Ares sangat mengerti tentang banyaknya kesulitan yang akan didapatkan olehnya jika dia hanya menjadi seorang rakyat jelata biasa.
Seorang bangsawan juga memiliki sebuah tanggung jawab berat, namun hidup mereka dipenuhi oleh berbagai kemudahan yang tidak dapat diperoleh oleh seorang rakyat jelata biasa. Sebagai seorang ayah, Ares sangat tidak menginginkan jika putrinya mengalami hal tersebut.
"Jika saat ini tidak dapat melakukannya, belajarlah. Jika saat ini dirimu belum mampu mengembannya, berlatihlah. Aku sangat berharap jika kamu dan putriku tidak lagi berada di kasta terendah." Nada yang terucap sangat menenangkan dan hangat, namun Sena tahu jika terdapat pemaksaan yang terkandung di dalamnya.
Wajah Ares perlahan mendekat, sedikit membuat Sena berdebar yang segera menutup kedua matanya.
Mencium keningnya, Ares menampakkan senyuman lembut setelah melihat kedua mata Sena terbuka kembali, "Setidaknya, aku tidak ingin membuat kalian hidup dalam kesulitan."
"Baik... Tuan... Terima kasih," timpal Sena dengan penuh rasa syukur.
Krieeet.
"Sampai kapan kamu akan hengkang dari pekerjaanmu?"
Pintu ruangan perlahan terbuka. Bersamaan dengannya, suara seorang wanita hamil yang sangat sebal terdengar. Para pelayan di beberapa sudut ruangan hanya dapat menutup rapat kedua bibirnya karena tidak ingin terseret dalam masalah.
Perhatian keduanya teralihkan kepada Excel. Hati mereka sangat gelisah, tidak menyangka bahwa Excel akan menuruni ruangan di salah satu sudut kastil yang sangat jauh dari kamarnya berada.
"Ak—aku sedang—" ujar Ares gugup.
"Apakah kamu paham jika Sena membutuhkan istirahat? Dia baru saja melahirkan, kamu tahu?" sela Excel dengan ketus.
"Apakah kamu paham jika kamu dapat mengganggu anakmu yang baru saja lahir?" sela Excel ketus.
"Ak—aku tidak—" timpal Ares yang gelisah.
"Berapa banyak dokumen yang telah kamu selesaikan, Sayang?" sela Excel ketus.
"Guh." Tidak lagi dapat mengelak, Ares hanya tertunduk lesu yang membuat Sena memiliki perasaan yang sangat rumit.
Berjalan mendekati suaminya tercinta, Excel pun menarik kerah Ares dan membuangnya ke luar pintu sembari berkata, "Pergilah."
"Baik..." Kewibawaannya hilang, Ares berjalan kembali menuju ruangannya dengan tubuhnya yang sedikit membungkuk lesu.
Kembali mendekati Sena dan duduk di sampingnya, Excel pun melukiskan penyesalan di atas wajahnya, "Maaf... aku tahu jika kamu ingin bertemu dengannya. Namun, aku merasa jika lebih baik kamu beristirahat untuk saat ini. Aku akan mengizinkannya bertemu kembali denganmu jika tubuhmu sudah merasa lebih baik."
"Ti—tidak apa-apa, Nyonya! Saya tidak sedikitpun merasa keberatan!" timpal Sena.
"Begitu..." Kelegaan terkandung di dalamnya, Excel pun tersenyum penuh syukur, "Dan juga... aku berharap kamu dapat meluangkan waktu untukku secara pribadi..."
"Baik... terima kasih atas perhatian Anda, Nyonya," timpal Sena.
"Beristirahatlah." Tersenyum lembut, Excel pun bangkit meninggalkan Sena agar menggunakan waktunya untuk dirinya sendiri.
Terusir dari ruangan yang sebelumnya dia sangat nanti-nantikan untuk dimasuki, Ares berjalan kembali menuju kantornya yang berada sangat jauh dari kamar Sena.
Menimbang kantor Ares yang menjadi tempat berlalu lalang para pejabat serta perwira militer yang di dekatnya memiliki beberapa ruangan pejabat lain, Sena ditempatkan pada kamar yang sangat jauh agar dapat menjaga ketenangan dirinya.
Namun, hatinya sangat kesal, beberapa kali kesempatan Excel selalu mengganggu waktunya. Pikirannya berputar cepat, Ares menimbang-nimbang sebuah cara yang dapat membuat Ares dengan aman mengganggu istrinya yang sedang hamil tersebut.
Tentu, Ares akan melakukannya dalam batas wajar karena dirinya yang tidak ingin membuat kehamilan Excel bermasalah.
Terpikirkan sebuah cara dari dunianya yang sebelumnya, Ares pun tersenyum jahat dan bersumpah membalas dendamnya terhadap Excel.
Setelah menunggu hingga malam dengan membersihkan dirinya serta makan malam, Ares pun mendatangi kamar yang telah diperuntukkan bagi Excel di dekat kastil bagian dalam.
Kriett.
Seketika membuka pintu tanpa mengucapkan izin terlebih dahulu, Ares melangkah masuk dan segera mendapati pedang yang hendak menebas wajahnya.
"Gyaaa! Ap—apa yang kau lakukan?!" protes Ares sembari melompat mundur.
"Sayang, meskipun itu adalah istrimu, tidak baik untuk memasuki kamar wanita tanpa izin," jawab Excel yang keluar dari dalam keremangan ruangan.
"Eh?!" Meraba wajahnya yang tidak terbalut apapun lagi, Ares seketika menjadi panik.
Ares tidak berpikir jika Excel telah kembali menuju kamarnya lebih awal. Berniat untuk menakutinya, Ares mengenakan sebuah topeng dan bersembunyi di bawah ranjangnya.
Kuh, jika sudah seperti ini, tidak ada pilihan lain!
Berjalan mendekati istrinya dengan langkah cepat, Ares segera mengangkat Excel dengan cepat yang membuatnya sangat terkejut, "Eh?! Ap—apa yang akan kamu lakukan, Sayang?!"
Aku pasti akan mempermalukanmu di atas ranjang!
Lihat saja!
...----------------...