I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 138 : Himpitan



Tahun 1237, 17 April.


Wilayah Duke Alein.


Siang Hari.


Di bawah sinar terik matahari, kurang dari 10.000 prajurit berbaris melewati turunan perbukitan yang lebar, yang menandakan pasukan tersebut telah memasuki Wilayah Duke Alein.


Wajah-wajah para prajurit diliputi kelelahan berat, mayoritas dari mereka memiliki kantung mata besar di bawah kedua matanya. Banyak dari mereka membahu para prajurit lain yang tubuhnya telah berada dalam batas toleransi kekuatannya.


Tidak jauh di belakang barisan, beberapa prajurit telah terbaring di atas tanah, tidak kuasa lagi bergerak hingga mereka jatuh pingsan. Entah itu karena kelelahan, kepanasan, ataupun rasa lapar, para prajurit tidak dapat mengeluarkan jeritan suara hati akan penyiksaan terselubung yang dilakukan terhadap mereka.


Pada awalnya, para rakyat jelata yang tergabung dalam wajib militer sangat mendambakan sebuah kemenangan, menganggap bila para bangsawan melakukan sebuah upaya serius untuk menaklukkan kerajaan yang telah membunuh sanak saudara mereka yang telah menjadi korban keganasan perang yang berlarut-larut.


Namun, harapan mereka sirna. Mengetahui bila Natrehn memiliki jumlah pasukan yang lebih besar dibandingkan dengan Rowling, secara bertahap para bangsawan memutuskan untuk mundur, yang menyebabkan sedikit timbul sebuah kekecewaan di hati para rakyat jelata.


Tentu saja, demi menjaga nama baik, berita tentang kudeta tidaklah diberitahukan pada mereka, yang juga dapat menyebabkan moral pasukan jatuh terperosok ke jurang terdalam.


Berada di barisan terdepan, Duke Alein menunggang kudanya dengan cepat, namun tetap berada dalam batas toleransi gerakan pasukannya meninggalkan Zee yang berada di dalam gerbong kereta kuda termewah yang bergerak di tengah-tengah barisan para prajurit.


Cemas.


Hanya hal tersebut yang dapat dirasakan Duke Alein terhadap adik tirinya, Ratu Kedua Nieve. Akibat dari tindakan Duke Alein yang memaksa pasukannya untuk bergerak cepat, lebih dari 5.000 prajuritnya—yang mayoritasnya merupakan seorang budak dan rakyat jelata—tertinggal karena kelelahan dan jatuh sakit.


Membuang semua apapun yang dapat menghambatnya, hanya itu yang dapat dilakukan Duke Alein saat ini, meskipun itu membuatnya tidak disukai oleh para bangsawan lain. Meskipun begitu, rantai komando tidaklah dapat dialihkan kepada orang lain karena pengaruh Duke Alein yang sangat besar.


"Yang Mulia Duke! Yang Mulia Duke!" Salah seorang bangsawan berpangkat baron yang berada tidak jauh darinya memanggil dari atas tunggangannya, dia merasa bahwa pasukannya harus sejenak diistirahatkan.


"Apa?! Ini masih siang! Aku akan membunuhmu jika kau mencoba menghentikan gerak pasukan!" Duke Alein mengumpat kesal, tanpa sedikitpun memperlambat gerak laju kuda putihnya.


Bangsawan tersebut hanya dapat menggigit bibirnya, terdiam karena tidak dapat membantah kata-kata Duke Alein yang menjadi pemimpin Faksi. Mengubah wajahnya menjadi sulit, bangsawan tersebut hanya dapat menahan tubuhnya yang kelelahan agar tidak jatuh pingsan.


Duke Alein menemukan sebuah jalanan lembah yang diapit oleh dua bukit. Tanda bahwa pasukannya akan tiba di kota paling utara di dalam wilayahnya tepat setelah keluar darinya.


Wajahnya seketika berubah cerah, tanpa sadar sebuah senyuman samar tercipta, Duke Alein pun mengalihkan tatapannya ke belakang, "Kita akan beristirahat setelah memasuki kota!"


Tampak sebuah kecerahan pada raut wajah para prajurit serta para bangsawan. Kata-kata yang menjadi pembebas penderitaan membuat mereka berniat untuk menguatkan dirinya.


Namun, sebuah keanehan segera tampak. Sebuah anak panah samar terlihat menuju mereka dari atas salah satu bukit yang mengapit jalanan lembah, hingga diikuti oleh ribuan anak panah yang membuat semua mata memandang terbuka lebar.


"Lari!"


"Serangan musuh!"


Teriakan-teriakan para prajurit membuat seluruh pasukan seketika tercerai-berai. Duke Alein serta para bangsawan menjadi panik akibat serangan yang tidak sedikitpun mereka prediksi sebelumnya.


Tentu, akibat rantai komando yang tidak lagi berjalan dengan baik serta keadaan pasukan yang telah kelelahan, tidak ada satu regu prajurit yang ditugaskan untuk mengintai medan yang akan mereka lalui.


Bahkan untuk Duke Alein sendiri termasuk dengan para bangsawan, mereka berpikir bila Ares akan menunggu di ibukota Wilayah Alein karena memiliki medan yang dapat dikuasai lebih baik olehnya. Tidak terpikirkan bila Ares akan bersusah payah melakukan pengepungan di jalanan lembah, meskipun itu juga dapat membuat mereka terpojok.


JRAT!


JRAT!


"Arghhh!"


"Aaaa! Punggungku! Punggungku!"


Ratusan prajurit seketika jatuh tersungkur, banyak dari mereka terinjak oleh teman mereka sendiri, pun tidak berbeda dengan kuda-kuda perang yang melarikan diri hingga terbirit-birit dan menabrak banyak prajurit karena situasi yang tidak lagi kondusif.


Akibat tubuh yang telah berada pada batasnya, para prajurit yang terinjak seketika meregang nyawa, kematian tanpa rasa sakit seolah menjadi harapan mereka terbebas dari penyiksaan yang telah mereka lalui semenjak beberapa hari terakhir.


"Kembalilah ke posisimu!"


"Jangan panik!"


"Atur kembali barisan!"


Para bangsawan, Duke Alein, hingga para ksatria berteriak, berusaha menenangkan pasukannya yang telah kacau.


Namun, kekosongan karena keterkejutan segera tampak pada wajah masing-masing bangsawan disaat mereka melihat puluhan ribu prajurit keluar dari puncak kedua bukit yang mengapit jalanan lembah yang disertai oleh munculnya banyak ketapel batu di atas kedua bukit—sangat mustahil untuk dilakukan.


Tidak hanya itu, jauh di depan mereka berada, derap langkah kaki sebuah pasukan besar pun terdengar mendekat, tanda bahwa Pangeran Kedua serta pasukannya telah terkepung.


Tidak mungkin mereka akan mundur dan kembali mendaki, kekuatan fisik para prajurit serta pasukan yang telah kacau tidak mengizinkan Duke Alein memerintahkannya.


Terlebih lagi, merasa bahwa musuh memiliki stamina serta semangat juang yang tinggi, telah memupuskan seluruh harapan Duke Alein serta para bangsawan untuk dapat terselamatkan.


Memandang kekacauan sebuah pasukan besar di hadapannya, Warren pun perlahan melirik pada Ares—yang menunggang kuda tepat di sampingnya—dan menemukan senyuman di atas wajahnya yang membuatnya begidik ketakutan.


Gila!


Aku tidak pernah menyangka bila si bodoh ini memiliki otak miring!


Apakah kau dipengaruhi oleh kegilaan istrimu?!


Dan juga, bagaimana caramu menaikkan ketapel batu besar itu ke atas bukit?!


Apa yang sebenarnya telah kau lakukan, Idiot?!


Aku tidak mengerti!


"Ares..." Warren memanggil, menahan rasa takut yang samar menghantuinya.


"Apa? Katakan saja," timpal Ares acuh tak acuh.


"Bagaimana kau membuat banyak ketapel itu berada di atas bukit? Ini tidak seperti apa yang telah kita rencanakan sebelumnya," balas Warren tanpa penundaan.


"Tentu saja." Ares menatap Warren dengan wajah lurus, "Jika aku mengatakannya, kalian akan keberatan karena itu mustahil dilakukan, bukan?"


Hening.


Suasana tersebut segera menyelimuti interaksi keduanya. Mendengar hal tersebut, Warren hanya dapat terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun karena tidak tahu bagaimana harus membalas.


"Nah, jangan khawatirkan hal itu." Ares tersenyum riang dan mengalihkan pandangannya kembali ke depan, "Karenanya, kita tidak harus menaklukkan mereka dengan pengorbanan besar sekaligus mendapatkan sebuah prestise. Bukankah kau akan merasakan sebuah gairah jika kau dapat menyelamatkan banyak orang dengan sebuah perbuatan keji yang telah kau lakukan?"


Warren sekali lagi tidak dapat menjawab, tubuhnya begidik ketakutan karena ucapan salah satu teman baiknya semasa berada di Akademi tersebut.


Meskipun begitu, kelegaan terasa di dalam benak Warren karena Ares lebih mengedepankan sebuah kelicikan siasat yang menyebabkannya dapat memenangkan peperangan tanpa menjatuhkan satupun korban.


Kedua matanya sekali lagi memandang pasukan di hadapannya, Warren benar-benar menantikan bagaimana Ares akan membuat Zee serta Duke Alein bertekuk lutut.


...----------------...