I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 57 : Ini adalah Suspensi Leaf Spring!



Tahun 1236, 27 Juni.


Kota Pos, 20 km Barat Ibukota Lombart, Wilayah Kendali Keluarga Kerajaan Rowling.


Pagi Hari.


Sinar mentari yang menyebabkan cerahnya suasana pagi hari salah satu penginapan termewah membuat seorang aristokrat muda berambut biru membuka kedua matanya secara perlahan.


Dia pun segera menemukan tunangannya yang mengenakan piyama masih tertidur di sampingnya. Mengarahkan wajahnya untuk mengecup dahinya, Ares lalu berkata, "Bangun, Excel."


"Mmhh," ungkap Excel yang masih tertidur pulas.


Bangkit untuk duduk di atas ranjangnya, Ares seketika kecewa karena tidak menemukan kamar mandi di dalam kamar.


"Ah, aku harus turun..." ungkap Ares yang sedikit malas.


Segera bangkit untuk berdiri, Ares melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar dari ruangan dan menemukan dua ksatria pengawal wanita yang telah bersiaga di luar kamar.


"Tolong urus dia, aku akan turun untuk membersihkan diriku," perintah Ares.


"Baik, Tuan. Saya akan membimbing Anda," timpal salah satu ksatria wanita.


"Tidak, aku dapat melakukannya sendiri," balas Ares cepat.


Sedikit tidak nyaman di dalam hatinya, para ksatria tersebut tetap mengikuti perintah dengan berkata, "Ya, Tuan."


Ares pun segera menuruni lantai kedua penginapan menuju pemandian umum untuk membersihkan dirinya. Setelah menyelesaikan seluruh urusannya, Ares bergegas menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


Namun, Ares bertemu dengan Kepala Ksatria Pengawalnya yang sekaligus merupakan bibi dan mertuanya disaat dia baru saja meninggalkan pemandian.


"Tuan," panggil Dia dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Ares.


"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, namun dapatkah saya bertanya mengenai beberapa hal dengan Anda, Tuan?" jawab Dia dengan menatap tajam pada Ares.


A—apakah kamu telah mengetahui jika aku memperkosa putrimu?!


Sedikit gelisah dengan ekspresi Dia yang menurut Ares tidak pernah diperlihatkannya selama beberapa terakhir, membuat Ares memikirkan kemungkinan buruk apapun yang dapat menimpanya.


Tentu saja, meskipun Dia bersikap sedikit tidak sopan, Dia tetaplah seorang bibi yang khawatir dengan keponakannya yang tidak memiliki orang tua.


Menyembunyikan kegelisahannya dengan membuat wajah datar, Ares berkata, "Baik, mari pergi ke suatu tempat pribadi."


Dia sekali lagi menundukkan dalam kepalanya sembari berkata, "Terima kasih, Tuan."


Membimbing Ares menuju suatu ruangan penginapan yang digunakannya tidur, Dia segera mempersilakan Ares untuk duduk di sebuah kursi yang terdapat di dalam kamar.


Tidak nyaman melihatnya yang tetap berdiri, Ares pun memberi perintah, "Duduklah di atas ranjang."


"Ta—tapi, saya seba—" balas Dia yang keberatan.


"Tidak apa-apa," sela Ares.


"Baik..." timpal Dia yang menyerah.


Segera menuju ke ranjang dan duduk dengan menatap Tuannya, Dia pun segera melukiskan ekspresi serius.


"Mohon maafkan ketidaksopanan saya sebelumnya, Tuan. Namun, mengapa Anda mengirimkan proposal pertunangan kepada Yang Mulia Putri?" tanya Dia.


Setelah mendengarnya, Ares segera menundukkan kepalanya untuk merenung. Menatap lantai kayu yang sangat sederhana selama beberapa saat, Ares pun membuka mulutnya untuk berkata dengan lirih, "Aku menyadari bahwa aku tidak dapat mengkudeta kerajaan hanya dengan kekuatanku sendiri."


Sedikit terkejut dengan alasan yang dikemukakan Tuannya, Dia bertanya kembali dengan nada yang sedikit gelisah, "Apakah Anda... bermaksud untuk menyingkirkan beliau setelah Anda merebut tahta?"


Dia, sebagai seorang ksatria yang berasal dari keluarga yang telah melayani House of Rueter sejak dahulu, tentu saja lebih mementingkan kelangsungan hidup rumah Tuan yang dilayaninya daripada Keluarga Kerajaan.


Memahami ketidakstabilan emosi yang dimiliki Excel, tentu saja membuat Dia sangat khawatir terhadap kelangsungan hidup Tuannya.


"Tidak, aku tidak pernah memikirkan hal tersebut," jawab Ares cepat.


Bingung dengan jawaban yang diberikan Tuannya, Dia pun sekali lagi hendak membuka mulutnya—


"Aku tidak berpikir jika Excel akan mengkhianati diriku," sambung Ares.


"Meskipun saya telah mendengar pembicaraan Anda dengan Yang Mulia secara langsung, namun hal apa yang membuat Anda berpikir demikian?" tanya Dia dengan nada tajam.


Ares pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela yang menampilkan pemandangan matahari terbit sedikit tinggi.


"Excel... sebenarnya telah mengandung anakku," ujar Ares lirih.


Mata Dia pun dengan segera terbuka lebar. Entah harus bahagia karena pewaris rumah yang dilayaninya telah aman atau harus bersedih karena Tuannya telah melakukan hubungan di luar nikah, membuat perasaan Dia sangat rumit.


Meskipun begitu, Dia segera menyadari bahwa dirinya dapat lega dikarenakan tidak mungkin Excel akan membunuh Tuannya.


"Dan juga... aku entah mengapa, sedikit demi sedikit telah mencintainya..." sambung Ares dengan sedikit malu.


"Begitu, mohon maafkan ketidaksopanan saya, Tuan," timpal Dia dengan menunduk dalam.


"Aku tidak keberatan, aku tahu kekhawatiranmu mengenai rumor buruk Excel. Lain kali, aku akan menceritakan masa lalu kelamnya... jika dia mengizinkannya, tentunya," balas Ares.


Memiringkan kepalanya, Dia tidak menyangka apabila Excel bahkan memiliki masa lalu kelam. Dia pun bertanya, "Masa lalu kelam?"


"Ya, hubungannya dengan Duke Linius dan Keluarga Kerajaan," jawab Ares.


Sebagai seorang ksatria, sangat tidak etis untuk mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahuinya. Itupun juga berlaku untuk Dia, ada beberapa hal yang lebih baik dia tidak mengetahuinya—termasuk perkara kegelapan seorang bangsawan.


"Saya rasa, Anda lebih baik tidak menceritakannya, Tuan," timpal Dia dengan nada sedikit kuat.


"Aku paham. Jadi, aku memerintahkan semua anggota pengawalku untuk mengawal Excel setelah kami memasuki ibukota," balas Ares.


Terkejut, Dia segera membalas dengan panik, "Tu—Tuan—"


"Aku tahu, aku tetap akan membawa sebagian ksatria biasa yang menjaga kediaman ibukota. Aku memerintahkanmu agar menjaga Excel, saat ini dia tidak berada dalam kondisi primanya yang menyebabkan aku sangat khawatir padanya," jawab Ares.


"Terlebih lagi, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan para bangsawan lainnya jika mereka mengetahui pergerakanku yang bertemu dengan para bangsawan oposisi istana. Lagipula, di dalam kandungan Excel juga terdapat pewaris rumah selanjutnya," sambung Ares dengan nada sedikit kuat.


Tidak dapat menyangkal perkataan Tuannya, Dia pun berkata, "Mohon setidaknya tambahkan dua orang ksatria pengawal, Tuan."


"Tidak, keputusanku bulat," timpal Ares.


Segera memiliki pandangan lesu dikarenakan ekspresi Ares yang tidak menerima penolakan, Dia pun hanya dapat membungkuk dalam dan berkata dengan nada menyesal, "Mohon maafkan saya yang telah menahan waktu Anda, Tuan. Dan saya sekali lagi memohon maaf atas ketidaksopanan saya."


"Ya," balas Ares.


"Baik, saya akan membimbing Anda menuju ruang makan," timpal Dia setelah bangkit dari ranjang.


Melihat Dia yang telah pergi melangkahkan kakinya menuju pintu, hati Ares benar-benar sangat lega dan bahagia.


Ak—aku lolos!


Kupikir, Dia akan bertanya tentang aku yang telah memperkosa Milly!


Apakah Milly tidak menceritakan hal itu?!


Aku benar-benar berterima kasih kepadamu, Milly!


Melangkahkan kakinya mengikuti Dia, Ares pun segera tiba di ruang makan yang telah mereka sewa secara khusus agar dapat digunakan hanya untuk mereka berdua. Namun, Ares segera melihat tunangannya yang telah terduduk di meja makan dengan menggelembungkan pipinya karena sangat sebal.


Sejenak menghentikan langkahnya, Ares dengan takut-takut melanjutkan langkah kakinya dengan langkah kecil.


Mendekati kursi di samping tempatnya duduk, Ares segera duduk dengan cepat dan segera menyantap sarapannya tanpa mengalihkan wajahnya kepada Excel.


"Mengapa kamu sangat lama? Dari mana saja kamu?" tanya Excel dengan nada sebal.


Berpikir bahwa pembicarannya dengan Dia hanya berlangsung sejenak, setelah menelan makanannya, Ares menjawab, "Aku... mandi..."


Excel pun mengalihkan wajahnya menuju arah yang berlawanan dengan Ares sembari mendecakkan lidahnya karena sangat sebal mendengar alasan tunangannya.


"Maaf..." sesal Ares.


Sedikit berlebihan, itulah hal yang dirasakan Excel. Agar dirinya tidak disalahpahami, Excel pun berkata dengan nada malu saat wajahnya yang sedikit memerah masih teralihkan, "Aku... juga ingin mandi... bersamamu..."


Kuh!


Merasa ketakutannya sangat sia-sia, Ares pun segera menghela napas dalam. Namun, entah mengapa hati kecilnya merasa bahagia disaat dia mendengar kalimat tersebut terucap dari mulut tunangannya.


"Baik..." timpal Ares dengan sedikit malu.


Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka berdua pun segera bersiap dan keluar dari penginapan untuk melanjutkan perjalanan menuju ibukota dimana mereka akan sampai pada siang atau sore harinya.


Namun, Excel segera menyipitkan pandangannya terhadap sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Bukankah kereta gerbong kami berbeda dengan ini?" tanya Excel.


"Hm? Bukankah kamu saat itu memintaku untuk membeli kereta kuda yang lebih baik?" tanya Ares sedikit heran.


Menjadi sangat bahagia, Excel pun segera melompat untuk memeluk tunangannya yang menyebabkan para ksatria di bekalang Ares dengan sigap menopang tubuhnya.


"Ha—hati-hati, oi!" ujar Ares yang sangat terkejut.


Dalam perjalanan beberapa hari terakhir, mereka bergerak dengan sangat berhati-hati dan memilih jalan yang datar mengingat kondisi tubuh Excel yang sedikit lemah. Meskipun guncangan dapat diminimalisir, tetap saja hal tersebut sangat membuat pantat mereka sakit mengingat gerbong tersebut mereka beli dari sebuah desa pertanian biasa.


Menggenggam tangan tunangannya, Excel segera menariknya dan memasuki gerbong dengan bersemangat. Duduk secara berdampingan dengan tunangannya di kursi sofa empuk, tak lama kemudian Excel merasakan gerbong yang bergerak maju.


Mata Excel segera terbuka lebar, mengalihkan pandangannya menuju tunangannya, dia menemukan bahwa Ares sedang memasang senyum masam saat dia menatapnya.


"Mengapa... sangat minim getaran?" tanya Excel yang sangat kagum.


"Itu dikarenakan aku menambahkan sebuah suspensi pada roda gerbong ini," jawab Ares dengan nada sedikit bangga.


"Suspensi?" tanya Excel yang tidak mengerti.


"Ya, aku membuat suspensi yang bernama 'Leaf Spring' dimana suspensi tersebut bekerja dengan menumpuk 5 lembaran baja tebal untuk meminimalkan getaran," jawab Ares.


Tidak mengerti, Excel hanya dapat memiringkan kepalanya dengan menatap heran pada Ares.


Sebenarnya, Ares berniat untuk membuat suspensi model Coil dimana suspensi tersebut memiliki kenyamanan yang lebih baik dibandingkan dengan Leaf Spring, namun penelitiannya hingga kini masih belum selesai yang membuat Ares memutuskan untuk menggunakan model Leaf Spring terlebih dahulu.


"Apakah kamu ingin turun dan melihatnya?" tanya Ares.


"Ayo!" jawab Excel cepat.


Membuka jendela di sampingnya, Ares berkata kepada Dia yang saat ini berkuda di samping pintu gerbong yang tersenyum masam.


"Berhenti," perintah Ares.


"Ya, Tuan," jawab Dia dan ksatria pengawal yang menjadi kusir.


Gerbong kereta segera berhenti. Memutuskan untuk turun, mereka segera memeriksa roda gerbong kereta kuda yang dinaikinya.


"Luar biasa... dari mana kamu mendapatkan ide seperti ini?" tanya Excel yang kagum.


Yah, ini adalah suspensi yang digunakan oleh mobil pengangkut barang di duniaku sebelumnya.


"Yah, aku hanya mencoba-coba ide yang terlintas di dalam pikiranku," jawab Ares dengan tersenyum masam.


Berbalik untuk menatap kembali tunangannya, Excel pun segera tersenyum cerah dan berkata dengan nada sangat bahagia, "Terima kasih, Sayang!"


Ares segera mengalihkan pandangannya karena tidak kuat menatap hal yang sangat membuat jantungnya berdegup kencang.


...----------------...