I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 84 : Korban yang Diperlukan



Tahun 1236, 8 Agustus.


Hutan Sirvic, Bagian Utara Benua Barat.


Pagi Hari.


Barbarian.


Apa yang terbesit di dalam benak seseorang saat mendengar mengenai kata tersebut jika dikaitkan dengan Benua Eropa di Bumi?


Tentu saja, Bangsa Nordik.


Terinspirasi dari hal tersebut, developer game menghadirkan sebuah wilayah dengan empat suku besar yang mendiaminya. Nama-nama dan kebudayaan mereka pun juga tidak berbeda dengan kisah-kisah yang tertuang dalam sejarahnya.


Empat Suku.


Hal tersebut seolah menjadi sebutan bagi kelompok barbarian yang terbagi menjadi empat suku terkuat di seluruh wilayah utara, meskipun terdapat beberapa suku kecil yang juga mendiami wilayah tersebut.


Suku Barat.


Menguasai dataran barat, seolah menjadi momok menakutkan karena mereka termasuk salah satu dari tiga suku yang secara terus menerus berperang melawan Kerajaan Natrehn dan menjarah desa-desa di perbatasannya. Memiliki fisik tubuh kekar dengan jenggot coklat besar yang sangat lebat, sangat membuat seseorang yang melihatnya akan seketika merasa terintimidasi.


Suku Selatan.


Sang Penguasa Lautan adalah julukan yang melekat pada mereka. Pengetahuan, keterampilan, dan teknik yang sangat terampil menjadi ciri khas yang mereka miliki. Bertempat tinggal sangat dekat dengan Laut Bercov membuat mereka memiliki kebudayaan tentang laut yang berkembang.


Kapal-kapal dayung raksasa yang telah dibuatnya, seolah membuat pihak Natrehn kewalahan dengan aksi perompakan terhadap kapal perang Kerajaan Natrehn yang sedang berpatroli.


Suku Timur.


Pun tidak berbeda dengan kedua suku lain. Meskipun tidak memiliki kerjasama dengan suku lain, mereka juga sangat sering menjarah desa-desa di perbatasan Kerajaan Natrehn dengan menyebrangi Sungai Miltein yang menghubungkan Laut Bercov dengan Samudera. Berspesialisasi menggunakan senjata kapak dan palu besar, ciri khas penyerangan mereka adalah korbannya yang selalu berakhir dalam bentuk yang sangat kacau.


Suku Utara.


Sangat berbeda dengan tiga suku tersebut, mereka merupakan suku yang tidak pernah menyerang Kerajaan Natrehn karena bertempat tinggal di ujung utara Benua Barat.


Meskipun begitu, suku tersebut adalah suku yang memiliki kekuatan dan daya tahan luar biasa dibandingkan dengan suku lain mengingat mereka yang tinggal di tempat yang lebih ekstrim dimana selalu tertutup salju selama musim dingin. Karenanya, ciri khas mereka adalah tubuhnya yang dipenuhi rambut yang mereka gunakan untuk kehangatan selama musim dingin dan musim gugur.


Tetap saja, karena mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama, mereka memiliki adat istiadat yang tidak terdapat perbedaan secara signifikan.


Hal tersebut tentu juga telah diketahui oleh Ares.


Baginya, lebih baik menghindari perang dengan mereka dan membuat sebuah persaudaraan. Sangat melelahkan jika melawan mereka mengingat keempat suku tersebut yang tidak memiliki akal sehat ekonomi dan selalu mencari kekuatan.


Sembari berjalan menyusuri jalan setapak di hutan secara berurutan dengan empat orang di belakangnya, Ares—yang mengenakan pakaian penjelajah yang juga dikenakan oleh empat orang lainnya—menjelaskan tujuannya datang ke utara benua kepada mereka.


"Nah, apakah kamu mengetahui alasan apa yang mendasari Raja Natrehn saat ini berfokus kepada militer dengan melatih ulang para prajuritnya kembali sembari memperoleh persediaan makanan?" tanya Ares.


"Apakah hal itu disebabkan karena tidak adanya peperangan dengan para barbarian tersebut, Tuan?" jawab Arthur setelah sedikit memikirkannya kembali.


"Benar. Hal itu dipicu oleh perebutan artefak berupa senjata yang muncul beberapa bulan lalu dan saat ini berada di tangan Kepala Suku Barat, Thorgils," timpal Ares.


Keningnya berkerut, Gale benar-benar merasakan hal yang sangat aneh karena mendengar Ares yang baginya mengatakan sesuatu secara asal-asalan sejak tadi.


"Dari mana Anda mengetahuinya, Tuan?" tanya Gale.


Tidak mengenakkan mendengar seseorang yang memiliki fisik sangat mirip dengan wanita namun memiliki suara berat seperti seorang pria. Ares kembali mengingat pertemuannya dengan Gale saat dirinya berada di sebuah penginapan di Kerajaan Normadia dahulu.


"Mengapa kau tidak menggunakan penyamaranmu sebagai laki-laki seperti waktu itu?" tanya Ares kembali dengan acuh tak acuh.


Tentu saja, Ares berniat mengalihkan topik sebagai niat keduanya.


"Memang sejak awal aku adalah laki-laki, kau tahu?!" jawab Gale dengan penuh kekesalan.


"Yah, gunakanlah suara wanita. Aku benar-benar muak mendengarnya," protes Ares.


"Kuh... bagaimana?" tanya Gale dengan nada feminim.


"Aku benar-benar heran dengan kepribadianmu," timpal Ares acuh tak acuh.


"Jadi, mengapa Anda bermaksud untuk mempersatukan para barbarian, Tuan?! Apakah Anda menginginkan wanita mereka yang memiliki stamina luar biasa?! Saya benar-benar akan mendukung Anda secara penuh untuk mencapai tujuan Anda yang sebenarnya!" ujar Marie seolah bersenang-senang.


Abaikan.


Abaikan.


Lagipula, mengapa Connor mengirimkan tiga orang bermasalah ini kepadaku?


Apakah dia memiliki dendam pribadi kepadaku?


Mungkin hanya aku dan Arthur saja yang normal dalam kelompok ini.


Melirik gadis di belakangnya yang melompat dengan sangat riang, membuat Ares sekali lagi merasa menyesal karena telah membawanya yang membuatnya menghela napas dalam.


"Karenanya, aku berencana memberikan suatu persembahan kepadanya," ujar Ares acuh tak acuh.


"Persembahan? Apa itu, Tuan?" tanya Gale dengan nada sedikit tidak puas.


Langkah kedua kaki Ares seketika terhenti yang membuat empat orang lain di belakangnya juga berhenti berjalan. Ares pun berbalik kembali dan melihat empat orang di belakangnya sembari tersenyum dan berkata, "Tentu saja, seorang wanita."


Wajah semua orang seketika berpaling kepada Gale yang saat ini berada di posisi terbelakang—yang bahkan juga dilakukan Lean yang sejak tadi hanya bersikap pasif tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.


"Eh?! Eh?! Mengapa kalian semua menatapku?!" protes Gale dengan sangat keras.


"Hm? Bukankah itu wajar, Gale? Jika kau diperkosa, dia hanya akan menggunakan lubang belakangmu," ujar Marie bernada heran.


"Hah?! Jangan bercanda, Sialan! Mengapa tidak kau saja?!" protes Gale dengan sangat kesal.


Kepalanya menggeleng kecil, Marie pun tersenyum sinis dan berkata, "Ck, ck, ck, menjijikkan bersenggama dengan para monyet, kau tahu? Lagipula, bukankah sangat sia-sia jika memiliki lubang tapi tidak digunakan?"


"Hah?! Aku memang tidak memiliki lubang, Idiot!" timpal Gale kesal.


Ares pun segera tersenyum penuh arti kepada Gale. Merasa bahaya yang semakin mendekat, Gale pun mengalihkan wajahnya yang hendak menangis kepada Lean dan berkata dengan keras, "Lean, tolong aku!"


"Hm? Mengapa aku harus?" tanya Lean acuh tak acuh.


"Hah?! Bukankah kita adalah teman?!" tanya Gale kembali panik.


Lean—yang sedari tadi memiliki wajah lesu—mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan yang bahkan membuat Marie sedikit terkejut.


"Gale, akan kuberitahu sesuatu hal yang sangat penting kepadamu," ujar Lean.


Merasa Lean tidak pernah menunjukkan wajah seperti itu sebelumnya, Gale pun menjawab dengan sedikit tergagap, "A—apa itu?"


"Manusia adalah makhluk sosial yang berhubungan secara timbal balik," ungkap Lean.


"La—lalu, bukankah aku adalah temanmu?! Aku sering membantumu, bukan?!" tanya Gale panik disaat melihat Ares yang tersenyum sembari berjalan mendekatinya.


"Pertemanan adalah omong kosong," jawab Lean.


"Hah?!" ungkap Gale yang sangat terkejut.


"Yah, singkatnya, jika aku akan merugi, aku tidak akan membantumu," balas Lean acuh tak acuh.


Grep!


Pergelangan tangannya seketika menghangat. Disaat Gale mengalihkan kepalanya secara patah, dia melihat Ares yang tersenyum penuh arti kepadanya.


"Jangan melupakan kontrak yang telah kita sepakati," ujar Ares.


"Gyaaaaa!" teriak Gale penuh ketakutan.


Akibat teriakan Gale yang bergema di dalam hutan, burung-burung yang hinggap di dahan pepohonan di dekat mereka pun terbang menjauh.


...----------------...