
Tahun 1237, 17 April.
Ibukota Kerajaan Mana.
Malam Hari.
"Sudah saatnya, Yang Mulia." Seorang jenderal Kerajaan Forbrenne bertubuh kekar menunduk ringan, salah satu tangannya berhimpit pada dadanya.
"Ya." Bangkit dari kursi dengan meja yang memiliki banyak anggur serta daging di atasnya, Raja Kerajaan Forbrenne, Fulham III, mengikuti langkah jenderal tersebut keluar dari ruangan yang menjadi kamar pribadinya dengan para ksatria pengawalnya.
Hanya sosok pria paruh baya berjenggot tipis serta rambut coklat klimis hingga sebahu. Pun sebuah mahkota berwarna merah berada di atas kepala serta jubah merah kebesarannya yang tebal, sangat menunjukkan sosoknya akan seorang raja yang agung, meskipun dia hanya memimpin sebuah negara kecil.
Lorong istana remang karena hanya memiliki beberapa lentera pada dindingnya, tanpa ada siapapun selain Fulham dan kelompoknya yang menapakinya.
Fulham tersenyum tipis, sudah seharusnya laporan kurir mata-mata berada dalam genggaman. Entah itu malam hari ini atau esok pagi, itu tidak masalah bagi Fulham yang telah memberikan tawaran menarik kepada Natrehn yang beberapa kali telah menolak kesepakatan dengannya, hingga membuatnya merasa yakin dan optimis bila Natrehn akan bekerja sama dengannya.
"Count, jika mereka telah sepakat..." Fulham tidak melanjutkan perkataannya, sangat mewaspadai bila ucapannya terdengar oleh pihak ketiga.
Berjalan di samping Fulham, jenderal yang membimbingnya sedikit menunduk, walaupun dia tetap tidak menghentikan langkahnya, "Ya, saya akan segera melaksanakannya."
"Bagus." Pujian Fulham terlayangkan pada jenderal terbaik sekaligus Kepala Ordo Ksatria Kerajaan Forbrenne tersebut.
Tak lama berselang, pencahayaan menjadi sangat terang, Fulham mendapati banyak ksatria dari berbagai bangsawan yang berasal dari dua negara lain telah menunggu di luar pintu kembar besar berwarna putih yang menjadi tempat dilaksanakannya dewan perang.
"Silakan, Yang Mulia Raja Fulham." Dua orang ksatria Kerajaan Mana membungkuk, masing-masing dari mereka membuka pintu bagi Fulham dan seorang ksatria kepercayaannya untuk memasuki ruangan.
Alfons, Sieg, Raja Kerajaan Mana, serta beberapa bangsawan tingkat tinggi lain segera bangkit dari kursi, melakukan penghormatan bagi Fulham yang telah memasuki ruangan sembari bertegur sapa sebagai bentuk kesopanan.
Sieg tidak melihat adanya perubahan ekspresi pada Fulham, yang membuatnya menarik kesimpulan bila prajurit penghubung Forbrenne dengan Natrehn belum dijadwalkan tiba.
Melirik ayahnya yang telah terduduk kembali tepat di sampingnya, Sieg mengangguk ringan, memberi tahu Alfons bila prediksi awalnya tidak meleset dan sepakat untuk menjalankan rencana awal mereka.
Setelah berada dalam keformalan di atas meja yang melingkar, dewan perang sekali lagi dibuka oleh Raja Mana, yang bertindak sebagai tuan rumah.
"Saya benar-benar memohon maaf sebesar-besarnya kepada Anda sekalian karena telah mengundang Anda dalam sebuah Dewan Perang pada kesempatan yang sangat larut ini." Menunduk ringan, para bangsawan mendengar kata-kata Raja Mana sangat tulus, sebuah penyesalan dari lubuk hati yang terdalam dengan pembuktian berupa sedikit merendahkan kepalanya.
"Tidak perlu memohon maaf, Raja Mana. Kami mengerti bila kita berada di tengah peperangan," ujar Alfons.
"Saya sangat menyetujui apa yang telah dikatakan oleh Raja Lethiel, saya sangat memaklumi bila terdapat suatu hal yang mendesak yang membuat Anda mengundang kami pada waktu ini," jawab Fulham.
Walaupun Kerajaan Mana telah menekan Kerajaan Lethiel dengan memaksa mereka mengirimkan banyak pasokan makanan, namun hanya itu yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Mana, sangat bertentangan dengan Kerajaan Forbrenne yang berniat menguras sumber daya Lethiel hingga kering.
Untuk itu, Raja Kerajaan Lethiel, Alfons III, bersama putranya, Sieg vi Lethiel, memutuskan untum berkolusi dengan Kerajaan Mana setelah mengirimkan banyak bukti mengenai pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Forbrenne.
Melangsungkan Dewan Perang di tengah malam, tentu tidak dapat membuat para bangsawan menggerakkan pasukannya dengan cepat. Keadaan pasukan yang sedang beristirahat, kuda-kuda yang juga membutuhkan waktu untuk mengembalikan staminanya, membuat waktu malam sangat berharga bagi seorang prajurit sekalipun.
Walaupun mereka dapat dikatakan telah berhasil merebut kembali Wilayah Kerajaan Mana yang telah terenggut, namun mereka sepakat untuk mewaspadai pergerakan militer Natrehn yang diketahui meninggalkan sebagian kecil pasukannya di perbatasan, meski "sebagian kecil" tersebut dikatakan "besar" bagi pihak konfederasi yang hanya memiliki sekitar 85.000 prajurit yang tersisa.
Raja Mana mengubah ekspresinya. Ketegasan terukir, salah satu tangannya menyodorkan sebuah gulungan perkamen pada Fulham yang membuatnya sangat bingung.
"Ada apa, Raja Mana?" tanya Fulham sembari mengambil gulungan tersebut.
Sejenak tercengang hingga mematung, kedua telinga Fulham tertusuk oleh tuduhan Mana, yang disertai oleh bukti yang berada dalam genggamannya hingga membuat kedua matanya terbuka lebar.
"I—ini palsu!" Menepis tuduhan Raja Mana, tidak menyangka bila lawan bicara telah memiliki bukti konkret yang membuat Fulham sangat panik.
Keterkejutan juga menimpa para bangsawan jenderal Kerajaan Forbrenne yang membuat mereka sejenak terdiam karena perubahan situasi yang sangat tiba-tiba.
"Lalu, coba jelaskan isi dari banyak gulungan perkamen ini." Bersamaan dengan kata-kata Raja Mana, ksatria pengawalnya melangkah maju, kedua tangannya penuh akan gulungan perkamen yang segera ia letakkan di atas meja.
Dengan cepat mengambil sebuah perkamen yang telah diletakkan di dekatnya, Fulham membukanya dengan cepat, merasa panik akan kedoknya yang telah terungkap.
"M—mustahil! Tidak! Janga—" ungkap Fulham.
"Tahan mereka!" Sieg berteriak, membuat para ksatria yang telah berjaga di sekitar bergerak cepat mendekati target. Meskipun para Ksatria Forbrenne segera menghunuskan senjatanya dan melindungi diri serta para bangsawan, takdir berkata lain, puluhan Ksatria Mana yang telah berjaga di luar ruangan segera menerobos masuk.
Bersamaan dengan mereka Sieg menghunuskan belati yang sebelumnya telah ia sembunyikan dan membelakangi Alfons untuk melindunginya, yang juga dilakukan oleh para Ksatria Lethiel lain.
Para ksatria segera mengepung Fulham dan bangsawan Forbrenne. Beberapa diantara bangsawan Forbrenne berusaha mencari jalan untuk melarikan diri, beberapa yang lain memutuskan untuk bertarung menyelamatkan dirinya.
Berbeda dengan Sieg, tidak satupun dari para bangsawan yang membawa senjata, terkecuali para ksatria yang bertugas untuk mengawal.
Fulham mencari celah untuk kabur, menyelamatkan dirinya dengan membungkuk melalui celah-celah medan pertarungan di sekitarnya. Melihatnya yang hendak kabur, Sieg menapak meja bundar di hadapannya dan menerjang Fulham dengan lompatan serta belati yang terhunus.
DUAK!
Salah seorang ksatria yang menghalangi kepalanya tertendang oleh salah satu kaki Sieg. Bersamaan dengan momentum, Sieg memanfaatkan punggung ksatria yang sedang terjatuh tersebut untuk melompat menuju Fulham secara langsung.
JRASH!
"Argh!" teriak Fulham.
"Eh?" Bertentangan dengan niatnya, tanpa sengaja belatinya menusuk punggung Fulham hingga membuat Sieg sangat terkejut.
BRUK!
Sieg tidak berniat untuk menusuk Fulham, yang mana dia bermaksud untuk menindih Fulham, mencegahnya untuk kabur. Meskipun begitu, belati yang dimaksudkan untuk menghalau senjata para ksatria tanpa terasa terarah ke depan, hingga darah membasahi sekujur tubuh Fulham yang telah jatuh terkapar.
Semua orang di sekitar menghentikan pertarungan dan mengalihkan perhatiannya kepada Sieg, merasakan sebuah keanehan pada salah satu sudut ruangan.
"Aku... tidak sengaja... percayalah..." Kata-kata Sieg membuat orang di sekitarnya hanya dapat terdiam, sangat tercengang dengan keadaan Fulham, meskipun para Ksatria Forbrenne dengan segera melakukan pertolongan pertama kepadanya.
Akhir yang menyedihkan. Tidak ada yang menyangka bila Fulham III akan meregang nyawa di tempat kejadian, hingga membuat Sieg dijatuhi hukuman sebagai tahanan rumah selama satu pekan.
Karena Forbrenne yang sejak awal telah berkhianat, para bangsawan Kerajaan Mana dan Lethiel tidak memojokkan Sieg dengan menghukum berat kepadanya.
Terlebih lagi, kejahatan Forbrenne terungkap akibat upaya Sieg hingga membuat para bangsawan memutuskan untuk menutup mata karena berhutang budi kepadanya.
Secara keseluruhan, para bangsawan petinggi militer Kerajaan Forbrenne ditawan, seluruh persenjataan mereka dan pasukannya dilucuti. Pihak Mana dan Lethiel memiliki kartu untuk menuntut ganti rugi secara besar-besaran kepada Kerajaan Forbrenne yang telah mengkhianati mereka.
...----------------...