
Tahun 1236, 3 Juni.
Kota Botson, Wilayah Baron Herney, Kerajaan Normadia.
Setelah Matahari Terbenam.
Beberapa hari berlalu semenjak Ares dan Excel meninggalkan Reruntuhan Ibukota Kekaisaran Suci Regulus, Elness, dengan menyembunyikan dirinya menggunakan jubah. Mereka segera berkuda menuju ke barat dimana Kerajaan Normadia berada untuk memenuhi tujuan awal Ares yang sebenarnya.
Saat ini, di dalam kamar satu-satunya penginapan termewah yang berada di wilayah terpencil Kerajaan Normadia, Excel sedang terbaring di atas ranjang dengan kepalanya yang berada di pangkuan tunangannya.
"Apakah kamu ingin ikut denganku, Excel?" tanya Ares dengan membelai kepala Excel.
"Ke mana kamu ingin pergi? Bukankah di luar sedang hujan lebat?" tanya Excel kembali yang keheranan.
"Aku ingin mengunjungi suatu bar di kota ini," balas Ares dengan lembut.
Excel pun mengalihkan wajahnya agar tidak menatap Ares karena malu. Dengan nada lirih, ia berkata, "Aku... sebenarnya lemah terhadap alkohol..."
"Begitu..." balas Ares yang kebingungan bagaimana harus menjawabnya.
"Tapi, mungkin saja jika sedikit, itu mungkin akan baik-baik saja," timpal Excel dengan nada sedikit kuat.
"Baik, mari pergi," ajak Ares dengan lembut.
Excel pun segera menatap Ares kembali dan menjawab dengan nada yang terdengar senang, "Oke."
Mereka berdua pun bangkit dari ranjang dan mengenakan mantel lalu pergi dari penginapan meninggalkan Lykan untuk tetap berada di kandang kuda penginapan.
Beberapa saat menyusuri kota kecil yang diguyur hujan dengan beberapa petir, mereka berdua tiba di sebuah bangunan kayu berlantai satu dengan beberapa pencahayaan yang dapat dilihat dari luar jendela.
Kreeet.
Pintu kayu pun terbuka dan dua sosok mencurigakan bagi pelanggan di dalamnya memasuki bar dengan acuh tak acuh. Setelah melepas jubahnya di dekat pintu, Ares dan Excel pun segera mendekati meja panjang dimana terdapat seorang bartender tua dengan beberapa pelanggan di mejanya.
"Selamat datang," sambut Bartender.
"Appraisal," ujar Ares dengan menargetkan pelanggan yang duduk di dekat jendela.
......................
...[Status]...
Nama : Lean
Umur : 17 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : 3rd Assassin
Afiliasi : Klan Cornwall
Statistik
Keahlian Senjata : 87 (+4)
Kelincahan : 90 (+2)
Kepandaian : 59 (+0)
Tubuh : 87 (+4)
Kepemimpinan : 48 (+0)
Loyalitas : 91
Moral : 67
Pelatihan : 56
......................
Ares pun segera tersenyum setelah melihat status pelanggan tersebut.
Apakah beberapa diantara para pelanggan juga merupakan anggota klan?
Nah, ayo jadikan salah satu kelompok tentara bayaran terkuat di dalam game untuk melayaniku.
Lagipula, mereka tidak memiliki tempat tujuan karena telah diusir dari kampung halamannya.
Para anggota klan lain yang menyamar menjadi pelanggan mewaspadai penuh Ares dan Excel yang memasuki bar meskipun mereka terlihat tak mengacuhkan mereka berdua. Tentu saja, setiap anggota klan telah mengetahui bahwa kedua orang tersebut merupakan seorang bangsawan yang sedang naik daun serta seseorang yang memiliki julukan White Demon.
Setelah melihat Ares dan Excel duduk di depannya, Bartender tersebut bertanya, "Apa yang ingin Anda pesan, Tuan, Nyonya?"
"Rekomendasimu. Oh, berikan kadar ringan untuk istriku," jawab Ares dengan tersenyum sembari mengalihkan pandangannya menuju Excel.
Bartender seketika hanya melukiskan senyum masam di wajahnya dikarenakan ia mengetahui kebohongan Ares. Di sisi lain, Excel sangat malu dan merasa sangat bahagia meskipun ia menyembunyikan perasaannya.
"Baik, mohon tunggu sebentar," timpal Bartender dan mulai mempersiapkan dua cawan dari botol yang berbeda.
Tak berselang lama, Bartender segera menyajikan dua cawan tersebut dengan berkata, "Silakan, Tuan. Dan... ini adalah bir untuk Anda, Nyonya."
Anggur merah, kah...
Dan juga, bukankah bir yang disajikan untuk Excel adalah bir kadar rendah yang biasanya diminum untuk sarapan?
Ares sedikit kagum dengan keputusan Bartender yang terlihat seperti orang tua di depannya. Sedikit khawatir dengan tanggapan Excel, Ares bertanya, "Bisakah kamu meminumnya?"
Bagi Excel, yang hampir tidak pernah meminum alkohol dikarenakan ia yang tidak pernah menghadiri acara pertemuan antar bangsawan, sedikit khawatir karena ia mengingat pengalamannya yang seketika mabuk setelah beberapa saat meneguk anggur yang hanya sedikit kuat.
"Aku... akan mencobanya..." jawab Excel dengan sedikit gelisah.
Glup.
Glup.
Ares mendengar suara tegukan dari tenggorokan Excel yang berselang sedikit lama. Ketika ia meliriknya,
BRUK!
Lemah.
Itu adalah bir yang diminum saat sarapan, kau tahu?
Lagipula, jika itu racun, kamu tidak akan pingsan secepat ini.
Yah, satu masalah telah terselesaikan.
Mengambil cawannya dan mendekatkan ke mulutnya dengan gerakan yang elegan, Ares meneguk anggur dengan sedikit puas.
Meskipun Bartender sangat waspada dengan kedua orang yang berada di hadapannya, mereka juga merupakan pelanggannya yang seharusnya dia pedulikan.
"Apakah Nyonya tersebut baik-baik saja?" tanya Bartender dengan menatap khawatir pada Excel.
"Ah, tidak apa-apa. Aku akan mengurus istriku," jawab Ares dengan tersenyum masam.
"Baik," timpal Bartender.
Hmm, aku sedikit melupakan statistik yang kamu miliki.
"Appraisal," ucap Ares menargetkan Bartender dengan lirih.
......................
...[Status]...
Nama : Connor Cornwall
Umur : 58 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Kepala, Klan Cornwall
Afiliasi : Klan Cornwall
Statistik
Keahlian Senjata : 97 (+0)
Kepandaian : 73 (+0)
Tubuh : 95 (+0)
Kepemimpinan : 78 (+0)
Loyalitas : 86
Moral : 64
Pelatihan : 71
......................
Yah, sesuai dugaanku.
Ares pun sekali lagi mendekatkan cawan anggur yang dipegangnya menuju mulutnya untuk meneguknya.
Setelah menunggu hingga dua orang pelanggan lain yang bukan merupakan anggota klan pergi dari bar, Ares tersenyum dan berkata, "Bagaimana keadaan kepulauan?"
"Bolehkah saya mengetahui apa yang Anda maksud, Tuan?" tanya Bartender dengan tersenyum seolah menyelidiki.
"Hmm, itu seperti yang aku katakan, Tuan Connor Cornwall atau... haruskah aku memanggilmu Kambing Hitam Pulau Lerzen?" jawab Ares dengan tersenyum masam.
Seketika, semua anggota klan yang menyamar menjadi pelanggan menghunuskan senjata mereka dan mengarahkannya kepada Ares dengan kewaspadaan tinggi.
"Yah, tetap seperti biasanya, Tuan," jawab Bartender dengan tersenyum masam.
"Begitukah?" timpal Ares dengan senyum kecut.
"Lalu, hal apa yang membawa Tuan Margrave untuk menemui kami yang berada dalam keadaan yang sangat lemah ini?" tanya Bartender kembali dengan tenang.
Yah, kupikir, namaku saat ini sangat terkenal di dunia bawah, bukan?
Meskipun hanya berselang sekitar dua bulan semenjak Ares mengalahkan Natrehn, ia tidak menyangka kabar dirinya akan menyebar secepat itu mengingat zaman ini adalah era abad pertengahan yang membuat Ares kembali tersenyum masam.
"Nah... aku pikir situasi ini sedikit tidak nyaman untuk berbicara," ujar Ares yang merasa terganggu dengan keadaan di dalam bar.
"Kalian, angkat kembali senjata kalian," ucap Connor kepada anggota lain.
"Ta—tapi!" protes seorang pemuda anggota.
"Tidak apa-apa," balas Connor acuh tak acuh.
Setelah melihat para anggota lainnya menarik kembali senjata mereka, Ares bertanya dengan nada penasaran, "Apakah kalian membutuhkan suatu perlindungan?"
"Kami... telah memutuskan untuk hidup dengan tenang di negara tanpa konflik seperti ini," jawab Connor.
"Begitukah? Tapi... apakah kamu benar-benar dapat menghidupi 210 anggota klan hanya dari bar seperti ini?" tanya Ares dengan heran.
Connor dan para anggota klan lain seketika dibuat terkejut dengan perkataan Ares. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Ares dapat mengetahui jumlah persis anggota klan yang masih hidup meskipun mereka tidak pernah muncul secara terbuka.
Bagaimana dia mengetahuinya?!
Connor seketika memincingkan pandangannya karena sangat waspada dengan pemuda yang berada tepat di hadapannya.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Ares bertanya kembali, "Apakah kalian benar-benar merasa aman dari kejaran Klan Utama Pulau Lerzen?"
Karena memasang kewaspadaan tinggi dan curiga dengan tujuan Ares, dengan acuh tak acuh, Connor bertanya dengan nada mengintimidasi, "Mengapa Anda, bangsawan paling berpengaruh di Kerajaan Rowling, dengan sengaja mendatangi kami? Hal apa yang Anda inginkan dari kami?"
"Bekerjalah di bawahku," jawab Ares dengan cepat.
"Apa yang akan kami dapatkan darimu?" tanya Connor kembali dengan intimidasi kuat.
Ares pun segera melukiskan senyuman yang terlihat sangat menakutkan di wajahnya. Ia pun menjawab, "Perlindungan, tempat tinggal, uang, makanan, dan tentu saja... kehormatan kalian."
Bagi Connor dan anggota klan lain, tentu saja menanggap apa yang dikatakan Ares sangat tidak masuk akal.
Bagaimana seorang Margrave yang hanya memiliki wilayah kecil dapat mengembalikan kehormatan kami?
"Kami tidak mempercayai perkataanmu," jawab Connor lugas.
"Nah, bagaimana jika aku membuktikan padamu bila aku dapat melakukannya?" tanya Ares dengan tersenyum.
"Apa maksudmu?" timpal Connor yang kebingungan.
Ares pun memasukkan salah satu tangannya ke dalam tasnya dan mengeluarkan satu kantung besar penuh koin platinum. Lalu, ia bertanya, "Bagaimana jika kita bertaruh?"
"Bertaruh?" balas Connor yang tidak mengerti.
"Aku akan membuat permintaan kepada kalian dengan imbalan 10 juta G. Jika kalian berhasil melakukannya, uang ini akan menjadi milik kalian. Jika kalian gagal, bekerjalah di bawahku," timpal Ares dengan tersenyum.
Semua orang yang mendengar besaran uang hadiah membuka lebar matanya. Mereka tidak pernah diberikan komisi sebesar itu hanya untuk satu permintaan.
"Apa permintaan yang akan Anda berikan?" tanya Connor dengan nada takjub.
"Tentu saja... bunuh aku," timpal Ares dengan tersenyum.
Tidak ada orang yang dapat berkata-kata setelah mendengar isi permintaan Ares. Meskipun mereka merasa diremehkan, akan tetapi apabila Ares dapat membuktikan kekuatannya, itu berarti perkataannya sebelumnya adalah kebenaran.
"Nah, aku tidak ingin membuat tunanganku mengetahui ini. Jadi, misi akan dimulai pada saat pertemuan antar bangsawan di Ibukota Lombart dan berakhir dalam waktu satu pekan," sambung Ares dengan melirik Excel yang pingsan.
"Begitukah? Anda tidak akan menyesali ini, bukan? Saya berpikir Anda benar-benar mengetahui kemampuan yang kami miliki," timpal Connor yang masih takjub.
Ares pun hanya membalasnya dengan senyuman dan berkata, "Aku pergi," sembari menggendong Excel di punggungnya.
Setelah melihat mereka berdua pergi dari bar, Connor berkata, "Lean, Gale, pilih 30 pemuda terkuat klan dan jangan bunuh siapapun selain dirinya, kami professional."
"Mengapa Anda tidak memerintahkan anggota senior, Kepala?" tanya Lean yang keheranan.
"Hmm, kupikir... sebentar lagi angin sejuk akan membawa perubahan besar bagi dunia ini," timpal Connor dengan tatapan rindu.
Meskipun para anggota lain merasa kebingungan dengan perkataan Connor, mereka memutuskan untuk diam dan mematuhinya.
Di sisi lain, karena hujan yang telah reda, Ares pun menggendong Excel menuju penginapan.
Namun...
"Aaresshh..." ujar Excel dengan nada seperti orang mabuk.
Ya, semenjak mereka berdua keluar dari bar, Excel telah mengigau hal-hal aneh karena mabuk saat digendong oleh Ares.
"Apa itu?" tanya Ares dengan melirik wajahnya yang merah.
"Aku... ingin... pedang... benar!" jawab Excel yang mengigau.
Mengabaikan perkataan tunangannya yang sangat tidak jelas, Ares pun segera membaringkannya di tempat tidur setelah mereka mencapai kamarnya.
Namun, Excel segera menarik tangan Ares hingga ia terjatuh di samping tempatnya tidur.
BUK!
"E—Excel?! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Ares dengan panik.
Excel pun segera menduduki perut Ares dan bertanya dengan linglung seperti orang mabuk, "Meskipun... kamu... telah melihat... setiap sudut bagian tubuhku... mengapa... kamu tetap tidak tertarik kepadaku?"
Hah?!
Kau bertanya tentang hal itu?!
"I—itu dikarenakan kamu yang merupakan seorang putri, Excel," jawab Ares dengan nada panik.
"Hah?! Jawaban apa itu?! Mengapa kamu sangat tidak jantan?!" timpal Excel yang linglung dengan kesal.
"To—tolong lepaskan!" ujar Ares yang panik.
Mengabaikan perkataannya, Excel kemudian menggenggam kerah baju tunangannya dan merobek bajunya.
SRAAKK!
"Nah... ayo nikmati... hidangan ini," timpal Excel yang menatap Ares seolah menjadi mangsanya dengan wajahnya yang merah karena mabuk sembari menjilat bibirnya.
Melihat wajah Excel, hanya ekspresi ketakutan yang terlukiskan di wajah Ares. Tentu saja, Ares tidak pernah menyangka bahwa dia akan diperkosa malam ini.
...----------------...