I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 28 : Bencana—Tidak, Bantuan, Datang!



Tahun 1236, 1 April.


Istana Kerajaan Rowling, Ibukota Lombart.


Malam Hari.


Tap.


Tap.


Seorang pria tampan yang memiliki fisik tegap dengan rambut putih pendeknya sedang melangkah melewati lorong ditemani oleh beberapa bangsawan di belakangnya.


Para ksatria dan pelayan yang tidak secara sengaja bertemu dengan rombongan pria tersebut, membungkukkan tubuhnya dengan panik akibat posisi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh pria tersebut.


Tentu saja, pria tersebut adalah Pangeran Pertama Kerajaan Rowling, Lucas von Holfart Rowling. Meskipun ia belum dianugerahi gelar Putra Mahkota yang menyebabkan ia akan menjadi Raja berikutnya, tetap saja pengaruhnya adalah yang terbesar kedua setelah Raja di seluruh Kerajaan Rowling.


Tap.


Tap.


Setelah beberapa saat menyusuri lorong istana kerajaan, mereka pun tiba di depan sebuah pintu besar yang memiliki banyak ornamen indah dan dijaga oleh beberapa pelayan yang berada dalam keadaan bersiaga.


Lucas mendatangi salah satu pelayan wanita dan berkata dengan nada mengintimidasi, "Aku ingin bertemu dengan adikku."


Meskipun langit telah menampakkan bulan dimana seseorang seharusnya telah beristirahat, Lucas mengacuhkan hal tersebut yang membuat pelayan yang didatanginya merasa panik dan hendak memiliki mata yang berkaca-kaca.


"Ba—baik, Yang Mulia. Saya akan bertanya kepada Tuan Putri terlebih dahulu," timpal pelayan tersebut yang gelisah karena sangat ketakutan.


"Cepat, karena ini menyangkut tunangannya," balas Lucas dengan acuh tak acuh.


"Ba—baik, Yang Mulia. Permisi," timpal Pelayan tersebut dengan ketakutan dan membuka pintu ruangan.


Setelah pelayan tersebut memasuki ruangan, ia hanya melihat seorang wanita yang tidak mengenakan apapun sedang terbaring di atas ranjangnya dan hanya ditutupi oleh selimut.


Dengan takut-takut, ia mendekati wanita tersebut dan berkata dengan gelisah, "T—Tuan Putri... Yang Mulia Pangeran Lucas hendak menemui Anda..."


Excel pun membuka matanya secara langsung yang membuat pelayan tersebut gemetar, ia pun berkata dengan nada malas, "Apa yang akan dilakukan oleh si bodoh itu? Aku sedang menikmati waktuku dimana aku baru saja mendapatkan seorang tunangan."


"I—itu... Ya—Yang Mulia mengatakan bahwa hal ini terkait dengan tunangan Anda, Tuan Putri," jawab pelayan tersebut yang masih gemetar ketakutan.


Excel pun memiliki ekspresi sumringah. Lalu, ia berkata dengan nada yang terdengar bahagia, "Begitukah? Yah, aku akan menemuinya di kamar tamu. Bawa dia menuju ke tempat itu."


Akibat jawaban yang diberikan oleh Excel, hatinya merasa sangat lega.


Bagaimana tidak?


Meskipun menjadi pelayan istana memiliki gaji yang sangat tinggi serta gengsi tertentu ketika berada di tengah masyarakat, tetap saja apabila mereka membuat suasana hati Tuannya menjadi buruk, itu dapat menyebabkan kehancuran diri serta keluarganya.


Bahkan, para pelayan tingkat tinggi yang berasal dari keluarga aristokrat dengan pangkat Count maupun Viscount, juga harus berhati-hati dalam menyikapi anggota keluarga kerajaan.


"Baik, saya akan menyampaikannya kepada Yang Mulia. Permisi," timpal pelayan tersebut dengan membungkuk dalam dan pergi.


Pelayan wanita tersebut keluar dari ruangan tersebut dan bertemu dengan Lucas yang sedang menunggunya. Ia pun berkata, "Yang Mulia, Tuan Putri menerima permintaan Anda. Saya akan membimbing Anda menuju kamar tamu yang berada di samping ruangan ini."


"Ya," jawab Lucas dengan acuh tak acuh.


Mereka pun pergi menuju kamar tamu meninggalkan para pelayan lainnya yang memasuki Kamar Excel untuk mengurus Excel dengan mengenakan pakaian padanya.


Setelah Lucas tiba dan duduk di sebuah sofa yang berada di kamar tersebut meninggalkan para pengikutnya di ruangan lain, Excel pun tiba dari pintu yang menghubungkan kamar tidurnya dengan kamar tamu.


"Apa itu, Saudaraku?" tanya Excel yang saat ini mengenakan pakaian tidurnya dengan mendekati sofa yang berada di depan pangeran tersebut.


Setelah dengan sabar menunggu Excel duduk di hadapannya, Lucas berkata, "Ayah telah memerintahkan tunanganmu—tidak, Margrave Rueter untuk merebut kembali Benteng Veldaz dan wilayah di sekitarnya."


"Eh?" timpal Excel yang terkejut.


"Nah, mengapa kamu tidak membantunya? Kukira, kamu dapat meringankan beban dan mempererat hubunganmu dengannya," balas Lucas lalu ia memasang ekspresi tersenyum.


Eh?!


Mengapa aku baru mengetahuinya?!


Mengapa ayah tidak memberitahuku bahwa ia akan bersenang-senang membantai para serangga itu?!


Excel hanya dapat terpana dengan perkataan Lucas yang baru saja dilontarkannya. Menjadi sangat bersemangat, Excel pun berdiri dari sofa dan berteriak, "Aku akan pergi!" lalu kembali menuju kamarnya.


Saat melihatnya pergi, Lucas hanya dapat memandangi adiknya dengan tersenyum masam.


Ya, rencananya untuk melakukan manuver dalam perebutan tahta akan semakin lancar bila Excel tidak berada di ibukota.


Bagaimana tidak?


Tentu saja, itu sangat beresiko.


Saat Lucas mendengar kabar ayahnya yang telah mengirimkan Dekrit Kerajaan kepada Margrave Rueter dengan diwakili oleh seorang ksatria yang memerintahkan Ares untuk merebut kembali wilayah utara, ia tersenyum dan berniat mengubah manuver politiknya untuk bermain dengan lebih agresif setelah memikirkan satu hal.


Bagaimana bila aku membuang Excel bersama tunangannya di medan perang?


Bukankah aku bisa mendapatkan Wilayah Rueter yang saat ini sedang naik daun dan mungkin memiliki dana yang sangat berlimpah?


Lagipula, Margrave hanya memiliki kekuatan sekitar 40.000. Itu tidaklah sebanding dengan Pasukan Reguler Kerajaan Natrehn yang menyerang dengan 100.000 prajurit.


Meskipun melihat perilaku Excel yang sangat tidak sopan kepadanya, Lucas hanya mengacuhkannya dan bangkit untuk menuju pintu keluar dengan senyuman menakutkan yang terukir di wajahnya.


Setelah masuk kembali menuju kamarnya, Excel melihat beberapa pelayan wanita yang telah mengenakan pakaiannya sebelum bertemu dengan Lucas.


Mengabaikan para pelayan tersebut, Excel melangkahkan kakinya mendekati suatu lemari yang menyimpan seragam militernya beserta armor ringan dan pedang yang sangat disayanginya.


Para pelayan pun gelisah ketika melihat perilaku Excel, salah satu dari pelayan tersebut dengan takut-takut berkata, "T—Tuan Putri, apa yang tela—"


"Aku akan pergi. Beri laporan kepada ayah dan perdana menteri bahwa aku akan menuju ke Wilayah Frontier Count Dupent," sela Excel dengan membuka lemari.


"Eh?!" ujar pelayan tersebut karena terkejut.


Pelayan tersebut hanya terdiam tidak dapat membalas perkataan Excel karena pikirannya yang terhenti secara tiba-tiba. Setelah beberapa saat penundaan, seorang pelayan lainnya berkata, "Na—namun—"


"Lakukan saja!" teriak Excel kesal dengan menyelanya.


"Ba—baik!" ujar beberapa pelayan yang ketakutan.


Para pelayan hanya terpana ketika melihat Excel yang dapat mengganti pakaiannya sendiri dengan seragam militer serta armor ringan meskipun Excel hampir tidak dapat mengganti pakaiannya yang lain dengan mandiri.


Setelah menyelesaikan persiapannya, Excel keluar dari kamarnya dan menuju pos dimana para ksatria berjaga melalui kegelapan lorong istana.


Ketika mencapainya, ia hanya melihat beberapa prajurit yang sedang mabuk dan berjudi.


Cih, menyedihkan.


Karena kesal, Excel berteriak dengan sangat keras, "Ambilkan kudaku, Idiot!"


"Hah?!" ujar para prajurit yang kesal.


Saat mereka mengalihkan pandangan mereka menuju sumber suara, para prajurit hanya menemukan seorang wanita cantik yang memiliki julukan jenderal tanpa pasukan sedang mengeluarkan aura membunuh yang sangat intens pada mereka.


Akibat tekanan yang diberikan oleh Excel, para prajurit dengan panik bersujud sembari berkata, "Mo—mohon ampuni kami, Yang Mulia!"


BUAK!


"Ugh!" rintih salah satu prajurit yang kesakitan saat terlempar.


Excel pun menendang salah satu kepala prajurit tersebut, lalu ia berkata dengan nada kesal, "Jangan buat aku mengulangi perkataanku, Idiot!"


"Ba—baik, Yang Mulia!" timpal para prajurit yang gelisah.


Salah satu dari mereka pun bangkit dan pergi. Setelah beberapa saat menunggu, prajurit tersebut kembali dengan susah payah menarik seekor kuda perang hitam yang sangat mengintimidasi.


Ketika para prajurit melihat Excel yang dengan acuh tak acuh menaikinya, mereka keheranan karena kuda tersebut hanya dapat ditaklukkan oleh Excel seorang.


"A—apakah Anda tidak membutuhkan pengawalan, Yang Mulia?" tanya seorang prajurit dengan takut-takut.


"Hah?! Apakah kau meremehkanku, bodoh?!" tanya Excel kembali dengan kesal.


"M—mohon maafkan saya! Saya tidak bermaksud seperti itu, Yang Mulia!" jawab prajurit tersebut dengan ketakutan.


Meskipun Excel sangatlah kuat, ia tetaplah seseorang yang berasal dari keluarga kerajaan dan merupakan seorang gadis. Akan sangat tidak wajar apabila ia sendirian berkuda di kegelapan malam.


"Ayo, Lykan!" teriak Excel riang saat memacu kudanya.


Pltak!


Pltak!


Para prajurit hanya terpana saat melihatnya pergi menjauh. Tentunya, mereka memiliki perasaan yang sangat lega karena Excel tidak membawa seseorang dari mereka menuju kematiannya.


Ya, sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang yang tinggal di istana bahwa Excel akan membawa setidaknya satu kematian saat ia sedang kesal.


...----------------...