I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 65 : Pertemuan Aristokrat? Ayo Berangkat!



Tahun 1236, 1 Juli.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Sore Hari.


Beberapa lembar perkamen berada di tangan seorang aristokrat muda berambut biru saat dirinya berada di dalam kereta kuda sembari dirinya yang menatap pada matahari yang hendak terbenam.


Tidak merasakan sedikit getaran karena kereta kuda tersebut yang telah diberikan sistem suspensi di setiap rodanya, membuat Ares nyaman karena gerbong hanya akan bergetar jika melindas lubang yang sangat besar atau jalanan yang sangat tidak rata.


Namun, perhatiannya hanya terfokus pada beberapa lembar perkamen yang ada di tangannya yang membuatnya tidak merasakan sedikitpun kenyamanan gerbongnya yang telah dilengkapi suspensi.


Perdagangan manusia, kah...


Bagi Ares yang hidup di era modern, perbudakan adalah sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


Di era abad pertengahan, perbudakan adalah hal yang sangat dianggap penting karena memiliki efek sebagai salah satu penggerak roda ekonomi. Mayoritas budak berasal dari tawanan perang atau seseorang yang mengalami penculikan, entah individu tersebut berada di dalam perjalanan ataupun diculik dari desa mereka tinggal.


Tidak mungkin bagi Ares untuk menghapuskan perbudakan di era ini karena hal tersebut juga merupakan akal sehat dunia di samping akan terjadi keruntuhan ekonomi secara masif—yang tentunya tak lepas dari pertentangan berbagai kalangan dan biaya yang sangat besar.


Mengapa?


Tentu saja, apa yang akan terjadi apabila budak—yang mayoritas dari mereka berperan sebagai tenaga kerja—seketika menghilang?


Meskipun Ares dapat menerima perbudakan walaupun itu secara perlahan, namun isi dari perkamen tersebut membuatnya sedikit kesal karena dia bukanlah seseorang yang menyukai perbudakan.


Ya, salah satu lembar perkamen tersebut berisi mengenai Margrave Rueter yang melakukan perdagangan budak secara ilegal.


Dalam hukum yang dimiliki Kerajaan Rowling, menculik seseorang dari sebuah desa yang ada di dalam wilayah kerajaan adalah kejahatan. Hal tersebut berdampak pada pendapatan pajak seorang bangsawan—yang dihitung per kepala—menjadi berkurang. Sangat berbeda apabila budak tersebut adalah budak yang diculik dari negara lain.


Namun, Ares hanya merasakan sedikit kekesalan karena terdapat dua lembar perkamen lainnya yang merupakan dokumen asli dari transaksi perdagangan budak yang dituduhkan kepada dirinya.


Ya, kedua perkamen tersebut berisi besaran nominal dari Pangeran Kedua yang membeli budak tersebut serta perjanjian yang dilakukannya dengan Dark Guild Laguna.


Namun, entah mengapa hal tersebut membuat dirinya sekali lagi jatuh cinta kepada Excel. Ares tidak pernah menyangka bahwa tunangannya akan datang kepadanya hanya untuk melakukan sebuah hubungan sekaligus membawa lembaran perkamen yang dapat menyudutkan dirinya.


Tentu saja, kedua individu yang ditangkap oleh para ksatria pengawal telah ditahan di ruang bawah tanah mansion dan mendapat pengawasan yang sangat ketat.


Kedua sudut bibir Ares segera terangkat ketika dirinya mengingat Excel. Menanti wajah seperti apa yang dapat dibuatnya nanti, Ares hanya dapat dibuat penasaran olehnya.


Kupikir... aku harus lebih memanjakannya setelah ini.


Pandangan Ares segera berisi beberapa kereta kuda bangsawan dengan berbagai lambang yang berada di dekat kereta kudanya yang membuatnya telah berada di dekat istana. Melipat beberapa lembar perkamen tipis tersebut, dia pun memasukkannya ke dalam saku dalam kemeja putih glamornya.


Setiap tiga tahun, Raja memerintahkan agar semua bangsawan berkumpul di ibukota untuk mengukur kesetiaan para bangsawan wilayah secara langsung, di samping membuat mereka tetap berada di bawah kendalinya. Hal tersebut memiliki implikasi besar terhadap keamanan ibukota yang tentunya membuat sebagian besar tentara reguler berperan untuk menjaga keamanan.


Akan sangat buruk bagi nama baik dan prestise Keluarga Kerajaan apabila terdapat penyerangan dan terror selama pertemuan tiga tahunan berlangsung.


Tak berselang lama, Ares pun tiba di halaman istana dan turun dari kereta kudanya setelah pintunya dibuka oleh seorang ksatria.


Langkah kakinya sedikit berat, Ares sedikit memiliki rasa rendah diri dikarenakan hampir seluruh bangsawan datang secara berpasangan. Dia pun hanya berharap agar Excel dapat segera menghampirinya.


Beberapa langkah, seorang pelayan wanita berjalan mendekatinya dengan langkah yang sedikit gugup. Menilai bahwa pelayan tersebut aman untuk didekati, Ares pun bertanya, "Ada apa?"


"Tuan... Anda dipersilakan untuk menemui Yang Mulia Tuan Putri terlebih dahulu," ungkap pelayan tersebut dengan sedikit gugup.


Terperangah.


Ares benar-benar menantikan wajah merah tunangannya yang baginya benar-benar imut.


"Tolong bimbing aku kepadanya," timpal Ares dengan lembut.


"Baik, Tuan... mohon ikut dengan saya," balas pelayan tersebut dengan menundukkan dalam kepalanya lalu berbalik membimbing Ares.


Berbelok menuju arah lain di lorong, Ares berjalan melawan arus dari para bangsawan yang datang selama beberapa saat.


Tok.


Tok.


"Yang Mulia, saya telah membawa Tuan Margrave," ujar pelayan tersebut.


Pintu segera dibuka oleh seorang ksatria pengawal di dalam ruangan. Pandangannya segera tertuju kepada wanita cantik berambut putih yang mengenakan gaun putih yang sangat mewah.


Dadanya tertutup hingga leher dan rambut putihnya yang tergerai panjang dengan hiasan berupa bunga merah di dekat telinga kanannya, membuat Ares benar-benar ingin menyerang Excel dan mengabaikan acara pertemuan nanti.


Ares juga dapat melihat tangan putihnya hingga pergelangan tangan yang hanya tertutupi kain transparan karena gaun yang dikenakannya hanya menutup lengannya sampai siku. Pun tidak berbeda dengan seorang putri pada umumnya, Excel juga mengenakan sebuah sepatu hak tinggi berwarna putih.


Namun, perhatiannya hanya tertuju kepada wajah Excel yang benar-benar merah sedang teralihkan agar tidak menatap dirinya.


Mendekat, Ares benar-benar menjadi sangat bergairah karena terperangah dengan kecantikannya dan tercium bau yang semakin wangi.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Excel sedikit malu dengan tetap mempertahankan posisinya.


"Kukira... kata 'sangat cantik' saja tidak cukup untuk menggambarkan dirimu saat ini," timpal Ares.


Berlutut, Ares segera mengambil lengan kiri Excel dengan tangan kanannya dan mencium punggung tangannya.


"Yang Mulia, saya akan menjadi sesosok ksatria yang akan selalu menjaga diri Anda," ungkap Ares.


Suara lembut dan terasa penuh perhatian membuat detak jantungnya semakin kencang.


Wajahnya benar-benar merah, tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, Excel tidak tahu bagaimana harus membalas di samping menahan wajahnya agar tidak terlihat oleh tunangan yang dicintainya.


"Uh..." timpal Excel.


Suara lirih menusuk telinga Ares. Melirikkan kedua matanya ke atas, Ares melihat kedua pipi tunangannya merah merona.


Imut.


Kuh, aku tidak bisa menyerangnya saat ini!


Baik, mari bersabar untuk saat ini.


Bangkit dari posisinya semula dengan tetap menggenggam tangannya, Ares berkata, "Bolehkah?"


"Um?" timpal Excel yang kebingungan.


Ares segera mencium bibir merah merekah tunangannya yang tanpa satupun pertahanan tersebut.


Malu.


Bahagia.


Senang.


Entah apa yang harus dirinya rasakan saat ini, Excel hanya dapat membalas ciuman tunangannya dengan sedikit ganas.


Para pelayan dan ksatria pengawal yang ada di dalam ruangan hanya terdiam disaat melihat pasangan di depannya berciuman sangat lama.


Aktivitas mereka pun terhenti, dengan menggenggam lembut tangan kiri tunangannya sembari menundukkan ringan kepalanya, Ares berkata, "Yang Mulia, saya akan membimbing Anda."


"Baik, Ksatriaku," timpal Excel.


Senyuman indah tercipta di wajah Excel dengan setitik air mata yang menetes. Satu kesempatan dirinya merasa dilindungi—yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya, Excel berniat untuk berperan sebagaimana seorang putri kerajaan selama pertemuan aristokrat berlangsung.


...----------------...