I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 98 : Eye's of The Queen



Tahun 1236, 24 Agustus.


Kantor Ratu, Istana Kerajaan, Ibukota Kerajaan Gardom, Windfield.


Sore Hari.


Cahaya kemerahan menandakan matahari yang hampir terbenam menyinari sebuah kota yang masih berada dalam kesibukannya.


Berada di atas tanah datar dengan danau yang berada tidak jauh darinya, sangat mendukung aktivitas perekonomian para penduduknya.


Entah sebagai kota yang selalu menjadi titik transit para pedagang yang berkelana hingga ke luar negeri, atau aktivitas nelayan dari danau di dekatnya yang membuat komoditas perikanan yang sangat langka bagi kota lain, tidak terjadi di Ibukota Kerajaan Gardom, Windfield.


Kincir-kincir angin raksasa yang berputar di luar tembok ibukota, taman-taman yang berisi hamparan ribuan bunga yang sengaja dibuat di dekatnya, seolah menandakan bahwa kebahagiaan penduduk ibukota berada di titik tertinggi.


Tentu saja, hasil ini tidak lepas dari pemimpin yang memiliki pengaruh tertinggi di seantero Kerajaan Gardom, Ratu Florentia, beserta para pendahulunya yang telah mendukungnya dengan membuat sebuah pondasi kokoh baginya.


Menjadi satu-satunya anak dari raja sebelumnya, membuat mendiang suaminya, seorang pewaris dari keluarga aristokrat yang bergelar Marquis, menjadi seorang Raja, meskipun kekuasaan penuh selalu berada pada seseorang yang memiliki darah murni Keluarga Kerajaan Gardom.


Beberapa tahun berlalu, suami Florentia dinyatakan meninggal secara tiba-tiba dikarenakan suatu pendarahan otak—yang tentu saja alasan tersebut tidak diketahui oleh mereka.


Meskipun keluarga kerajaan memiliki keluarga cabang yang membuat penerus tahta dapat dikatakan dalam keadaan baik-baik saja, namun tidak sepatutnya Keluarga Kerajaan Gardom hanya memiliki dua anggota, yang merupakan putri semata wayang Florentia yang masih berusia satu tahun beserta Florentia sendiri.


Bersama putrinya, Florentia menghadapi banyak permasalahan negaranya, termasuk banyaknya proposal pernikahan dari bangsawan lain yang mengalir deras kepadanya.


Tidak mengenakan sebuah pakaian kebesaran khas seorang royalti, Florentia sering hanya mengenakan pakaian sederhana serta mantel yang menjadi ciri khas kepribadiannya, meskipun pakaian tersebut juga memiliki kualitas tingkat atas. Rambut putih panjangnya yang diikat dengan matanya yang bewarna kekuningan, sangat mendukung sosok cantiknya yang baru saja berumur 22 tahun tersebut.


Sedikit berbeda dengan ekspresi tenangnya yang biasa dia tunjukkan, terdapat kerutan kecil di atas dahinya disaat dia membaca sebuah laporan dari perkamen yang baru saja diserahkan kepadanya.


Para bangsawan pejabat negara tentu mengerti, hal tersebut menandakan bahwa situasi saat ini bagi Florentia telah menjadi sangat mendesak. Florentia pun menahan kepalanya dengan salah satu tangannya setelah meletakkan perkamen tersebut di atas mejanya.


"Berto, bagaimana situasi di perbatasan kerajaan?" Florentia berekspresi tegas.


Berbatasan wilayah secara langsung dengan Wilayah Duke Linius beserta Margrave Francois, membuat seluruh wilayah bagian barat kerajaan menjadi salah satu konsentrasi militer bagi Florentia—meskipun hampir tidak pernah terjadi suatu pertempuran, bahkan jika itu merupakan pertempuran berskala kecil.


Kedua belah pihak tentu mengerti, mereka tidak memiliki waktu untuk membuat konflik secara sia-sia. Duke Linius sangat disibukkan dengan perebutan tahta di ibukota serta Kerajaan Gardom yang sangat mewaspadai pergerakan dari dua kerajaan lain yang beraliansi dengannya—yang bersama-sama membentuk suatu negara bawahan, Kerajaan Normadia.


Meskipun Kerajaan Gardom merupakan kerajaan yang memiliki luas wilayah terbesar di dalam aliansi, militer ketiga negara dapat dikatakan setara. Hal tersebut dikarenakan Kerajaan Gardom selalu berfokus untuk mengembangkan perekonomiannya semenjak berakhirnya perang antar ketiga negara aliansi.


Satu masalah besar sekali lagi datang menimpa mereka. Mendapat kabar dari beberapa mata-mata yang diutus untuk pergi berdagang menuju konfederasi dan Kerajaan Natrehn, sangat membuat mereka mewaspadai akan timbul suatu kekacauan.


Tidak hanya pengumpulan wajib militer yang dilakukan oleh Natrehn selama beberapa bulan terakhir, pergerakan barang berupa persenjataan militer mengalir deras, seolah benar-benar menunjukkan secara jelas jika Natrehn benar-benar hendak berperang pada waktu yang tidak lama lagi.


Seorang bangsawan botak bertubuh kekar yang mengenakan zirah keperakan dengan beberapa garis luka wajah menjawab, "Untuk saat ini... tidak ada pergerakan dari dua rumah bangsawan perbatasan Kerajaan Rowling, Yang Mulia."


"Aneh." Florentia menjawab cepat.


Para bangsawan pejabat istana serta ksatria militer yang berada di dalam ruangan tentu mengerti maksud dari kata-kata Florentia.


"Permintaan maaf terdalam kami, Yang Mulia. Karena kurangnya informasi... kami tidak dapat menerka bagaimana Margrave Francois akan bergerak di masa depan mengingat wilayahnya yang berbatasan langsung dengan wilayah kerajaan dan konfederasi..." balas Berto dengan menundukkan dalam kepalanya.


"Tidak masalah, aku mengerti beban kalian yang selalu mengawasi pergerakan dua kerajaan aliansi lain," jawab Florentia.


"Aku akan meninggalkan ruangan untuk sementara, lanjutkan pekerjaan kalian." Florentia bangkit dari kursinya sembari memasang ekspresi lelah.


"Baik, Yang Mulia," jawab para bangsawan pejabat dan militer serempak.


Diikuti oleh seorang pejabat wanita berambut merah panjang yang diikat kuncir kuda yang mengenakan seragam militer—meskipun dia merupakan seorang pejabat birokrasi, Florentia menyusuri lorong menuju istana bagian dalam.


Beberapa bangsawan, ksatria, serta pelayan yang berpapasan dengan mereka berdua, segera membungkukkan dalam tubuhnya dengan sedikit terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa ratu mereka akan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.


Hingga berada pada zona istana bagian dalam yang tidak ada seorangpun di sekitar, Florentia menghentikan langkahnya yang segera diikuti oleh wanita di belakangnya.


"Leticia, hubungi 'mata.' Entah kenapa, aku menginginkan untuk meluangkan waktu dengan putriku," ujar Florentia.


"Apakah hal ini terkait dengan Duke Linius dan Margrave Francois?" tanya Leticia.


"Ya, namun tidak perlu terlalu memaksakan diri," jawab Florentia.


"Baik, Yang Mulia. Anda dapat mempercayakan hal tersebut kepada saya, silakan menikmati waktu Anda," timpal Leticia.


Florentia sekali lagi melangkahkan kakinya dan berbelok menuju persimpangan lorong.


Melihat Tuannya telah pergi, Leticia menghela napas dalam. Berjalan menyusuri lorong yang berbeda dengan yang dilewati oleh Florentia sebelumnya, Leticia pun segera bertemu dengan sebuah anak tangga yang menuju kegelapan bawah tanah.


Tap.


Tap.


Leticia menggenggam gagang pedangnya yang tersarung di samping pinggul kanannya. Meskipun Leticia mengetahui jika "mata" memiliki kesetiaan kepada Ratu hingga melebihi dirinya sendiri, namun sikapnya sangat keterlaluan yang membuatnya harus menjaga dirinya sendiri selama bertemu dengannya.


Hingga tiba di sebuah ruangan kosong dengan sebuah pintu besi, Leticia menghirup napas dalam.


"Eye's of Queen, laksanakan tugasmu. Wilayah perbatasan Kerajaan Rowling, tidak perlu membuat keributan," perintah Leticia tegas.


ZRAKK!


Pintu besi tersebut terbuka dengan kasar. Sesosok laki-laki bermata merah yang memiliki rambut hitam tidak teratur pun keluar darinya.


"Oh, Leticia? Aku sangat bosan karena tidak melakukan apapun selama ini, kau tahu?" Sembari tersenyum menakutkan, Eye's of Queen memasang sebuah topeng keperakan di atas wajahnya.


"Lakukan, jangan banyak bicara." Leticia mendengus kesal sembari berbalik pergi.


"Durasi waktu?" Pertanyaan tersebut sejenak menghentikan langkah kaki Leticia.


"Kembali sebelum musim dingin tiba," jawab Leticia lalu melangkahkan kakinya kembali.


Berlawanan dengannya, Eye's of Queen pun berbalik kembali memasuki pintu besi dan melakukan persiapan untuk menuju perbatasan kerajaan tepat setelah matahari terbenam.


...----------------...