I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 39 : Terkadang, Pembantaian Itu Tidak Menghasilkan Apapun, Kau Tahu?



Tahun 1236, 11 April.


Sisi Selatan Benteng Ligard, Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.


Pagi Hari.


"Ares, apakah kau tidak memiliki gerbong yang lebih baik daripada ini?" tanya Excel yang sedikit sebal.


Mendengar hal tersebut, Ares hanya mengerutkan keningnya karena sakit kepala dengan permintaan gadis yang berada di sampingnya selama dua hari terakhir.


"Saya... akan membuatkan gerbong khusus untuk Anda dimana nantinya akan lebih nyaman daripada gerbong yang dimiliki oleh keluarga kerajaan... Excel," jawab Ares lalu tersenyum paksa dengan kerutan di dahinya.


"Begitu, baiklah!" balas Excel yang riang kembali.


Cih, aku harus memikirkan cara agar aku dapat membuangnya—tidak, dia akan membunuh seseorang tanpa aku sadari lagi!


Bagaimana aku harus membuatnya tidak menyebabkan masalah serta tidak menggangguku?!


Sialan, aku benar-benar bingung!


Bahkan, aku belum tidur sejak tadi malam karena terus mengurusmu!


Pikiran Ares berputar sangat cepat karena memikirkan berbagai hal untuk menjauhkan gadis merepotkan di depannya meskipun ia terlihat sangat tenang dari luar. Tentunya, dia harus menjaga sikapnya karena sedang menemani tunangan tidak resminya yang juga merupakan seorang putri.


Dua hari telah berlalu semenjak Ares membantai Barlock dan pasukannya. Setelah memenggal kepala Barlock dan menyimpannya sebagai oleh-oleh untuk Raja, Ares memberikan perintah kepada 700 pasukan infanterinya untuk mengubur para mayat dan mendaki pegunungan secara perlahan melalui jalur lain untuk membakar Benteng Veldaz yang saat ini kemungkinan besar akan menjadi sumber wabah.


Tentu saja, ia memerintahkan pasukannya agar membersihkan benteng dengan menggunakan pakaian sekali pakai dan tidak bersentuhan langsung dengan para mayat.


Segera setelah itu, Ares menerima surat burung dari Don dimana Count berniat untuk membajak seluruh pasukannya dengan pasukan utamanya yang telah bergabung. Mengetahui hal itu, ia membalasnya dengan memerintahkan Don untuk segera berangkat menuju Wilayah Perbatasan Natrehn meninggalkan Count Dupent yang sangat egois.


Ares pun membawa prajurit kavaleri dan infanterinya yang tersisa menuju tempat dimana Don menunggu yang berjarak dua hari perjalanan dengan rombongan yang menggunakan kuda perang. Ia juga memerintahkan 20 prajurit wanita untuk membawa Esther kembali menuju Kota Ereth karena masih berada dalam kondisi pingsan.


Tok.


Tok.


"Kami telah tiba, Tuan," ujar Gnery di luar gerbong.


Seketika, Ares menjadi sumringah karena ia dapat segera berhenti mengurus gadis merepotkan yang duduk di sampingnya.


"Nah, mari pergi..." ajak Ares saat pintu gerbongnya terbuka.


"Ck," ujar Excel yang mendecakkan lidahnya dan mendengus kesal.


Aku dapat mendengarmu, kau tahu?!


Bukankah kau seorang putri?!


Sopanlah!


Dengan mengulurkan tangannya, Ares tersenyum kepada Excel meskipun ia sangat jenuh dengan tingkah lakunya. Mereka berdua turun dari gerbong dan disambut oleh Don, Robert, serta Canaria yang telah berlutut di depan pintu gerbong dengan beberapa perwira di belakang mereka.


"Selamat datang, Yang Mulia, Tuan," sambut mereka bertiga serempak dengan tegas.


"Ya," jawab Ares.


"Oke," timpal Excel dengan nada malas.


Ares serta Excel pun dibimbing untuk memasuki tenda besar yang berada tepat di belakang para perwira. Setelah Ares dan Excel duduk berjajar dengan kursi yang lebih tinggi daripada perwira lainnya, Canaria pun membuka lembaran perkamen besar yang menunjukkan peta wilayah ini.


Hmm, apakah jarak perkemahan ini dengan Benteng Ligard sekitar 2 km?


Ares mengamati peta yang telah digambarkan oleh para pengintai Canaria dengan seksama meninggalkan Excel yang menutup matanya karena mengantuk.


"Saya telah menggambar peta ini sesuai dengan laporan unit pengintai di bawah komando saya. Karena kami telah membakar Benteng Ligard sebelumnya, menurut rumor yang kami dengar, mereka meningkatkan bala bantuan sebesar 20.000 prajurit yang akan tiba sekitar 1 pekan lagi. Pasukan bala bantuan yang berukuran sekitar 15.000 prajurit telah tiba tepat satu hari yang lalu di Benteng Ligard untuk menormalisasi keadaan benteng. Menurut—" ujar Canaria yang melaporkan keadaan.


BRUK!


Pandangan semua orang pun seketika teralihkan menuju sumber suara dan menemukan Excel yang telah jatuh karena tertidur di atas meja yang membuat semua orang kebingungan.


Ares pun menutup matanya dan mengambil napas dalam.


"Apakah... tidak apa-apa, Tuan?" tanya Robert sedikit gelisah.


"Tidak apa-apa. Aku yang bertanggung jawab atasnya," timpal Ares acuh tak acuh.


Merasa tidak tahu harus berbuat apa, mereka semua sepakat mengikuti perintah Ares dalam diam.


"Menurut laporan yang dibawa oleh unit pengintai, saat ini mereka telah mengetahui lokasi perkemahan kami dan kemungkinan besar akan mempertahankan benteng karena Benteng Ligard merupakan titik penting bagi mereka," lanjut Canaria dengan serius.


"Dua jenderal lain?" tanya Ares untuk memastikan.


"Kami tidak mendapat laporan bahwa mereka memimpin pasukan bala bantuan, Tuan," jawab Canaria lugas.


Hmm, aku hanya membawa 10.000 karena kupikir Lavreigh akan patuh denganku.


Lagipula, aku bersyukur karena bala bantuan mereka lebih sedikit daripada perkiraanku.


Setelah sejenak terdiam karena mempertimbangkan berbagai hal, Ares berkata, "Aku akan menghancurkan Benteng Ligard dengan ketapel batu tipe api."


Semua perwira yang mendengarkan menjadi terkejut. Seolah keberatan, Canaria berkata dengan sedikit panik, "Apakah Anda bersungguh-sungguh, Tuan? Bukankah kami telah menyepakati untuk menyembunyikan senjata terbaru kami untuk saat ini?"


Hmm, benar.


Ini belum saatnya.


Aku menggunakan ketapel batu berapi karena aku memastikan kami dapat membantai seluruh saksi mata.


Meskipun aku membantai dan menghancurkan benteng secara langsung, jika mereka berjumlah sekitar 15.000, pasti ada yang akan lolos dari pengejaran tentaraku.


Tentunya, sangat berbeda dengan keadaan pertempuran kaki pegunungan sebelumnya yang secara medan lebih menguntungkan bagi Ares karena musuh berada di jalan lereng yang sempit yang dikelilingi hutan sehingga mereka dapat membantai 15.000 orang tanpa masalah.


Jika Ares memaksakan untuk menghancurkan Benteng Ligard yang berada di tanah datar dan tidak memiliki hutan di sekitarnya, dapat dipastikan beberapa perwira dapat kabur dan menyebarkan persenjataan terbaru mereka.


"Jika begitu, kami akan melakukan pertempuran pengepungan," jawab Ares.


"Bagaimana bila kami terkepung dari dua arah mengingat pasukan tambahan mereka yang akan datang sekitar 1 pekan lagi, Tuan?" tanya Don dengan mengerutkan keningnya.


"Tidak apa-apa. Pengepungan ini akan selesai dalam satu hari... atau paling lama mungkin tiga hari," jawab Ares dengan tersenyum masam.


Seolah tidak percaya, Robert bertanya, "Apakah benar-benar mungkin... Tuan?"


"Gnery," panggil Ares tanpa berbalik dengan menatap para perwiranya dengan tersenyum.


"Ya, Tuan!" ujar Gnery yang berdiri di dekat pintu tenda dengan memberi hormat lalu pergi ke luar tenda.


Setelah menunggu beberapa saat, Gnery kembali memasuki tenda dengan membawa sebuah kotak yang berukuran sekitar 50x50x50 cm dan menempatkannya di atas meja.


Gnery pun membuka kotak tersebut yang membuat semua perwira seketika terkejut.


"Ba—bagaimana bisa Anda mendapatkannya, Tuan?" tanya Don yang matanya terbuka lebar.


"Hm? Aku memenggalnya sendiri, kau tahu?" jawab Ares dengan tersenyum kecut.


Ya, di dalam kotak tersebut, berisi kepala salah satu dari tiga jenderal besar Kerajaan Natrehn, Barlock von Renus, yang dikenal sangat kuat dan telah memenangkan banyak peperangan karena dikenal dapat menggerakkan pasukannya seperti anggota tubuhnya sendiri.


"Saya... benar-benar sangat terkejut, saya berpikir mungkin saja jantung saya akan berhenti berdetak, Tuan," ujar Canaria yang terpana.


"Jika mengetahuinya, ayah Anda akan sangat bangga kepada Anda, Tuan," ujar Don yang mengubah ekspresinya menjadi tersenyum hangat.


"Jika begitu, segera bersiap dan menuju Benteng Ligard. Tempatkan kepala Barlock di atas tombak tertinggi di sebelah bendera pasukan kami," perintah Ares tegas.


"Ya, Tuan!" jawab para perwira tegas.


Mereka pun segera bangkit dari kursinya lalu memberi hormat kepada Ares dan pergi. Ares sekali lagi mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang tertidur di sampingnya.


"Nah... jika kamu diam seperti ini, kamu terlihat sangat cantik, kau tahu?" ujar Ares yang menatap Excel dengan tatapan rumit.


...----------------...