
Tahun 1236, 20 Maret.
Desa Korteca, Wilayah Margrave Rueter, Kerajaan Rowling.
Menjelang Matahari Terbenam.
Tok.
Tok.
"Tuan, kami telah sampai di Desa Korteca," ujar seorang ksatria dari luar gerbong.
"Ya," timpal Ares dari dalam gerbong.
Sesaat kemudian, pintu gerbong yang dinaiki Ares dibuka oleh prajurit tersebut.
Setelah turun dari gerbong, hanya pemandangan sebuah rumah dua lantai yang terbuat dari kayu dengan beberapa orang tua dan prajurit desa yang dapat dilihat oleh Ares.
"Selamat datang di Desa Korteca, Tuan," ujar orang tua tersebut dengan membungkukkan tubuhnya diikuti oleh semua orang yang menyambut Ares.
"Maaf, aku akan merepotkanmu, Kepala Desa," timpal Ares dengan tersenyum lembut.
"Ti—tidak, Tuan. Justru, kami sangat tersanjung dan merasa terhormat apabila Tuan Ares mengunjungi desa ini sebagai tempat persinggahan Anda," balas Kepala Desa dengan gelisah.
"Oke," timpal Ares.
Ares dan rombongannya pun dibimbing oleh Kepala Desa untuk memasuki rumah tamu tersebut.
Setelah membersihkan diri serta makan malam, Ares berserta Mia pergi ke kamar yang telah dipersiapkan untuk mereka berdua. Ares bertanya kepada Mia yang saat ini berdiri di dekat pintu masuk, "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Sa—saya baik-baik saja, Tuan," jawab Mia dengan ekspresi yang terlihat kesakitan.
"Beristirahatlah terlebih dahulu, Mia," balas Ares yang khawatir.
"Te—terima kasih, Tuan," timpal Mia lalu berjalan mendekati ranjang.
Satu hari tepat sebelum Ares pergi meninggalkan Kota Hauzen, salah satu gundik Ares, Mia, telah mengalami tanda-tanda kehamilan.
Karenanya, Ares menginginkan untuk segera kembali menuju Kota Ereth karena khawatir terhadap kondisi Mia.
Meskipun bergitu, ia memilih jalur yang setiap malamnya akan menemui desa atau kota pos agar Mia dapat beristirahat dengan nyaman. Tentunya, hal tersebut menyebabkan perjalanan mereka menjadi lebih lama karena mereka harus bergerak dengan cara memutar.
Setelah menidurkan Mia di atas ranjang, Ares pun duduk di sisinya. Namun, ekspresi Mia terlihat sedang mengalami kesulitan.
"Ada apa?" tanya Ares dengan lembut.
"Ti—tidak, Tuan..." jawab Mia gugup.
"Tidak apa-apa. Katakan saja," timpal Ares dengan tersenyum menenangkannya.
"Um... terima kasih, Tuan. Sebenarnya... ketika saya mendengar nama desa ini, saya mengingat sesuatu hal yang tidak menyenangkan yang pernah dikatakan oleh teman saya yang berasal dari desa ini," ujar Mia sedikit gelisah.
"Apa itu?" tanya Ares penasaran.
"Ia berkata bahwa terdapat seorang anak yang telah dikutuk oleh iblis yang dikurung di desa ini," jawab Mia sedikit gelisah.
Hm?
Mengapa aku baru mendengarnya?
Bahkan, aku tidak pernah mengetahui adanya hal seperti itu saat masih bermain game ini.
Ares hanya dapat terdiam setelah mendengar perkataan Mia. Ia pun melingkarkan tangannya di atas kepala Mia dan membelai rambutnya untuk menenangkannya.
"Nah, tidak apa-apa. Istirahatlah untuk saat ini," ucap Ares dengan membelai kepala Mia.
Setelah membelai kepala Mia hingga ia tertidur, Ares pun mencium keningnya lalu bangkit untuk keluar dari kamarnya.
Saat mencapai ruang dimana pintu masuk rumah berada, Ares menemukan Gnery dan delapan prajurit yang berjaga di dalam rumah. Ia pun juga melihat beberapa pencahayaan di luar jendela dimana prajurit berjaga.
"Apakah kalian tidak bersenang-senang?" tanya Ares dengan tersenyum masam.
Saat mendengar suara Ares yang tiba-tiba muncul, Gnery dan lima prajurit pria dengan panik berbalik dan memberi hormat sembari berkata, "Ti—tidak, Pak!" dengan diikuti oleh para prajurit wanita memberi hormat.
"Kami telah meluangkan waktu saat berada di Kota Hauzen!" sambung Gnery dengan panik.
Saat melihat banyak prajurit pria yang panik tersebut, para prajurit wanita hanya menatap mereka dengan tatapan yang mencemooh.
Ares telah memikirkan para prajuritnya yang membutuhkan minuman keras serta beberapa hiburan untuk mereka. Namun, ia tetap membatasi mereka untuk tidak menyentuh para rakyat jelata dan hanya memerintahkan mereka untuk bermain di distrik lampu merah.
Tentu saja, itu berbeda dengan perlakuan terhadap tawanan perang yang harus diputuskan oleh seorang bangsawan terlebih dahulu.
Meskipun mereka sedikit tidak puas, mereka hanya dapat diam dan menerimanya karena Ares telah memberi gaji dengan pensiun pada mereka disamping Ares yang merupakan seorang aristokrat yang memegang kekuasaan penuh terhadap Wilayah Rueter.
"Begitukah? Yah, aku tidak keberatan jika kalian menyentuh seorang wanita di desa ini selama mereka mengizinkannya dengan syarat kalian akan bertanggung jawab nantinya," timpal Ares yang keheranan dengan sikap Gnery dan prajurit lainnya.
"I—itu..." ujar seorang prajurit pria dengan gelisah.
"Nah, jika kalian hanya ingin bermain, bermainlah di tempat yang seharusnya," balas Ares dengan tersenyum masam.
Bagi Ares, yang memiliki moral sebagai seorang manusia yang hidup pada zaman modern, sangat memiliki tanggung jawab kuat dalam menjalin suatu hubungan. Tentunya, itu sangat berbeda dengan akal sehat abad pertengahan yang berlaku di dunia ini.
Seolah mengalihkan topik, Gnery bertanya, "Tu—Tuan, hal apa yang membawa Anda kemari?"
"Oh, benar. Siapkan 2 regu bersama pengawal pribadiku dan panggil Kepala Desa, aku ingin keluar sebentar," jawab Ares seolah ingat.
"Bo—bolehkah saya bertanya kemana tujuan Anda, Tuan?" tanya Gnery gelisah setelah melihat sikap Ares yang tidak wajar.
"Hm? Ikuti saja," jawab Ares heran.
Kemudian, mereka semua keluar dari rumah menyisakan beberapa prajurit wanita untuk menjaga kediaman dimana Mia tinggal.
"Heh?!" ujar semua prajurit karena sangat terkejut.
Saat Ares mengalihkan pandangannya menuju para prajurit, mereka mengubah ekspresinya menjadi serius kembali menyisakan beberapa diantara mereka yang menyumpal mulut mereka dengan tangannya.
Saat Ares melihat beberapa diantara para prajuritnya yang terlihat gemetar ketakutan, ia hanya memandang mereka dengan tatapan yang mengejek.
Cih, menyedihkan.
Apakah kamu benar-benar seorang prajurit?
Kepala Desa pun memiliki ekspresi wajah yang terlihat gelisah, ia pun membuka mulutnya namun ia segera menutupnya kembali seolah berada di dalam kesulitan.
"Katakan, ini perintah," ujar Ares lugas.
"Ba—baik, Tuan. I—itu benar, namun kami mengisolasinya karena perilakunya yang tidak wajar," balas Kepala Desa dengan gelisah.
"Yah, tidak apa-apa. Antarkan aku," timpal Ares seolah tidak peduli.
"B—baik, Tuan!" balas Kepala Desa gelisah.
Kepala Desa tersebut membimbing Ares beserta para prajurit menuju ke pinggiran desa dimana hanya terdapat sebuah rumah kecil yang terkesan sangat kumuh dan kusam.
Ares pun melangkahkan kakinya untuk mendekati pintu tersebut—
"T—Tuan! Harap untuk berada di belakang kami untuk memaksimalkan penjagaan Anda!" ujar Gnery panik dengan sedikit gemetar ketakutan.
Cih, menyedihkan.
Kalian hanya akan memperlambatku.
Dengan acuh tak acuh, Ares mendekati pintu tersebut dan membuka pintunya yang terlihat sangat kumuh.
KRIIEEETT.
Saat melihat seseorang yang berada di dalamnya, Ares hanya mengerutkan keningnya karena ia melihat seorang gadis remaja berambut putih pendek yang berada dalam kondisi terbaring di lantai kayu dengan lehernya yang diikat oleh rantai.
Karena rasa penasarannya, ia merapal, "Appraisal" dengan menargetkannya.
......................
...[Status]...
Nama : Esther
Umur : 13 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Gelar : Anak yang Dikutuk oleh Iblis
Afiliasi : Desa Korteca, Wilayah Margrave Rueter
Statistik
Keahlian Senjata : 37 (+0)
Kelincahan : 76 (+0)
Kepandaian : 75 (+0)
Tubuh : 9 (+0)
Kepemimpinan : 21 (+0)
Loyalitas : –35
Moral : –19
Pelatihan : 24
......................
Gila...
Sebelumnya, aku tidak pernah melihat statistik yang sangat rendah hingga mencapai negatif...
Namun, apakah dia juga merupakan seorang irregular seperti Putri Excel?
Mengapa dia tidak muncul di dalam game?
Saat melihat status yang dimiliki oleh gadis tersebut, Ares hanya dapat terpana ketika melihatnya seolah menyaksikan hal yang luar biasa.
Seketika, ekspresi wajah yang dimiliki Ares berubah menjadi senyuman dan ia melangkahkan kakinya menuju Esther yang saat ini berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
"Tu—Tuan, mohon untuk—" ujar Gnery panik dengan berlari menuju Ares namun dihentikan dengan tanda yang diberikan oleh tangan Ares.
Setelah mendekatinya, Ares berjongkok tepat di hadapan Esther dan mengulurkan tangannya sembari berkata dengan nada riang, "Apakah kamu ingin selamat dari kehidupan yang menyedihkan seperti ini?"
Esther pun mendongakkan wajahnya ke atas untuk menatap Ares dengan matanya yang terlihat kosong. Dengan gemetar, Esther menggerakkan tangannya secara perlahan untuk menggapai uluran tangan Ares.
Apakah aku... benar-benar dapat terbebas dari penderitaan ini?
Tolong... siapapun...
Bantu aku...
Aku... sudah tidak sanggup lagi.
...----------------...