
Tahun 1236, 7 April.
Benteng Ligard, Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.
Malam Hari.
Seorang perwira bertubuh kurus yang mengenakan seragam militer dengan pangkat kapten di bahunya sedang berlari untuk menyusuri lorong gedung terbesar yang berada di dalam benteng.
Setelah tiba di depan sebuah pintu dengan ornamen yang terlihat sedikit mewah, ia menggedor pintu tersebut seolah tidak sabar meskipun yang berada di dalamnya adalah atasan langsungnya dan merupakan seorang bangsawan dengan pangkat baron.
DOK!
DOK!
"Letnan Kolonel Zerry! Kami sedang diserang!" ujar perwira tersebut.
DOK!
DOK!
"Jangan berkata omong kosong, Sialan! Kami berada di garis belakang!" timpal Zerry dari dalam ruangan dengan nada kesal.
GRAK!
Karena tidak sabar, perwira tersebut pun menendang pintu tersebut hingga rusak.
"Ap—apa yang kau lakukan, Sialan?!" teriak Zerry kesal saat melihat perwira tersebut memasukinya dengan paksa.
Di dalamnya, ia melihat atasannya yang berotot tidak mengenakan satu helai pakaianpun sedang bermain dengan para tawanan wanita dari desa-desa yang telah mereka jarah.
"Tuan, kami benar-benar sedang diserang!" teriak perwira muda tersebut dengan keras.
DUAK!
"Ukh!" ujar wanita tersebut kesakitan.
Karena sangat kesal, Zerry pun menendang wanita yang berada di depannya lalu mengambil pedang dan mendekati perwira tersebut.
"Tuan—" ujar perwira tersebut.
JRASH!
Tanpa penundaan, kepala perwira tersebut terputus dari lehernya karena Zerry menebas lehernya.
"Hiii!" ujar seorang wanita yang melihat kepala perwira terjatuh di depannya.
"Cih, aku sudah tidak mood. Lagipula, jangan berkata—" ujar Zerry dengan mengalihkan pandangannya menuju jendela.
Saat melihat jendela yang menampilkan keadaan benteng yang dipenuhi warna merah, Zerry menjadi sangat panik dan segera mengenakan pakaiannya lalu pergi dari ruangan tersebut.
Karena letak gedung tersebut yang berada di tengah-tengah benteng, ia segera melihat dua orang wanita berambut putih dengan beberapa prajurit pria sedang membantai para prajuritnya setelah keluar dari gedung tersebut.
"Ahahaha!" teriak Excel kegirangan.
Namun, Zerry segera merasakan keringat dingin yang mengucur dari kulitnya.
"Yang Mulia, saya menemukan serangga yang pantas untuk dipotong secara perlahan," ujar Esther saat melihat Zerry dengan tatapan gelap.
Setelah menebas beberapa orang, Excel mendekatinya dan berbisik, "Berikan ia rasa sakit sehingga ia meminta kematian padamu."
Segera, Esther merubah ekspresinya menjadi tersenyum gelap, ia pun berlari mendekati Zerry yang berjarak sekitar 25 meter darinya.
JRASH!
JRASH!
JRASH!
Dengan menebas beberapa kepala prajurit musuh saat mendekati Zerry, Esther tiba di dekat Zerry hanya dalam waktu sekitar 10 detik.
Hanya satu hal yang dapat Zerry pikirkan saat ia melihat Esther ketika mendekatinya yang sedang memegang pedang dengan gemetar.
Dewa kematian...
JRASH!
Tanpa penundaan, Zerry merasa tangannya telah menghilang dari tubuhnya.
DUAK!
"Argh!" teriak Zerry saat ditendang Esther dan terjatuh.
Dengan menginjak pangkal lehernya, Esther mendekatkan wajahnya ke telinga Zerry dan berbisik, "Berapa lama kamu menyiksa orang yang tertindas sepertiku?"
"Ak—aku—argh!" jawab Zerry dan berteriak karena punggungnya yang ditusuk oleh Esther.
"Sudah berlangsung puluhan bulan, bukan? Atau... puluhan tahun?" bisik Esther dengan tersenyum gelap.
Setelah mendengarnya, Zerry hanya dapat menatap Esther dengan tatapan penuh ketakutan.
Hati Ares hanya menjerit ketakutan ketika melihat gadis polos yang telah dia selamatkan dahulu terlihat seperti dewa kematian.
Me—mengapa Esther menjadi seperti itu?!
Apakah dia telah dipengaruhi oleh Excel?!
Kuh, seharusnya aku memisahkan mereka!
Ares hanya menyesali dirinya yang tidak memisahkan kedekatan Excel dan Esther selama satu hari kemarin.
Jika ini terus berlanjut, aku bisa saja kehilangan kepalaku!
Oi, sadarlah, Excel!
Karena perilakunya yang begitu sembrono, Ares benar-benar mengutuk tindakan tunangannya yang tidak memperhatikan keselamatannya sendiri.
"Tembak!"
Ares mengalihkan pandangannya menuju sumber suara dan menemukan banyak anak panah terbang menuju ke arah mereka.
Apakah kalian tidak mempedulikan rekan kalian sendiri?!
Cih, terserah!
"Berlindung!" teriak Ares kepada para prajuritnya.
"Cih," ujar Ares mendecakkan lidahnya.
JLEB!
Sebuah tombak pendek di arahkan kepada Ares dari balik tubuhnya. Karena merasakan nafsu membunuh, Ares sedikit menghindarkan tubuhnya yang menyebabkan prajurit tersebut menusuk prajurit Natrehn yang berada di depan Ares.
"Argh!" teriak prajurit yang tertusuk lalu jatuh tersungkur.
"Hah?!" ujar prajurit tombak itu terkejut.
Ares pun melipat kakinya dengan mengarahkan tumitnya menuju alat vital yang menggantung diantara kedua kaki prajurit tombak tersebut.
DUAK!
"Argh!" teriak prajurit itu lalu jatuh berlutut dengan memegangi alat vitalnya.
Ares pun berputar dengan menghunuskan pedangnya.
JRASH!
Kepala prajurit yang tertendang seketika terputus. Ares langsung mengambil kepala prajurit itu dan melemparkannya ke arah jalur anak panah yang akan mengenai Excel.
JRAT!
Dengan kemampuan refleksnya serta kalkulasinya yang sangat terlatih, Ares dapat memprediksikan gerak parabola sehingga kepala prajurit yang dilemparnya dapat mengenai anak panah yang meluncur menuju punggung Excel.
DUAK!
Ares menendang prajurit di depannya dan segera berlari mendekati Excel dengan membantai prajurit yang dilewatinya.
Cih, meskipun mereka hanya memiliki statistik rata-rata yang berkisar pada 20 hingga 35, tetap saja jangan terlalu sembrono!
"Excel! Kami akan dikelilingi, ayo berlindung terlebih dahulu!" teriak Ares.
Ketika mendengar teriakan Ares, Excel melemparkan bom molotovnya ke arah gerombolan prajurit Natrehn.
DUAARR!
"Arrghh!"
"Ugh!"
"Aahhhh!"
Excel menolehkan wajahnya dengan ekspresi yang tidak puas, ia pun berteriak, "Aku masih sanggup, Ares!"
Kuh!
Jika kau ingin mati, matilah sendiri!
Jangan ajak aku!
Cih, aku harus melakukan cara itu!
"Ak—aku tidak ingin gadis yang sangat kusayangi terluka!" teriak Ares yang gelisah.
Meskipun terkena efek dari hormon adrenalin, jantung Excel secara naluriah berdetak semakin kencang setelah mendengar perkataan Ares meskipun ia terlihat sangat tenang dari luar.
Excel pun berkata dengan nada senang, "Baik!" sembari menebas kepala seorang prajurit Natrehn di dekatnya.
Ares segera membuka jalan menuju kuda mereka dan diikuti oleh Excel. Namun, dia mengalihkan tujuannya menuju Esther karena sedikit kasihan dengan prajurit musuh yang hampir tidak berbentuk manusia lagi.
JLEB!
JLEB!
JLEB!
"A—apa yang Anda lakukan, Tuan?!" protes Esther dengan keras setelah melihat Ares menusuk orang-orang yang sedang disiksa olehnya.
"Ayo kembali! Kita akan mati jika dikelilingi lebih dari 1.000 musuh!" timpal Ares dengan keras.
"Eh?" ujar Esther yang kebingungan.
Karena tidak dapat membalas perkataan Ares yang sangat masuk akal itu, mau tidak mau ia pun menerimanya. Ares pun segera menarik Esther dan menggendongnya di bahunya.
"Kyaa! Tu—Tuan!" teriak Esther saat diangkat secara tiba-tiba.
Pltak!
Pltak!
"Ayo, Ares!" teriak Excel yang terlihat memiliki wajah sedikit memerah dengan menunggangi kuda perangnya.
Ares menaiki kuda perang hitam di belakang Excel dan pergi mencari kuda perangnya. Setelah menemukannya, mereka pun bergegas menuju gerbang selatan karena telah melihat banyak bangunan di dalam benteng yang telah terlalap api.
Kuh!
Meski sangat melenceng dari rencanaku sebelumnya, tetap saja rencana ini berhasil!
Matahari hampir terbit, ayo berkumpul dengan para prajuritku dan beristirahat.
Setelah itu, aku harus berperang dengan bala bantuan musuh.
"Hah..." ujar Ares yang menghela napas lega.
Pltak!
Pltak!
Ares, Excel, Esther, dan para prajurit kelompoknya pun kabur dari benteng yang di dalamnya terdapat banyak bangunan yang terlihat telah dijalari oleh api yang semakin membesar.
Mereka menuju titik kumpul yang telah ditentukan untuk bertemu tiga kelompok kavaleri yang lain dan para sandera yang dapat mereka selamatkan.
...----------------...
Catatan :
Satu like sangat berarti bagiku untuk menulis novel ini!
...----------------...