
Tahun 1236, 17 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Malam Hari.
Dug!
Dug!
Dug!
Gema tabuhan berirama dari suatu drum yang terbuat dari kulit White Deer, mengiringi suasana remang panggung batu yang berada di tengah desa yang di sisinya memiliki sebuah bara api besar yang menyala.
Sorak sorai para penduduk desa ramai terdengar. Sebuah ritual yang sangat jarang dilakukan, menjadi hiburan serta kebanggaan tersendiri bagi mereka karena dapat sekali lagi melaksanakannya—yang tidak berbeda dengan perilaku para fanatik dari sebuah kepercayaan di dunia Ares sebelumnya.
Battle of Death.
Sebuah ritual dimana membuat dua orang dari masing-masing pihak yang berbeda untuk bertarung hingga titik darah penghabisannya. Demi mencapai titik temu, Harek membuat Ares—yang menunjuk Gale sebagai perwakilannya agar dirinya juga dianggap memiliki bawahan kuat—untuk mengikuti ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berbeda dengan ketiga suku besar lain, Suku Utara sangatlah memegang teguh adat istiadat mereka, meskipun mereka sendiri juga berperang serta melakukan penjarahan kepada banyak suku lain yang merupakan ciri khas suku utara dari Benua Barat.
Tentu saja, Astrid, Havarr, serta Alfr sangat mengetahui implikasi mengenai alasan Harek membuat Ares mengikuti ritual turun temurun mereka.
Ya, Harek tidak ingin Ares menganggap remeh suku-suku yang mendiami tanah utara—meskipun hal tersebut dilakukan Ares hanya untuk memancing emosi mereka.
Meskipun begitu, mereka bertiga tidak luput dari kegelisahan dan kecemasan. Hanya dapat terdiam bak nasi telah menjadi bubur, Astrid, Havarr, serta Alfr hanya dapat berharap untuk kemenangan Gale dan Ares di atas panggung.
Berdiri di luar sisi panggung, sedikit kecemasan nampak di atas wajah Gale karena tidak mengetahui apapun mengenai ritual yang akan dijalankan olehnya, meskipun dia telah dipersiapkan selama seharian penuh sebelumnya.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan?" tanya Gale dengan lirih kepada Ares yang berdiri di sampingnya.
Mengapa kamu bertanya?
Sudah jelas, bukan?
"Bunuh saja dengan cepat, waktu adalah uang," jawab Ares dengan nada penuh keheranan.
"Eh?" timpal Gale yang terkejut.
"Hm, ada apa?" tanya Ares.
"Mengapa saya baru mengetahui jika ini adalah sebuah pertarungan kematian?" tanya Gale kembali.
"Yah, mengapa kau tidak bertanya? Lagipula, dia hanyalah seekor cacing di hadapanmu. Tidak perlu khawatir," timpal Ares dengan acuh tak acuh.
Meskipun bukan hal tersebut yang menjadi alasan kecemasan Gale, dia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lebih lanjut kepada dan menghela napas dalam.
Ares juga tidak luput dari tindakan pencegahan, tidak mungkin dirinya akan merasakan suatu perasaan aman jika dia berada di tengah-tengah kelompok yang dianggapnya abu-abu—entah itu dapat menjadi musuh ataupun sekutu.
Ares telah memerintahkan Lean untuk bersiaga di salah satu sudut atap rumah penduduk dengan menyamarkan dirinya—yang tentu tidak sedikitpun mengeluarkan hawa keberadaan dan nafsu membunuh.
Seorang Shaman menaiki panggung dengan langkah kakinya yang sedikit lambat. Membawa sebuah tongkat kayu dengan bagian atasnya yang terlihat besar, dan juga menggunakan sebuah jubah berwarna coklat gelap dengan wajahnya yang penuh tindikan.
Lelaki tua tersebut menaiki panggung dan segera membungkukkan ringan tubuhnya kepada Harek, Sang Kepala Suku Utara, yang terduduk di kursi kebesaran yang berada di sisi samping panggung seolah menjadi penonton penting.
Menghadap para penonton, lelaki tua Shaman mengangkat kedua tangannya—yang salah satunya memegang tongkat—dan tersenyum.
"Hari ini... adalah hari yang bersejarah! Dimana sebuah Battle of Death akan dilaksanakan kembali setelah sekian lama!" teriak Shaman tersebut dengan merendahkan nadanya di awal.
"Ooohhh!"
"Sebuah ritual suci yang dipersembahkan kepada Dewa Kronos, leluhur kita yang telah diangkat menjadi seorang dewa di masa lalu... yang tentunya, membutuhkan persembahan berupa seorang manusia secara utuh setelah bertahun-tahun lamanya... yang hanya berupa cawan penuh darah manusia..." sambung Shaman tua tersebut.
Suasana yang diliputi kebahagiaan dan sorak sorai beberapa saat lalu, seketika berubah menjadi kesedihan. Beberapa isak tangis penonton samar terdengar.
Tidak hanya Gale, bahkan salah satu kelopak mata Ares berkedut. Tidak pernah diinformasikan secara mendalam di dalam game, Ares hanya mengetahui jika suku barbarian memiliki ritual keji yang akan membuat dua orang yang saling berseteru saling membunuh dan tidak mengira akan menjadi suatu persembahan seorang Dewa.
Shaman tua tersebut mengalihkan wajahnya secara patah kepada Ares dengan tetap tersenyum sembari memperlihatkan sedikit gigi kuningnya.
"Para calon persembahan, naiklah ke atas arena!" teriak Shaman tua tersebut.
"Oohhh!"
Pandangan Ares seketika teralihkan kepada Gale—yang juga tidak berbeda dengan apa yang Gale lakukan.
"Jika keadaan berubah menjadi negatif, kita akan bertemu di pintu masuk hutan," ungkap Ares penuh keseriusan.
Gale mengangguk ringan. Memberi tanda tangan kepada tiga orang kelompok aslinya, Ares pun mempertajam seluruh indera yang dimilikinya dengan tangannya yang menggenggam pegangan Rapier.
Seketika, intuisi memberitahunya bahwa pembunuhan Moldan adalah sebuah larangan. Menilai dari kata-kata Shaman tua tersebut, Ares menjadi yakin jika Moldan terbunuh, Gale yang akan menjadi persembahan bagi Dewa Kronos.
Gale sekali lagi hanya mengangguk samar, yang bahkan tidak terlihat adanya interaksi diantara keduanya.
Tap.
Tap.
Bersama-sama, Gale dan Moldan menaiki panggung yang menjadi arena tempat ritual. Shaman tua tersebut segera mengangkat tinggi tongkatnya seolah menjadi hakim tertinggi setelah berada di tengah-tengah keduanya.
Tidak hanya Moldan yang mempersiapkan Greatswordnya, Gale juga menghunuskan kedua belatinya dan memasang kuda-kuda.
BAK!
Tongkat Shaman tua seketika terjatuh.
Tanpa penundaan, Gale dan Moldan saling menerjang dengan mengangkat masing-masing senjatanya.
JRASH!
BRUK!
"Argh!" teriak Moldan sembari jatuh tersungkur.
Dug!
Hening.
Seketika, tabuhan drum terhenti. Reaksi kosong terpancar dari wajah para penduduk desa serta Astrid, Alfr, dan Havarr, yang menonton pertandingan karena sangat terkejut dengan kemampuan Gale yang melebihi Moldan, seorang pemuda terkuat di Suku Utara.
Perbedaan statistik sekitar 15 poin sangatlah memberikan jarak yang begitu lebar bagi keduanya. Dengan cepat melesat, Gale segera menebas salah satu kaki Moldan hingga daging pahanya terkoyak.
Tidak mungkin lagi melanjutkan pertandingan yang setara hingga salah satu dari keduanya tewas, semua penonton mengerti mengenai hal tersebut.
BRUK!
Shaman tua tersebut jatuh berlutut, ekspresi wajahnya terlihat penuh kegelisahan dan ketakutan.
"Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa?! Kenapa kau menyadarinya?!"
Rasa gelisah, bingung, amarah, serta panik bercampur dalam nada Shaman tua tersebut. Namun, hal tersebut tidaklah tampak pada wajah Harek, Sang Kepala Suku Utara, yang berdiri dari kursi kebesarannya dengan tangan kirinya yang memegang cawan keemasan—yang sebelumnya diletakkan di samping kursinya.
"Hahahahaha," tawa Harek bergema.
Tidak ada yang tidak kebingungan dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Shaman tua tersebut dan Harek—yang sedang tersenyum dan menatap penuh arti kepada Ares.
Sembari menghunuskan Greatswordnya, Harek pun mendekati Shaman tua tersebut dan mengarahkan bilah pedang ke arah lehernya.
JRASH!
Kepala Shaman seketika terputus dari tubuhnya. Menyarungkan Greatswordnya di punggungnya, Harek mengambil kepala Shaman tua tersebut dan mengucurkan darah dari lehernya ke cawan emas.
Berbeda dengan ekspresi kebingungan yang melanda seluruh penonton, Harek mengalihkan wajahnya kepada Gale, yang perhatiannya segera bergeser kepada Ares di luar arena.
"Apakah kau dengan sengaja tidak membunuh musuhmu?" tanya Harek lalu tersenyum masam.
"Hanya orang bodoh yang tidak menyadari arti dari kata-kata 'para calon persembahan, naiklah ke atas arena,' meskipun orang aneh pembawa tongkat itu juga berada di atas arena," jawab Ares seolah bosan.
Tersadar, tidak ada seorangpun—bahkan untuk Havarr, seorang kepala suku besar, dan Astrid, seorang petinggi sebuah suku besar—yang pernah menyadari hal tersebut. Begitu pula dengan Gale yang baru saja tercerahkan, meskipun dia memiliki statistik kecerdasan yang tinggi.
"Buahahaha, menarik!" ungkap Harek keras.
"Tunggu, Kepala Suku!"
"Ini salah!"
"Lakukan pertandingan ulang! Carilah lawan kuat yang sepadan dengan gadis itu!"
Tetap saja, pertentangan pun muncul. Tidak ada seorangpun diantara para penonton yang tidak berpikir bahwa hal itu telah menyalahi tradisi dan adat istiadat mereka.
Kata-kata keberatan semakin riuh, Harek pun mengambil napas dalam dan berteriak, "Diam!"
Hening.
Semua orang segera menutup rapat mulutnya. Kata-kata Kepala Suku, seseorang yang dituakan sekaligus merupakan orang terkuat, tentu mutlak untuk dipatuhi.
Memandang wajah Sang Kepala Suku Utara yang entah mengapa terlihat sangat segar tersebut, Ares hanya dapat menghela napas dalam dan bersiap untuk menghadapi segala tindakan tidak terduga yang dapat timbul setelah ini.
...----------------...