I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 70 : Pertemuan Aristokrat? Bunuh Aku!



Tahun 1236, 4 Juli.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Siang Hari.


PRANG!


Sebuah nampan yang berisi banyak cawan penuh alkohol yang dibawa oleh seorang pelayan wanita berambut hitam panjang, terjatuh hingga semua cawan pecah saat terbanting ke lantai dapur. Para pelayan dan koki seketika menatap sumber suara dengan tatapan penuh kekesalan.


"Kau, mengapa kau menjatuhkannya, Sialan?!" teriak pelayan wanita senior mendengus kesal.


"Ma—maafkan saya, Bu!" timpal pelayan tersebut panik.


Pelayan tersebut seketika gemetar ketakutan. Mimik wajahnya penuh rasa takut, sangat berbeda dengan suasana hatinya yang diliputi oleh kekesalan yang mendalam.


Tentu saja, pelayan tersebut adalah Gale, seorang "Clown" dari Klan Cornwall.


Empat hari telah berlalu semenjak Klan Cornwall mulai melaksanakan misi pembunuhan Ares von Rueter, Margrave Rueter saat ini. Bertentangan dengan harapan mereka, Ares dapat dengan mudah mengelak dari serangan apapun yang berasal dari sajian makanan yang dibumbui oleh racun.


Pun tidak berbeda dengan serangan berupa anak panah dan tombak pendek yang dua kali telah dilancarkan mereka selama Ares berada dalam perjalanan kembali ke mansionnya, yang dapat dihindarinya dengan gerakan yang minimal.


Semua kegagalan tersebut dikarenakan Ares yang selalu mengaktifkan kemampuan Appraisalnya kepada seluruh makanan dan minuman yang akan dikonsumsi olehnya serta keseluruhan lingkungan di sekitarnya sehingga semua orang yang bersembunyi dapat ditemukan dengan sangat mudah.


Akibat fatal dari kegagalan dua percobaan pembunuhan yang begitu jelas, pengawalan Ares kian semakin ketat yang membuat Lean, Gale, dan pembunuh lainnya mengalami kesulitan. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang membuat mereka kesal.


Ya, kekesalan mereka terletak pada Marie, yang beberapa kali telah menggagalkan operasi pembunuhan mereka.


Pun tidak berbeda dengan cawan yang terpecahkan akibat lemparan kerikil Marie yang membuat keseimbangan Gale hancur.


Melirik seorang pelayan bertubuh kecil yang memiliki rambut bob violet yang berjalan menjauh darinya, Gale menemukan bahwa Marie samar tersenyum mengejek pada dirinya.


Sialan!


Ini sudah tidak dapat dibiarkan lebih lama lagi!


Kita harus menghentikan Marie terlebih dahulu!


Lagipula, mengapa dia berpihak kepada Margrave?!


"Cih, aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Cepat bereskan dan ambil cawan alkohol yang lain!" ujar pelayan senior wanita itu kesal.


"Baik, Bu! Mohon maafkan saya!" timpal Gale berada ketakutan dengan menunduk dalam.


Dengan menahan kekesalan di hatinya, Gale membersihkan pecahan keramik cawan dan mengepel lantai dengan kain basah. Para pelayan dan koki di sekitarnya hanya acuh tak acuh kepada Gale karena mereka masing-masing memiliki pekerjaan tersendiri.


Tentu saja, Gale tidak akan membunuh Ares menggunakan racun karena terbukti ketidakefektifan rencana tersebut yang selalu berakhir dengan kegagalan. Mempersiapkan cawan baru yang berisi setengah alkohol, Gale pun menempatkannya pada nampan keramik sekali lagi dan pergi keluar dari dapur.


Langkah yang sedikit terlihat berat yang mana tidak akan dilakukan oleh seorang pelayan istana kerajaan, membuat beberapa pelayan di sekitarnya mengerutkan kening. Namun, mereka tetap diam karena hal tersebut masih berada dalam batas wajar akibat dari tiga hari bekerja tak henti.


Tiba di salah satu taman istana yang memiliki banyak hiasan mewah karena sengaja dibuat sebagai tempat standing party. Gale melihat Ares di salah satu sudut taman hijau, sedang berbicara dengan Excel bersama beberapa bangsawan lain.


Gale pun melirik salah satu jendela dari pos ksatria yang berada di puncak tembok istana, terdapat tanda yang mengatakan "aman" yang berarti penjagaan dari ordo ksatria sedang lengah.


Oke.


Dengan langkah perlahan, Gale pun berjalan menuju salah satu meja yang berisi banyak makanan dan berpapasan dengan seorang pelayan pria.


"Lakukan," ucap Gale lirih.


Mengangguk kecil sebagai tanda diterimanya perintah, pelayan pria tersebut berjalan mendekati Ares, yang langkah kakinya segera terhenti di salah satu meja makan berjarak sekitar 7 meter dari target.


Di sela-sela saat dirinya mengambil piring kosong di atas meja, pelayan pria tersebut segera melemparkan pisau yang telah dilumuri racun cair transparan kepada Ares.


SRAT!


Tentu saja, tidak ada yang menyadari karena gerakan dilakukan dengan sangat cepat.


Menghindari pisau makanan dengan gerakan minimal, Ares segera tersenyum masam hingga membuat orang yang mengobrol dengannya keheranan.


Mustahil!


Bagaimana bisa?!


Apakah kau seorang cenayang?!


Itu sekitar 4 kali kecepatan penuh kuda perang berlari, kau tahu?!


Gale sedikit melototkan matanya saat melihat pemandangan tidak masuk akal yang beberapa kali telah terjadi tepat di depan matanya, pun tidak berbeda dengan ekspresi keterkejutan pelayan pria saat melihat pemandangan tersebut.


"Ada apa, Sayang?" tanya Excel.


"Haruskah kita berpindah tempat?" tanya Ann kembali dengan nada segan.


"Tidak perlu," jawab Ares.


Ares tidak memberi tanda kepada Klan Cornwall dengan ekspresi mengejek agar tidak merendahkan harga diri dan kebanggaan mereka mengingat Klan Cornwall akan bekerja di bawahnya.


Sang pelayan pria segera kembali menuju tempat Gale berada, pun Gale yang juga membalikkan tubuhnya untuk kembali.


Melambatkan langkah menunggu sang pelayan pria untuk berjalan berdampingan dengannya, Gale berbisik, "Kita sudah tidak dapat melakukan cara ini lagi, waktunya menggunakan Rencana B."


Pelayan pria tersebut sekali lagi mengangguk ringan, mereka pun berpisah tepat setelah bertemu dengan persimpangan lorong.


Menuju halaman belakang istana untuk melepas penyamarannya—yang mana tidak ada indikasi penyamaran yang ketahuan karena keadaan pelayan dan koki istana yang sangat riuh—Gale mempersiapkan peralatannya dan berkumpul dengan rekannya yang lain sembari menunggu hingga malam tiba—yang mana merupakan hari berakhirnya pertemuan aristokrat tiga tahunan ini.


Di sebuah gang yang berada tak jauh dari pintu masuk istana, Gale beserta 28 anggota klan lain sedang menunggu sembari berpakaian serba hitam untuk menyamarkan efek visual dengan kegelapan malam.


"Bagaimana Marie?" tanya Lean.


"Sudah diurus oleh Kepala, dia tidak akan mengganggu lagi," jawab seorang wanita pembunuh.


"Baik, kita akan berangkat menuju titik yang disepakati," timpal Lean.


Menaiki pijakan gang, para pembunuh Cornwall menaiki atap dan menuju jalanan sepi yang pasti dilewati oleh Ares disaat dirinya akan kembali menuju mansionnya.


"Panah," perintah Lean.


Empat orang anggota segera mempersiapkan panah. Tak lama kemudian, mereka melihat kereta kuda bercat putih yang memiliki Lambang Rueter akan melintas. Hanya dengan penjagaan dua ksatria yang berkuda di sampingnya beserta seorang kusir, sedikit membuat para anggota klan ragu.


Apakah ini adalah jebakan yang telah disiapkan olehnya?


Yah, tidak masalah.


"Tembak!" perintah Lean.


JRAT!


JRAT!


Kedua kuda yang menarik kereta kuda Ares segera mengangkat kaki seolah ingin menerjang disaat masing-masing lehernya tertembak oleh dua anak panah.


Ngiiiikk!


Darah mengucur dari leher kedua kuda. Pun membuat kusir panik dan berusaha menenangkan kuda yang memberontak, berbeda dengan kedua ksatria yang segera turun dari kuda dan memasang posisi waspada dengan pedang mereka.


BRUK!


Terjatuh, kedua kuda penarik seketika mati yang menyebabkan gerbong kereta kuda Ares terjungkal ke depan.


"Siapa?!" teriak salah satu ksatria.


Jalanan yang sangat sepi, tidak merasakan kehadiran apapun, membuat gelisah kusir dan kedua ksatria.


Dua orang pembunuh yang telah bersiaga di sudut kegelapan tak jauh dari kereta kuda, segera berlari mendekati ksatria sembari menghunuskan sebuah tongkat tumpul.


BAK!


Memukul tengkuk leher kedua ksatria yang mengenakan armor hingga mereka jatuh terkapar, kedua pembunuh itupun segera kembali menjauh.


"Siapa kalian?!" teriak kusir yang juga merupakan ksatria tingkat rendah.


Takut.


Langkahnya perlahan mundur, dia tahu bahwa musuh lebih kuat dan lebih banyak darinya. Namun, dirinya tetap tidak dapat meninggalkan Tuannya yang masih berada di dalam gerbong.


Kriett.


Suara engsel pintu kayu gerbong di belakangnya samar terdengar. Ksatria kusir itupun segera menolehkan wajahnya dan menemukan Tuannya telah berada di belakang tubuhnya sembari memasang senyum masam.


"Nah, beristirahatlah untuk saat ini," ujar Ares lirih.


"Eh?" timpal Kusir tersebut.


BRUK!


Sedikit kuat, tengkuk leher Sang Kusir menerima dampak pukulan Ares dengan tebasan tangan bagian luar, yang seketika membuat kusir jatuh tersungkur.


Tiga pedang di pinggulnya, dengan menggunakan tuksedo sembari tersenyum masam, Ares pun merentangkan kedua lengannya dan berkata dengan lantang, "Bunuh aku!"


...----------------...