I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Interlude : Esther, Bagaimana Keadaanmu?



Tahun 1236, 25 April.


Aula Latihan Kastil Margrave Rueter, Kota Ereth.


Pagi Hari.


KLAK!


KLAK!


Di bawah sinar mentari pagi, dua gadis terlihat sedang beradu pedang kayunya di lapangan yang saat ini hanya terdapat mereka berdua.


Pedang kayu Esther harus sekali lagi ditangkis oleh gerakan Milly. Meskipun ia memiliki kecepatan yang melebihi Milly, namun Esther merasa dia tidak dapat menebasnya dikarenakan Milly yang selalu menghindar atau menangkis serangannya disaat tubuhnya hendak terkena pedang kayu.


Tetap saja, Milly juga kewalahan dengan kecepatan Esther yang membuatnya hanya dapat sesekali membalas serangannya.


"Esther, jangan hanya mengandalkan kecepatanmu!" teriak Milly yang antusias menangkis pedang Esther.


"Baik!" teriak Esther.


Esther menghunuskan pedang kayunya untuk menebas perut Milly yang saat ini tanpa pertahanan secara horizontal. Bertentangan dengan ekspektasinya, Milly segera melenturkan tubuhnya ke belakang dan menebas tangan Esther yang pedangnya tidak mengenai perut Milly.


KLAK!


"Ugh," teriak Esther yang kesakitan dan terjatuh.


Melihat Esther yang kelelahan, Milly berkata, "Mari kita cukupkan pelatihan untuk saat ini."


"Tidak! Saya masih bisa melanjutkannya!" kata Esther yang panik saat mendengar pelatihannya akan dihentikan.


Milly hanya dapat dibuat menghela napas karenanya. Seolah mengingatkan Esther akan kondisi tubuhnya, Milly berkata, "Bukankah tubuhmu masih lemah? Memaksakan dirimu itu adalah sesuatu yang buruk, tahu. Justru, bukannya memperkuat tubuhmu kembali, itu akan menyebabkan beban tubuh yang lebih dari batasnya."


Esther hanya dapat terdiam karena tidak dapat membantah Milly. Mengingat kondisi tubuhnya yang beberapa hari terakhir membaik, dia benar-benar tidak ingin memperburuknya dengan berlatih melampaui batasnya.


Tiga belas hari telah berlalu semenjak Esther terbangun. Saat dia terbangun, Esther terbaring di atas ranjangnya yang berada di kamar pribadinya di Kastil Margrave Rueter.


Namun, keadaan tubuhnya sangat lemah saat dia terbangun yang menyebabkan Esther membutuhkan bantuan beberapa pelayan untuk merawatnya selama beberapa hari. Ketika Esther telah mengingat saat dia bertarung di Benteng Ligard, dia cukup menyesal karena telah menyiksa musuhnya meskipun dia tidak menyesali kedekatannya dengan Excel.


Saat itu, Esther berpikir bahwa dia merasa seperti mengeluarkan kepribadiannya sebenarnya. Meskipun dia menyesal, namun entah mengapa terdapat kelegaan besar yang muncul di dalam hatinya.


Seorang perwira militer memasuki aula latihan dengan mendorong kereta bayi berbahan kayu yang terdengar suara tangisan bayi dari dalamnya. Ia pun segera berjalan menuju Milly sembari berkata, "Milly, waktunya."


"Terima kasih telah menjaganya, Nek," timpal Milly dengan nada penuh syukur lalu berjalan menuju kereta bayi tersebut.


"Seka keringatmu terlebih dahulu," pinta Canaria sembari memberikan handuk basah dan kering kepada cucunya.


"Uh... baik," timpal Milly dengan menerimanya.


Milly pun segera membuka beberapa kancing baju seragam latihannya dan menyeka leher dan dadanya dengan handuk basah. Setelah mengelapnya menggunakan handuk kering, Milly segera mengambil Wilma dan mendekatkan mulutnya ke dadanya.


Esther, yang tertidur di tengah lapangan, melirik Milly yang saat ini sedang menyusui, bangkit dan mendekati mereka berdua karena rasa penasarannya yang tidak pernah melihat seorang bayi sebelumnya.


Sembari menyusui Wilma, Milly mengalihkan pandangannya menuju kereta bayi yang saat ini didorong oleh neneknya.


"Saya tidak pernah berpikir Tuan dapat memikirkan ide yang sangat luar biasa seperti ini," ujar Milly yang kagum.


"Hmm, aku juga berpikir jika Tuan Muda telah berubah. Aku tidak pernah menyangka kami dapat memenangkan perang hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu," timpal Canaria dengan nada heran sembari tetap menatap hangat pada Wilma.


Seolah mengingat, Canaria berkata, "Albert dan Dia akan segera kembali, mereka juga tidak sabar untuk segera melihat Wilma."


"Ya, sudah saatnya melaporkan kembali keadaan di luar negeri," jawab Canaria lugas.


"Um..." ujar Esther yang telah mendekati mereka berdua.


Milly pun mengalihkan pandangannya menuju Esther yang terlihat kebingungan. Seolah memahami keinginannya, Milly menunjukkan wajah Wilma yang masih menyusui dengan menyingkap lengannya sembari berkata dengan nada lembut, "Apakah kamu ingin melihatnya?"


"Iya..." jawab Esther dengan sedikit malu.


Esther bergerak untuk melihat Wilma dari depan. Karena merasa penasaran, Esther bertanya, "Apakah melahirkan itu... sangat sakit?"


"Um... itu benar, namun setelah melihat Wilma lahir, entah mengapa perasaanku menjadi sangat lega," jawab Milly yang tidak ingin menakuti Esther.


"Begitu..." jawab Esther dengan wajah rumit.


Apakah aku nanti juga akan menjadi seorang ibu seperti Nona Milly?


Esther, yang mengalami masa lalu yang sangat kelam, benar-benar tidak ingin anaknya berakhir seperti dirinya sehingga dia memiliki perasaan rumit saat melihat Wilma.


Karena Canaria juga menganggap Esther sebagai salah satu gundik Ares, dia menyikapi Esther dengan sopan sama seperti wanita lainnya.


Canaria pun mengambil gulungan perkamen dari sakunya dan menyerahkannya kepada Esther sembari berkata, "Nona, Anda memiliki pesan dari Tuan Muda."


"Um... terima kasih..." jawab Esther dengan menerima gulungan perkamen tersebut.


Melihat kegelisahan Esther, Canaria bertanya, "Maaf... apakah Anda belum dapat membaca?"


"Iya..." jawab Esther yang malu.


"Silakan buka segelnya terlebih dahulu, saya akan membacakannya untuk Anda. Jangan khawatir, saya dan Milly akan diam," timpal Canaria dengan lembut.


"Baik," jawab Esther.


Setelah membuka segelnya, Esther menyerahkan kembali surat tersebut kepada Canaria. Canaria pun membukanya dan membacakannya untuk Esther.


"Apakah kamu sudah terbangun? Bagaimana keadaanmu saat ini? Saat ini, mungkin aku telah tiba di ibukota kerajaan karena harus menemani Putri Excel dan Pangeran Lucas saat kembali. Jika tubuhmu telah merasa baikan, bagaimana jika kamu memasuki Akademi Militer yang ada di kota? Jika kamu tidak menginginkannya, tidak apa-apa untuk menolaknya. Semoga dirimu sehat selalu, Ares," ujar Canaria yang membacanya.


"Saya pikir Anda tidak perlu terburu-buru untuk menjawabnya, Nona. Lebih baik Anda pikirkan secara perlahan terlebih dahulu," sambung Canaria.


"Um... saya berpikir untuk menerima saran Tuan karena kondisi saya yang beberapa hari terakhir membaik..." jawab Esther secara langsung dengan gugup.


"Begitu, baik. Namun, Akademi Militer akan dibuka pada Bulan Juli. Akan lebih baik jika Anda belajar membaca terlebih dahulu disertai dengan beberapa operasi aritmatika sederhana untuk menunjang pengetahuan Anda nanti di Akademi," timpal Canaria yang menanggapi Esther.


"Terima kasih," balas Esther dengan menundukkan kepalanya.


"Itu sudah merupakan tugas saya, Nona," jawab Canaria dengan tersenyum lembut.


"Um... dan juga, meskipun para pelayan dan ksatria yang berada di kastil telah sedikit terbiasa, lebih baik untuk menutupi salah satu matamu jika kamu pergi ke tempat umum seperti Akademi Militer nanti, Esther," saran Milly.


"Baik, Nona Milly," jawab Esther.


Karena bermaksud beristirahat dengan Wilma dan bergabung dengan Ody dan Amalia, Milly berkata, "Jika begitu, mari ikut denganku menuju mansion, Esther. Di sana juga terdapat dua gundik Tuan yang lain yang juga akan memulai belajar membaca."


"Terima kasih, Nona Milly," jawab Esther dengan menundukkan kepalanya.


Setelah menunggu Wilma hingga tertidur kembali, Milly menidurkannya di dalam kereta bayi dan mengancingkan pakaiannya kembali. Milly bersama Esther pun pergi dari kastil menuju mansion pribadi Ares meninggalkan Canaria yang tetap berada di kastil untuk melanjutkan pekerjaannya.


...----------------...