I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 62 : Ak—Aku Diserang?!



WARNING : Chapter ini hanya untuk 21+


...---------------------------------------------...


Tahun 1236, 30 Juni.


Mansion Margrave Rueter, Ibukota Lombart.


Malam Hari.


BUGH!


Tatapan ketakutan segera tertuju kepada wanita cantik berambut putih yang saat ini menjadi tunangannya saat dia telah terbaring di atas kasur yang berada di dalam kamar pribadinya.


Meskipun punggung Ares benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, namun dia tidak memiliki waktu untuk memikirkannya karena seorang Iblis yang tersenyum kepadanya dengan wajahnya yang sangat cantik.


Tap.


Tap.


Tap.


Berjalan mendekati pria yang dicintainya dengan tatapan linglung yang sedikit mengintimidasi sembari menjilat bibirnya dengan perlahan, Excel pun menatap tajam pada Ares seolah tidak membiarkannya kabur.


Bagai ular yang menatap tikus yang telah terpojok.


Tiba di atas ranjang, Excel segera menendang kakinya agar sepatunya terlepas. Perlahan merangkak, Excel berpegangan kepada kaki tunangannya.


Merangkak maju dengan berpegang pada tubuh tunangannya, Excel menatap Ares agar tatapannya tidak kabur darinya.


Kedua bibir segera bersentuhan, Ares telah mempersiapkan dirinya untuk diperkosa sekali lagi.


Membuang pikirannya yang beberapa saat lalu ketakutan karena nafsu membunuh Excel yang bocor, Ares memasukkan lidahnya untuk membuat Excel takluk.


Rasa panas tubuh orang yang dicintainya membuat Ares sekali lagi teringat akan malam yang sangat liar itu. Dia tidak dapat menghadapi Excel secara all-out dikarenakan tunangannya yang sedang mengandung meskipun belum memasuki umur satu bulan.


Berjuang keras untuk membuat Excel pingsan, Ares benar-benar mengutuk seseorang yang memberi tunangannya alkohol yang sangat membuat dirinya khawatir karena mungkin saja berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya.


Perlahan tapi pasti, Ares merasakan tangan Excel yang telah menggenggam kerahnya.


Kupikir... aku harus membeli baju baru lagi...


SRRAAKK!


Telanjang dada, Ares benar-benar sangat khawatir terhadap penyerangan Klan Cornwall. Karenanya, dia memutuskan untuk melakukan upaya terbaiknya sembari berhati-hati agar tidak menyentuh perut Excel agar dapat menaklukkan tunangannya dengan cepat.


Merasuk ke dalam piyama tunangannya, Ares menggenggam dada Excel yang terasa seperti setengah kuncup kecil mahkota bunga yang belum mekar dengan tangan kirinya.


Mendengar tunangannya yang perlahan-lahan menghembuskan nafas berat, entah mengapa membuat Ares menjadi sangat bergairah.


Melepas lidah yang saling bertautan, Ares segera menjulurkannya ke arah telinga putih Excel dan dengan perlahan menuruninya.


Suara terengah-engah mulai muncul kembali dari suara Excel. Seolah tidak ingin kalah, tangan kanannya menjulur masuk ke dalam celana yang saat ini berada tanpa perlindungan.


Sabana yang luas.


Hanya hal tersebut yang ada di benak Ares saat menggapai mahkota Excel yang tidak memiliki satupun pepohonan.


Perlahan memasukkan kedua jari terpanjangnya seolah menembus pertahanan bumi, dirinya semakin bersemangat disaat telinganya mendengar Excel yang semakin terengah-engah.


Kenikmatan, hanya hal tersebut yang dapat dirasakan oleh Excel—yang hanya memiliki pengalaman sebanyak satu kali seumur hidupnya.


Sangat berbeda dengan obrolannya dengan para gadis bangsawan lain saat dirinya mengadakan suatu pesta teh—yang hanya sekedar mengetahui cara menusukkan jarum dan berciuman—Excel menilai tunangannya sangat lihai membuat dirinya basah.


Sejak mengalami pengalaman luar biasa bersama tunangannya, Excel pun memandang rendah para gadis bangsawan yang menceritakan hal seperti itu di dalam pesta teh mereka yang tidak resmi.


Tentu saja, hal itu disebabkan pengetahuan modern yang membantunya. Ares mengetahui hal apa yang harus dilakukan sebelum menusukkan paku buminya.


Dan sekali lagi, satu poin adalah nilai yang pasti didapatkan oleh Ares di awal permainan.


Byuu!


Byuu!


Sangat basah.


Hanya hal tersebut yang dapat tangannya rasakan saat tersiram oleh nektar yang menyemprot dari mahkota tunangannya.


Terlihat jembatan transparan dari tangannya yang sangat lengket, sedikit membuat perasaan Ares bangga karena telah memenangkan babak pertama.


"Hah... hah..." ujar Excel.


Seolah ingin memenangkan babak kedua, tangannya pun segera menyingkapkan piyama yang dikenakan tunangannya yang membuat dua kuncup bunga yang belum mekar tersebut terlihat.


Makan.


Haup!


Meskipun sangat kecil, tentunya tidak ada pria yang kuasa menahan godaan tersebut, menjadi orang yang penuh kejujuran adalah cara Ares bermain bersih. Namun, hal tersebut sangatlah tidak membuat Excel puas.


Sekali lagi merobek celana tunangannya—yang terbuat dari kain—segera sebuah menara dengan kokoh berdiri tegak. Seolah menunjukkan keperkasaannya, Excel pun menjadi sangat kesal dengan kesombongan yang diperlihatkan Sang Menara.


Terinspirasi dari permainannya yang pertama bersama tunangannya tercinta, Excel segera menaklukkan menara tersebut dengan rongga mulutnya.


Haup!


Kuh!


Jika kau belum berpengalaman, jangan melakukan hal itu!


Meskipun begitu, erangan kecil mulai muncul tanpa sadar dari pita suara Ares. Tidak ingin terkalahkan oleh kenikmatan yang menerpa, Ares sekali lagi terpaksa untuk menggunakan senjata rahasianya yang dapat membuat Excel takluk berkali-kali.


Acuh tak acuh, Ares merobek celana tipis Excel dan segera mengambil mahkotanya yang merah merekah di atas wajahnya sembari lidahnya tersulur masuk.


"Ahn," ungkap Excel.


Kental.


Meskipun sedikit bau, entah mengapa tidak ingin membuatnya berhenti.


Begitu juga dengan Excel, dia mengerti cara agar menara tersebut tidak sakit meskipun dia mabuk berat. Menyedot kuat, segera terdengar suara Ares yang berbunyi, "Ah..."


Saling beradu, saling berusaha mendapatkan kemenangan kedua, mereka pun masing-masing saling menyentuh sensitivitas lawan.


Excel, yang baginya permainan liar seperti ini adalah hal baru, tentu saja membuatnya memiliki kebanggaan tersendiri. Kebanggaan, rasa puas, dan rasa eksklusivitas seolah memiliki Ares untuk dirinya sendiri pun muncul di dalam hatinya disaat dia menindih wajah tunangannya dengan mahkotanya.


Dia benar-benar bahagia dapat membuat pria yang dicintainya hanya untuk dirinya seorang.


Namun, kemenangan kedua harus jatuh kepada Excel.


"Ahh!" ujar Ares seolah terbang.


Merasakan Ares yang menembakkan rudalnya di dalam dan segera menelannya, entah mengapa Excel memiliki perasaan yang sangat senang dan memiliki kebanggaan tersendiri meskipun itu memiliki bau yang sangat khas.


Segera mengangkat tubuhnya yang saat ini berbaring di atas tunangannya, Excel pun kembali menatap tunangannya lalu tersenyum mengejek sembari berkata, "Lemah."


Sial!


Sialan!


Aku tidak tahu jika kau begitu pintar meniru!


Seketika hancur. Harga dirinya sebagai seorang pria tercabik-cabik.


Meskipun hal tersebut berasal dari mulut tunangannya yang sangat disayanginya, namun tidak mengubah fakta bahwa Ares sangat kesal apabila harga dirinya terinjak-injak.


Bangkit dengan menahan bahu tunangannya, Ares pun segera menidurkan Excel dan menembakkan torpedonya pada tempat yang sudah seharusnya ditembakkan.


Tentu saja, seseorang haruslah mengatakan "permisi" sebelum memasuki sebuah rumah yang berpenghuni. Menggesek-gesekkan terlebih dahulu seolah meminta izin masuk seperti mengetuk pintu, dengan perlahan namun pasti, pertahanan benteng Excel segera tertembus.


Memejamkan matanya, Excel merasa sedikit kesakitan hingga nampak di wajahnya sembari berkata, "Akhh," yang membuat Ares sedikit memperlambat tusukannya.


Barang asing menembus tubuhnya jauh sangat dalam, hanya kebahagiaan yang muncul di dalam hati Excel saat merasakannya. Hingga merasa telah menyentuh pembatasnya, Excel segera menarik leher tunangannya dan saling berpagutan sekali lagi.


Sembari mengayuh dengan sedikit kasar namun tetap berhati-hati, pertarungan ketiga mereka pun dimulai kembali.


Di luar mansion, seorang wanita muda yang berafiliasi dengan Klan Cornwall, menatap seolah tidak percaya dengan keadaan halaman mansion dengan banyak orang yang terkapar.


Apa... yang sebenarnya terjadi?


Lagipula, dimana Gale?


Melihat tidak adanya tanda kehidupan di sekitar, sedikit membuat gelisah hati gadis tersebut. Mengendap-endap, dia pun segera mendengar suara decitan kaki ranjang.


Apa itu?


Mendekati sumber suara, dia segera menemukan tali yang terulur seolah Gale telah melaksanakan operasinya.


Ja—jangan katakan!


Pikiran gadis tersebut segera berpacu menuju hal yang aneh. Seolah memastikan kebenarannya, dia pun memanjat untuk mengetahui hal apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh rekannya tersebut.


Namun, bertenangan dengan harapannya, gadis tersebut segera melihat pemandangan yang sangat luar biasa tepat saat dia mengintip dari dinding balkon dengan tetap berpegangan pada tali.


Cplak.


Cplak.


Luar biasa...


Lagipula, me—mengapa pria tersebut sangat besar?!


Bagi seseorang yang telah dilatih secara khusus, melihat di tengah keremangan ruangan tidaklah membuatnya sulit. Tentu saja, itu berarti gadis tersebut dapat melihatnya dengan jelas.


Berharap untuk mereka tidak menyadarinya, gadis tersebut sedikit mengangkat wajahnya agar dapat melihat pemandangan tersebut dengan lebih jelas.


Tanpa sadar, tangannya segera menyelinap masuk ke dalam celananya untuk melakukan sebuah dosa yang seharusnya dia lakukan bersama suaminya.


"Ah... ah..." ungkap gadis tersebut.


Melihat gerakan pasangan tersebut yang semakin intens, tanpa sadar gerakan tangannya menjadi semakin cepat.


Seolah telah melupakan tujuan awalnya tiba, gadis tersebut hanya mempedulikan pemandangan luar biasa yang ada di dalam pandangan matanya.


Sekali lagi, kemenangan Ares hampir dapat dipastikan. Namun, Excel menyadari bahwa batasannya yang sudah tidak lama lagi. Dia pun segera mendorong Ares untuk berbaring dan menduduki tunangannya.


Kuh!


Jangan curang!


Lihat saja, aku akan mengalahkanmu!


Menatap tajam pada tunangannya, Ares bersumpah untuk menaklukkan tunangannya yang sangat liar tersebut sekali lagi.


...----------------...