
Tahun 1236, 12 Agustus.
Istana Kerajaan Lethiel, Ibukota Vice, Konfederasi Lemane.
Malam Hari.
"Ayah! Kita tidak dapat terus menerus berada dalam keadaan terjepit seperti ini!" protes seorang aristokrat muda yang sedang berdiri di depan meja kantor untuk menghadap pria tua di depannya.
Di dalam suatu kamar yang terletak di bagian dalam istana kerajaan, seorang pemuda berambut hitam yang memiliki tubuh kurus sedang menatap tajam kepada pria tua di depannya karena merasa keputusannya sangat lambat dalam menghadapi situasi yang akan datang.
Pria tua berjubah merah yang rambut hitamnya sebagian besar telah memutih hanya dapat terdiam menatap lelah kepada pemuda di depannya.
Pikiran pria tua tersebut seolah tidak dapat memikirkan hal apapun sebagai jalan keluar masalah yang sangat menyangkut kehidupan negaranya di masa depan.
Dengan nada lelah, pria tersebut mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya, "Sieg, aku sudah tidak dapat memikirkan hal apapun lagi. Kita sudah tidak dapat membendung langkah militer Natrehn di masa depan."
Sieg menatap ayahnya, Raja Kerajaan Lethiel, Alfons III, dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
Sebagai salah satu kerajaan yang hanya memiliki garis perbatasan kecil dengan Kerajaan Natrehn, Kerajaan Lethiel dituntut oleh dua kerajaan lainnya agar lebih berperan dalam konfederasi dengan memberikan pasokan makanan kepada mereka.
Tidak hanya jumlah penduduknya yang tidak dapat dibandingkan dengan dua kerajaan lain karena sebagian besar wilayahnya dapat dikatakan sedikitpun tidak menyentuh ranah pengembangan dan hanya berupa hutan serta dataran tinggi dengan pegunungan aktif, alasan jumlah persediaan makanan yang besar karena memiliki banyak lahan pertanian subur menjadi sebab Kerajaan Lethiel seolah menjadi negara bawahan bagi dua kerajaan lain yang memiliki kekuatan militer lebih besar.
Beberapa hari telah berlalu semenjak ketiga pemimpin negara mengadakan pertemuan darurat sebagai tanggapan atas pergerakan militer Natrehn, Sieg, Putra Mahkota Kerajaan Lethiel, sangat kecewa saat mengetahui keputusan ayahnya setelah kembali ke ibukota.
Tangan kanannya mengepal erat. Sieg menundukkan kepalanya sembari berkata dengan nada penuh penyesalan, "Saya... mohon izin untuk meninggalkan ruangan, Ayah."
"Ya... aku ingin beristirahat terlebih dahulu. Aku sudah tidak kuasa memikirkan hal yang begitu rumit." Alfons merebahkan dirinya pada sandaran kursi sembari menghela napas berat.
Sieg mengetahui jika ayahnya, Raja Kerajaan Lethiel saat ini, benar-benar mencintai negaranya dari lubuk hatinya yang terdalam.
Meskipun dia memahami tekanan politik dari dua kerajaan lain yang selalu menimpa ayahnya yang membuatnya terlihat cepat menua, Sieg memiliki keinginan kecil agar ayahnya setidaknya dapat meringankan beban kerajaan.
Langkah kaki Sieg menuju pintu ruangan—yang segera berhenti tepat disaat dia hendak membukanya.
"Mohon maafkan saya apabila saya melakukan hal yang dapat bertentangan dengan keputusan yang telah ayah buat sebelumnya," kata Sieg.
Tanpa berbalik karena kekecewaannya yang begitu besar, Sieg mengatakannya dengan acuh tak acuh.
Perhatian Alfons kembali teralihkan kepada Sieg yang hendak meninggalkan ruangan. Seketika, ekspresinya dipenuhi kesedihan, Alfons mengetahui potensi besar negaranya yang dapat dipastikan runtuh karena tidak kuasa menahan ekspansi militer Kerajaan Natrehn di masa depan.
"Lakukan sesukamu." Jawaban bernada berat terucap dari mulut Alfons.
Mendengar hal tersebut, Sieg sedikit menundukkan kepalanya karena sedih.
"Permisi," ucap Sieg bernada penuh penyesalan sebelum meninggalkan ruangan.
Kriett.
Gelapnya lorong dengan hanya beberapa lentera yang menerangi kembali menyambut Sieg setelah keluar dari ruangan.
Tidak berbeda dengan para keluarga royalti kerajaan lain, bagian dalam sebuah istana menjadi tempat rahasia dimana hanya dapat diakses oleh beberapa orang tertentu. Karenanya, bahkan Keluarga Kerajaan Lethiel tidak membawa serta seorangpun pelayan.
Berjalan dengan langkah kaki yang terlihat sedikit berat, Sieg menyusuri lorong hingga bertemu dengan beberapa jendela besar di temboknya yang menandakan bahwa dia telah keluar dari istana bagian dalam.
Menghampiri sebuah balkon, Sieg menatap langit dimana banyak bintang dengan bulan yang bersinar terang.
"Kakak..."
Sebuah panggilan dari suara yang berasal dari seorang gadis terdengar lirih dari belakang Sieg berdiri.
"Mengapa kamu belum tidur, Claire?" tanya Sieg dengan tetap memperhatikan pemandangan langit.
Seorang gadis berambut panjang hitam melangkah mendekati Sieg dan berdiri di sampingnya. Bersama-sama memandang langit berbintang, Celia kembali teringat sesuatu hal yang dialaminya hari ini.
"Aku... hari ini kembali menyamar dan berinteraksi dengan banyak orang di ibukota." Mengabaikan pertanyaan Sieg sebelumnya, Claire berkata dengan nada penuh kesedihan.
"Bukankah kamu telah dilarang untuk melakukannya lagi oleh ayah?" protes Sieg yang bernada tenang.
Berbeda dengan keluarga royalti lain, Keluarga Kerajaan Lethiel memiliki interaksi yang hangat. Tidak berbeda dengan keluarga lain, mereka saling menyayangi layaknya sebuah keluarga biasa.
Sieg hanya dapat terdiam atas penyesalan adik kandungnya. Tidak dapat memutarbalikkan waktu, Sieg menghela napas dalam dan kembali melanjutkan percakapan.
"Apa yang kamu lihat hari ini?" tanya Sieg.
Terdengar sangat lembut, benar-benar menyerupai percakapan penuh kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
"Tidak berbeda dengan hari-hari yang lalu... keadaan para penduduk menjadi semakin sulit..." Claire mengatakannya dengan penuh penyesalan.
Tidak berbeda dengan Sieg serta kedua orang tuanya, Claire juga memiliki tanggung jawab kuat sebagai seorang bangsawan yang memiliki tujuan mulia untuk memakmurkan kehidupan rakyatnya.
"Begitu," timpal Sieg singkat.
Kesedihan kembali menyelimuti suasana keduanya. Mereka berdua seolah telah dihadapkan pada kehancuran negaranya di masa depan.
Entah karena ekspansi militer Kerajaan Natrehn atau tekanan kedua kerajaan konfederasi lain, jalan keluar seolah telah tertutup rapat bagi keduanya.
Hening.
Hanya merasakan angin malam yang berhembus, tidak ada diantara mereka berdua yang menginginkan untuk mengutarakan lebih lanjut situasi negaranya yang telah terlampau berat.
Mereka berdua saling mengetahui jika beban berat telah diletakkan pada kedua pundak mereka semenjak lahir—yang benar-benar mereka ingin lepaskan sedari dulu.
Namun, kebanggaan seorang aristokrat serta tanggung jawab melekat erat pada hati mereka yang menyebabkan tidak ada diantara mereka berdua yang lari dari tanggung jawab.
"Aku... mendengar rumor mengenai kemenangan salah satu bangsawan Kerajaan Rowling, Margrave Rueter, terhadap ekspansi militer Kerajaan Natrehn pada Tanah Vietra dari para pedagang." Claire memecah keheningan dengan nada yang sedikit lebih rendah daripada sebelumnya.
Sieg menolehkan wajahnya kepada Claire. Tatapannya terasa penuh keraguan saat dia memandang adiknya yang tetap melihat ke langit.
"Margrave Rueter?" ujar Sieg seolah bertanya-tanya.
Meskipun informasi dari luar terus mengalir masuk, hampir tidak ada seorangpun di lingkungan istana yang membahas rumor tersebut.
Mereka terus disibukkan dengan urusan negaranya yang akan berada dalam keadaan minus jika terus menuruti permintaan dua kerajaan lain yang bersama-sama membentuk Konfederasi Lemane tersebut.
"Ya... kudengar, Sang Margrave telah membunuh salah satu dari tiga jenderal terbaik Kerajaan Natrehn dan memenangkan Tanah Vietra dalam perundingan pasca perang," timpal Claire.
Sieg kembali menolehkan wajahnya ke depan. Seketika pikirannya berputar cepat, Sieg seolah mendapati sebuah cahaya penyelamat di tengah kegelapan malam.
Namun, dia kembali menepis pemikirannya tersebut. Sieg benar-benar menginginkan kebahagiaan adiknya dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Jika itu untuk kerajaan ini... aku tidak keberatan menyerahkan apapun yang aku miliki." Claire mengatakan sesuatu yang sangat berani.
Meskipun dengan suara lirih, Claire telah memantapkan hatinya. Dia benar-benar mengharapkan kakaknya untuk bertindak meskipun itu harus mengorbankan dirinya.
Setelah mendengarnya, kedua mata Sieg terbuka lebar. Mengalihkan wajahnya kembali dengan cepat, Sieg segera membuka mulutnya dengan nada yang terdengar sangat khawatir, "Aku tidak—"
"Berapa banyak orang yang akan binasa jika Natrehn menyerang negara ini?" sela Claire sembari menolehkan wajahnya kepada Sieg dengan tatapan kuat.
"Kami memiliki aliansi militer dengan—" protes Sieg.
"Apa yang sebenarnya dapat dilakukan oleh militer gabungan tiga kerajaan dari konfederasi jika itu melawan kekuatan penuh Natrehn?" sela Claire kembali.
Tenang, namun mengandung penuh celaan. Berbeda dengan nadanya, Sieg melihat kedua mata adiknya telah menitikkan air mata.
Hanya dapat terdiam, Sieg benar-benar tidak mengerti bagaimana harus membalas perkataan adik kandungnya tersebut.
Uraian air mata Claire semakin deras membasuh wajahnya. Meskipun dirinya benar-benar tidak ingin mempertaruhkan kebebasan yang ia miliki, namun Claire telah memiliki ketetapan kuat di hatinya untuk menyerahkannya demi kerajaan yang benar-benar ia cintai dari lubuk hatinya yang terdalam.
Memandang adiknya yang sebelumnya tidak pernah melukiskan ekspresi penuh kesedihan kepadanya, Sieg memutuskan untuk mendengar dan memenuhi keinginan adiknya—walaupun dia mengetahui jika itu dapat menjadi permintaan terakhirnya.
"Aku mohon... tolong selamatkan negara ini... bahkan jika itu harus meminta bantuan kepada iblis sekalipun."
...----------------...