
Tahun 1236, 28 Desember.
Kastil Leidengraf, Kota Mircova, Perbatasan Timur Kerajaan Natrehn.
Malam Hari.
Tatapan seorang wanita tua berambut penuh uban dengan beberapa keriput di atas wajahnya tertuju pada pemandangan di balik jendela yang menampilkan rintik putih salju dengan gelapnya langit malam.
Seragam militernya yang dibalut dengan mantel bulu tebal, seolah tidak dapat menghangatkan tubuhnya yang mana beberapa kali terlihat uap putih dari hembusan napasnya.
Beberapa ksatria yang berada di belakang Eina, hanya terdiam menunggunya bergerak. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran wanita tua tersebut, tidak ada seorangpun dari mereka yang membuka mulutnya.
House of Fonca, yang merupakan keluarga bangsawan berperingkat Marquis, telah mengabdi selama ratusan tahun kepada raja-raja Natrehn sebelumnya.
Bagi Eina, yang merupakan satu-satunya anggota House of Fonca yang masih hidup, terdapat sedikit rasa penyesalan yang menyelimuti hatinya disaat dirinya diperintahkan untuk menjadi Jenderal Utama Pasukan Natrehn yang akan menginvasi Konfederasi Lemane. Bukan karena kehilangan jabatannya, namun karena hatinya yang merasakan kerinduan terhadap kota yang telah mengisi sebagian besar hidupnya.
Ingatan masa lalu perhalan kembali muncul, dirinya telah diberikan kepercayaan sebagai "Penjaga Ibukota" selama puluhan tahun, hanya senyuman yang terukir di atas wajahnya disaat dirinya diperintahkan untuk meninggalkan ibukota.
Mengenang kembali saat dirinya berusia sekitar 31 tahun, Raja Natrehn sebelumnya, Cedric IV, memerintahkan suami Eina, Marquis Fonca sebelumnya, beserta putra semata wayangnya yang baru saja lulus dari Akademi untuk berperang melawan suku-suku barbarian di perbatasan utara kerajaan.
Tidak hanya House of Fonca, banyak bangsawan besar yang mengirimkan pasukannya menuju utara karena serangan suku-suku barbarian yang kian sering terjadi.
Penyesalan segera menghantuinya. Kabar mengenai kematian suami serta putranya pun menyebar luas di kalangan bangsawan Natrehn.
Sebagai anggota keluarga yang terafiliasi dengan militer, tentu akan sangat memalukan jika gugur dalam medan perang berskala kecil, apalagi jika itu hanya melawan suku-suku barbar yang notabene tidaklah berperang menggunakan strategi.
Meskipun nama baik House of Fonca jatuh, Eina berusaha untuk tetap tegar. Dia meluangkan sebagian besar waktunya untuk menjelajah perbatasan utara dan melakukan penelitian terhadap jalannya peperangan.
Setelah mengumpulkan berbagai bukti serta banyak kesaksian, Eina meyakini jika beberapa pihak tertentu telah melakukan pembunuhan berencana terhadap mendiang suami serta putranya.
Meskipun bukti tersebut hanya berupa sesuatu yang samar dan tidaklah kuat—serta Eina yang tidak menemukan mayatnya—namun Eina menganggap jika hal tersebut merupakan kebenaran—yang mana dia tidaklah mungkin memenangkan sidang jika Eina menuntut para bangsawan tersebut kepada Cedric IV.
Pikirannya pun kacau, hanya dipenuhi oleh keinginan balas dendam. Sejak saat itu, Eina menghasut Movic, Pangeran Kedua Kerajaan Natrehn pada saat itu, dan Zelhard, bangsawan militer yang berhubungan dekat dengan Keluarga Fonca, untuk mengkudeta ayah serta membunuh beberapa anggota keluarga kerajaan—termasuk Sang Pangeran Pertama.
Movic berhasil memenangkan perang saudara, membuatnya merasa berhutang budi kepada Eina. Sejak saat itu, Movic I mengangkatnya menjadi seorang jenderal yang bertugas untuk menjaga keamanan ibukota serta mengambil peran penting dalam struktur organisasi kemiliteran Kerajaan Natrehn.
Namun, pikiran Eina tetaplah dilanda kekacauan, meskipun hal tersebut tidak ditampakkan olehnya.
Beberapa kali Eina telah mengikuti ritual kegelapan untuk membangkitkan kembali setidaknya putranya seorang, meskipun telah mengorbankan ribuan nyawa manusia, meskipun telah menggunakan harta yang tidak terhitung jumlahnya, namun tetap saja hal tersebut merupakan sesuatu yang sia-sia.
Keputusasaan melanda, berbulan-bulan hatinya tidak juga diliputi kedamaian, membuatnya benar-benar berambisi untuk menciptakan kehancuran bagi Kerajaan Natrehn.
Seorang bangsawan muda dari keluarga Baron yang sangat cakap muncul. Eina memberi perhatian ekstra padanya dan membantunya untuk meraih banyak prestasi militer sekaligus meningkatkan pengalaman serta keahliannya.
Sejak saat itu, Barlock von Renus, jenderal yang dianggap sangat berwibawa, pun terlahir dan membuat Keluarga Renus menjadi keluarga bangsawan berperingkat Earl, yang membuat Val sangat menghormati Eina dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tidak hanya hal tersebut, dari balik layar, Eina bekerjasama dengan Konfederasi Lemane yang berniat untuk menyeludupkan beberapa mata-mata dalam pemerintahan Movic I, yang mana Eina lakukan tanpa meninggalkan satupun jejak.
Kedua genggaman tangannya pun juga tidak dapat terlepas dari Keluarga Kerajaan Natrehn. Memanfaatkan pengaruh politik serta militernya, Eina mendekati Julius serta menghasutnya sejak beberapa tahun lalu.
Bibit-bibit ketidakpuasan pun muncul dari dalam benak Julius, yang semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Julius sangatlah khawatir jika ayahnya akan membatalkan haknya sebagai Putra Mahkota dan membuat adiknya mewarisi singgasana, meskipun dirinya telah dipastikan akan mengenakan mahkota di masa depan.
Sebuah kesempatan emas sekali lagi muncul, Eina menghasut untuk berperang melawan Kerajaan Rowling dengan mengerahkan 100.000 prajurit mengandalkan Barlock sebagai komandannya.
Tidak sekalipun Eina mengharapkan kemenangan. Tujuannya hanyalah membuat Rowling mengerahkan kekuatan penuhnya untuk melakukan peperangan skala besar melawan Natrehn.
Namun, kejutan pun muncul. Meskipun tidak merasakan sebuah penyesalan terhadap kehancuran Barlock dan pasukannya hingga membuat Eina sangat bahagia, namun dia tetaplah memberi perhatian kepada seorang pemain baru yang akan mengisi panggungnya.
Ares von Rueter.
Entah bagaimana cara serta hal apa yang telah dilakukannya, Eina sangat tertarik pada seseorang yang mampu menghancurkan Barlock serta membuat penyusupan konfederasi dapat diketahui.
Terbesit kembali percakapan dirinya pada malam itu. Eina bertemu dengan sosok berjubah dengan topeng perak yang menyusup ke dalam mansionnya di Ibukota Scandiva.
Ares menunjukkan sebuah permata antik berbentuk hexagram berwarna biru yang ditemukannya di dekat seorang gadis korban pemerkosaan di sebuah desa barbarian yang telah dijarah oleh Zelhard.
Saat itu, kedua mata Eina terbuka lebar. Bukti konkret mengenai kehidupan putranya telah berada pada genggamannya.
Seketika hatinya dilanda kebahagiaan, Eina mengetahui jika putranya menikah dengan seorang wanita yang berasal dari salah satu suku barbarian.
Entah putranya yang bersembunyi serta menjauhkan diri dari kehidupan aristokrasi, atau bahkan kehilangan ingatan, Eina mengetahui jika dia telah memiliki dua orang cucu bernama Alfr serta Frieda yang terukir pada kedua sisi permata.
Hati Eina pun hancur. Ares mengabarkan jika putranya telah lama meninggal serta Frieda yang diperkosa hingga tewas oleh para prajurit Zelhard dan Val yang menyerang Tanah Utara—yang sebelumnya merupakan perintah Julius.
Keputusan bulat pun terukir. Eina menetapkan hatinya untuk tidak hanya menghancurkan seluruh garis keturunan Fonca yang ada, namun juga termasuk seluruh bangsawan Kerajaan Natrehn—termasuk Keluarga Kerajaan serta House of Ginnes, keluarga Zelhard—dan hanya menyisakan Alfr seorang.
Tatapannya sejenak menjadi tajam, Eina berbalik untuk melanjutkan langkahnya menyusuri lorong kastil yang segera diikuti oleh beberapa perwira militer di belakangnya.
Salah satu sudut bibir Eina samar terangkat. Dengan menggenggam erat permata hexagram di tangan kanannya, Eina berharap jika tujuannya akan tercapai kurang dari setengah tahun lagi.
Rintik salju telah terlihat, apakah kamu akan segera menjalankan rencanamu yang penuh lubang itu?
Sebagai hadiah karena diriku telah menemukan keberadaan putraku, aku telah mempersiapkan beberapa hal agar kamu dapat menjalankan rencanamu dengan mudah...
Yang Mulia Pangeran Julius.
...----------------...