I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 36 : Melarikan Diri dari Benteng Veldaz? Ck, Pengecut!



Tahun 1236, 7 April.


Benteng Veldaz, Puncak Pegunungan Brenne, Bekas Wilayah Count Dupent.


Pagi Hari.


Ini sudah tidak dapat dibiarkan lebih lama lagi!


Kami harus mengorbankan prajurit yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi!


Barlock hanya dapat meratapi sangat buruknya nasib yang diterima oleh pasukannya semenjak ia merebut Benteng Veldaz dari tangan Count Dupent.


Dua hari telah berlalu semenjak Barlock memerintahkan regu elitnya untuk menjarah desa yang berada di sisi selatan dari kaki Pegunungan Brenne.


Tanpa kabar dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengirim pesan burung, Barlock hanya dapat memiliki perasaan gelisah saat mencari cara agar para prajuritnya dapat terselamatkan.


Berbagai cara telah ia lakukan seperti memastikan kualitas air yang mereka bawa agar tidak berasa dan tidak berbau, berburu hewan yang segar, dan lain sebagainya. Tetap saja, tidak ada dari para prajuritnya yang dapat dikatakan sembuh.


Bahkan, sudah lebih dari 10.000 prajuritnya yang telah tewas karena hal yang tidak diketahui Barlock. Akibatnya, dalam dua hari terakhir, dengan terpaksa ia harus membakar mayat para prajuritnya yang tewas agar para prajuritnya yang masih hidup tidak tertular.


Namun, Barlock telah memahami apabila ia tidak dapat memperpanjang situasi ini lagi. Meskipun ia telah merebut Benteng Veldaz dengan bersusah payah dan menggunakan pengorbanan besar, Barlock harus kembali karena situasi yang sudah di luar harapannya.


"Persiapkan para prajurit yang berada dalam kondisi sehat, kami... akan kembali menuju Benteng Ligard," perintah Barlock dengan berat hati saat melihat para mayat prajuritnya yang terbaring di ruang terbuka benteng dari jarak yang cukup jauh.


Memahami kondisi yang memaksa Barlock memutuskan hal tersebut, para perwira di belakangnya hanya dapat memberi hormat sembari berkata, "Ya, Pak!"


Tetap saja, beberapa perwira memiliki perasaan yang tidak puas.


Tidak secara sengaja mendengarnya, seorang prajurit muda, yang sedang meratapi salah satu prajurit yang sedang terbaring lemah, bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ke arah Barlock.


Meskipun terikat dengan aturan militer, prajurit muda itupun memprotes, "Apakah Anda benar-benar meninggalkan prajurit yang masih hidup?!"


Barlock mengalihkan pandangannya menuju sumber suara yang sedikit jauh dari tempatnya berada dengan ekspresi tegas. Ketika Barlock melihat prajurit muda tersebut, ia memiliki mata yang berkaca-kaca saat berjalan mendekatinya.


Apakah kamu merupakan seorang wajib militer?


"Aku terpaksa melakukan hal ini, Nak," ujar Barlock dengan nada tegas.


Mengabaikan pangkatnya, prajurit muda tersebut pun berteriak, "Jika saja Anda tidak memerintahkan kami untuk mendaki gunung, saudaraku bahkan tidak akan meninggal, Sialan!"


BRUK!


"Argh!" teriak prajurit muda tersebut kesakitan.


Para perwira militer lain dengan sigap menahan prajurit muda tersebut dengan menjatuhkannya. Tentu saja, Barlock, yang merupakan salah satu dari tiga jenderal terkuat Natrehn dan seorang bangsawan yang memiliki gelar Earl, sangat tidak pantas untuknya diperlakukan dengan buruk.


"Ketahui tempatmu, Sialan!" umpat perwira yang menindih tubuh prajurit muda tersebut.


Ketika menatapnya, Barlock memiliki perasaan kompleks karena ini juga merupakan kesalahannya. Tetap saja, ia harus melangkah maju agar tidak menciptakan keadaan yang semakin memburuk.


Dengan sedikit penundaan karena memiliki rasa bersalah, Barlock pun berkata dengan nada tegas, "Jika kau masih ingin hidup, ikuti perintahku, Nak."


Setelah mendengar perkataan Barlock, prajurit muda tersebut hanya dapat menatap Barlock dengan tatapan penuh dendam dan sedikit meneteskan air mata.


"Biarkan dia menjernihkan pikirannya, kami akan berangkat saat matahari berada di puncak," perintah Barlock dengan nada tegas seolah mengabaikan prajurit muda tersebut.


"Ya, Pak!" jawab para perwira dengan memberi hormat.


Setelah melihat kepergian para perwiranya dengan menahan prajurit muda tersebut yang akan ditempatkan di dalam penjara, Barlock pun melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya di gedung terbesar yang berada tak jauh dari lokasinya untuk melakukan persiapan penaklukkan.


Seketika, pemikiran Barlock pun berpacu sangat cepat seolah memikirkan berbagai hal yang dilakukan oleh musuhnya.


Meskipun berada dalam keadaan genting, Barlock tetap waspada mengenai pengepungan Benteng Veldaz yang dapat dilancarkan oleh tentara gabungan. Maka dari itu, ia selalu memerintahkan para prajuritnya yang kuat untuk melakukan penyisiran lingkungan sekitar benteng semenjak mereka merebut Benteng Veldaz.


Apakah tentara gabungan telah merencanakan hal ini?!


Jika begitu, apakah mereka saat ini telah menyerang Benteng Ligard yang saat ini berada tanpa pertahanan?!


Tidak... tunggu sebentar.


Ya, tidak mungkin mereka telah memperkirakan hal ini.


Meskipun ia merasa sangat aneh dengan keadaan dimana selama tujuh hari tidak melihat tanda-tanda pergerakan pasukan musuh, Barlock segera menepis pemikiran buruknya karena mengingat kesembronoan Count Dupent saat ini.


"Jenderal?" panggil perwiranya karena melihat Barlock yang terdiam.


Tersadar oleh panggilan prajuritnya, Barlock segera mengubah ekspresinya menjadi tegas dan berkata, "Akhiri pengintaian bagi seluruh regu, kami akan pergi saat matahari berada di puncaknya."


Perwira yang bertanggung jawab atas pengintaian tersebut segera tersadar atas situasi yang tidak dapat diperpanjang setelah mendengar perkataan Barlock.


Dengan nada menyesal, perwira tersebut menjawab, "Baik, Pak."


Barlock dengan berat hati melanjutkan langkahnya untuk menuju ruang pribadinya. Setelah memasuki ruangan, ia segera mengambil perkamen yang berada di salah satu lemari dan membawanya ke meja yang berada di dekat jendela.


Hmm, kondisi dimana bibir serta jari tangan yang membiru...


Tubuh menggigil serta sesak napas...


Kami mengalami hal ini semenjak dua hari merebut benteng.


Barlock menuliskan kondisi yang dialami oleh para prajuritnya bermaksud untuk melaporkannya kepada Raja sebagai bentuk pertanggung jawabannya dan sebagai catatan untuk perang di masa yang akan datang.


Setelah selesai mempersiapkan catatannya, Barlock menggulung perkamen tersebut dan menyimpannya di sakunya. Ia pun segera bangkit untuk mempersiapkan dirinya untuk pergi dari benteng ini.


Barlock segera meninggalkan gedung ketika ia merasa matahari yang hampir berada di puncaknya. Ketika melihat para prajuritnya yang telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan benteng dengan lesu, Barlock segera memantapkan hatinya untuk tegas dengan keputusan yang sangat berat ini.


"Berapa banyak?" tanya Barlock kepada seorang perwira yang berjaga.


"Yang sanggup menuruni benteng dan berada dalam keadaan bugar hanya... sekitar 15.000... Pak," jawab perwira tersebut dengan ekspresi sulit.


Tentu saja, Barlock memahami para perwira yang menahan banyak prajuritnya karena mungkin saja mereka akan menjadi beban selama perjalanan kembali dimana mereka akan menuruni pegunungan.


Tidak mengambil sedikitpun resiko, para perwiranya hanya mengizinkan orang yang benar-benar bugar untuk menuruni benteng sehingga mereka benar-benar dapat dipastikan aman.


Dengan berat hati, Barlock membalas dengan nada yang sangat menyesal, "Begitu."


Setelah semua para prajuritnya siap, Pasukan Utama Kerajaan Natrehn meninggalkan Benteng Veldaz dengan 15.000 prajurit saja.


Namun, mereka tidak pernah mengira bahwa itu akan menjadi awal dari kehancuran mereka.


...----------------...


Catatan :


Dalam dua hari selama seminggu, aku akan update 2 chapter... mungkin?


...----------------...