
Tahun 1237, 25 Maret.
Ibukota Lombart, Kerajaan Rowling.
Malam Hari.
Sudah saatnya.
Dari pos tertinggi yang berada di atas tembok yang melindungi istana kerajaan, Ares melihat siulet beberapa manusia dengan baju besi yang terukir lambang Kerajaan Natrehn pada bagian dadanya—yang juga terjadi di beberapa sudut Ibukota Lombart.
Tangannya terangkat tinggi, Ares segera melempar jauh sebuah batu kecil menuju titik yang telah ditentukan sebelumnya. Sejenak keheningan menyelimuti, yang tanpa penundaan segera berubah menjadi kekacauan.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Secara berurutan, di beberapa titik ledakan bom molotov terjadi hingga menimbulkan suara yang sangat keras. Tanpa penundaan, mata-mata Ares yang telah menyamar sebagai penjaga istana pun membuka lebar gerbang istana kerajaan.
Pasukan kombinasi infanteri dan kavaleri berkekuatan 300 prajurit segera menerjang masuk. Sekitar 1.600 prajurit lain segera bergerak untuk menyabotase barak ksatria agar mereka lambat dalam merespon penyerangan istana. Tidak hanya itu, 1.000 prajurit lain telah ditugaskan untuk membuat kekacauan di beberapa sudut ibukota dengan baju besi Natrehn sebagai pengelabuan terhadap para penduduk.
Pasukan Ares segera menyebar menuju pintu istana di beberapa titik. Tidak tinggal diam, para ksatria penjaga istana segera menghadang laju penyerangan pasukan Ares yang menyerang untuk memasuki istana.
Tentu, Ares telah menyusupkan sebagian kecil anggota Klan Cornwall untuk memfokuskan operasinya pada seluruh Keluarga Kerajaan, Keluarga Pangeran Pertama Lucas, serta Duke Holfart sebagai inti negara yang tertuju pada jalan-jalan rahasia istana, di samping membuat mereka menahan Dark Guild Laguna agar tidak ikut campur.
Bagi Ares, jika mereka telah terbunuh, membuat pihak lain seperti para menteri untuk menyerah jauh akan menjadi lebih mudah, meskipun dapat dipastikan beberapa diantaranya tetap melakukan sebuah perlawanan.
Meluncur jatuh, Ares menusukkan Rapiernya pada dinding agar dapat menahan kecepatan jatuhnya. Segera, ia berlari menyusuri sudut-sudut istana yang sepi menuju targetnya agar gerakannya tidak tertahan oleh musuh bersama beberapa ksatria elitnya.
Tersenyum lebar, ekspresinya terlihat segar. Ares menghunuskan Rapiernya kepada beberapa ksatria yang hendak menyerangnya.
Jika aku membawa senapan, ini mungkin akan terasa seperti perang dunia.
JRASH!
JRASH!
Menebas beberapa ksatria yang menerjang ke arahnya dengan bilah runcing Rapier, Ares membagi kelompoknya menjadi beberapa unit kecil dan berpencar memasuki beberapa pintu belakang istana.
Bersama dengan empat orang ksatria termasuk Robert, Ares mengendap-endap dengan tidak sedikitpun mengeluarkan suara dan hawa kehadiran.
Hingga berada di dalam lorong istana, sebuah siulet wanita dengan pakaian tidur secara samar tampak hendak memasuki kamar dengan pintu yang sangat kumuh, yang mana hanya Ares yang melihatnya karena berada di posisi terdepan dalam barisan.
Jika Ares tidak melihatnya, bahkan dia tidak akan berpikir jika seseorang akan bersembunyi di dalamnya. Gudang yang sangat kumuh dan bau tanpa ada jalan tersembunyi, semua sudut bagian dari istana kerajaan tentu telah Ares ketahui hingga membuatnya berpikir demikian.
Salah satu tangannya terangkat ke samping, tanda bagi Robert serta tiga ksatria elit lain untuk menahan langkah mereka.
"Ada apa, Tuan?" tanya Robert sangat lirih.
"Jangan ikuti aku." Kata-kata Ares terdengar sangat kuat, yang mana perbedaan nada Tuannya dari beberapa saat lalu sangat terasa hingga membuat Robert serta ketiga ksatria lainnya merasa aneh.
Tanpa mempedulikan jawaban Robert, Ares mengendap-endap mendekati pintu, meskipun Robert dan ketiga ksatria lainnya mendekat untuk menjaga lingkungan sekitar Tuannya. Samar, suara isak tangis seorang bayi terdengar dari dalam ruangan dengan suara seorang wanita yang benar-benar ingin menenangkan bayinya.
Ares menggenggam pegangan pintu tersebut. Hatinya seketika terasa berat. Emosi sejak dirinya membunuh Calvin telah membayanginya hingga Ares merasakan sebuah penyesalan yang begitu besar.
Memberanikan diri, Ares mendorong kuat pintu yang terasa telah tertahan dari dalam hingga dapat terbuka dengan paksa.
"Tidak mungkin..." Katherine memiliki wajah yang penuh ketakutan, kedua tangannya pun ia kerahkan untuk melindungi putra semata wayangnya dengan posisinya yang terduduk di sudut ruangan. Tanpa sadar, air mata mengucur semakin deras dari kedua mata Katherine hingga membasahi seluruh wajahnya.
Meskipun Katherine tidak sedikitpun memiliki perasaan kasih sayang kepada anaknya, namun hal itu telah berubah semenjak beberapa hari terakhir.
Tidak lagi menganggap putranya hanya sebagai alat politik, tidak lagi melihat anak semata wayangnya hanya sebagai sebuah benda, naluri Katherine membuatnya memberikan cinta tulus seorang ibu bagi putranya, yang sejak dahulu tidak sekalipun pernah dirinya lakukan.
Hingga mendengar suasana mencekam yang terjadi di luar istana, Katherine menganggap jika Ares akan berfokus pada jalan rahasia, yang menyebabkannya bersembunyi di dalam gudang kumuh bersama putranya yang masih berusia kurang dari dua tahun.
"Tolong... aku mohon... tolong lepaskanlah kami..." Katherine membungkuk dalam hingga keningnya menyentuh lantai, wajahnya pucat berurai air mata, tubuhnya pun samar terlihat gemetar karena ketakutan, "Aku berjanji! Kami tidak akan pernah lagi memasuki istana dan tinggal di desa terpencil! Jadi... tolong..."
Langkah kaki Ares semakin mendekat, Rapiernya pun tetap terhunus, namun wajahnya sangat menunjukkan kesulitan besar.
Bukan merupakan malaikat yang dapat tidak sedikitpun menunjukkan emosi, bukan pula iblis yang melakukan kejahatan tanpa merasakan sedikitpun belas kasihan, Ares hanyalah seorang manusia biasa dengan hati yang dapat terombang-ambing.
Diliputi oleh dilema, Ares tentu telah mengetahui bagaimana Katherine dan Faksi Istana telah membuat istrinya tercinta menderita bertahun-tahun lamanya, yang membuat Excel hidup tanpa seseorang yang benar-benar mendukungnya.
Tidak tahu harus melampiaskan amarahnya atau bahkan harus bersikap naif dan mengampuni mereka karena rasa belas kasihannya.
Air matanya perlahan menetes, kepalanya pun tertunduk penuh penyesalan. Dengan menguatkan genggaman pada gagang Rapiernya, Ares dengan berat hati mengatakan sesuatu yang benar-benar dia tidak ingin ungkapkan, "Maaf... aku tidak dapat mengabulkan hal itu."
Katherine perlahan mengangkat kepalanya dan kembali menatap Ares dengan sebuah senyuman lemah. Wajahnya berurai air mata, dia mengerti takdir kematiannya yang pasti akan terjadi tidak lama lagi.
"Bolehkah aku... meminta satu hal yang sangat egois kepadamu... Ares?" Katherine telah menerima takdir kematiannya, terlihat tegar disaat dia memandang putranya yang telah tertidur dengan penuh kasih sayang.
Ares sejenak terdiam, dia tahu hal apa yang akan diminta oleh Katherine. Meskipun begitu, perasaannya membawa Ares untuk setidaknya menerima permintaan terakhir Katherine, "Ya."
"Tolong... tolong selamatkan dia..." Katherine memandang putranya dengan penuh penyesalan, "Karena aku... belum pernah sekalipun memberinya perhatian... Karena aku... sering kali membuatnya menangis..."
"Bukankah aku... adalah seorang ibu yang buruk?" sambung Katherine dengan lemah.
Ares hanya dapat terdiam dan menyarungkan kembali Rapiernya sebagai tanda menerima permohonan Katherine. Melihat perilaku Ares, Katherine merasa kelegaan besar menyelimuti hatinya hingga dia tersenyum lebar.
Pandangannya pun kembali teralihkan menuju bayi yang berada dalam pelukannya. Sedikit mengencangkan pelukannya, Katherine pun mencium kening kecil putranya dengan lembut.
"Evan... maaf... mungkin kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan ibu... Kupikir... itu akan lebih baik untukmu bersama dengan Paman Ares dibandingkan dengan ibu yang selalu membuatmu menangis..." ungkap Katherine yang semakin terisak.
"Evan... jangan pernah merepotkan seseorang yang telah memberimu bantuan... Makanlah yang banyak dan teratur... Carilah seorang teman yang mampu menerimamu apa adanya... Tidak apa-apa hanya memiliki satu atau dua, walaupun mereka berasal dari seorang rakyat jelata... jangan pernah sekalipun membeda-bedakan mereka..." sambung Katherine.
"Simpanlah uangmu, hiduplah dengan penuh tanggung jawab... jangan menjadi seperti ibu yang sekalipun tidak pernah melakukan hal itu..." Katherine semakin terisak, sekali lagi dia mendekap putranya dengan penuh kasih sayang, "Maafkan ibu... maaf... karena tidak dapat menjadi orang tua yang baik untukmu..."
Sekali lagi mencium kening putranya, Katherine dengan perlahan menyerahkan Evan menuju pelukan Ares. Bilah Rapier kembali terhunus, senyuman lebar pun tampak di atas wajah Katherine.
"Apapun yang terjadi padamu..." Perlahan, kedua mata Katherine tertutup. Merasakan kematian yang datang mendekat, Katherine pun tersenyum lebar, "Ibu akan selalu menyayangimu."
JLEB!
Ares menusuk tepat pada jatungnya, rasa sakit perlahan menyebar dari dada Katherine hingga membuatnya tanpa sadar mengeluarkan darah dari mulutnya.
Perlahan-lahan, kesadaran Katherine semakin memudar, pandangannya pun semakin kabur, nafasnya terasa semakin berat. Untuk terakhir kali memandang anak semata wayangnya, Katherine pun melukiskan senyuman hangat penuh kasih sayang di atas wajahnya.
Merasakan kehadiran yang mendekat, Ares tidak sedikitpun berbalik dan tetap mempertahankan wajahnya yang basah akibat air matanya agar tidak terlihat, "Lakukan penguburan layak untuk Putri Katherine von Linius."
"Ya, Tuan!"
Dua ksatria dengan perlahan dengan lembut mengangkat Katherine yang telah tewas dan pergi dengan berhati-hati. Merasakan Robert masih berada di belakangnya, Ares dengan berat mengalihkan pandangannya menuju Evan yang berada dalam pelukannya.
"Apakah Anda..." Robert tidak melanjutkan perkataannya. Robert tentu mengerti jika hal yang akan dilakukan Ares sangatlah memberikan beban mental pada Tuannya.
"Selama Katherine telah terpuaskan... aku tidak keberatan untuk menjadi seorang penjahat." Kata-kata Ares mengindikasikan bahwa dia akan melakukannya.
Memahami perasaan Tuannya, Robert pun membungkuk dalam, "Saya akan menunggu di luar ruangan, Tuan," lalu berbalik pergi.
Merasakan Robert telah meninggalkan ruangan, Ares pun mengambil selimut hangat Evan yang berada di lantai dan membaringkan Evan tepat di atasnya.
Ares menyadari bila Evan memiliki potensi yang menyebabkan anak-anaknya menderita di masa depan, yang mana dia juga tidak ingin membuat Evan menderita seperti yang dialami Excel sepanjang masa mudanya jika Evan mengetahui bila ibunya dibunuh oleh orang yang merawatnya.
Walaupun mungkin Evan tidak akan pernah mengetahui kebenarannya karena disembunyikan, Ares tidak menginginkan Evan menjalani kehidupannya dalam kebohongan belaka.
Sekali lagi menghunuskan Rapiernya, air matanya sekali lagi deras menetes dari kedua mata Ares. Berbeda dengan membunuh seseorang yang telah dewasa dan dapat melakukan perlawanan, membunuh seorang bayi yang tidak dapat melakukan satupun perlawanan sangat menyakiti hatinya.
Tentu, Ares bukanlah seorang psikopat yang mana sangat menggores hatinya jika dia melakukan pembunuhan pada seorang bayi, walaupun dia memiliki hobi bermain game simulasi peperangan.
Dengan berat, hingga bilah Rapier pun terasa sedikit bergetar, Ares pun menutup kedua matanya dengan penuh penyesalan karena tidak dapat memenuhi janjinya pada Katherine sebelumnya.
Maafkan paman...
Jika saja... kamu bukanlah seorang putra dari penerus tahta...
Aku pasti akan merawatmu dengan penuh kasih sayang.
Jadi tolong... pintakan aku pada ibumu sebuah permohonan maaf...
Bahkan jika dia akan mengutukku dan menyeretku menuju neraka...
Aku pasti akan menerimanya dengan lapang dada.
Karena aku... juga tidaklah berbeda dengan dirinya, seorang manusia rakus dan tamak yang hanya mengharapkan kebahagiaan bagi diri dan keluarganya seorang.
...----------------...