I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 42 : Mustahil? Tidak Juga



Tahun 1236, 18 April.


Benteng Ligard, Bekas Wilayah Perbatasan Natrehn.


Pagi Hari.


"Mustahil..." ujar Lucas yang menatap seolah tidak percaya dengan menunggangi kuda perang putihnya.


Hanya satu kata yang ada di dapat diucapkan oleh Lucas saat melihat bendera yang melambangkan Keluarga Kerajaan Rowling berkibar di puncak menara tertinggi bersama bendera yang melambangkan House of Rueter yang berkibar di puncak menara yang sedikit lebih rendah di dalam Benteng Ligard.


Beberapa hari telah berlalu semenjak Lucas, yang memimpin 3 ordo ksatria kerajaan dan tentara reguler, bertemu dengan Count Dupent untuk merekonsiliasi pasukan mereka.


Bertentangan dengan harapannya, Lucas tidak menemukan satu keanehan apapun saat menyusuri Lembah Vietra untuk menuju Wilayah Perbatasan Kerajaan Natrehn.


"Yang Mulia," panggil seorang ksatria muda tampan berambut pirang yang menunggangi kuda di sampingnya.


"Ethan, kirim pendahulu kepada adikku dan Ares. Kami akan segera memasuki benteng," perintah Lucas tegas.


"Ya, Yang Mulia," ujar Ethan dengan menunduk lalu pergi.


Lucas dan pasukannya pun segera bergerak menuju Benteng Ligard dengan menurunkan kecepatannya. Ketika hampir mencapai gerbang benteng, tiba-tiba gerbang pun segera terbuka dengan Ares dan Excel yang berada tepat di dalamnya yang bermaksud menyambut mereka.


Saat Lucas, yang ditemani oleh Ethan dan Lavreigh mendekati tempat Ares berada, ia segera berlutut bersama para perwira di belakangnya meninggalkan Excel yang tetap berdiri dengan acuh tak acuh.


"Selamat datang di Benteng Ligard, Yang Mulia," sambut Ares yang berlutut dengan menundukkan kepalanya diikuti oleh para perwiranya saat kuda Lucas berada di depan Ares.


"Selamat datang, Kakak," sambut Excel yang memiliki ekspresi sebal.


Lucas pun segera turun dari kudanya diikuti oleh Ethan, Lavreigh, para ksatria, dan bangsawan bawahannya.


"Hanya rasa terima kasih sepertinya tidak akan cukup atas prestasimu yang telah berhasil memenangkan perang ini, Ares," ungkap Lucas yang tersenyum dengan kerutan di dahinya.


Yah, itu benar.


Jika kamu memberikan seluruh kerajaan kepadaku, sepertinya itu akan cukup, Yang Mulia.


Hanya senyum masam yang terukir di wajah Ares yang tidak terlihat saat menunduk ketika mendengar perkataan Lucas.


"Kata-kata Anda tidak pantas untuk diri saya yang lemah ini, Yang Mulia," jawab Ares dengan merendahkan dirinya.


Karena ingin segera memasuki benteng, Lucas berkata, "Berdirilah."


"Baik, Yang Mulia," jawab Ares lalu berdiri diikuti oleh para bawahannya.


Ketika Lucas mengalihkan pandangannya menuju Excel, dia melihat raut wajahnya yang menunjukkan ketidakpuasan.


"Lama tidak berjumpa, Adikku," ungkap Lucas dengan tersenyum paksa.


"Tidak selama itu. Baru saja dua minggu sejak kakak menyuruhku pergi, tidak perlu repot-repot untuk segera datang kemari," balas Excel sebal.


Ares hanya dapat dibuat terkejut setelah mendengar kata-kata Excel. Dia tidak pernah menyangka bahwa Lucas akan mengirimkan Excel kepadanya yang membuat perang ini dapat berakhir hanya dalam waktu dua minggu.


"Ayah telah memerintahkanku pergi untuk membantumu dan Ares," timpal Lucas dengan sedikit sebal.


"Lagipula, perang ini dapat diselesaikan hanya dengan bantuanku saja," balas Excel sebal.


Seolah menyela percakapan agar tidak semakin berlarut-larut, Ares berkata, "Saya akan membimbing Anda, Yang Mulia" sembari mengulurkan tangannya ke dalam benteng.


Mereka pun segera memasuki benteng bersama dengan ordo ksatria dan perwira tingkat tinggi dari tentara reguler menuju bangunan terbesar meninggalkan prajurit dengan posisi yang lebih rendah untuk berkemah di luar benteng.


Setelah duduk di dalam ruang terbesar yang ada di dalam gedung dan disajikan teh serta makanan ringan oleh para pelayan, Ares melaporkan, "Yang Mulia, beberapa hari lalu, saya telah melakukan perundingan dengan para perwira Natrehn dikarenakan mereka telah—"


"Kenapa Anda tidak menunggu hingga Yang Mulia tiba, Margrave?" tanya Ethan yang sedikit kesal dengan menyela Ares.


"Jangan menyela Ares, Ethan. Kau tidak ingin mati, bukan?" timpal Excel yang sebal dengan mengeluarkan nafsu membunuhnya.


Beberapa orang di dalam ruangan segera gemetar karena takut dengan tekanan yang diberikan Excel, meninggalkan Lucas dan Ares yang telah sering merasakannya secara langsung.


"Ck, apakah Count tidak sedikitpun mengajarimu sopan santun?" tanya Excel kembali dengan kesal.


Ethan tak kuasa menjawab karena tekanan yang diberikan Excel semakin terpusat kepadanya.


Seolah lelah dengan perilaku tunangan tidak resminya, Ares berkata, "Tidak apa-apa, saya tidak begitu keberatan."


Excel pun dengan segera menarik kembali nafsu membunuhnya yang menyebabkan semua orang di dalam ruangan merasa sangat lega.


"Yang Mulia, Tuan Ethan, Tuan Lavreigh, saya telah memberikan hasil perundingan yang menurut saya dapat menjadi salah satu tonggak sejarah bagi Kerajaan Rowling," balas Ares dengan tersenyum.


"Apa itu?" tanya Lucas heran.


"Gnery," panggil Ares tanpa menghadapnya.


"Ya, Tuan," jawab Gnery tegas.


Gnery, yang telah berjaga di dalam ruangan sembari membawa sebuah kotak, melangkah maju menuju tempat dimana Ares duduk dan meletakkan kotak tersebut. Ares pun juga segera membagikan gulungan perkamen kepada Lucas, Ethan, Lavreigh, beserta beberapa ksatria yang berafiliasi dengan ordo ksatria.


Mata mereka seketika terbuka lebar saat melihat isi dari gulungan perkamen tersebut.


"Bagaimana mereka dapat menyetujui hasil perundingan seperti ini, Margrave?!" ujar Lavreigh dengan keras karena sangat tidak mempercayai isinya.


"Yah... dengan kerja keras, mungkin?" timpal Ares seolah bertanya-tanya.


Ethan pun seketika merasa sangat malu dan rendah diri dikarenakan ia yang sebelumnya sangat meremehkan Ares.


"Dan juga, bersama Yang Mulia Putri Excel, saya telah mengalahkan 80.000 prajurit Natrehn yang dapat dibuktikan dengan benda ini," ujar Ares dengan membuka tutup kotak tersebut.


Sekali lagi, Lucas dan Lavreigh dibuat tidak percaya dengan prestasi yang ditorehkan oleh Ares saat melihat benda yang berada di dalam kotak.


Tidak ada dari mereka yang mengira Ares, yang mereka anggap sebagai orang gila karena maju ke medan perang sendirian, akan memenangkan pertempuran melawan musuh yang sangat besar meskipun itu adalah kebohongan yang dibuatnya.


"Mustahil!" teriak Lavreigh dengan keras.


"Bagaimana bisa?!" tanya Lucas dengan sedikit keras.


"Kami hanya maju dan melawan mereka secara langsung. Bukankah itu benar, Yang Mulia?" timpal Ares sembari menolehkan wajahnya yang tersenyum kepada Excel yang duduk di sampingnya.


"Tentu saja," jawab Excel dengan percaya diri sembari membusungkan dadanya yang biasa saja.


Seketika, Lucas menjadi sangat panik karena dia menyadari posisi dan pengaruh politiknya—tidak, seluruh pangeran akan melemah.


Tentu saja, itu dikarenakan kata-kata "kami" yang dilontarkan oleh Ares yang menandakan bahwa Excel juga terlibat di dalamnya.


Apa yang akan terjadi apabila salah satu keluarga kerajaan, meskipun dia memiliki posisi terendah untuk mahkota di dalam keluarga royalti, memiliki prestasi dimana dia mendapatkan sesuatu yang sejak raja terdahulu idam-idamkan dan tidak pernah dapatkan sebelumnya?


Apalagi, Excel, yang dibantu oleh tunangan belum resminya, telah berhasil mengambil kepala salah satu dari tiga jenderal besar dan membabat habis pasukan utama negara musuh bebuyutan mereka dengan hanya 12.000 prajurit?


Tentunya, Lucas tidak dapat mengambil alih secara paksa prestasi militer Ares dikarenakan Ares juga mengatakan bahwa itu juga merupakan prestasi Excel dimana dia merupakan adik dan seorang Putri Kerajaan Rowling yang memiliki urutan keempat dalam pewarisan tahta.


Lavreigh, yang mengalami kekalahan dan kehilangan semua prestasi militer yang dia merasa dapat mencapainya, menjadi panik dan dipenuhi oleh dendam kepada Ares karena menganggapnya telah mencuri semua yang seharusnya dia dapatkan dan kehilangan pengaruhnya di kerajaan dan para bangsawan utara.


Ethan, yang notabene baru saja menjadi pengawal pribadi Lucas dan tidak pernah berperang melawan Natrehn, merasa kebingungan dengan reaksi Count Dupent dan Tuannya. Ia pun bertanya dengan mengerutkan keningnya, "Yang Mulia, apakah Anda mengenal siapa itu?"


"Itu adalah kepala salah satu dari tiga Jenderal Besar Kerajaan Natrehn, Barlock von Renus," jawab Lucas yang telah menyembunyikan kegelisahannya.


Setelah mendengarnya, Ethan seketika tersadar akan perubahan kekuatan politik yang akan terjadi di Kerajaan Rowling saat pertemuan para bangsawan pada pertengahan tahun nanti.


Melihat raut wajah tiga bangsawan di depannya dan beberapa perwira militer lain yang berada di dalam ruangan, Ares hanya dapat mengukir senyuman di wajahnya.


Terima kasih karena telah membantu saya dengan mengirimkan White Demon, Yang Mulia.


Saya tidak pernah menyangka bahwa bantuan yang Anda berikan akan menghancurkan diri Anda sendiri seperti ini.


...----------------...