
Tahun 1236, 12 Agustus.
Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.
Dini Hari.
"Ooooohhhh!"
Dari dua arah yang berbeda, dua kepala suku bersama-sama dengan pejuang di dekatnya menerjang Sang Jenderal Pasukan Kerajaan Natrehn.
JRASH!
BAK!
"Argh!"
"Ugh!"
Rintihan para prajurit akibat rasa sakit yang beberapa diantaranya segera tewas akibat serangan para pejuang barbarian yang sangat ganas, seolah menjadi momok menakutkan pertanda kematian bagi para prajurit Natrehn yang lain.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk pria tua yang mengenakan seragam militer berpangkat jenderal yang sedang menghunuskan pedangnya kepada para barbarian di dekatnya.
Efek hormon adrenalin semakin meningkat, kedua sudut mulutnya pun terangkat, Zelhard benar-benar menunjukkan wajah penuh kebahagiaan terhadap pembantaian pada musuh-musuhnya.
Sebuah kapak dari sisi kanan serta sebilah greatsword dari sisi kirinya segera menyerangnya. Namun dengan memanfaatkan kecepatannya, Zelhard bergerak ke kanan dan menangkis kapak perang yang datang dan mendorongnya ke atas.
TRANG!
Tidak ada diantara keduanya yang tidak meragukan indera penglihatannya. Bagi Thorgils dan Havarr, menghindar atau bahkan menangkis serangan mereka adalah sesuatu hal yang sangat mustahil—yang bahkan Ares akan berpendapat sama jika dia tidak mengetahui kemampuan seorang jenderal bernama Zelhard tersebut.
Bilah pedang Zelhard yang memiliki dua mata tersebut terhunus menuju leher Havarr yang tubuhnya terdampak mundur. Zelhard mengetahui permainan longswordnya lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan senjata berupa kapak perang dan pedang besar.
TRANG!
Sepasang belati segera menangkisnya. Tanpa penundaan, sebuah ujung rantai bulat berduri tertuju pada kepala Zelhard.
Tubuhnya segera dimiringkan ke samping hingga tidak mengenainya. Tidak pernah terpikirkan oleh Zelhard sebelumnya bahwa dia harus menghadapi empat orang sekaligus yang membuatnya semakin bersemangat.
Marie sedikit terkejut akan reaksi cepat Zelhard yang bahkan dirinya belum pernah melihat seseorang yang memiliki reflek seperti itu sebelumnya.
Bagi Zelhard, empat melawan satu adalah pertarungan yang tidak berat sebelah. Meskipun Thorgils memiliki statistik yang hampir menyamai Zelhard, namun tidak ada diantara mereka yang memiliki pengalaman bertempur sebanyak jenderal di depannya.
Bagai melakukan sebuah Raid dalam suatu game RPG melawan seorang last boss.
"Ooohhhh!"
Sekali lagi, Greatsword Thorgils terhunus untuk menebas dada Zelhard dari samping. Bersamaan dengannya, Gale menyerang dari sisi belakang dengan kedua belatinya sembari Havarr yang mengarahkan bilah kapak perangnya dari atas menuju ubun-ubunnya, meninggalkan Marie yang telah melompat mundur.
TRAAANNGGGG!
"Hah?!"
Cepat.
Zelhard menggunakan reflek dan kecepatannya untuk menangkis serangan Greatsword Thorgils dari bawah hingga ujung longswordnya mengikis bilah Greatsword.
Bersamaan dengan tubuhnya yang melompat kepada Thorgils, serangan Gale dan Havarr pun luput dari target hingga kedua mata mereka terbuka lebar.
Tidak mungkin menguasai pedang besarnya yang baru saja ditangkis, Thorgils segera merasakan tebasan Longsword Zelhard akan mengenai perutnya.
BAM!
Zelhard kembali menarik tubuhnya untuk menjauh. Akibat lemparan rantai Marie yang berkekuatan penuh, pijakan Zelhard tepat sebelum dia melompat segera hancur hingga berlubang.
"Cih." Marie mendecakkan lidah.
Namun, punggung Zelhard merasakan keringat dingin. Membalikkan tubuhnya dengan cepat, Zelhard segera melihat sebilah pedang yang hendak menebasnya.
TRANG!
Di balik pedang tersebut, pandangan Zelhard terfokus kepada sosok berjubah dengan sepasang mata kuning yang bersinar dari balik tudungnya.
Tentu saja, Ares tidak menggunakan Rapiernya karena bermaksud menjadikannya senjata rahasia.
Menggunakan sebuah pedang curian bermata dua, Ares pun segera melukiskan senyuman cerah di atas wajahnya.
"Apakah kau adalah Sang Destroyer?" tanya Zelhard.
"Ah, batu itu? Tentu saja," timpal Ares dengan tersenyum masam.
"Menarik, siapa namamu?" tanya Zelhard kembali seolah bersenang-senang.
"Salah satu jenderal Tentara Margrave Rueter, Gnery," jawab Ares dengan tersenyum kecut.
Terkejut atas jawaban yang terdengar begitu jujur dari Ares. Zelhard tidak pernah menyangka bahwa bawahan Margrave Rueter—yang telah membunuh salah satu Jenderal Besar Kerajaan Natrehn sepertinya—memiliki kepentingan di utara benua.
Merasakan bahaya, keduanya segera melompat mundur.
BAM!
Kerutan kecil terbentuk pada kening Ares. Dia sangat keheranan dengan Marie yang melemparkan bola besi rantainya hingga menciptakan sebuah lubang di tempat ia sebelumnya berpijak—meskipun dia mengetahui jika Ares merupakan Tuan yang seharusnya dilindunginya.
Kelima orang tersebut sekali lagi melancarkan serangan kepada Zelhard. Tebasan, tusukan, lemparan, tendangan, hingga pukulan tidak luput dari variasi serangan yang dilancarkan kelima orang tersebut.
Para prajurit dan pejuang di sekitar yang sekilas melihat ganasnya pertarungan keenam orang tersebut, hanya dapat menjauhinya karena kerusakan luar biasa yang diterima oleh lingkungannya.
Tentu, Ares tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya karena menunggu Lean kembali dari misi khusus yang diberikan kepadanya.
Jauh di selatan medan perang, sosok berjubah hitam terlihat sedang membantai puluhan prajurit Natrehn yang datang ke arahnya.
Memanfaatkan kecepatan dan tubuhnya yang ramping, Lean pun menerobos banyak celah-celah kecil yang terdapat pada tenda tempat pasokan makanan Tentara Natrehn dikumpulkan.
JRASH!
Setelah menebas orang terakhir yang menyerangnya, Lean segera mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan menggoreskan ujung belatinya dengan cepat pada lubang botol tersebut.
BLAR!
Lemparan bom molotov terarah pada lumbung makanan Natrehn yang telah sengaja dilumuri minyak sebelumnya. Memanfaatkan persediaan minyak para tentara, Lean bermaksud untuk membakar dan menghancurkan markas Tentara Kerajaan Natrehn yang hanya dijaga sekitar 50 prajurit.
Merasa kurang, Lean mengambil beberapa obor dan membakar lebih banyak kain-kain tenda serta kereta kuda yang menjadi tempat lumbung makanan.
BWOOSSH!
Titik-titik api pun tercipta. Suasana merah segera mengelilingi dirinya.
Merasa misi khususnya telah dapat dianggap sukses, Lean segera melompat dan berlari mendekati salah satu kuda perang lalu memacunya untuk kembali menuju medan perang dimana Tuannya berada.
Di salah satu sudut medan perang, Arthur benar-benar berjuang untuk keselamatan hidupnya. Tidak pernah mengira bahwa kedua lawannya memiliki kemampuan luar biasa, sangat membuat Arthur menyesali keputusannya menerima perintah Ares.
Sebuah Greatsword terhunus dari samping tubuhnya. Menyamping untuk menghindarinya, sebuah longsword segera meluncur dari atas kepala Arthur.
SRAT!
Sangat tipis.
Hanya memotong beberapa helai rambutnya, Arthur benar-benar bersyukur atas keberuntungannya karena selalu dapat menghindari serangan yang tertuju ke arahnya—meskipun dirinya juga harus berjuang untuk menghindari serangan-serangan yang muncul dari para pejuang dan prajurit Natrehn di sekitarnya.
Tidak berbeda dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar menunjukkan suatu kepanikan luar biasa.
TRANG!
Longsword dan Greatsword sekali lagi bertemu. Suara keras akibat dua pedang yang beradu tidak membuat Arthur goyah.
Meskipun beberapa saat yang lalu Arthur berniat untuk melarikan diri, namun hal tersebut tidak dapat terjadi karena dua senjata tersebut yang segera menyerangnya.
Menghindari sembari melompat kecil, Arthur melayangkan sejenak tubuhnya secara horizontal di udara untuk menghindari dua pedang yang saling menyerangnya dari samping.
TRANG!
TRANG!
Di samping kesyukurannya akibat tidak sedikitpun terkena serangan fatal dari mereka berdua, Arthur memiliki perasaan yang sangat kompleks.
Tentu saja, hal tersebut dikarenakan mereka berdua yang bermain bersih layaknya seorang ksatria. Meskipun tendangan dan pukulan sesekali muncul, namun tidak sedikitpun trik kotor yang terlintas di dalam pikiran mereka.
Kesempatan!
Melihat keduanya yang sejenak tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya, Arthur pun menghunuskan kedua pedang yang masing-masing digenggam oleh kedua tangannya dengan mendekati mereka.
TRANG!
Arthur sekali lagi menjadi sangat terkejut. Meskipun beberapa kali telah melakukan serangan yang sama, namun kedua musuhnya tersebut entah bagaimana dapat menangkis dan menghindari serangannya.
Tanpa sengaja, tatapan Val tertuju kepada Zelhard yang sedang bertarung melawan lima orang pejuang di dekatnya.
Terlihat perlawanan yang imbang, sedikit kebanggaan pun muncul dalam hati Val.
Seketika menjadi lebih bersemangat, Val pun memutuskan untuk menebas Astrid menggunakan kekuatan penuhnya. Tidak berbeda dengan Val, Astrid merasakan serangan yang akan dilancarkan musuhnya akan menjadi sangat berbeda yang membuatnya juga mengeluarkan serangan terbaiknya.
"Ooohhhh!"
"Aaaahhh!"
TRANG!
...----------------...