
Tahun 1236, 17 Agustus.
Wilayah Utara Benua Barat.
Pagi Hari.
Merepotkan.
Hanya satu hal yang terbesit di dalam benak Ares dan Gale saat melakukan perjalanan menuju utara selama 5 hari terakhir.
"Gnery!" panggil Astrid yang hendak menyambar lengan Ares.
"Jangan menyentuhku, Sialan!" timpal Ares dengan menepis keras tangan Astrid.
Suasana gaduh menyelimuti. Meskipun mereka sedang menyusuri jalanan sempit yang berada di kedalaman hutan yang membuat mereka diharuskan untuk fokus terhadap bahaya, namun hanya Lean dan Arthur yang menjaga keadaan sekitar.
Bertentangan dengan niatnya disaat Ares menepis tangannya dengan keras, wajah Astrid seketika terlihat dipenuhi kebahagiaan yang membuat Ares melukiskan ekspresi jelek.
Tidak berbeda dengan keadaan Gale yang sedang berjalan di belakang Ares. Meskipun Gale dapat berjalan dengan normal, namun dia terganggu oleh suasana tepat di belakangnya yang sangat panas.
"Minggir, Idiot!" umpat Havarr dengan mendorong tubuh Alfr ke samping.
Setelah menyeimbangkan kembali tubuhnya yang hampir terjatuh, Alfr pun membalas, "Jangan mendorongku, Sialan! Sejak tadi aku telah berada di sini!"
"Hah?! Aku yang seharusnya berada di dekat Ina!" timpal Havarr penuh kekesalan.
Tawa samar terdengar dari Lean—yang berperan sebagai penjaga belakang—yang segera mengembalikan ekspresi datarnya yang membuat Gale sangat kesal. Begitu pula dengan Marie yang bersiul sembari bernyanyi seolah menikmati sebuah perjalanan wisata akademi.
Tentu saja, tidak ada diantara mereka yang tidak menyadari ketertarikan Alfr dan Havarr kepada Gale.
Gale pun menghela napas berat. Disaat dia akan membuka mulutnya—
"Apakah kamu membutuhkan sesuatu, Ina?" tanya Alfr bernada penuh perhatian sembari tersenyum cerah.
"Hah?! Ina membutuhkan bantuanku, Idiot!" timpal Havarr sembari mendorong keras tubuh Alfr di depannya.
Sekali lagi hampir terperosok jatuh. Alfr pun berbalik dan memukul wajah Havarr yang sangat membuatnya kesal.
Arthur, yang berjaga di bagian terdepan, hanya dapat menghela napas berat terhadap interaksi Tuannya dengan Astrid yang berjalan tepat di belakangnya tersebut.
Ctak!
"Ukhh," ungkap Astrid dengan sedikit nada kenikmatan sembari menahan dahinya dengan kedua tangannya.
Kantung mata Ares sekali lagi berkedut disaat ia menyaksikan reaksi Astrid yang baru saja dahinya disentil. Ares menyadari sentilan jemari tangan kanannya yang seharusnya sangat sakit karena lengan kirinya yang menggenggam gagang Rapier—yang membuat statistik tubuhnya melebihi 120 poin.
Masokis gila!
Kuh, seharusnya aku tidak menerima dia sebagai perwakilan Suku Barat!
Beberapa kali disaat Ares tertidur di malam hari, Astrid melakukan serangan malam kepada Ares yang membuatnya tertendang hingga terpental jauh.
Namun, menyakiti Astrid dengan menendangnya tidak sedikitpun membuat Ares senang. Saat pertama kali diserang, Ares baru saja menyadari bahwa wanita liar tersebut mengeluarkan erangan kenikmatan disaat dia terpental.
Astrid juga baru saja merasakan kenikmatan disaat dirinya tertendang oleh pria yang menjadi target kesukaannya.
Baginya, tidak ada satupun pemuda suku yang dikenalnya memiliki kekuatan melebihi Thorgils hingga membuatnya tidak tertarik kepada mereka, yang juga tidak berbeda dengan anggapan Astrid kepada Val sebelumnya.
Keningnya berkerut, Ares benar-benar mengutuk dunia game yang baginya berjalan semakin aneh. Tidak hanya menjadi Tutorial Game Boss yang akan mati di awal permainan, Ares juga bertemu dengan banyak orang merepotkan yang seharusnya tidak ditemuinya di dalam game.
Secercah harapan pun muncul.
Pintu keluar dari hutan telah terlihat yang membuat Ares mempercepat langkahnya hingga menyalip Arthur yang berjalan di depannya.
"Tunggu, Gnery!" protes Astrid sembari mengejar Ares.
Muak dengan suasana di belakangnya yang membuatnya sangat kesal, Gale juga mempercepat langkahnya untuk menyusul Ares.
"Tunggu, Ina!" teriak Havarr.
"Jangan tinggalkan aku!" teriak Alfr.
Sinar matahari cerah menerpa. Meninggalkan hutan yang sangat lebat dengan banyak semak-semak tersebut, Ares dan Gale segera melihat pemandangan sebuah pedesaan dengan banyak rumah kayu yang sedikit jauh dari tempatnya berada.
Dengan bersemangat, mereka berdua pun menerjang angin yang sedikit lebih dingin dibandingkan dengan wilayah tengah benua dan menuju desa tersebut.
Hm?
Ada apa?
Hingga berada di dekat desa tersebut, mereka melihat kegaduhan di luar pintu masuk desa dengan banyak penduduk suku yang berkumpul.
"Panggilkan aku kepala suku kalian!" teriak seorang pemuda kekar berambut hitam yang memiliki wajah penuh luka.
Meskipun Askarr sedari tadi telah mengatakan sesuatu hal yang sangat tidak patut untuk dikatakan, namun dia membawa serta nama Kepala Suku Selatan sebagai perwakilan sehingga membuat para penduduk desa hanya dapat terdiam.
Sang Kepala Suku tentu telah mendengar kabar suasana desa yang menjadi gaduh dari laporan beberapa penduduk.
Berjalan dengan langkah tegap khas seorang pejuang dan ditemani oleh beberapa pejuang di belakangnya yang bertindak sebagai pengikut, para penduduk desa segera membuka jalan untuknya.
Berbeda dengan Askarr yang memperbaiki posturnya menjadi tegap, Ares dan kelompoknya memutuskan untuk menunggu dan melihat situasi terlebih dahulu dari kejauhan—meskipun beberapa pejuang Suku Utara telah memberi perhatian kepadanya.
"Appraisal," ujar Ares menargetkan Sang Kepala Suku Utara.
......................
...[Status]...
Nama : Harek
Umur : 58 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gelar : Kepala Suku
Afiliasi : Suku Utara, Wilayah Utara Benua Barat
Statistik
Keahlian Senjata : 120 (+0)
Kelincahan : 83 (+0)
Kepandaian : 23 (+0)
Tubuh : 115 (+0)
Kepemimpinan : 85 (+0)
Loyalitas : 100
Moral : 85
Pelatihan : 75
......................
Melihat statistik tersebut, senyuman kecut pun terukir di atas wajah Ares.
Julukan orang terkuat di benua barat yang diberikan kepadanya sangat tepat, bukan?
Meskipun mungkin saja statistik Harek lebih rendah daripada Zelhard dan Thorgils yang menggunakan senjata, namun statistik mentahnya jauh melebihi mereka berdua.
Tatapan penuh penilaian Sang Kepala Suku Utara, Harek, yang memiliki tubuh kekar berotot dengan rambut putih panjang yang sangat acak-acakan serta berjenggot putih tebal tertuju kepada Askarr.
Melihat beberapa orang yang menunggu di kejauhan, Harek sejenak mengalihkan perhatiannya kepada Ares dan memutuskan untuk menyelesaikan kegaduhan di hadapannya terlebih dahulu.
"Siapa kau?" tanya Harek.
Intimidasi berupa ***** membunuh pun terpancar. Didukung oleh tubuh kekarnya yang sangat besar, sangat menekan Askarr yang telah terlihat sedikit gemetaran.
Harek tidak dapat langsung membunuhnya karena Askarr membawa serta nama Kepala Suku Selatan. Tentu saja, membunuh perwakilan seorang kepala suku dapat membawa masalah dan bahkan dapat menimbulkan konflik hingga peperangan pada kedua suku.
Harek mengerti tujuan Askarr serta beberapa pejuang suku lain dalam kelompok Ares datang kepadanya. Sebagai kepala suku, Harek juga menyebarkan beberapa pejuangnya untuk melihat keadaan sekitar.
Singkatnya, dia mengerti jika ketiga suku besar lain telah berkonflik dalam skala penuh dengan Natrehn.
Berada pada jarak yang cukup jauh, Arthur, Astrid, serta dua anggota kelompok lain yang berasal dari suku barbarian juga tidak lepas dari perasaan intimidasi. Ekspresi wajah mereka sedikit memiliki ketakutan di dalamnya.
Hal tersebut tidaklah berlaku untuk Ares serta para anggota Klan Cornwall. Meskipun kekuatan mereka berada di bawah Harek, namun berulang kali mereka telah dihadapkan oleh jurang kematian yang hanya membuat ekspresi datar di atas wajah mereka.
Sekali lagi, senyuman masam terukir di atas wajah Ares disaat dia melihat reaksi ketiga anggota kelompoknya serta Askarr yang gemetaran.
Nah...
Apa yang akan kau lakukan, Perwakilan Suku Selatan?
Haruskah aku membantunya?
Yah, ayo tunggu dan lihat keadaan terlebih dahulu.
...----------------...