
Tahun 1236, 16 Juni.
Jalan Alternatif Wilayah Earl Mollen, Kerajaan Rowling.
Pagi Hari.
Di bawah mentari pagi, seorang pria muda sedang mengemas barang dimana dia baru saja berkemah bersama dengan wanita yang saat ini menjadi tunangannya. Namun, beberapa hari terakhir selama perjalanan mereka kembali, Excel sering meminta untuk berhenti sejenak untuk memetik bunga.
Meskipun Ares mengetahui makna dibaliknya, dia sedikit khawatir dikarenakan Excel yang sangat sering melakukannya. Tentu saja, Excel tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ares dikarenakan dia yang tidak ingin menjadi beban dalam perjalanannya kembali.
Tanpa berbalik, Ares bertanya dengan nada yang sedikit keras, "Apakah kamu sudah selesai, Excel?"
"Tunggu sebentar," jawab Excel dari balik pepohonan di belakang Ares.
Tentu saja, Ares telah menyiapkan air dan selembar kain untuk digunakannya selama perjalanan bersama Excel.
Tak lama kemudian, Excel segera keluar dari balik pepohonan dengan membawa satu kantung air. Melihatnya, Ares bertanya dengan nada khawatir, "Apakah terjadi sesuatu denganmu?"
"Tidak... aku hanya sedang tidak enak badan..." jawab Excel sedikit lemah.
"Apakah kita harus berhenti di kota selanjutnya?" tanya Ares dengan khawatir.
"Tidak apa-apa, mungkin saja kami akan terlambat untuk pertemuan bangsawan di awal bulan jika tidak kembali secepat mungkin," timpal Excel dengan lirih.
Excel pun melangkahkan kakinya menuju Lykan dan menungganginya bersama Ares seperti yang telah biasa dilakukannya dalam perjalanan.
Menopang tubuhnya yang lemah dengan memeluknya, Ares hanya dapat memikirkan satu hal di dalam benaknya yang membuatnya sangat gelisah.
Apakah kamu telah hamil, Excel?!
Bukankah aku hanya satu kali melakukan hal itu bersamamu?!
Bukankah itu berarti kamu sangat subur?!
Sesuai pengalaman yang dilakukannya bersama para gundiknya, Ares berkesimpulan bahwa mereka setidaknya akan menunjukkan tanda-tanda kehamilan setelah melakukannya beberapa kali. Ares tidak pernah berpikir apabila Excel, yang baru melakukan hal tersebut sebanyak satu kali bersamanya, akan segera hamil.
Mengingat dirinya yang melakukan banyak tembakan di dalam tubuh Excel malam itu, Ares berpikir bahwa itu sangat mungkin untuk terjadi.
Namun, dia segera menepis pemikirannya dan berharap Excel hanya kelelahan akibat perjalanan panjang bersamanya, meskipun itu sedikit tidak masuk akal mengingat statistik tubuh tunangannya yang sangat tinggi.
Akan menjadi sebuah hal yang sangat menghebohkan apabila Ares dan Excel, yang merupakan seorang bangsawan besar dan anggota keluarga kerajaan, diketahui telah melakukannya sebelum mereka menikah.
Mengarahkan tangannya untuk memegang perut Excel, Ares berkata dengan nada khawatir, "Jika saja... kamu telah mengandung... apakah kamu bisa menahannya hingga pertemuan para bangsawan selesai?"
Memikirkan pertemuan para bangsawan yang akan terjadi kurang dari satu bulan, hal itu tentunya tidak akan menimbulkan kecurigaan dikarenakan fisik Excel yang masih terlihat normal, meskipun dia harus menahan beberapa rasa tidak mengenakkan yang terjadi pada tubuhnya.
Mendengarnya, wajah Excel sedikit memerah. Dia mengetahui bahwa dirinya dalam beberapa hari terakhir tidak mengalami datang bulan yang menyebabkan kemungkinan itu akan besar terjadi.
Excel pun mengarahkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Ares sembari mengalihkan wajahnya untuk menatap perutnya, lalu Excel berkata dengan nada yang terdengar berharap, "Jika saja... hal itu terjadi... aku tidak akan membuat anak ini dan kita dipermalukan."
Di dalam benaknya, meskipun Excel berniat untuk membantai orang yang telah mempermalukan anaknya jika itu terjadi, ia tetap tidak ingin anaknya dianggap sebagai hal yang tabu di kalangan bangsawan.
Mengingat sejarah kerajaan dimana terdapat beberapa pewaris bangsawan yang lahir di luar nikah, rumah serta diri mereka akan segera diolok-olok dan dipermalukan saat mereka menghadiri Akademi atau melakukan pertemuan dengan para bangsawan lain.
Apalagi, jika itu Ares, seorang bangsawan berperingkat Margrave, dan Excel, anggota keluarga kerajaan, mengingat mereka tidak memiliki dukungan kuat dari kalangan bangsawan lain, sangat berbeda dengan Lucas dan Zee, yang dapat melakukan apapun yang mereka inginkan karena dukungan yang mereka miliki sangat banyak.
Tentu saja, hal ini dilakukan para bangsawan agar tidak terjadi kekacauan antara anak sah dan anak selir dalam hal pewarisan.
Mendengar kata-kata Excel yang siap menahannya, sedikit perasaan lega mulai muncul di dalam benak Ares meskipun rasa khawatirnya lebih tinggi kepadanya.
Mendekatkan wajahnya ke telinga Excel, Ares berkata dengan nada menyesal, "Begitu... aku benar-benar meminta maaf kepadamu."
Excel segera menggelengkan kecil kepalanya, dia merasa sedikit sedih karena telah disalahpahami, ia berkata, "Tidak... aku sebenarnya benar-benar bahagia," yang menyebabkan Ares segera tersenyum lega.
Tak lama berselang, mereka berdua melihat seekor elang yang datang dan segera berputar di atas kepala mereka.
"Pesan apa yang kamu kirim setelah memasuki perbatasan kemarin? Bukankah itu terlalu cepat untuk mendapatkan sebuah balasan?" tanya Excel yang penasaran.
Ares pun segera turun dari punggung Lykan, lalu dia menjawab, "Yah... mungkin saja mereka berlarian untuk mencariku. Aku hanya mengirimkan pesan apabila aku telah sampai di perbatasan dan mengirimkan undangan kepada beberapa bangsawan."
Excel segera tersenyum masam, dia mengingat bahwa tunangannya juga merupakan seorang penguasa wilayah.
"Menyenangkan apabila kita melakukannya lagi di masa depan," ujar Excel dengan nada senang.
"Yah, mungkin saja aku akan dikurung di dalam kastil jika begitu," jawab Ares dengan tersenyum kecut.
"Apakah itu bangsawan yang memusuhi ayah dan saudaraku?" tanya Excel.
"Itu benar," jawab Ares lugas.
Seketika, Excel melukiskan senyuman bahagia di wajahnya. Dia berpikir bahwa tidak akan lama lagi, dia dapat membalas dendamnya.
Tentu saja, Ares menyembunyikan masalah seperti anjuran mandi, minimalisir penggunaan riasan kepada para gundiknya, pembangunan sumur, dan pembersihan saluran pembuangan kota disamping shampoo dan foundation untuk mengejutkan tunangannya.
Meskipun sedikit ketakutan karena intimidasi Lykan, elang tersebut segera menukik dan hinggap di pundak Ares setelah dia berjalan menjauhi tempat Lykan berpijak.
Mengambil sebuah gulungan kecil di kakinya, Ares segera membuka segel tersebut dan membaca isinya.
Melihatnya, Ares benar-benar menjadi sedikit senang. Dia mendapat sebuah pesan dari Renne, yang berada di Kota Ereth, dengan menunjukkan posisi regu pencarian terdekat.
Ares segera berkata, "Excel, kami akan mendapat sebuah kereta kuda. Apakah dia bisa berjalan sendiri?" sembari mengarahkan pandangannya pada kuda perang hitam yang dinaiki tunangannya.
Excel segera menatap Lykan dan membelai lehernya, dia berkata, "Dia akan patuh jika dia telah merasakan nafsu membunuhku."
"Be—begitu..." jawab Ares yang sedikit terkejut dengan alasan yang diberikan tunangannya.
Segera mengangkat tangannya untuk menerbangkan kembali elang di bahunya, Ares segera menaiki Lykan dan bergerak kembali.
Tak lama kemudian, mereka mencapai jalan setapak yang berada di tengah ladang gandum dan segera melihat sebuah desa kecil tepat di ujung bidang pandang mereka.
Seorang ksatria wanita cantik berambut kuning yang mengenakan armor ringan dan sepuluh orang bawahannya segera mendekati Ares karena melihat mereka yang menunggang kuda mendekat. Tali kekang kuda Lykan segera ditarik Excel yang menyebabkan Lykan menghentikan langkahnya setelah berjarak dekat dengan mereka.
Mereka pun segera berlutut dengan Dia yang berada tepat di depan para bawahannya setelah tiba di dekat tempat Ares dan Excel berada.
"Yang Mulia, Tuan, selamat datang," sambut Dia dengan menundukkan dalam kepalanya diikuti oleh para prajurit.
Ares pun seketika mengingat seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya.
Bukankah dia adalah ibu Milly?
Memastikan identitasnya, Ares merapal, "Appraisal," dengan menargetkannya.
......................
...[Status]...
Umur : 34 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Gelar : Kolonel
Afiliasi : Margrave Rueter, Kerajaan Rowling
Statistik
Keahlian Senjata : 67 (+4)
Kelincahan : 70 (+2)
Kepandaian : 55 (+0)
Tubuh : 69 (+4)
Kepemimpinan : 70 (+0)
Loyalitas : 82
Moral : 75
Pelatihan : 78
......................
I—itu benar-benar Dia!
Milly tidak mengatakan kepada ibunya jika aku telah memperkosanya, kan?!
Ares seketika menjadi sangat gelisah karena bertemu dengan ibu sepupunya yang memiliki statistik lumayan tinggi. Melirik tunangannya yang tiba-tiba terdiam, Excel bertanya dengan nada khawatir, "Ada apa?"
"Tidak... ayo turun..." jawab Ares.
Membantu Excel untuk turun dari pelana Lykan yang memiliki tubuh begitu besar, sedikit membuat Ares kesulitan namun dia dapat dengan lancar menurunkan Excel pada akhirnya.
"Berdirilah," perintah Excel.
"Baik, Yang Mulia," jawab Dia lalu berdiri diikuti oleh para bawahannya.
"Apakah kamu telah membeli kereta kuda, Dia?" tanya Ares dengan melirik Excel.
"Saya telah mempersiapkannya, Tuan," timpal Dia tegas.
Menggenggam tangan tunangannya, Excel segera tersenyum dan berkata, "Um... terima kasih, Ares."
"Baik, saya akan membimbing Anda, Yang Mulia, Tuan," ujar Dia dengan menunduk ringan.
Ares dan Excel pun segera menunggangi Lykan kembali dan memasuki desa tersebut dengan bimbingan Dia dan para ksatria pengawalnya.
Dia benar-benar sangat professional, bukan?
Bahkan, setelah mengecek status para ksatria pengawalku saat ini, mereka memiliki status yang hampir setara dengan Dia.
Apakah mereka merupakan mantan pasukan khusus bawahan Canaria?
Teringat akan seseorang yang telah didepaknya, Ares bertanya, "Bagaimana kabar Gnery?"
Mengingat Gnery adalah rekan lama mereka, para ksatria pengawal segera menahan mulutnya agar tidak tertawa. Meskipun Dia juga hendak tertawa, dia menahan mulutnya dan berkata dengan tegas, "Saat ini, Gnery bertugas sebagai tukang kebun di kastil, Tuan."
"Pfftt," tawa Ares sembari menutup mulutnya.
"Ahahahaha," tawa Excel dengan terbahak-bahak namun segera ditutupi oleh kedua tangannya.
Menunggu beberapa saat hingga mereda, Dia melanjutkan perkataannya, "Dan juga, Gnery akan kembali bertugas untuk mengawal Anda tepat sebelum pertemuan di ibukota berlangsung."
"Begitu," jawab Ares.
Melihat kereta kuda yang telah disiapkan di dekat sebuah gudang yang berada tidak jauh dari mereka, Ares dan Excel segera turun dari punggung Lykan dan berjalan mendekatinya bersama dengan para pengawalnya.
"Berapa harganya?" tanya Ares.
"Kami telah mempersiapkan dana pribadi Anda, Tuan," jawab Dia.
"Baik, terima kasih. Oh, benar, apakah Milly dan Wilma baik-baik saja?" timpal Ares.
Tatapannya menjadi sedikit sedih, Dia berkata, "Saya bersyukur mereka dalam keadaan baik, Tuan... namun, saya sedikit sedih karena hanya dapat bertemu sebentar dengan mereka."
"Begitu... aku juga merindukannya," timpal Ares dengan nada sedih.
Merasa terganggu dengan perkataan Ares, Excel bertanya, "Siapa itu Milly dan Wilma?"
Tersadar akan ranjau darat yang telah diinjaknya, Ares, Dia, beserta para pengawalnya menjadi sangat panik. Ares pun memutuskan untuk menjawabnya dengan jujur, "Itu... selir sekaligus sepupuku dan anakku..."
Excel, yang lahir dan dibesarkan di kalangan bangsawan, tentu saja memahami perilaku tunangannya dikarenakan dia yang telah melihat banyak praktik poligami karena pernikahan politik di kalangan bangsawan untuk kepentingan masing-masing rumah mereka.
Meskipun Esther telah dianggapnya menjadi salah satu gundik tunangannya, namun tetap saja, Excel berniat untuk menjadi satu-satunya istri sah Ares.
Excel pun berkata dengan nada mengintimidasi, "Begitukah? Kamu... tidak akan mengambil seorang wanita lagi... kan?" dan tersenyum penuh arti.
"B—benar," jawab Ares yang sedikit terintimidasi.
Mengenggam tangan dan menyandarkan kepalanya di lengan tunangannya, Excel berkata dengan nada sedih, "Aku... tidak akan berkata apapun terhadap masa lalumu, jadi... jika itu tidak memaksamu untuk melakukannya, aku benar-benar mengharapkanmu untuk tidak mengambil seorang wanita lagi..."
Excel tentu saja memahami jika Ares benar-benar bermimpi untuk mewujudkan Kekaisaran Suci Regulus kembali, dia mungkin saja akan dihadapkan oleh beberapa pernikahan politik di masa depan.
Namun, sebagai satu-satunya orang yang telah menerima dirinya, Excel berharap bila pria yang dicintainya hanya dimiliki oleh dirinya seorang.
Mengetahui masa lalunya yang kelam, Ares berpikir untuk menuruti perkataan gadis di sampingnya. Saat dia meliriknya, Ares melihat pipi Excel yang telah terbentuk jalur tetesan air mata.
Menggenggam erat tangan Excel, Ares menjawab dengan lembut, "Ya, aku berjanji."
Para ksatria pengawal hanya dapat terdiam ketika mendengar percakapan mereka berdua dikarenakan mereka tidak ingin mengusik kehidupan pribadi Tuannya.
Disaat Ares melihat tunangannya segera menutupi wajahnya yang memancarkan kebahagiaan, hanya ada satu hal yang muncul di dalam benaknya selain melatih kembali tubuhnya agar statistik tubuhnya meningkat.
Aku harus segera mencari alat kontrasepsi.
...----------------...