I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 111 : Kewaspadaan Dua Pangeran



Tahun 1236, 17 Desember.


Wilayah Kerajaan Rowling.


Malam Hari.


"Kami telah mengumpulkan para wajib militer sebagai alternatif untuk kekuatan tentara reguler yang terbagi diantara dua faksi. Selain itu, Margrave Rueter berjanji akan menyerahkan persenjataan serta pasokan makanan pada akhir Februari." Salah satu bangsawan faksi melaporkan dalam rapat dewan militer.


Di dalam ruangan di salah satu sudut Kastil Kota Quillen yang memiliki banyak lentera menandakan kecerahan suasana, Zee, Duke Alein, beserta beberapa bangsawan lain sedang berkumpul untuk membahas kemajuan perkembangan pasukan mereka.


Berbeda dengan Tanah Vietra serta wilayah para bangsawan utara yang mengalami musim dingin, Wilayah Alein tetap memiliki iklim tropis meskipun mereka juga mengalami dampak lingkungan yang membuat suhu turun drastis.


Meskipun di hadapannya banyak bangsawan berargumen, termasuk Duke Alein sendiri, Zee tidaklah memperhatikan dengan seksama.


Tatapannya kosong, dia memiliki beberapa hal yang mengganjal di dalam benaknya hingga membuatnya termenung memikirkan berbagai hal.


"Yang Mulia, Yang Mulia." Panggilan Duke Alein membangunkan lamunan Zee.


Perhatiannya kembali tertuju kepada Duke Alein, Zee pun melukiskan ekspresi pahit di atas wajahnya, "Apakah ada sesuatu, Paman? Maafkan aku karena tidak memperhatikan sebelumnya."


"Apa yang Anda pikirkan, Yang Mulia?" tanya Duke Alein dengan ekspresi keruh.


"Tidak, bukan sesuatu yang besar." Zee menggeleng ringan, "Hanya saja, bukankah ada suatu keanehan? Aku mendengar Margrave Rueter membeli beberapa kapal perang dari bangsawan pesisir di selatan."


"Apakah Anda masih memikirkan hal itu? Menurut laporan mata-mata, Margrave membelinya untuk mengantar persenjataan ke Wilayah Vietra," jawab Duke Alein.


"Tetap saja, aku merasa ada sesuatu yang luput dari perhitunganku," timpal Zee.


Duke Alein mengalihkan tatapannya menuju salah satu bangsawan. Mengerti, bangsawan tersebut mengangguk ringan, "Menurut kondisi geografis, meskipun lebih rendah jika dibandingkan dengan Pegunungan Brenne di utara, Wilayah Rueter menuju Vietra dipenuhi oleh pegunungan dan perbukitan, Yang Mulia. Saya kira, Margrave tidak ingin mengambil resiko dimana karavannya diserang oleh bandit gunung."


Zee hanya terdiam, dia tahu jika pendapat itu sangatlah masuk akal. Namun, akan sangat tidak berada pada tempatnya jika Margrave mengirimkannya hingga menggunakan jalur laut.


Kebanyakan para bangsawan lebih mementingkan diri sendiri serta wilayah mereka. Zee sangat mengerti dengan hal tersebut karena dia merupakan seseorang yang juga memiliki sifat sama seperti mereka.


Lebih mudah dan lebih murah mengirimkan pasokan senjata melalui jalur darat. Baginya, meskipun karavan akan terserang oleh bandit, yang mana mereka akan merampas beberapa persenjataan serta pasokan makanan, tetap saja hal tersebut tidaklah membuat para bandit dapat membahayakan keamanan wilayah.


"Saya kira, lebih baik Anda beristirahat untuk sementara, Yang Mulia. Tidak apa-apa untuk menyerahkan pekerjaan ini kepada kami. Dan juga, untuk meringankan beban pikiran, saya telah mempersiapkan beberapa wanita di tempat tidur Anda," ujar Duke Alein.


"Ya." Zee bangkit dari kursinya.


Seketika menjadi bersemangat, Zee sangatlah lelah karena dirinya yang sejak beberapa hari terakhir mempersiapkan pasukan hingga tidak dapat beristirahat dengan baik.


Memandang pintu dimana pangeran sekaligus keponakannya meninggalkan ruangan, Duke Alein menghela napas berat. Dia tahu jika kemungkinan besar beberapa wanita tersebut akan tewas karena penyiksaan keponakannya.


"Bersihkanlah jika meninggalkan jejak," ujar Duke Alein.


"Ya, Tuan," ujar beberapa pelayan di sudut ruangan dengan membungkuk dan pergi.


Sekali lagi, para bangsawan Faksi Pangeran Kedua pun mengambil waktu untuk melanjutkan dewan militer hingga tengah malam tiba.


Jauh di dalam sebuah benteng sederhana yang telah dibangun di perbatasan Vietra dengan Natrehn, Lucas, yang hanya menggunakan pakaian tipis, memfokuskan salah satu matanya untuk membidik.


Keseharian rutin untuk berlatih memanah dan berpedang, Lucas tidaklah sekalipun melewatkan pelatihannya. Meskipun dalam beberapa hari terakhir jadwalnya menjadi tidak lagi teratur, dia tetap menyempatkan dirinya untuk berlatih, walaupun itu hanya sebentar.


Dia memahami tingkat kekuatannya yang tidak dapat dibandingkan dengan Excel, meskipun dia sangat merasa aneh dan bingung tentang bagaimana Excel mendapatkan kekuatan sebesar itu.


TRAK!


Anak panah terlepas dari tangannya. Hanya dalam dua detik, anak panah tersebut tertancap di atas batang pohon, sesuai dengan titik yang menjadi target.


Ada sedikit kelegaan di dalam hatinya, Lucas sedikit bersyukur karena kemampuan bertarungnya tidak menumpul.


"Yang Mulia." Ethan memanggil sembari menyerahkan sebuah kain. Sedikit khawatir dengan kesehatan Tuannya karena tetap memaksakan diri untuk berlatih.


Mengambil kain yang diserahkan Ethan, Lucas segera menyeka keringatnya.


"Bagaimana keadaan Wilayah Rueter?" tanya Lucas tanpa memberi perhatian kepada Ethan.


"Kami tidak lagi dapat mengandalkan informasi dari para penyusup. Kami telah mengirimkan beberapa karavan pedagang sebagai mata-mata menuju Kota Ereth dan Kota Hauzen, tapi tidak terdapat satupun hal yang menunjukkan jika militer mereka bergerak," jawab Ethan.


"Francois?" timpal Lucas.


"Mereka hanya meletakkan militernya di perbatasan, tidak sekalipun melakukan manuver ke ibukota." Ethan menghentikan perkataannya, dia mengerti apa yang ingin dikatakan oleh Tuannya, "Saya... memiliki anggapan yang sama seperti Anda, Yang Mulia."


Mendengar laporan Ethan yang sejenak terhenti, Lucas termenung. Keduanya merasakan hal yang tidak sesuai pada tempatnya.


"Dimana Ares?" Lucas berkata dengan nada yang tenang, menyembunyikan perasaannya yang gundah.


"Menurut laporan yang kami terima... Margrave telah kembali menuju wilayahnya. Kami dapat memastikan hal tersebut karena mata-mata kami melihat rombongannya memasuki Kota Ereth," jawab Ethan.


Apakah mungkin... gerbong itu kosong?


Tidak, seorang bangsawan selalu menempatkan penjagaan ekstra di sekelilingnya. Akan aneh jika dia berkeliaran hanya dengan kelompok kecil.


Tapi... seandainya itu terjadi...


"Ethan, apakah Duke Linius telah berada pada posisinya?" tanya Lucas.


Menahan manuver Francois.


Hal itu telah disepakati dalam dewan perang sebelumnya. Meskipun Lucas memahami implikasinya dimana kekuatannya akan menurun drastis, tapi dia tidak mungkin mengabaikan satupun gerakan yang ditunjukkan oleh Francois.


Dengan meminta ayah Katherine untuk menjaga daerah timur dari manuver Francois sekaligus berjaga-jaga terhadap invasi Gardom, Lucas akan bergerak menuju utara meninggalkan penjagaan ibukota kepada Nick.


Lucas mengerti jika ayahnya hanya dapat membantu kepentingan faksi dari balik bayang-bayang.


Jika dia mendukung salah satu pangeran secara terang-terangan, tidak hanya Ectave akan mendapat pertentangan dengan Faksi Oposisi serta faksi pangeran lain, namun bahkan para bangsawan netral dapat memanfaatkan situasi untuk memojokkan Ectave dari kekuasaannya.


"Ya, Yang Mulia," jawab Ethan.


"Aku akan menuliskan surat kepada pamanku untuk menambahkan kewaspadaan terhadap Ares." Kata-kata Lucas terdengar berat.


Ada perasaan tidak nyaman karena dia telah banyak bergantung kepada Duke Holfart, meskipun kekuasaan akan berbalik kembali kepada House of Holfart setelah Lucas mejadi Putra Mahkota.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan menyiapkan pena untuk Anda." Ethan menundukkan dalam kepalanya, "Permisi," lalu berbalik meninggalkan Lucas.


Terbesit kembali bayangan sepupu laki-lakinya, yang merupakan pewaris Duke Holfart, yang memiliki keahlian berpedang lebih baik darinya, Lucas sangat berharap jika dia setidaknya dapat membendung manuver politik serta gerak militer House of Rueter yang terarah menuju ibukota.


...----------------...