I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 108 : Empat Faksi, Tiga Kepentingan



Tahun 1236, 22 Oktober.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Siang Hari.


Menunggu di dalam ruangan yang telah dipersiapkan untuknya, Ares mengambil secangkir teh hangat yang berada tepat di hadapannya. Gayanya sangat elegan, benar-benar menunjukkan sosok dirinya yang memiliki kehadiran sangat tenang.


Meletakkan kembali cangkir tersebut, tatapan Ares sejenak teralihkan kepada Ethan, ksatria pengawal pribadi Lucas, yang berdiri di sudut ruangan. Tersenyum masam, dia memiliki perasaan geli karena sedari tadi Ethan menatapnya dengan tajam.


"Bagaimana kabar Count Dupent?" Ares memecah keheningan. Ada perasaan yang sedikit menginginkan untuk melembutkan suasana dalam ruangan.


"Saat ini, bersama dengan tentara reguler kerajaan, Count sedang membuat basis-basis pertahanan di beberapa titik Wilayah Vietra," jawab Ethan.


"Begitu..." Ares memejamkan kedua matanya, ingatannya beberapa bulan lalu mulai berangsur kembali, "Bagaimana kabar Yang Mulia Pangeran Lucas?"


"Yang Mulia tidaklah selemah itu hingga membutuhkan kekhawatiranmu. Lagipula, beliau selalu berada dalam kondisi yang sangat baik," timpal Ethan dengan ketus.


Kebencian yang sangat dalam. Mengingat kembali peperangan melawan Natrehn beberapa bulan yang lalu, Ethan sangat muak dengan perilaku Ares yang mencuri semua prestasi militer dan bahkan melakukan perundingan tanpa menunggu kehadiran Lucas, Pemimpin Tentara Reguler sekaligus Sang Pangeran, yang sangat dijunjung tinggi oleh dirinya.


Hanya dapat mengangkat kedua sudut bibirnya, Ares mengambil kembali cangkir teh dan perlahan menyesapnya.


Tok.


Tok.


Seorang ksatria—yang berada tepat di bawah perintah Raja—membuka pintu ruangan tanpa penundaan setelah mengetuknya. Wajahnya segera berubah menjadi tajam disaat dirinya memandang Ares yang terduduk di tengah ruangan, "Margarve, mohon ikuti kami."


"Baik." Bangkit, Ares mengikuti kepergian ksatria tersebut dengan Ethan yang berjalan tepat di belakangnya.


Ada sedikit perbedaan yang dilakukan dalam pertemuan tiga arah yang akan dihadiri oleh Ares.


Demi menjaga keamanan dan kehormatan antar dua pangeran, ruangan yang akan digunakan untuk tempat pertemuan disterilkan terlebih dahulu oleh para ksatria yang berada tepat di bawah perintah Raja. Tidak hanya hal tersebut, segala makanan yang hendak disajikan oleh para koki istana juga mendapat pemeriksaan terlebih dahulu.


Singkatnya, Ectave tidak membuka sedikitpun celah bagi Ares untuk membahayakan kedua putranya, meskipun itu dilakukan dengan alibi agar kedua pangeran tidak melakukan sesuatu yang aneh terhadap satu sama lain.


Tiba di depan sebuah pintu kembar berwarna emas yang sangat besar, Ares dipersilakan memasuki ruangan dan menunggu Lucas dan Zee dengan penjagaan Ethan yang sangat ketat.


Tak lama berselang, Lucas dan Zee memasuki ruangan secara bersamaan dengan melewati pintu yang berbeda. Melihat pintu yang hendak terbuka, Ares bangkit dari kursinya dan menyambut mereka.


"Selamat siang, Yang Mulia Pangeran Lucas, Yang Mulia Pangeran Zee." Ares membungkuk dalam tepat setelah menyapa, "Terima kasih karena telah menyanggupi permintaan saya yang begitu tiba-tiba, saya memohon maaf... saya tidaklah bermaksud untuk merepotkan Anda berdua."


Kata-kata yang terdengar penuh penyesalan dari seseorang yang tersenyum tepat di hadapan mereka, benar-benar membuat Lucas sekaligus Zee muak.


Lucas dan Zee tahu, jika Ares sedang menyindir mereka yang bahkan tidak dapat mengabaikan undangannya karena lawan bicara mereka memiliki pengaruh politik yang sangat besar.


"Selamat siang, Margrave. Aku tidak begitu keberatan." Lucas menjawab dengan wajah cerah sembari menyembunyikan perasaannya.


"Selamat siang, Margrave. Tidak perlu meminta maaf, silakan duduk kembali." Acuh tak acuh, Zee tidak sedikitpun mengeluarkan emosi pada nada bicaranya.


Melihat Tuannya yang sangat diremehkan, Ethan menahan tangannya yang mengepal di salah satu sudut ruangan dengan sedikit menggertakkan giginya.


Ketiga orang tersebut duduk saling berhadapan membentuk sebuah titik pada segitiga. Bercakap-cakap ringan demi formalitas, Ares segera membuat ekspresi wajah yang penuh penyesalan tepat sebelum memasuki topik bahasan utama.


"Ada apa, Margrave?" Zee memiliki kening yang sedikit berkerut, dia merasakan bahwa Ares hendak memasuki topik utama—yang tidak berbeda dengan anggapan Lucas.


Pembohong.


Kata tersebut segera terukir di dalam benak Lucas dan Zee.


Keningnya berkerut, Lucas bertanya-tanya mengenai hal yang menjadi tujuan Ares bertemu dengan kedua faksi pangeran.


Tentu, keduanya tidak sekalipun berpikir jika Ares hendak mengkudeta kerajaan. Bagi mereka, sebesar apapun pasukan yang dimilikinya, secanggih apapun teknologi persenjataan yang dimilikinya, Ares tidaklah mampu menembus dinding pertahanan istana kerajaan.


"Mengapa? Bukankah itu adalah impian setiap bangsawan di kerajaan ini?" Zee menyindir. Meskipun telah membaca surat yang dikirimkan Ares sebelumnya, dia benar-benar waspada dengan aktivitas politik Ares.


"Tidak, Yang Mulia. Hal ini akan menjadi beban bagi saya serta keluarga saya di masa yang akan datang. Saya benar-benar tidak menginginkan bila anak saya akan dijauhi oleh pewaris bangsawan lain disaat dirinya memasuki Akademi Bangsawan nanti," jawab Ares.


Penegasan kembali secara tersirat, pesan tersebut memiliki makna "Ares hanya ingin menjaga posisinya sebagai bangsawan netral."


Tidak seperti Faksi Oposisi yang dipimpin oleh Margrave Francois, Faksi Netral tidaklah memiliki sebuah komando hingga membuat mereka dapat bergerak dengan masing-masing kakinya sendiri.


Ada beberapa keuntungan jika House of Rueter menjadi rumah bangsawan yang tidak mendukung salah satu faksi. Potensi embargo wilayah yang menurun drastis, kerjasama secara bebas dengan para bangsawan anggota faksi kedua pangeran, pasar dagang yang lebih luas, serta beberapa hal lain.


Keduanya mengerti jika Ares sedang membangun ekonomi wilayahnya dengan mengedepankan sektor perdagangan, akan sangat bertentangan dengan tujuannya jika House of Rueter mendukung salah satu pangeran untuk menduduki singgasana.


Meskipun diketahui jika Ares berhubungan dekat dengan Warren dan istrinya, Ann, Lucas dan Zee hanya mengetahui jika hal tersebut sebatas hubungan pribadi.


Meskipun begitu, keduanya tetaplah memasang kewaspadaan tinggi terhadap Ares. Tidak hanya Lucas, Zee pun mengetahui jika Ares memiliki suatu perlindungan tingkat tinggi yang berada di sekelilingnya, yang membuat mereka sangat kesulitan bergerak mengganggunya.


"Sebagai aksi nyata terhadap pernyataan yang telah saya sampaikan sebelumnya... Saya akan mendukung Anda berdua dengan sepenuh hati." Nadanya tenang, Ares terlihat penuh kewibawaan.


"Apakah kau mengerti tentang arti dari kata-kata yang kau katakan?" Zee berkata dengan menahan amarahnya yang seketika memuncak, berbeda dengan Lucas yang hanya terdiam dan tidak menampakkan kekesalannya.


"Tidak, bukan hal tersebut yang menjadi maksud saya, Yang Mulia." Ares menggeleng ringan dengan ekspresi penyesalan, "Saya tidaklah bermaksud untuk mengadu domba kedua faksi karena saya... benar-benar memiliki harapan jika Anda akan bersaing secara sehat."


Pelanggaran perjanjian pasca perang.


Terbesit dalam benak keduanya untuk berperang dengan Natrehn meskipun kedua negara masih berada dalam gencatan senjata.


Jika Ares—meskipun berada di bawah nama Excel—memiliki prestasi berupa aneksasi Tanah Vietra setelah berperang melawan Natrehn, apa yang akan terjadi jika keduanya memiliki prestasi berupa aneksasi Wilayah Natrehn secara keseluruhan?


Tentu saja, karpet merah menuju singgasana.


Ectave dipastikan mengangkat salah satu dari mereka untuk menjadi Putra Mahkota. Akibat dari kelalaian Ectave yang tidak dapat membendung pengaruh Alein sekaligus adanya kemunculan seorang bangsawan berpengaruh yang menikahi Excel, Lucas tidak dapat menjadi seorang Putra Mahkota hingga masa kini.


Selain itu, keduanya dapat saling bermain kotor jika faksi lawan melonggarkan mata mereka di ibukota.


"Saya kira Anda memahami arti dari kata-kata saya, Yang Mulia," ungkap Ares.


Lucas dan Zee memutuskan untuk berkompromi. Tidak mungkin keduanya akan mengabaikan emas yang ada di dalam pandangan mereka.


Meskipun begitu, ada tindakan pencegahan yang akan dilakukan oleh kedua faksi pangeran. Tidak hanya di ibukota, namun juga terhadap Faksi Oposisi yang dipimpin oleh Margrave Francois beserta House of Rueter itu sendiri.


Ares tersenyum, ekspresinya sangat cerah, terlihat benar-benar seperti seorang bangsawan tulen yang sangat setia. Namun, tidak dengan kedua matanya yang menatap mereka seolah memancing mangsa untuk memasuki perangkap.


...----------------...