I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 97 : Pertukaran Informasi Lucy



Tahun 1236, 20 Agustus.


Ibukota Kerajaan Rowling, Lombart.


Malam Hari.


Seseorang berjubah hitam mengendap-endap dengan cepat melewati penjagaan distrik bangsawan yang sedikit ketat.


Beberapa kali dirinya melompat tinggi menapaki atap suatu mansion yang segera melompat jatuh untuk kembali menyusup menyusuri bagian gelap sudut-sudut gelap gang kecil diantara beberapa bangunan megah.


Tanpa mengeluarkan sedikitpun hawa kehadiran dan nafsu membunuh, orang bertudung tersebut dapat dengan lancar melewati beberapa penjagaan seorang ksatria tanpa ketahuan, yang bahkan beberapa diantara mereka tertidur pulas di tengah tugasnya.


Bangunan mansion target yang berwarna putih kebiruan telah terlihat. Melompat tinggi untuk melewati pagar, sosok berjubah hitam tersebut segera bersatu dengan pepohonan yang ada di dalam mansion dan mencari lokasi yang telah ditentukan.


Srrk.


Tali telah terlempar menuju suatu balkon di salah satu sudut mansion. Dengan cepat, sosok berjubah tersebut pun memanjatnya dan merapikan talinya agar tidak menimbulkan suatu kecurigaan.


Tok.


Tok.


Ketukan kecil pada pintu balkon. Perlahan terbuka, sosok berjubah hitam tersebut segera memasukinya dan menutupnya dengan perlahan.


Memandang gadis berambut pirang di hadapannya yang sedang tersenyum lemah kepadanya, sosok tersebut melepaskan jubahnya dengan tetap mengenakan topeng putihnya yang menutupi seluruh wajahnya.


"Selamat datang... Night Walker..." ujar Lucy dengan lemah.


"Mari kita mulai dengan hal yang seperti biasanya," jawab sosok bertopeng tersebut.


Terdengar nada feminim dari kata-kata Night Walker. Pun tidak berbeda dengan lekuk tubuh seorang wanita dewasa dengan dada yang sedikit besar yang timbul dari balik pakaian hitamnya yang sangat ketat.


Lucy tersenyum lemah, dirinya benar-benar sangat bersyukur kepada Ares yang beberapa kali dalam setiap pekan selalu mengirimkan Night Walker ke kamar tidurnya.


"Terima kasih..." ujar Lucy.


"Tidak perlu, saya hanya menjalankan perintah Tuan kami," timpal Night Walker acuh tak acuh.


Lucy menanggalkan pakaian tidurnya dengan cepat. Meskipun hanya dengan penerangan sebuah lentera di dalam ruangan, Lucy benar-benar dapat menatap Night Walker dengan jelas.


Berbaring di atas ranjangnya, beberapa bagian tubuhnya dipenuhi banyak memar yang terlihat baru saja muncul beberapa saat lalu.


Night Walker mengerutkan kening. Meskipun tidak tampak karena wajahnya yang tertutup oleh topeng, namun Lucy entah mengapa dapat mengetahui hal tersebut.


"Aku... baik-baik saja... tidak perlu khawatir dengan kondisi tubuhku saat ini. Bukankah kamu seharusnya telah terbiasa melihatnya?" tanya Lucy dengan nada lemah.


Night Walker hanya menutup rapat kedua bibirnya. Mengambil sebuah botol kecil dari saku jubahnya, ia pun membasahi tangannya dengan cairan dari isi botol tersebut dan mengusap beberapa bekas luka dan memar di tubuh Lucy.


Tatapan Night Walker pun melirik sebuah lembaran perkamen kecil yang ada di atas meja di samping ranjang. Dia mengetahui jika lembaran perkamen tersebut berisikan seluruh informasi faksi Pangeran Kedua sebanyak yang Lucy ketahui serta situasi politik ibukota saat ini.


"Tuan Ares sangat berterima kasih atas respon baik yang selalu Anda berikan," ujar Night Walker tanpa nada.


"Tidak, aku tidak sepantasnya menerima kata-kata seperti itu." Lucy menggeleng ringan.


Menolak untuk diberikan ucapan tersebut, alasan Lucy melakukan hal ini demi kebebasan yang akan didapatkannya di masa depan—meskipun dia juga sangat bersyukur dengan adanya bantuan Ares.


Hanya keheningan sebagai tanggapan, Lucy pun memikirkan berbagai hal yang menjadi keinginannya dan penyesalan yang telah dilakukannya.


"Apakah aku... benar-benar berhak untuk bahagia?" Lucy bertanya dengan nada penuh kesedihan.


Night Walker tidak membuka mulutnya untuk bersuara, entah mengapa dia menginginkan untuk hanya menjadi seorang pendengar.


Perlahan, air mata seketika menetes membasahi pipinya. Lucy benar-benar merasa bersalah akan perbuatan keji yang dilakukannya di masa lalu.


"Karena kami... yang baru saja lulus dari akademi, ayahku membuatku menjadi tahanan rumah di kastil yang berada di Kota Utama Wilayah Larcia... hingga aku melahirkannya..." sambung Lucy.


"Karena posisi bayi tersebut yang berasal dari hubungan luar nikah... demi menjaga nama baik Pangeran Kedua..." Lucy tidak sanggup meneruskan perkataannya. Hanya isak tangis yang dapat terdengar dari suaranya.


Mengingat faksi bersama keluarganya memutuskan untuk membunuh anak kandungnya sendiri—meskipun dia adalah anak tidak sah—sangat membuat pikiran Lucy kacau. Sebagai seorang ibu, Lucy benar-benar tulus mencintai anaknya—yang saat ini telah tiada.


Night Walker hanya terdiam menunggunya hingga Lucy dapat sedikit menenangkan dirinya kembali.


"Apakah Anda ingin terbebas dari penderitaan Anda?" tanya Night Walker setelah isak tangis Lucy sedikit mereda.


Bukan kebebasan menjadi orang biasa yang tidak memiliki tanggung jawab seorang aristokrat, namun kebebasan yang berarti meninggalkan tanggung jawab dengan kematian. Lucy tentu mengerti tentang makna dari kata-kata yang disampaikan kepadanya.


Takut, Lucy sangat tidak siap untuk mati. Meskipun dirinya benar-benar ingin meninggalkan hidupnya yang begitu berat, namun tidak sampai benar-benar ingin melakukan suatu percobaan bunuh diri.


Lucy hanya dapat terdiam sebagai tanggapan. Night Walker tentu mengetahui ketidaksiapan seorang gadis muda di depannya.


Night Walker juga memahami emosi gadis yang sejak dahulu telah menderita dan ingin menggapai semua kebahagiaan dengan kedua tangannya—seperti apa yang terjadi pada dirinya dahulu.


Terngiang kembali ingatan Night Walker kala itu. Sebagai seorang gadis jalanan yang tidak memiliki kerabat dan tinggal di suatu tempat kumuh, Night Walker sangat bersyukur Connor Cornwall menjemputnya.


Meskipun tidak ada satupun anggota Klan Cornwall yang terikat dalam suatu hubungan darah, meskipun mereka juga berkerja sebagai seorang pembunuh bayaran, Night Walker benar-benar merasakan adanya suatu hubungan kekerabatan diantara para anggotanya.


Bahkan, sejak pekerjaan kotor klan terungkap hingga membuatnya menjadi buronan, para senior dan pendahulu mereka lebih mementingkan anggota junior, hingga hanya menyisakan Connor sebagai tetua klan dan mengambil nama Cornwall.


"Maafkan aku... karena telah menceritakan sebuah kisah yang sebenarnya lebih baik tidak kamu dengar," sesal Lucy.


"Aku tidak keberatan," timpal Night Walker.


Sejenak keduanya berada dalam keheningan kembali, hingga rasa penasaran Lucy kembali membuat mereka berada dalam percakapan.


"Bolehkah aku mengetahui... apa yang akan dilakukan oleh Ares?" tanya Lucy.


"Mohon maaf, saya belum mendapatkan suatu instruksi lebih lanjut untuk mengatakannya kepada Anda," jawab Night Walker tanpa nada.


"Begitu... maaf..." timpal Lucy dengan nada menyesal.


"Anda tidak perlu meminta maaf, Nona." Night Walker menjawab dengan acuh tak acuh.


Setelah mengoleskan cairan obat khusus yang diproduksi secara mandiri oleh teknologi rahasia klan tersebut, Night Walker pun memasukkan botol tersebut kembali ke dalam jubahnya dan mengambil perkamen yang telah disiapkan Lucy tersebut.


Lucy bangkit dengan menutupi dadanya dengan selimut, ekspresi wajah ya penuh rasa syukur.


Rasa sakit pada tubuhnya secara drastis telah berkurang, yang mana membuat Lucy penasaran karenanya. Namun, Lucy tidak pernah bertanya mengenai obat tersebut sebagai rasa terima kasihnya.


"Jika begitu, saya akan bertemu kembali dengan Anda pada waktu yang telah disepakati sebelumnya," ujar Night Walker.


"Terima kasih..." ujar Lucy penuh rasa syukur.


"Permisi." Night Walker berbalik mendekati pintu balkon dan pergi dengan langkah cepat dengan menyamarkan kehadirannya.


Melihat bawahan Ares yang pergi meninggalkan kamarnya, Lucy pun memasang ekspresi teduh penuh rasa syukur. Lucy mengetahui jika dirinya juga berada dalam penjagaan Klan Cornwall selama dirinya tinggal di mansion ibukota dalam beberapa bulan terakhir.


Kurasa... aku terlalu banyak memiliki hutang budi kepadamu...


Jika ini terus berlanjut... bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu, Ares?


Tetap saja... terima kasih karena telah memberi perhatian kepadaku.


...----------------...