I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill

I Became A Tutorial Game Boss With An Appraisal Skill
Chapter 89 : Unpredicted War Event, part 2



Tahun 1236, 11 Agustus.


Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.


Malam Hari.


Pltak!


Pltak!


Meskipun berada di tengah kegelapan, pasukan kavaleri Val tidak sedikitpun merasa berat disaat mereka menyusuri semak-semak lebat di tengah Padang Bleverc.


"Rencana A, titik kumpul kembali di selatan sungai! Komando darurat dipegang oleh masing-masing pemimpin unit! Menyebar!" Val mengubah ekspresinya menjadi tegas karena merasa telah berada di dekat dua pasukan pejuang suku barbarian.


"Ya, Pak!"


Pasukan kavaleri elit menjawab tegas. Setelah melewati dua buah batang pohon yang berjarak sekitar lima meter, para prajurit kavaleri Val memisahkan diri menjadi 4 unit dengan masing-masing unit berisikan 25 prajurit.


Memimpin salah satu unit tersebut, Val berada di barisan terdepan dengan busur yang berada dalam posisi siap menembak.


Bagi jenderal manapun—termasuk Zelhard—tentu lebih menyukai medan perang dimana mereka tidak berkonfrontasi secara langsung dan menyerang dengan unit-unit kecil sembari menggiring mereka menuju jebakan yang telah dipersiapkan.


Zelhard tidak menginginkan prajuritnya untuk mati dengan sia-sia karena melawan orang bodoh seperti barbarian, di samping ekspedisi militer Natrehn yang akan berlangsung setelah musim dingin berakhir yang mana membuat mereka harus meminimalkan korban.


Namun, hal tersebut berbeda dengan pejuang Suku Barat yang sebagian besar menunggangi White Deer dengan kecepatan normal serta menggunakan ratusan obor sebagai titik pencahayaan.


Seolah tidak mengenal rasa takut akan serangan kejutan, mereka melaju dengan hanya menggunakan armor kulit serta tameng ringan menuju ke selatan.


Tentu saja, Thorgils telah membagi sekitar 7.000 pejuangnya menjadi 7 kelompok besar demi fleksibilitas pasukannya.


Namun, suatu perasaan aneh segera muncul di dalam benak Thorgils. Saat ia mengadahkan kepalanya, samar di tengah kegelapan dia melihat puluhan anak panah yang terbang ke arahnya.


Dari mana?!


"Berlindung!" Thorgils berteriak sembari mengangkat pedang besarnya untuk memberikan tanda kepada pejuang di belakangnya.


Para pejuang segera mengangkat tameng atau alat yang dapat melindungi mereka dari hujan anak panah.


JRAT!


JRAT!


Tetap saja, beberapa diantara mereka dan White Deer yang mereka tunggangi tidak dapat luput dari serangan anak panah yang terjadi begitu tiba-tiba.


Merasakan sesuatu yang mendekat dengan kecepatan yang luar biasa, Thorgils dan para pejuang segera memasang sikap siap bertempur.


Para prajurit kavaleri dengan Val yang berada di barisan terdepan, mendekat dengan busur yang siap menembakkan anak panah.


"Datanglah!" teriak Thorgils dengan wajah penuh kebahagiaan.


Tatapan tajam terlihat pada ekspresi Val, mengangkat tinggi busurnya, ia berteriak, "Lakukan!"


Keanehan mulai tampak, para pejuang Suku Barat melihat prajurit kavaleri tersebut segera menembak dan melakukan manuver tajam sekitar 20 meter tepat di hadapan mereka untuk berbalik kembali.


"Hah?!"


Meskipun tidak satupun anak panah yang melukai para pejuang, suara-suara keterkejutan mulai bermunculan akibat pergerakan yang baru saja dilakukan oleh para prajurit kavaleri Natrehn.


Entah mereka harus bangga karena merasa ditakuti atau diremehkan karena merasa telah dipermainkan, namun hanya satu tujuan yang muncul di dalam benak para pejuang yang telah diliputi oleh emosi.


Bantai.


"Kejaaaar! Seraaaaang!" teriak Thorgils terasa penuh amarah.


"Oooohhh!"


Gerakan para pejuang terpacu lebih cepat. Pejuang yang menunggang White Deer atau hanya berjalan kaki, semua bersusah payah untuk mengejar musuh yang melarikan diri dari mereka.


"Jangan kabur, Sialan!"


"Pengecut!"


Kata-kata umpatan terlontar dari mulut para pejuang, namun hal tersebut sama sekali tidak sedikitpun digubris oleh para prajurit Natrehn. Mereka tentu mengetahui jika perintah adalah hal nomor satu yang harus mereka lakukan.


Emosi menguasai pikiran mereka, para pejuang telah melupakan peringatan yang diberikan oleh Ares.


Bagi Thorgils, meskipun dia sedikit membuat perkataan Ares sebagai bahan pertimbangan, namun dia tidak pernah berpikir jika hal ini juga termasuk salah satu jebakan yang telah dirancang oleh Natrehn.


"Sekarang!" Val berteriak sembari mengangkat tinggi tangannya.


Segera, barisan terbelakang prajurit kavaleri melemparkan sebuah ranjau berupa besi dengan banyak cabang runcing yang tidak berbentuk ke belakang mereka dan segera bergegas maju untuk mengganti barisan terbelakang dengan barisan di depannya.


BRUGH!


"Argh!"


"Aaaaarggggh!"


Kegelapan malam membuatnya tidak terlihat. Karena jarak yang begitu dekat, para penunggang White Deer segera merasakan tunggangannya yang melambat dan terjatuh—yang bahkan beberapa diantaranya terjungkal ke depan.


"Apa yang terjadi?!" Thorgils menjadi lebih kebingungan karena keadaan beberapa pejuangnya yang seketika terjungkal.


Meskipun kecepatan White Deer tidak secepat kuda perang berlari, namun daya tahan fisiknya sebanding dengan Kuda Perang karena merupakan spesies yang mampu bertahan di tengah dinginnya salju musim dingin.


Tidak luput dari penderitaan, para penunggang yang terjatuh pun terinjak oleh pejuang yang menunggang White Deer di belakangnya karena jarak yang begitu dekat.


Namun, lemparan ranjau darat tidak hanya dilakukan oleh satu barisan saja, barisan para prajurit kavaleri yang telah berpindah menuju baris terbelakang pun melemparkan ranjau darat yang sama.


BRUGH!


"Uaarrghh!"


"Ugh!"


Sekali lagi jatuh terjungkal. Para pejuang pun tidak luput dari injakan tunggangan di belakangnya dan membuat penunggang di belakangnya juga menabrak para pejuang yang telah terjatuh.


Rintihan, erangan, dan teriakan akibat rasa sakit terinjak-injak membuat Sang Kepala Suku—yang tidak terkena ranjau darat—menjadi sangat marah.


"Astrid!" Thorgils berteriak penuh amarah.


"Ya!" balas Astrid dengan keras.


Setengah dari para pejuang yang menunggangi White Deer—yang berjumlah sekitar 200 orang—segera bermanuver mengikuti gerakan Astrid.


Secara zig-zag sembari menghindari beberapa pepohonan di jalurnya, Astrid dan para pejuangnya mengejar sembari menghindari berada tepat di belakang prajurit kavaleri Natrehn.


Berbanding terbalik dengan Astrid, Thorgils sedikit melambatkan gerakannya dan memerintahkan enam pejuang untuk menemui kelompok Suku Barat yang lain agar menyerang Natrehn secara serentak.


Memacu White Deer hingga batasnya, Astrid cukup kesulitan untuk menggapai barisan terbelakang prajurit kavaleri Natrehn. Dia menggapai tombak pendek yang menjadi senjata keduanya dan melemparkannya menuju prajurit musuh.


JRASH!


"Argh!"


Meskipun tidak mengenai prajurit tersebut, namun serangan Astrid mengenai salah satu kaki tunggangannya yang menyebabkan prajurit tersebut tersungkur jatuh. Seolah tak ingin tertinggal, beberapa bawahan Astrid juga melakukan hal yang sama kepada musuh mereka.


Val memahami keadaan yang semakin gawat. Tidak mungkin menyerang lebih dari 150 pejuang idiot hanya dengan unit kavalerinya yang bahkan tidak mencapai 30 prajurit.


"Rencana B!" Val berteriak keras.


Para prajurit tentu telah mempersiapkan rencana cadangan jika keadaan tidak berjalan seperti yang telah diperkirakan. 22 prajurit bawahan Val yang tersisa segera menyebar ke empat arah yang berbeda dengan membagi diri mereka menjadi empat unit kecil.


Gerak manuver unit kecil yang berjumlah 5 hingga 6 orang tentu membuatnya lebih mudah.


Dengan sengaja melewati pepohonan, para pejuang pun menjadi sedikit tertinggal dari musuhnya. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka kehilangan prajurit kavaleri—yang juga merupakan strategi yang telah direncanakan Natrehn sebelumnya.


BRAK!


BRAK!


Hingga tiba di suatu titik tertentu di padang rumput luas, Astrid dan para pejuang segera bertemu dengan pasukan yang memiliki banyak Coumbi Elephant dengan panah yang telah siap ditembakkan dari atas punggungnya serta Tentara Natrehn yang telah memasang formasi pertahanan di sisi yang lain.


"Aoooooo!"


Pekikan suara khas gajah bergema di gendang telinga mereka. Menoleh, Astrid dan para pejuang sangat terkejut hingga mata mereka terbuka lebar.


"Seraaang!"


Perintah terdengar keras dari atas kepala seekor Coumbi Elephant yang membuat para pejuang Suku Barat menjadi sangat panik karena keadaan dan posisi yang sangat tidak menguntungkan.


Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk para prajurit kavaleri Natrehn dan Val yang memasang senyuman menakutkan di atas wajahnya.


Sudah saatnya!


Setelah memastikan unit lain—yang tiba hampir bersamaan dengan unit Val—telah berkumpul kembali, Val mengambil napas dalam secara singkat lalu berteriak sembari mengangkat tinggi tangannya.


"Tembak!"


...----------------...